BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Rachel Amanda, seorang aktris yang telah memukau penonton dengan bakat aktingnya di layar kaca maupun layar lebar, belakangan ini mencuri perhatian publik dengan sisi lain dari dirinya yang tak banyak diketahui. Ia membagikan momen-momen unik di media sosial, di mana ia dengan lihai melakukan aktivitas "menukang" atau pekerjaan praktikal di rumahnya. Kegiatan ini bahkan ia namai sebagai segmen #AMandor, yang ia jalani bersama sang suami tercinta, Narawastu Indrapraja. Hobi yang tak biasa ini tentu saja mengundang rasa penasaran dan decak kagum dari para penggemarnya.
Rachel Amanda sendiri menjelaskan bahwa kegemarannya dalam pekerjaan praktikal ini bukanlah sesuatu yang muncul secara tiba-tiba. "Iya, itu sesekali," ujarnya saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada Kamis, 29 April 2026. Ia mengungkapkan bahwa kecenderungan dan kemampuannya dalam melakukan pekerjaan semacam ini seolah sudah melekat pada dirinya. "Kebetulan memang pekerjaan praktikal saya lebih pintar gitu dan lebih apa ya kebetulan tangannya lebih jago untuk merakit-rakit sesuatu gitu," lanjutnya, menyiratkan bahwa tangan dan pikirannya memang memiliki keahlian alami dalam hal-hal yang bersifat konstruktif dan mekanis. Bagi Rachel, aktivitas "menukang" ini bukan sekadar hobi semata, melainkan telah menjadi bagian integral dari identitasnya ketika berada di ruang pribadinya. "Jadi kayaknya itu ranahku gitu sebagai orang yang di rumah," ungkapnya dengan senyum merekah, seolah menemukan kepuasan tersendiri dalam mengutak-atik dan memperbaiki berbagai hal di kediamannya.
Lebih lanjut, bintang film yang kerap tampil memukau ini mengakui bahwa ia adalah sosok yang gemar melakukan banyak hal sekaligus, atau yang biasa disebut sebagai multitasking, terutama saat berada di rumah. Fenomena ini, menurutnya, adalah naluri perempuan yang seringkali terbangun ketika dihadapkan pada berbagai tuntutan dan ekspektasi. "Oh ya pasti itu mah. Maksudnya memang di satu sisi mungkin kadang-kadang ada ekspektasi, tapi mungkin ya karena dari ekspektasi itu kadang-kadang jadi perempuan tuh kita naluriahnya tuh jadi ‘ah bentar ya, ini kayaknya yang ini juga harus gue urusin’ gitu," jelasnya. Perkataannya ini menggambarkan bagaimana perempuan, termasuk dirinya, memiliki kemampuan untuk mengelola berbagai tugas dan tanggung jawab secara bersamaan, sebuah kemampuan yang seringkali muncul secara alami dalam lingkungan rumah tangga.
Namun, di balik semangatnya dalam melakukan berbagai aktivitas, Rachel Amanda memberikan penekanan penting mengenai batas-batas yang harus dijaga. Ia menegaskan bahwa aktivitas multitasking dan pekerjaan praktikal yang dilakukannya harus tetap berada dalam skala yang wajar dan aman. "Tapi mungkin dalam skala tertentu masih sehat gitu," ujarnya. Ia sangat berhati-hati agar kebiasaan ini tidak sampai membahayakan dirinya sendiri atau orang lain. "Tapi kalau sudah membahayakan fisik, sudah membahayakan, di film ini ya nyawa mungkin taruhannya, ya itu kan sudah jangan ya gitu," tegasnya. Rachel sangat prihatin jika ada pandangan yang menormalisasi perempuan bekerja hingga membahayakan keselamatan diri. Ia berpendapat bahwa penting untuk menjaga keseimbangan dan tidak mendorong perempuan untuk melakukan pekerjaan yang berisiko tinggi tanpa pertimbangan yang matang. Ini adalah pengingat penting bahwa kemandirian dan kemampuan tidak seharusnya mengorbankan keselamatan.
Hobi "menukang" Rachel Amanda ini membuka pandangan baru tentang citra seorang aktris. Ia tidak hanya dikenal karena kemampuannya dalam memerankan berbagai karakter di depan kamera, tetapi juga karena kecakapannya dalam kehidupan sehari-hari yang lebih praktis. Kemampuannya dalam merakit, memperbaiki, dan menciptakan berbagai hal di rumah menunjukkan sisi kemandirian dan kepraktisan yang patut diapresiasi. Ini membuktikan bahwa seorang perempuan bisa memiliki berbagai macam talenta dan minat, bahkan yang cenderung dianggap sebagai ranah laki-laki.
