BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sosok April, bintang muda yang tengah bersinar terang di panggung Dangdut Academy 7 (DA7), tidak hanya mencuri perhatian dengan bakat dan prestasinya yang memukau, tetapi juga dengan kisah masa kecilnya yang menyentuh hati. Di balik senyum cerianya yang selalu menghiasi panggung, tersembunyi sebuah realitas kelam yang membuatnya selalu membawa serta boneka kesayangannya ke mana pun ia melangkah. Kebiasaan ini bukanlah sekadar tren sesaat atau kegemaran semata, melainkan sebuah jembatan emosional yang ia bangun untuk "menjemput kembali" masa kecil yang terenggut paksa. Ketika teman-teman sebayanya asyik bermain dan menikmati indahnya masa kanak-kanak, April muda telah dipaksa untuk mengais rezeki, membanting tulang demi membantu perekonomian keluarga di usia yang masih sangat belia.
"Jujur, karena dulu aku nggak bisa punya boneka, nggak bisa punya mainan kayak teman lain. Jadi setelah aku bisa beli, aku selalu bawa ke mana-mana karena mengingat masa kecil aku yang hilang. Sekarang aku bisa merasakan masa kecil aku lagi," ungkap April dengan suara yang sedikit bergetar saat ditemui dalam sebuah perbincangan santai di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Kamis (30/4/2026). Ungkapannya ini membuka tabir kesedihan yang selama ini ia pendam, menunjukkan betapa dalam luka masa kecil yang membekas.
Bagi penyanyi muda berbakat ini, boneka bukan sekadar objek mati yang tak bernyawa. Sebaliknya, benda-benda berbulu itu telah menjelma menjadi teman setia, pendengar setia, bahkan menjadi sumber motivasi tak terhingga di tengah jadwal pekerjaan yang padat dan melelahkan. Dalam kesendiriannya, terutama ketika harus bekerja tanpa ditemani oleh sosok ibu tercinta, boneka-boneka itu menjadi satu-satunya pelipur lara, satu-satunya yang bisa ia ajak bicara, berbagi keluh kesah, dan mendapatkan sedikit kehangatan. "Boneka itu teman aku. Kebetulan kalau kerja kan cuma ditemani mama, kadang mama juga nggak ikut, jadi yang bisa nemenin aku ya boneka. Aku selalu komunikasi sama dia walaupun dia nggak bisa jawab," tambahnya, menyiratkan kerinduan mendalam akan sosok pendamping dan kehangatan yang dulu ia dambakan.
Lebih dari sekadar nostalgia masa kecil yang hilang, kebiasaan unik ini juga menjadi mekanisme koping April dalam menghadapi kecemasan atau anxiety yang kerap menghantuinya, terutama ketika harus berhadapan dengan keramaian atau panggung besar. Ia dengan santai mengakui bahwa tindakannya berkomunikasi dengan benda mati adalah hal yang sangat manusiawi dan umum terjadi, bahkan di antara banyak orang. "Jujur jangan bilang aku gila, karena di sini normal. Aku cuma ngakuin, pasti kalian semua juga pernah berkomunikasi bersama benda mati," tuturnya dengan senyum tulus, mencoba meredakan potensi stigma yang mungkin timbul. Pengakuan ini justru menunjukkan kekuatan mentalnya dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, baik yang berasal dari luar maupun dari dalam dirinya sendiri.
Perjalanan karier April di dunia hiburan, khususnya sebagai penyanyi dangdut, ternyata tidaklah mulus. Ia harus menghadapi berbagai rintangan, mulai dari cibiran hingga peremehan dari para netizen yang kerap kali menyakitkan. Namun, alih-alih patah semangat, April memilih untuk merangkul semua perkataan negatif tersebut sebagai cambuk untuk terus berkarya dan membuktikan diri. Ia senantiasa berlapang dada, menjadikan setiap kritik sebagai bahan evaluasi dan motivasi untuk terus berkembang. Rasa syukur yang mendalam terpancar dari setiap kata yang ia ucapkan, terutama ketika ia mengenang dukungan yang tak terduga dari idolanya sendiri, Lesti Kejora. Dukungan dari sosok yang ia kagumi tersebut menjadi sumber kekuatan tambahan yang tak ternilai harganya, membantunya bangkit dari keraguan dan terus melangkah maju.
Kini, dengan pencapaian yang telah diraihnya, April memiliki satu fokus utama: memberikan yang terbaik bagi para penggemar setianya yang telah memberikan dukungan tanpa henti. Baginya, setiap keberhasilan yang ia raih bukan hanya sekadar pencapaian pribadi, tetapi juga merupakan cara terindah untuk membahagiakan kedua orang tuanya. Ia menyadari bahwa tanpa dukungan dari para penggemarnya, ia tidak akan bisa berada di titik ini. "Terima kasih banyak karena tanpa support kalian, aku bukan siapa-siapa di sini. Berkat kalian aku bisa membahagiakan orang tua," tutupnya dengan suara yang dipenuhi haru, menunjukkan betapa besar cintanya pada keluarga dan rasa terima kasihnya kepada para penggemar.
