0

Netanyahu Ingin Kurangi Ketergantungan Israel pada AS

Share

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, secara mengejutkan melontarkan ambisi strategis untuk memutus ketergantungan militer negaranya terhadap Amerika Serikat. Dalam wawancara eksklusif dengan program "60 Minutes" yang ditayangkan oleh CBS News pada Minggu (10/5/2026), Netanyahu menyatakan keinginannya untuk mengakhiri bantuan finansial militer Amerika yang selama ini menjadi tulang punggung pertahanan Israel. Ia menargetkan kemandirian total tersebut dapat tercapai dalam kurun waktu satu dekade ke depan, sebuah langkah yang dipandang sebagai upaya untuk melakukan "reset" atau pengaturan ulang hubungan bilateral kedua negara di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.

Saat ini, Israel menerima bantuan militer tahunan dari Washington senilai US$ 3,8 miliar atau setara dengan Rp 66,1 triliun. Angka ini merupakan bagian dari kesepakatan jangka panjang senilai US$ 38 miliar untuk periode 2018 hingga 2028. Namun, Netanyahu menegaskan bahwa ia tidak ingin menunggu hingga periode bantuan tersebut berakhir atau menunggu dinamika politik di Kongres AS yang akan datang. "Saya tidak ingin menunggu Kongres berikutnya. Saya ingin memulainya sekarang," tegasnya dengan nada yang menunjukkan urgensi untuk segera melepaskan diri dari keterikatan finansial tersebut.

Langkah ini mencerminkan pergeseran paradigma dalam kebijakan luar negeri Israel. Selama puluhan tahun, bantuan militer AS telah menjadi simbol komitmen tak tergoyahkan Washington terhadap keamanan Israel. Namun, kebijakan tersebut kini menghadapi tantangan baru seiring dengan perubahan lanskap politik di Amerika Serikat. Sejak pecahnya perang di Jalur Gaza pada Oktober 2023, dukungan bipartisan yang sebelumnya sangat kuat di Kongres AS mulai mengalami retakan. Tekanan dari publik Amerika, terutama generasi muda dan kelompok progresif, telah memaksa para politisi AS untuk lebih kritis dalam meninjau pemberian bantuan militer ke Tel Aviv.

Data dari survei Pew yang dilakukan pada Maret 2026 memperkuat urgensi narasi Netanyahu tersebut. Survei menunjukkan bahwa 60 persen warga dewasa Amerika memiliki pandangan negatif terhadap Israel. Selain itu, 59 persen responden menyatakan tidak memiliki kepercayaan sama sekali terhadap kepemimpinan Netanyahu dalam menangani urusan global. Angka ketidakpercayaan ini tercatat meningkat tujuh poin dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan dukungan publik ini tentu menjadi alarm bagi Tel Aviv, mengingat legitimasi bantuan AS sangat bergantung pada dukungan rakyat Amerika terhadap kebijakan Israel.

Menanggapi fenomena penurunan popularitas tersebut, Netanyahu menuding adanya manipulasi informasi sebagai penyebab utamanya. Ia berpendapat bahwa kemerosotan opini publik di AS memiliki korelasi hampir 100 persen dengan peningkatan pesat narasi di media sosial. Tanpa menyebutkan negara secara spesifik, ia menuduh aktor-aktor luar negeri telah melakukan manipulasi terstruktur di platform digital untuk mendegradasi citra Israel. Baginya, serangan di media sosial ini bukan sekadar kritik biasa, melainkan perang informasi yang sangat merugikan posisi diplomatik Israel di mata dunia internasional.

Namun, di balik retorika kemandirian tersebut, terdapat perhitungan strategis yang lebih dalam terkait posisi Israel di Timur Tengah. Dalam wawancara yang sama, Netanyahu memberikan pandangan visioner mengenai masa depan kawasan jika rezim Iran mengalami perubahan. Menurutnya, stabilitas kawasan sangat bergantung pada nasib rezim di Teheran. Ia berargumen bahwa jika rezim Iran melemah atau bahkan digulingkan, maka jaringan proksi yang selama ini didukung oleh Teheran—seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Gaza, dan kelompok Houthi di Yaman—akan kehilangan sokongan utamanya dan kemungkinan besar akan runtuh.

"Jika rezim ini memang melemah atau mungkin digulingkan, saya pikir itu merupakan akhir dari Hizbullah, itu adalah akhir dari Hamas, itu mungkin akhir dari Houthi, karena seluruh kerangka jaringan proksi teroris yang dibangun Iran akan runtuh," ujar Netanyahu dengan penuh keyakinan. Ketika ditanya mengenai probabilitas keberhasilan skenario penggulingan rezim Iran, Netanyahu bersikap realistis namun tetap optimistis. Ia mengakui bahwa hal tersebut mungkin terjadi, meskipun tidak ada jaminan mutlak keberhasilannya.

