0

Mas’ad dan Mbah Mad: Ibu Kita Kartini Jilbaban

Share

Setiap tanggal 21 April, gema lagu "Ibu Kita Kartini" selalu memenuhi ruang-ruang kelas di seluruh pelosok Indonesia. Liriknya yang memuji sosok putri sejati, putri Indonesia yang harum namanya, serta cita-citanya yang mulia bagi bangsa, seolah menjadi napas wajib dalam setiap perayaan Hari Kartini. Begitu pula yang terjadi di SMK Rifaiyah Kesesi. Suasana sekolah mendadak berubah menjadi panggung keberagaman budaya; siswi-siswi tampak anggun dengan balutan kebaya yang elegan, sementara para siswa mayoritas mengenakan kemeja batik yang rapi. Di antara kerumunan itu, Mas’ad tampil mencolok. Ia memilih mengenakan baju surjan, pakaian adat khas Jawa yang lekat dengan sosok Sunan Kalijaga. Namun, dengan gaya khasnya yang jenaka, Mas’ad memodifikasi jahitan baju surjan tersebut dengan model kerah Shanghai, mirip seperti seragam Ip-Man dalam film Wing Chun. "Biar kesannya kayak orang Tionghoa (Chindo)," celetuknya dengan alasan yang membuat teman-temannya geleng-geleng kepala.

Di tengah khidmatnya upacara bendera, Kepala Sekolah SMK Rifaiyah Kesesi menyampaikan amanat yang menyita perhatian, khususnya bagi Mas’ad. Sang Kepsek menekankan sisi lain dari sosok Kartini yang mungkin jarang dibahas dalam buku sejarah umum. "Ibu kita Kartini juga seorang santriwati," tegas Pak Kepsek. Beliau menjelaskan bahwa Kartini pernah menimba ilmu kepada Kiai Soleh Darat, ulama besar dari Semarang. "Sejak usia muda, Kartini adalah santriwati yang cerdas dan kritis. Ia tidak segan mendebat gurunya jika ada penjelasan yang dirasa mengganjal dalam pemahamannya sebagai perempuan. Bahkan, Kartini pula yang mengusulkan kepada Mbah Soleh Darat agar menyusun kitab tafsir dalam bahasa Jawa agar mudah dipelajari oleh masyarakat awam," lanjut Pak Kepsek.

Bagi Mas’ad, informasi bahwa Kartini adalah seorang santriwati menjadi poin yang paling melekat di otaknya. Namun, naluri "kepo" dan usilnya mulai bekerja. Sebuah pertanyaan kontradiktif muncul di benaknya: "Ibu kita Kartini kan santriwati, kok gambarnya tidak berjilbab?" Pertanyaan itu terus mengusik pikirannya sepanjang sisa waktu upacara. Begitu upacara selesai dan sebelum pelajaran dimulai, Mas’ad segera mengeluarkan ponselnya untuk mencari jawaban di dunia maya. Hasil pencarian menunjukkan sebuah gambar lukisan seorang wanita berjilbab berkacamata. Awalnya, ia merasa lega, namun kekecewaan segera menyergap saat ia membaca artikel yang melabeli gambar tersebut sebagai hoaks. Artikel itu menjelaskan panjang lebar bahwa memaksakan narasi Kartini berjilbab adalah sebuah kekeliruan sejarah, dan bahwa pada zamannya, perempuan Jawa—termasuk yang muslimah sekalipun—belum banyak yang mengenakan jilbab.

Suasana kelas yang tadinya tenang tiba-tiba pecah ketika Bu Guru masuk ke kelas, memutus waktu luang yang biasanya digunakan siswa untuk bersantai. Protes kecil pun dilayangkan murid-murid, namun Bu Guru dengan tegas memerintahkan semua ponsel dikumpulkan untuk memulai pelajaran. Meskipun sudah membaca artikel tersebut, Mas’ad masih merasa tidak puas. Dahaga akan jawaban atas pertanyaannya belum benar-benar terobati. Sesampainya di rumah, Mas’ad langsung mencari Mbah Uti yang sedang sibuk mencuci peralatan dapur. Baginya, Mbah Uti adalah sosok yang paling tepat untuk dimintai pandangan mengenai wanita dan dunia santriwati.

