BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Keputusan Cynthia Lamusu dan suaminya, Surya Saputra, untuk pindah ke rumah yang lebih kecil dan kompak ternyata membawa dampak positif dalam pengelolaan keuangan pribadi mereka. Setelah menempati hunian baru yang sebelumnya sempat dikontrakkan, Cynthia mengaku kini lebih memprioritaskan konsep frugal living. Konsep ini, menurutnya, adalah tentang mengutamakan apa yang benar-benar dibutuhkan daripada sekadar keinginan sesaat. Perubahan gaya hidup ini menjadi sebuah tantangan menarik yang dijalani Cynthia dan keluarganya, terutama dalam menyortir barang-barang yang dimiliki agar sesuai dengan luas rumah yang lebih terbatas.
Keputusan untuk pindah ke rumah yang lebih kecil ini berawal dari keinginan bersama Cynthia dan Surya Saputra untuk memberikan pengalaman baru bagi anak-anak mereka yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. "Kayaknya seru juga, mumpung anak-anak masih kecil-kecil, SD gitu, ‘kita tinggal di kompleks yuk’," ungkap Cynthia saat ditemui di kawasan Gedung Trans TV. Selain memberikan kesempatan bagi anak-anak untuk bersosialisasi dengan lingkungan baru dan tetangga, serta menikmati aktivitas seperti bermain sepeda sore, keputusan ini juga didasari oleh pertimbangan bahwa rumah yang baru merupakan rumah yang sebelumnya pernah dikontrakkan. Meskipun ukurannya diakui lebih kecil, Cynthia menegaskan bahwa ia dan keluarganya merasa bahagia dengan pilihan ini. Perspektif setiap orang memang bisa berbeda, namun bagi mereka, keputusan ini adalah sesuatu yang diambil untuk dijalani dan mereka menjalaninya dengan penuh suka cita.

Implementasi frugal living ini menjadi semakin relevan ketika ruang gerak yang terbatas di rumah baru memaksa mereka untuk lebih bijak dalam berbelanja dan mengelola barang. "Jadi frugal living itu adalah kita mengutamakan ke yang dibutuhkan saja, kebutuhan daripada cuma sekadar keinginan. Sehingga akhirnya kita menyortir sendiri tuh karena rumahnya kompak, barangnya kan kebeli banyak gitu. Nah, ini challenge-nya nih," jelas Cynthia. Ia menambahkan bahwa konsep ini juga diajarkan kepada anak-anaknya. "Kayak anak-anak kami ajarkan juga, ayo harus taruh barang di tempat semula. Misalnya pulang sekolah, sepatunya di sini. Soalnya kalau rumah kecil itu kan begitu barangnya berantakan kelihatan banget gitu ya kan karena kan size-nya kecil," tuturnya.
Lebih lanjut, Cynthia Lamusu menjelaskan bahwa konsep frugal living bukan berarti hidup dalam kekurangan atau tanpa kesenangan, melainkan sebuah pendekatan cerdas dalam mengelola sumber daya keuangan. Ini adalah tentang membuat pilihan yang disengaja untuk menahan diri dari pengeluaran yang tidak perlu dan lebih fokus pada pengeluaran yang memberikan nilai jangka panjang atau memenuhi kebutuhan esensial. "Frugal living itu bukan tentang pelit, tapi tentang cerdas dalam menggunakan uang. Kita membedakan antara ‘ingin’ dan ‘butuh’. ‘Ingin’ itu sesuatu yang menyenangkan tapi bisa ditunda atau diabaikan jika tidak mendesak, sementara ‘butuh’ adalah sesuatu yang esensial untuk kelangsungan hidup dan kesejahteraan," ujar Cynthia.
Proses pindah rumah ke hunian yang lebih ringkas ini menjadi momentum bagi Cynthia dan Surya Saputra untuk melakukan inventarisasi barang-barang yang mereka miliki. Banyak barang yang mungkin sebelumnya tidak terlalu disadari keberadaannya kini menjadi bahan pertimbangan apakah masih relevan untuk dibawa ke rumah baru atau sebaiknya disumbangkan atau dijual. "Awalnya memang sedikit kaget juga melihat banyaknya barang yang menumpuk. Tapi ini justru jadi kesempatan emas untuk ‘decluttering’ besar-besaran. Kita jadi lebih sadar barang apa saja yang benar-benar kita gunakan dan butuhkan sehari-hari," jelasnya.