Ambisi untuk mengurangi ketergantungan pada AS ini juga dapat dibaca sebagai upaya Israel untuk meningkatkan fleksibilitas operasionalnya. Selama ini, bantuan militer AS sering kali datang dengan "tali" diplomatik dan pembatasan operasional tertentu. Dengan memiliki pendanaan mandiri, Israel merasa akan memiliki ruang manuver yang lebih besar untuk mengambil keputusan militer tanpa harus selalu berkonsultasi atau menyesuaikan diri dengan agenda politik domestik Amerika Serikat yang sering kali berubah-ubah.

Namun, tantangan ekonomi untuk mencapai kemandirian ini sangat besar. Anggaran militer Israel yang sangat besar menuntut ekonomi nasional yang tangguh. Saat ini, Israel mengalokasikan persentase signifikan dari PDB-nya untuk pertahanan. Menggantikan US$ 3,8 miliar per tahun dengan dana domestik berarti Israel harus melakukan efisiensi besar-besaran di sektor lain atau meningkatkan kapasitas industri pertahanannya sendiri untuk ekspor. Industri pertahanan Israel memang sudah maju dan menjadi salah satu eksportir senjata utama dunia, namun transisi menuju kemandirian penuh akan tetap menjadi ujian berat bagi fiskal negara.

Dari sisi diplomatik, langkah ini juga berisiko disalahartikan oleh sekutu-sekutu lain sebagai upaya Israel untuk melakukan isolasi diri. Namun, para analis berpendapat bahwa Netanyahu sedang mencoba memposisikan Israel sebagai mitra strategis, bukan sekadar penerima bantuan. Dengan ekonomi yang kuat dan kemandirian militer, Israel berharap dapat berdiri sejajar dengan kekuatan-kekuatan besar dunia, termasuk AS, dalam hubungan kemitraan yang lebih seimbang.

Di sisi lain, bagi Amerika Serikat, jika Israel benar-benar mengurangi ketergantungannya, hal ini bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi, beban anggaran bantuan luar negeri AS akan berkurang, yang mungkin disambut baik oleh para penentang bantuan luar negeri di dalam negeri. Namun, di sisi lain, pengaruh Washington terhadap kebijakan Israel di Timur Tengah berpotensi berkurang. AS akan kehilangan "pengungkit" diplomatik yang selama ini mereka gunakan untuk menahan Israel dalam situasi konflik tertentu.

Secara keseluruhan, pernyataan Netanyahu menandai awal dari fase baru dalam hubungan AS-Israel. Apakah ini merupakan manuver politik untuk menenangkan sentimen dalam negeri atau memang sebuah rencana strategis yang matang, masih perlu dibuktikan. Satu hal yang pasti, dekade mendatang akan menjadi masa transisi yang krusial bagi Tel Aviv dalam upayanya mendefinisikan ulang posisi mereka di peta keamanan global.

Pernyataan Netanyahu ini juga menyoroti betapa cepatnya lanskap politik global berubah. Apa yang dulunya dianggap sebagai "hubungan tak tergoyahkan" kini harus menghadapi realitas media sosial, opini publik yang terpolarisasi, dan kebutuhan akan kedaulatan yang lebih besar. Bagi Netanyahu, kemandirian finansial militer adalah kunci untuk memastikan kelangsungan hidup Israel dalam jangka panjang, terlepas dari siapa pun yang memimpin di Washington atau bagaimana opini publik Amerika bergeser di masa depan.

Dalam beberapa tahun ke depan, dunia akan mengamati apakah janji "nol bantuan" ini akan terwujud atau hanya menjadi retorika politik di tengah tekanan global yang terus meningkat. Jika berhasil, ini akan menjadi sejarah baru bagi Israel sebagai negara yang benar-benar mandiri secara militer di tengah kawasan yang penuh dengan gejolak. Namun, kegagalan dalam transisi ini dapat membuat Israel lebih rentan daripada sebelumnya, terutama jika dukungan AS memudar sementara kemandirian domestik belum sepenuhnya tercapai.

Dengan demikian, langkah Netanyahu ini bukan sekadar kebijakan anggaran, melainkan sebuah pernyataan kedaulatan. Ini adalah pesan kepada dunia bahwa Israel sedang bersiap untuk menghadapi tantangan masa depan dengan kaki sendiri, meskipun prosesnya akan penuh dengan tantangan politik, ekonomi, dan keamanan yang sangat berat. Dunia kini menunggu langkah konkret selanjutnya dari Tel Aviv untuk merealisasikan visi ambisius tersebut dalam dekade ke depan.