Menteri Keamanan Nasional Israel, Itamar Ben Gvir, kembali menjadi sorotan dunia internasional setelah perayaan ulang tahunnya yang ke-50 memicu kemarahan publik. Dalam sebuah rekaman video yang viral di media sosial, sang menteri tampak merayakan hari jadinya dengan sebuah kue yang dihiasi dekorasi provokatif berupa gambar tali gantungan. Simbol tersebut bukan sekadar hiasan sembarangan; ia merujuk langsung pada kebijakan ekstrem yang didorong oleh partai politiknya, Otzma Yehudit, yakni penerapan hukuman mati bagi tahanan Palestina.
Insiden ini terjadi di tengah memanasnya situasi di wilayah pendudukan, di mana retorika kekerasan dari pejabat publik Israel dianggap semakin lepas kendali. Kue tersebut bertuliskan pesan dalam bahasa Ibrani yang berbunyi, "Selamat Menteri Ben Gvir. Terkadang mimpi menjadi kenyataan." Kalimat ini ditafsirkan oleh banyak pihak sebagai pernyataan kemenangan ideologis Ben Gvir dalam melegalkan hukuman mati, sebuah langkah yang selama ini ia perjuangkan secara agresif di parlemen Israel (Knesset). Berdasarkan laporan dari The New Arab, kue kontroversial tersebut dikabarkan merupakan hadiah dari istrinya, Ayala Ben Gvir, yang seolah menegaskan dukungan keluarga terhadap pandangan politik garis keras sang menteri.
Namun, kemarahan publik tidak hanya dipicu oleh gambar tali gantungan itu sendiri. Perayaan ulang tahun tersebut juga menuai kritik tajam karena kehadiran para petinggi Staf Komando Umum Kepolisian Israel. Sebagai menteri yang membawahi kepolisian, kehadiran pejabat tinggi kepolisian di acara yang bernuansa politis dan ekstrem ini dianggap sebagai bentuk penyalahgunaan wewenang. Kritikus menilai bahwa langkah ini mengaburkan batas antara profesionalisme penegak hukum dan agenda politik sayap kanan yang radikal, yang berpotensi mencederai netralitas institusi keamanan negara tersebut.
Reaksi Keras dan Kemerosotan Moral
Media sosial meledak dengan kecaman terhadap perilaku Ben Gvir. Para pengguna platform X (sebelumnya Twitter) secara terbuka mempertanyakan moralitas seorang pejabat tinggi negara yang merayakan momen pribadi dengan simbol pembunuhan. Salah satu komentar yang paling menonjol menyebutkan bahwa perayaan tersebut merupakan cerminan nyata dari mentalitas yang menggerakkan kebijakan pendudukan Israel saat ini. "Ketika hasutan untuk membunuh tahanan Palestina menjadi ‘kue ulang tahun’, itu mengungkapkan mentalitas sebenarnya yang mengatur kebijakan pendudukan. Ini bukan hanya ekstremisme; ini adalah kemerosotan moral sepenuhnya," tulis seorang warganet.
Kritik lain menyoroti obsesi Ben Gvir terhadap kekerasan. Banyak pihak menganggap bahwa di usia emasnya, bukannya membawa narasi perdamaian, Ben Gvir justru menunjukkan kegembiraan atas penderitaan orang lain. Narasi bahwa "mimpi menjadi kenyataan" melalui tali gantungan dianggap sebagai bentuk dehumanisasi terhadap rakyat Palestina, yang mengubah nyawa manusia menjadi objek perayaan politik.
Latar Belakang: UU Hukuman Mati yang Kontroversial
Kontroversi ini berakar pada pengesahan Undang-Undang Hukuman Mati bagi tahanan Palestina yang disahkan parlemen Israel pada akhir Maret lalu. UU ini secara spesifik menargetkan individu Palestina yang tinggal di wilayah yang dikuasai Israel dan dituduh terlibat dalam "aksi teroris". Aturan tersebut menetapkan hukuman gantung sebagai standar hukuman bagi mereka yang terbukti melakukan pembunuhan terhadap warga Israel atau tindakan lain yang dikategorikan sebagai terorisme oleh otoritas pendudukan.