Penerapan frugal living ini juga mencakup berbagai aspek kehidupan, mulai dari makanan, pakaian, hiburan, hingga transportasi. Misalnya, dalam hal makanan, Cynthia mungkin akan lebih memilih untuk memasak sendiri di rumah daripada membeli makanan jadi atau makan di luar, yang seringkali lebih mahal. Ia juga mungkin akan lebih cermat dalam membeli bahan makanan, merencanakan menu mingguan, dan memanfaatkan sisa bahan makanan agar tidak terbuang sia-sia. "Makan di rumah itu selain lebih sehat, juga jauh lebih hemat. Kita bisa mengontrol porsi, bahan-bahan yang digunakan, dan tentu saja, biayanya. Apalagi kalau punya anak-anak, kebiasaan makan bersama di rumah itu juga membangun keharmonisan keluarga," katanya.
Dalam hal pakaian, frugal living mendorong untuk membeli pakaian yang berkualitas baik dan tahan lama, daripada mengikuti tren mode sesaat yang cepat berubah dan seringkali memerlukan pembelian berulang. Cynthia mungkin akan lebih berinvestasi pada pakaian dasar yang serbaguna dan mudah dipadupadankan. Selain itu, ia juga bisa memanfaatkan promo diskon, membeli pakaian bekas yang masih layak pakai, atau bahkan belajar menjahit dan memodifikasi pakaian lama agar tampil baru. "Kalau beli baju, saya cenderung memilih yang modelnya klasik dan bahannya bagus. Jadi bisa dipakai bertahun-tahun tanpa terlihat ketinggalan zaman. Kalaupun bosan, bisa diakali dengan aksesoris atau sedikit modifikasi," ungkapnya.
Aspek hiburan juga tidak luput dari penerapan frugal living. Alih-alih menghabiskan banyak uang untuk hiburan yang mahal, Cynthia dan keluarganya mungkin akan mencari alternatif hiburan yang lebih terjangkau atau bahkan gratis. Misalnya, menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga dengan bermain di taman, membaca buku, menonton film di rumah, atau melakukan kegiatan kreatif bersama. "Hiburan tidak harus selalu mahal. Seringkali, momen-momen sederhana bersama keluarga justru lebih berkesan dan memberikan kebahagiaan yang tulus. Liburan ke tempat yang tidak terlalu jauh atau bahkan piknik di halaman rumah saja sudah bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan bagi anak-anak," ujarnya.

Bahkan dalam hal transportasi, frugal living dapat mendorong penggunaan kendaraan umum, bersepeda, berjalan kaki, atau melakukan carpooling jika memungkinkan. Hal ini tidak hanya menghemat biaya bahan bakar dan perawatan kendaraan, tetapi juga berkontribusi pada lingkungan yang lebih baik. "Kalau jaraknya tidak terlalu jauh, saya lebih memilih untuk berjalan kaki atau naik sepeda. Selain sehat, juga bisa menikmati suasana sekitar. Kalaupun harus menggunakan kendaraan, kami akan merencanakan perjalanan agar lebih efisien dan menghindari kemacetan yang membuang-buang waktu dan bahan bakar," jelas Cynthia.
Transformasi ke arah frugal living ini tidak hanya berdampak pada keuangan keluarga Cynthia Lamusu, tetapi juga pada nilai-nilai yang ditanamkan kepada anak-anak mereka. Melalui contoh nyata, Cynthia dan Surya Saputra mengajarkan pentingnya menghargai setiap rupiah, membuat keputusan yang bijak dalam pengeluaran, dan memahami bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu bergantung pada kepemilikan materi yang berlimpah. Konsep ini mengajarkan tentang prioritas, kesadaran akan dampak keputusan finansial, dan kemampuan untuk hidup nyaman dan bahagia dengan apa yang dimiliki, tanpa harus terjebak dalam gaya hidup konsumtif yang berlebihan.
Pindah rumah ke hunian yang lebih ringkas ternyata menjadi katalisator bagi Cynthia Lamusu untuk mempraktikkan gaya hidup yang lebih bertanggung jawab secara finansial. Dengan fokus pada kebutuhan esensial dan bijak dalam mengelola keinginan, Cynthia dan keluarganya membuktikan bahwa hidup sederhana bukan berarti mengurangi kualitas hidup, melainkan justru meningkatkan kualitas hidup dengan membebaskan diri dari beban finansial yang tidak perlu dan lebih menghargai hal-hal yang benar-benar penting. Kisah Cynthia Lamusu ini menjadi inspirasi bagi banyak orang yang ingin beralih ke gaya hidup yang lebih hemat, berkelanjutan, dan berorientasi pada kebahagiaan hakiki.