Kisah April ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap gemerlap panggung hiburan, tersimpan cerita-cerita personal yang terkadang getir. Ia mengajarkan kita bahwa masa lalu yang kelam dapat dibentuk menjadi kekuatan, dan bahwa mencari pelipur lara dalam hal-hal yang mungkin terlihat tidak biasa adalah sebuah bentuk ketahanan diri yang luar biasa. Perjalanan April dari keterbatasan masa kecil hingga menjadi bintang DA7 adalah bukti nyata bahwa impian dapat diraih dengan kerja keras, ketekunan, dan dukungan dari orang-orang terkasih, serta kemampuan untuk menemukan kebahagiaan dalam hal-hal sederhana yang paling berarti. Ia menunjukkan bahwa "menjemput" kembali masa kecil yang hilang bukan berarti kembali ke masa lalu, tetapi justru membawa pelajaran dan kekuatan dari masa lalu untuk menghadapi masa depan yang lebih cerah.
Lebih jauh lagi, kebiasaan April membawa boneka dapat dianalisis dari perspektif psikologis sebagai bentuk self-soothing atau penenangan diri. Dalam situasi stres atau kecemasan, objek yang familiar dan memberikan rasa aman dapat menjadi jangkar emosional. Boneka-boneka tersebut mewakili kepolosan, kebebasan, dan kasih sayang yang mungkin tidak ia dapatkan di masa kecil. Dengan berinteraksi dengan boneka, April secara tidak sadar menciptakan ruang aman bagi dirinya sendiri, tempat di mana ia dapat mengekspresikan emosi tanpa takut dihakimi. Ini adalah strategi adaptif yang membantunya menjaga keseimbangan mental di tengah tuntutan industri hiburan yang sangat kompetitif. Pengakuannya bahwa banyak orang lain juga melakukan hal serupa menunjukkan kesadaran April akan sisi kemanusiaan yang universal, di mana setiap orang memiliki cara unik untuk mengatasi kerapuhan diri.
Dalam konteks industri dangdut yang seringkali sarat dengan drama dan tantangan, kisah seperti April ini memberikan dimensi yang lebih manusiawi pada para pesertanya. Ia bukan hanya sekadar kontestan yang bersaing, tetapi seorang individu dengan latar belakang dan luka yang mendalam. Hal ini dapat meningkatkan empati penonton dan membuat mereka lebih terhubung secara emosional dengan perjuangan April. Keberhasilannya menjadi inspirasi bagi banyak anak muda yang mungkin juga berasal dari latar belakang yang kurang beruntung, menunjukkan bahwa keterbatasan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan awal dari sebuah perjuangan yang lebih besar.
Penting juga untuk dicatat bahwa momen di mana April mengungkapkan kisahnya ini kemungkinan besar telah direncanakan dengan baik oleh tim produksi DA7 untuk membangun narasi yang kuat bagi pesertanya. Namun, terlepas dari strategi produksi, kejujuran dan kerentanan yang ditunjukkan April tetaplah autentik dan menyentuh. Ini adalah keseimbangan yang rumit antara hiburan dan realitas, di mana kisah pribadi digunakan untuk memperkaya pengalaman menonton dan memberikan pelajaran hidup.
April DA7, dengan segala kesederhanaan dan kekuatannya, telah berhasil menyentuh hati banyak orang. Kisahnya adalah pengingat bahwa di balik setiap pencapaian besar, seringkali terdapat pengorbanan besar dan perjuangan yang tidak terlihat. Boneka-boneka yang ia bawa bukanlah sekadar barang, melainkan simbol dari ketahanan, harapan, dan cinta yang tak pernah padam. Perjalanannya di DA7 bukan hanya tentang memenangkan kompetisi, tetapi tentang menyembuhkan luka masa lalu dan membangun masa depan yang lebih cerah, tidak hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk keluarganya dan semua orang yang telah ia inspirasi. Dukungan dari idolanya, Lesti Kejora, juga menjadi poin penting yang menunjukkan bagaimana koneksi antar-artis dapat memberikan dampak positif yang luar biasa.
Lebih dari itu, April juga memberikan pesan penting mengenai penerimaan diri. Ia tidak malu mengakui kebiasaannya, bahkan mencoba untuk menormalisasikannya. Ini adalah langkah berani yang dapat membantu mengurangi stigma terhadap isu kesehatan mental, seperti kecemasan. Dengan menunjukkan bahwa ia adalah seorang penyanyi berbakat yang juga memiliki kerentanan, April menjadi panutan yang kuat bagi generasi muda. Ia mengajarkan bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak memiliki kelemahan, melainkan bagaimana kita belajar mengelola dan mengatasi kelemahan tersebut dengan cara yang positif dan konstruktif. Akhirnya, fokus April pada kebahagiaan orang tua adalah bukti nilai-nilai keluarga yang kuat, yang menjadi fondasi penting dalam setiap langkahnya.