Mas’ad dan Mbah Mad: Ibu Kita Kartini Jilbaban

"Mbah! Tadi kata Pak Kepsek, Ibu kita Kartini itu santriwati. Tapi kok gambarnya tidak pakai jilbab?" tanya Mas’ad langsung ke pokok masalah. Mbah Uti, yang terbiasa melihat cucunya kritis, hanya tersenyum meneduhkan. "Tumben, anak zaman sekarang biasanya apa-apa tanya ke Mbah Google," canda Mbah Uti. Mas’ad pun menjelaskan bahwa ia sudah bertanya pada "Mbah Google" namun jawabannya tidak membuatnya mantap. Ia menceritakan argumen yang ia baca: bahwa itu adalah hoaks, dan bahwa berjilbab atau tidak bukanlah tolok ukur ketokohan Kartini.

Mbah Uti menanggapi dengan santai namun filosofis. "Argumen itu memang benar secara historis. Tapi, kalau menurut Mbah Uti, Kartini memang santriwati Mbah Soleh Darat, yang juga berguru pada Mbah Tubo Purwosari, yang merupakan santri dari Mbah Rifa’i. Sebagai sesama santriwati, Mbah Uti yakin Kartini itu berjilbab. Mengapa gambarnya tidak berjilbab? Ya, mungkin yang melukis hanya melihat saat Kartini tidak sedang mengenakan kerudung, sama seperti Mbah Uti kalau lagi menyapu di belakang rumah kan tidak pakai jilbab," jawab Mbah Uti sambil terkekeh.

Mas’ad tertegun. Penjelasan Mbah Uti membuka cakrawala berpikirnya bahwa sejarah seringkali merupakan soal narasi dan sudut pandang. "Berarti digambar pas lagi nyapu di belakang rumah ya, Mbah?" sahut Mas’ad dengan nada bercanda. Mbah Uti melanjutkan, "Bisa jadi begitu. Seperti halnya presiden, apakah beliau memakai peci setiap saat? Tentu tidak. Intinya, ini adalah perbedaan pendapat. Kamu kan pintar menggambar dan mengarang, kenapa tidak kamu buat sendiri gambar Kartini berjilbab dengan narasi yang kuat? Itu akan menjadi cara yang bagus untuk mendudukkan beliau sebagai figur santriwati yang salehah."

Saran Mbah Uti membuat Mas’ad merasa tercerahkan. Ia mulai memahami bahwa sejarah tidak selalu kaku, melainkan bisa dilihat dari berbagai perspektif selama disertai argumentasi yang kuat. Tepat saat itu, suara azan Ashar berkumandang. Mbah Uti segera mengajak Mas’ad untuk bersiap salat berjamaah di masjid. Namun, sebelum beranjak, Mas’ad teringat satu poin lagi. "Mbah, kalau sanad ngajinya sampai ke Mbah Rifa’i, berarti Ibu Kartini itu Rifaiyah dong? Soalnya kan ngajinya sama santrinya santri Mbah Rifa’i," ujar Mas’ad iseng.

Mbah Uti tersenyum puas melihat cucunya masuk dalam "jebakan" logikanya. "Bukan begitu, tapi lebih tepatnya UMRI (Unit Muslimat Rifaiyah). Nah, kalau sudah tahu begitu, masa UMRI tidak berjilbab?" jawab Mbah Uti telak. Mas’ad hanya bisa tertawa kagum. Jawaban Mbah Uti selalu sederhana, tepat, dan mudah diterima. Baginya, Kartini bukan sekadar tokoh dalam buku sejarah, melainkan teladan bagi para santriwati. Di akhir perenungannya, Mas’ad menyadari bahwa menghormati Kartini bisa dilakukan dengan berbagai cara, termasuk melalui cara pandang seorang santri yang menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya. Selamat memperingati Hari Kartini, sosok inspiratif yang terus hidup dalam ingatan para santriwati dan seluruh perempuan Indonesia. Selamat untuk para UMRI yang terus berjuang dan AMRI yang senantiasa mendukung, semoga semangat Kartini terus menyala dalam jiwa generasi muda Indonesia.