Lebih jauh lagi, apa yang dilakukan Rachel Amanda bisa menjadi inspirasi bagi banyak perempuan di luar sana. Di era modern ini, perempuan dituntut untuk menjadi lebih mandiri dan mampu mengurus berbagai aspek kehidupan mereka. Hobi seperti "menukang" ini tidak hanya bermanfaat secara fungsional, tetapi juga dapat memberikan rasa pencapaian dan kepuasan diri. Ketika seseorang mampu menyelesaikan tugas-tugas praktis sendiri, hal itu dapat meningkatkan rasa percaya diri dan kemandirian. Rachel, dengan menyebarkan momen-momen #AMandor, secara tidak langsung mendorong perempuan lain untuk mengeksplorasi potensi mereka dan tidak takut untuk mencoba hal-hal baru, terlepas dari stereotip gender yang ada.
Proses "menukang" di rumah, seperti yang dijelaskan Rachel, melibatkan pemahaman tentang alat, bahan, dan teknik dasar. Ini bisa berarti memperbaiki perabotan yang rusak, merakit furnitur baru, membuat dekorasi rumah sendiri, atau bahkan melakukan perbaikan kecil pada struktur rumah. Setiap proyek yang berhasil diselesaikan pasti memberikan rasa bangga tersendiri. Misalnya, jika ia berhasil memasang rak buku baru sendiri, tentu saja ada kepuasan melihat hasil kerja tangannya sendiri terpasang kokoh di dinding. Atau ketika ia berhasil memperbaiki keran yang bocor, itu tidak hanya menghemat biaya tukang, tetapi juga memberikan rasa pencapaian.
Kolaborasinya dengan sang suami, Narawastu Indrapraja, dalam segmen #AMandor juga patut disorot. Hal ini menunjukkan bahwa kegiatan praktikal di rumah tidak harus dilakukan sendirian, melainkan bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan mempererat hubungan antar pasangan. Ketika pasangan dapat bekerja sama dalam menyelesaikan tugas rumah tangga atau proyek-proyek kreatif, hal itu dapat menciptakan sinergi dan rasa saling mendukung. Momen-momen seperti ini, ketika mereka berdua berdiskusi tentang cara terbaik memasang sesuatu atau saling membantu memegang alat, adalah bentuk penguatan ikatan yang berharga.
Selain itu, Rachel Amanda juga menyentuh isu penting mengenai multitasking pada perempuan. Pengakuannya bahwa naluri perempuan seringkali mendorongnya untuk melakukan banyak hal sekaligus adalah sebuah observasi yang relevan. Di banyak budaya, perempuan seringkali diharapkan untuk mengurus rumah tangga, merawat anak, sekaligus memiliki karier profesional. Kemampuan untuk melakukan banyak hal secara bersamaan memang merupakan kekuatan, namun seperti yang ditekankan Rachel, penting untuk mengenali batas dan tidak memaksakan diri hingga membahayakan kesehatan fisik dan mental. Ia secara bijak mengingatkan bahwa menormalisasi kerja berlebihan yang membahayakan adalah hal yang keliru. Keseimbangan adalah kunci, dan menjaga kesehatan serta keselamatan harus menjadi prioritas utama.
Penting untuk dicatat bahwa aktivitas "menukang" yang dilakukan Rachel Amanda ini bukanlah semata-mata untuk pamer atau mencari sensasi. Dari penjelasannya, terlihat bahwa ini adalah panggilan pribadi, sebuah kegiatan yang memberinya kepuasan dan rasa kontrol atas lingkungan rumahnya. Ini adalah cara baginya untuk mengekspresikan kreativitasnya di luar ranah seni peran. Dunia perakitan dan perbaikan mungkin terlihat berbeda dari dunia akting, namun keduanya membutuhkan ketelitian, kesabaran, dan keterampilan. Dalam akting, ia memerankan karakter; dalam "menukang", ia menciptakan dan memperbaiki objek nyata.
Konteks berita ini, yaitu wawancara di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, pada tanggal 29 April 2026, menunjukkan bahwa Rachel Amanda tetap aktif dalam berbagai kegiatan publik meskipun memiliki kesibukan di rumah. Ini menegaskan kembali kemampuannya dalam menyeimbangkan kehidupan pribadi dan profesional. Ia mampu menjadi sosok yang multitalenta, baik di depan kamera maupun dalam kegiatan sehari-hari.
Secara keseluruhan, Rachel Amanda telah berhasil mematahkan stereotip dan menunjukkan bahwa perempuan dapat memiliki berbagai macam hobi dan keterampilan yang tidak terbatas oleh batasan gender. Hobi "menukang"nya bukan hanya sekadar kebiasaan unik, tetapi juga merupakan simbol kemandirian, kreativitas, dan kemampuan untuk mengelola kehidupan secara efektif. Melalui #AMandor, ia tidak hanya berbagi momen pribadi, tetapi juga menginspirasi banyak orang untuk mengeksplorasi sisi lain diri mereka, menemukan kepuasan dalam menciptakan dan memperbaiki, serta menjaga keseimbangan dalam menjalani kehidupan yang penuh tantangan. Pesannya yang tegas mengenai keselamatan dalam bekerja juga menjadi pengingat penting bagi semua orang, terutama perempuan, untuk selalu memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan diri.

