0

Denise Chariesta Sedih Anak Jadi Sasaran Hujatan Netizen

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Selebgram yang kerap menjadi pusat perhatian publik, Denise Chariesta, tak kuasa menahan kesedihannya saat mengetahui sang buah hati, Jaden Bowen Yap, menjadi sasaran empuk hujatan dan komentar negatif dari para pengguna media sosial. Perlakuan tidak menyenangkan ini, bahkan telah dialami Jaden sejak usianya masih sangat belia, menyentuh hati Denise sebagai seorang ibu. Dalam sebuah kesempatan wawancara eksklusif dengan tim detikcom yang berlangsung pada Rabu, 15 April 2026, Denise mengungkapkan betapa hancurnya perasaannya melihat sang anak diperlakukan demikian. "Sedihlah, orang tua mana yang tidak sedih kalau anaknya disumpahin, dicaci maki, dihina. Kalau dikasih masukan yang membangun, tidak apa-apa," ujar Denise Chariesta dengan nada pilu.

Meskipun demikian, Denise Chariesta menunjukkan sikap yang patut diacungi jempol. Alih-alih membalas dengan kemarahan, ia memilih untuk tidak menyimpan dendam terhadap para netizen yang telah melontarkan komentar pedas. Ia justru berusaha melihat sisi positif dari perhatian yang diberikan kepada anaknya, sekecil apapun bentuknya. "Tidak sih, karena saya yakin sebenarnya mereka sayang Jaden, makanya mereka selalu perhatikan Jaden," ungkapnya dengan senyum tipis. Sikap dewasa ini menunjukkan bahwa Denise lebih mengutamakan kedamaian dan penerimaan daripada konfrontasi.

Perbincangan kemudian bergeser pada topik pola asuh anak, khususnya terkait dengan konsep "No No Baby" yang sempat menjadi perbincangan hangat. Denise memaparkan pandangannya bahwa pendekatan yang lembut dan penuh kasih sayang merupakan kunci utama dalam membangun kedekatan emosional yang kuat antara orang tua dan anak. Ia meyakini bahwa metode pengasuhan yang tidak melibatkan kekerasan atau paksaan akan menciptakan ikatan yang lebih erat. "Iya, parenting orang kayak memang harus lembut, karena aku yakin dengan ‘no no baby’ tidak kasar sama anak bisa lebih dekat sama orang tua," jelasnya. Keyakinan ini menjadi landasan kuat bagi gaya pengasuhan yang ia terapkan pada Jaden.

Lebih lanjut, Denise Chariesta bahkan mengumumkan sebuah kejutan yang menarik. Ia mengungkapkan rencananya untuk meluncurkan sebuah lagu yang terinspirasi dari konsep "No No Baby" tersebut. "Dan saya akan launching lagu ‘No No Baby’ bulan depan," katanya dengan antusias. Langkah ini menunjukkan kreativitas Denise dalam menyalurkan pemikirannya tentang pengasuhan anak ke dalam karya seni yang dapat dinikmati oleh banyak orang, sekaligus mengedukasi tentang pentingnya pendekatan yang lembut dalam membesarkan anak.

Denise juga menyadari sepenuhnya bahwa sang anak, Jaden, masih terlalu kecil untuk memahami kompleksitas dunia popularitas dan segala pro-kontranya. "Jaden masih batita, yaitu bayi di bawah 3 tahun, jadi belum mengerti," tuturnya. Oleh karena itu, ia memiliki strategi khusus untuk mempersiapkan Jaden menghadapi potensi tekanan di masa depan. "Makanya saya ajari dia jadi anak yang pemaaf, supaya nanti pas dia sudah bisa baca, dia nggak sakit hati tapi memaafkan," lanjutnya. Ajaran untuk memaafkan ini merupakan bekal berharga yang diharapkan dapat melindungi Jaden dari luka emosional akibat cibiran.

Sebelumnya, Denise Chariesta juga telah mencurahkan isi hatinya melalui sebuah unggahan emosional di akun Instagram pribadinya. Dalam unggahan tersebut, ia membagikan foto kebersamaannya yang hangat dengan sang anak, diselingi dengan cerita pilu mengenai komentar negatif yang terus menerus diterima oleh Jaden. "Anak batita 2 tahun tampan menawan ini harus menghadapi komentar netizen yang nyumpahin, sumpah serapah, hinaan, dan selalu membalas dengan senyuman. Pas bayi dibilang bayi kurang gizi karena BB-nya kecil. Makasi Tuhan Jaden tumbuh sehat, bahagia, walau masih batita sudah bisa buka banyak lapangan kerjaan buat orang, bawa rezeki, dan jadi anak yang pemaaf untuk memaafkan semua cibiran dan hinaan," tulis Denise dalam captionnya. Unggahan ini sontak menuai simpati dari banyak pengikutnya.

