0

Erin Sebut ART Nekat Rekam Area Privasi sampai Diunggah ke Facebook

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Perseteruan yang melibatkan Rien Wartia Trigina, yang akrab disapa Erin, dengan mantan asisten rumah tangganya (ART) bernama Hera, kini memasuki babak baru yang semakin kompleks dan mengkhawatirkan. Di tengah tuduhan penganiayaan yang dilayangkan oleh Hera, Erin secara tegas membantah seluruh klaim tersebut. Lebih lanjut, Erin mengungkap sebuah fakta mengejutkan yang menunjukkan tindakan ART tersebut telah melampaui batas etika kerja dan masuk ke ranah pelanggaran privasi yang serius. Erin menuturkan bahwa Hera diduga telah melakukan perekaman rahasia terhadap berbagai area pribadi di dalam kediamannya, bahkan hingga detail-detail yang bersifat sangat personal. Tindakan ini, menurut Erin, tidak hanya membahayakan keamanan keluarganya, tetapi juga telah menimbulkan trauma psikologis bagi anak-anaknya.

Erin menjelaskan secara rinci bagaimana ART tersebut diduga telah merekam dan menyebarkan detail isi rumah ke media sosial pribadinya, yang tak lain adalah akun Facebook miliknya. Perekaman ini mencakup berbagai area vital, mulai dari ruang tamu yang merupakan ruang publik keluarga, hingga area kolam renang yang seharusnya bersifat privat. Yang lebih mengkhawatirkan, Hera juga diduga merekam aktivitas anak-anak Erin tanpa seizin dan sepengetahuan pemilik rumah. "Jadi yang paling krusial adalah dia melakukan konten ke media sosial si ART itu, milik pribadinya dia sendiri tentang isi rumah. Jadi, privasi isi rumah saya dan anak-anak tuh divideo-videoin, kegiatannya anak-anak, terus mobil saya, rumah saya seisi rumah, dari tampak depan, belakang," ungkap Erin dengan nada prihatin saat konferensi pers yang digelar di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada Selasa, 5 Mei 2026. Erin menekankan bahwa rekaman tersebut tidak hanya sekadar dokumentasi biasa, melainkan telah disebarluaskan ke publik melalui platform media sosial.

Tingkat keparahan pelanggaran privasi ini semakin meningkat karena, menurut Erin, ART tersebut juga merekam kendaraan pribadi miliknya dengan detail yang sangat jelas, termasuk memperlihatkan nomor pelat polisi. Tindakan ini menimbulkan kekhawatiran yang sangat besar akan potensi penyalahgunaan informasi tersebut oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Erin mengungkapkan kekhawatirannya bahwa detail informasi mengenai rumah dan asetnya yang terekam dan tersebar luas bisa membuka celah bagi tindakan kriminal. "Kami juga memiliki videonya bahwa dia meng-upload pelat nomornya semua terlihat jelas. Ini video-videonya dia ada mobil di rumah, dia fotoin, videoin, terus seisi rumah, ini isi rumah, lagi swimming pool segala macam," beber Erin, menunjukkan bukti-bukti yang dimilikinya. Potensi ancaman ini tidak bisa diabaikan, mengingat maraknya kasus kejahatan yang diawali dari kebocoran informasi pribadi melalui media sosial.

Kuasa hukum Erin, Sunan Kalijaga, turut angkat bicara dan menegaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh ART tersebut bukan lagi sekadar masalah etika kerja yang sederhana. Menurut Sunan Kalijaga, tindakan Hera merupakan ancaman serius terhadap keamanan keluarga kliennya. Ia merujuk pada berbagai kasus perampokan dan kejahatan lainnya yang terjadi akibat bocornya informasi mengenai detail rumah, tata letak ruangan, hingga akses masuk yang terekam dan disebarkan melalui konten di media sosial. "Banyak kejadian adanya maling, adanya rampok itu akibat dari mana? Dari sosial media yang memperlihatkan, mempertontonkan isi rumah, ada apa saja, kamar di mana, pintu di mana masuknya? Ini kan bahaya. Menurut kami itu sangat membahayakan, bisa membahayakan secara nanti ke depan mungkin ada tindakan-tindakan kriminal," tegas Sunan Kalijaga, menggarisbawahi potensi risiko keamanan yang ditimbulkan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga privasi rumah tangga agar tidak disalahgunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dampak buruk dari tindakan ART tersebut ternyata tidak hanya berhenti pada ancaman keamanan fisik, tetapi juga telah memberikan pengaruh negatif yang signifikan terhadap kondisi psikologis anak-anak Erin. Salah satu anak Erin mengaku merasa sangat terganggu dan marah setelah mengetahui bahwa aktivitas pribadinya di dalam rumah, bahkan di dalam kamarnya, telah dijadikan konten di Facebook oleh ART tersebut tanpa persetujuan. "Anak saya sangat marah kalau ‘Mama, aku kenapa sih itu aku dimasukin ke Facebook-nya si ART itu ya’. Jadi maksudnya dia sangat terganggu, apalagi kamarnya divideo-videoin," pungkas Erin, menggambarkan betapa dalam dampak emosional yang dirasakan oleh buah hatinya. Hal ini menunjukkan bahwa privasi anak-anak adalah hal yang sangat sensitif dan tidak boleh dilanggar dengan cara apapun.

Kasus ini sendiri bermula dari laporan yang diajukan oleh Hera, sang ART, yang mengklaim dirinya sebagai korban penganiayaan. Hera melaporkan bahwa ia mendapatkan pukulan menggunakan gagang sapu lidi dan tendangan dari Erin di kediaman mereka yang berlokasi di kawasan Bintaro. Tidak hanya itu, pihak penyalur ART juga turut menuding Erin melakukan tindakan yang tidak semestinya, seperti menahan gaji, KTP, serta merusak telepon genggam milik pekerja. Namun, Erin secara resmi membantah seluruh tuduhan tersebut. Ia menjelaskan bahwa teguran keras yang ia berikan kepada ART tersebut didasari oleh pelanggaran privasi keluarga yang sangat serius, bukan karena motif penganiayaan. Erin menegaskan bahwa tindakannya adalah upaya untuk melindungi keluarganya dari potensi bahaya.

Menanggapi berbagai tuduhan dan tindakan yang telah dilakukan oleh pihak ART dan penyalurnya, Erin, melalui kuasa hukumnya, telah mengambil langkah hukum lebih lanjut. Pihaknya telah melaporkan balik Hera dan pihak penyalur ART atas dugaan fitnah dan pencemaran nama baik. Laporan balik ini diharapkan dapat memberikan keadilan bagi Erin dan keluarganya, serta memberikan efek jera agar tindakan serupa tidak terulang kembali di kemudian hari. Kasus ini menjadi pengingat penting akan pentingnya menjaga batas-batas privasi, baik bagi pemilik rumah maupun bagi para pekerja yang berada di dalamnya. Perlindungan data pribadi dan keamanan rumah tangga menjadi isu krusial di era digital ini, di mana informasi dapat dengan mudah tersebar dan disalahgunakan. Erin berharap agar proses hukum ini dapat berjalan dengan adil dan transparan, serta dapat memberikan pelajaran berharga bagi semua pihak yang terlibat.