Dukungan penuh Ben Gvir terhadap UU ini bukanlah rahasia. Ia telah lama berkampanye untuk menerapkan hukuman mati sebagai bentuk pencegahan, meskipun banyak ahli hukum dan pakar keamanan meragukan efektivitasnya. Bagi Ben Gvir, hukuman mati adalah alat pembalasan yang "pantas" bagi mereka yang melawan pendudukan. Namun, bagi para pengamat internasional, langkah ini adalah pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia dan norma hukum internasional.
Penentangan dari Berbagai Penjuru
Kelompok hak asasi manusia (HAM), baik dari Israel maupun Palestina, telah bersatu dalam menolak UU tersebut. Mereka menilai undang-undang ini bersifat rasis dan kejam. Menurut para aktivis HAM, hukuman mati tidak akan pernah menjadi solusi untuk mengakhiri siklus kekerasan; sebaliknya, hal itu hanya akan memperkeruh situasi dan semakin mengasingkan Israel dari komunitas internasional. Saat ini, UU tersebut sedang menghadapi tantangan hukum di Mahkamah Agung Israel. Petisi yang diajukan oleh organisasi-organisasi HAM terkemuka bertujuan untuk membatalkan UU tersebut dengan argumen bahwa aturan tersebut melanggar hak dasar untuk hidup dan prinsip-prinsip keadilan universal.
Tidak hanya di tingkat domestik, PBB juga memberikan kritik tajam. Badan pengawas HAM PBB menyatakan bahwa kebijakan ini melanggengkan diskriminasi rasial yang sistemik. PBB memperingatkan bahwa sistem hukuman mati yang hanya menyasar satu kelompok populasi di bawah pendudukan militer, dengan proses peradilan yang terbatas dan akses banding yang minim, merupakan penyimpangan berbahaya dari standar internasional. Hal ini menciptakan preseden di mana nyawa seseorang ditentukan oleh status etnis dan status politik mereka di bawah pendudukan.
Ancaman bagi Stabilitas Regional
Lebih jauh lagi, tindakan Ben Gvir ini mencerminkan pergeseran politik Israel ke arah yang lebih kanan. Keberadaan tokoh-tokoh ultranasionalis di kabinet pemerintahan Israel sering kali dipandang sebagai hambatan utama bagi upaya perdamaian di Timur Tengah. Dengan menormalisasi retorika "tali gantungan", Ben Gvir tidak hanya menyinggung perasaan rakyat Palestina, tetapi juga memberikan amunisi bagi narasi kebencian yang memicu konflik lebih luas.
Video yang menampilkan Ben Gvir tersebut bertepatan dengan masa-masa ketegangan regional, di mana ancaman konflik dari berbagai aktor di Timur Tengah terus membayangi. Di tengah ancaman eksternal yang dihadapi Israel—seperti yang terlihat dalam pernyataan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terkait ancaman Iran—perilaku provokatif dari menteri keamanan nasional justru dianggap kontraproduktif. Alih-alih meredam ketegangan, tindakan seperti ini justru semakin menegaskan posisi Israel sebagai negara yang memilih jalan konfrontasi daripada dialog.
Sebagai kesimpulan, gambar tali gantungan di kue ulang tahun Itamar Ben Gvir adalah simbol yang jauh lebih dalam dari sekadar dekorasi kue. Ia adalah manifestasi dari kebijakan politik yang mengedepankan hukuman sebagai alat utama dalam mengelola konflik. Bagi dunia internasional, insiden ini adalah pengingat bahwa kebijakan yang berbasis pada kebencian dan dehumanisasi akan selalu membawa konsekuensi yang merusak, tidak hanya bagi mereka yang menjadi target, tetapi juga bagi tatanan moral negara yang memberlakukannya. Perjalanan Ben Gvir dalam mengimplementasikan agenda ekstremnya akan terus dipantau, dan dunia kini menanti apakah Mahkamah Agung Israel akan mampu membendung kebijakan yang dinilai banyak pihak sebagai noda hitam dalam sejarah hukum negara tersebut.