Kisah Denise Chariesta ini kembali mengangkat isu penting mengenai etika berinteraksi di ruang digital, khususnya terkait dengan perlindungan anak. Meskipun popularitas dapat membawa banyak hal positif, namun penting bagi setiap individu untuk menyadari dampaknya, terutama pada mereka yang belum memiliki kemampuan untuk memprosesnya. Menjadi orang tua di era digital memang memiliki tantangan tersendiri, di mana privasi dan perlindungan anak harus menjadi prioritas utama. Kasus Jaden mengingatkan kita semua untuk lebih bijak dalam berkomentar dan berinteraksi di media sosial, agar tercipta lingkungan digital yang lebih positif dan aman bagi semua, terutama bagi anak-anak yang masih rentan.

Dalam konteks yang lebih luas, fenomena ini juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi masyarakat. Pemahaman tentang dampak kata-kata dan bagaimana cara berinteraksi secara konstruktif di platform online sangatlah krusial. Media sosial, meskipun menjadi wadah ekspresi dan interaksi, juga bisa menjadi arena perundungan jika tidak digunakan dengan penuh tanggung jawab. Para orang tua juga perlu dibekali dengan strategi untuk melindungi anak-anak mereka dari ancaman siber dan memberikan pemahaman yang tepat tentang penggunaan teknologi.

Lebih jauh lagi, sikap Denise Chariesta yang memilih untuk mengajarkan anaknya menjadi pemaaf menunjukkan visi jangka panjangnya sebagai seorang ibu. Ia tidak hanya berfokus pada melindungi Jaden dari komentar negatif saat ini, tetapi juga mempersiapkannya untuk menghadapi tantangan di masa depan dengan kekuatan mental yang tangguh. Kemampuan memaafkan, sebagaimana diajarkan oleh Denise, adalah sebuah bentuk kekuatan diri yang dapat membebaskan seseorang dari beban emosional dan memungkinkan mereka untuk terus bergerak maju dengan optimisme. Hal ini sejalan dengan prinsip-prinsip psikologi positif yang menekankan pentingnya mengembangkan ketahanan emosional dan kemampuan adaptasi.

Pola asuh "No No Baby" yang diusung Denise, meskipun mungkin terdengar kontroversial bagi sebagian orang, pada dasarnya merujuk pada pendekatan pengasuhan yang menekankan pada komunikasi non-kekerasan dan pembentukan ikatan emosional yang kuat. Dalam dunia pengasuhan anak yang terus berkembang, berbagai metode dan filosofi terus bermunculan, dan setiap orang tua berhak memilih pendekatan yang paling sesuai dengan nilai-nilai dan keyakinan mereka. Yang terpenting adalah bagaimana metode tersebut berkontribusi pada perkembangan anak yang sehat, baik secara fisik, emosional, maupun sosial.

Peluncuran lagu "No No Baby" oleh Denise Chariesta dapat menjadi sarana edukasi yang efektif bagi khalayak luas. Melalui medium musik yang universal, pesan-pesan positif tentang pengasuhan anak yang lembut dan penuh kasih sayang dapat tersampaikan dengan lebih luas dan mudah diterima. Ini menunjukkan bagaimana kreativitas dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih mulia, yaitu membentuk generasi yang lebih baik.

Secara keseluruhan, kisah Denise Chariesta dan Jaden memberikan banyak pelajaran berharga. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap akun media sosial yang aktif, terdapat individu nyata dengan perasaan dan keluarga yang perlu dihormati. Hujatan dan komentar negatif, sekecil apapun, dapat memiliki dampak yang besar, terutama pada anak-anak yang belum mengerti. Oleh karena itu, mari bersama-sama menciptakan lingkungan digital yang lebih aman, positif, dan penuh empati. Kasus ini juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk merefleksikan kembali cara berinteraksi di dunia maya, serta pentingnya menjaga batas-batas kesopanan dan rasa hormat, terutama ketika menyangkut anak-anak. Kebaikan dan empati harus menjadi prinsip utama dalam setiap interaksi online, agar media sosial benar-benar menjadi sarana yang bermanfaat dan tidak menimbulkan luka.