Jakarta – Badai eksodus yang melanda xAI, startup kecerdasan buatan (AI) besutan miliarder visioner Elon Musk, telah mencapai puncaknya. Seluruh sebelas pendiri asli perusahaan yang bertanggung jawab atas pengembangan chatbot Grok ini dilaporkan telah hengkang, meninggalkan Musk sebagai satu-satunya figur pendiri yang tersisa. Situasi ini memicu kekhawatiran serius terhadap masa depan xAI di tengah persaingan industri AI yang kian memanas dan dinamika internal yang bergejolak.
Kabar terbaru yang mengguncang datang dari Manuel Kroiss dan Ross Nordeen, dua co-founder terakhir yang masih bertahan selain Musk. Laporan Business Insider mengonfirmasi kepergian keduanya, menandai akhir dari era tim pendiri xAI yang dikumpulkan Musk. Kroiss, yang sebelumnya memegang peran krusial dalam memimpin tim pelatihan awal model-model AI xAI, secara terbuka mengumumkan rencananya untuk meninggalkan perusahaan pada bulan ini. Kepergiannya merupakan pukulan telak mengingat posisinya yang strategis dalam pondasi teknis startup yang berfokus pada pengembangan large language model (LLM) seperti Grok.
Sementara itu, Ross Nordeen, yang sering disebut-sebut sebagai ‘tangan kanan’ Elon Musk dalam beberapa proyek sebelumnya, dikabarkan keluar dari xAI pada hari Jumat pekan lalu. Nordeen memiliki rekam jejak yang panjang dalam ekosistem Musk, ia dilaporkan pindah dari Tesla ke xAI. Perannya tidak hanya sebatas di pengembangan teknologi; ia juga terlibat secara signifikan dalam perencanaan pemutusan hubungan kerja (PHK) massal di Twitter (sekarang X) setelah platform media sosial itu diakuisisi oleh Musk pada tahun 2022. Kehadiran Nordeen di xAI mengindikasikan tingkat kepercayaan Musk yang tinggi padanya, sehingga kepergiannya semakin memperdalam krisis kepemimpinan di startup AI tersebut.
Kepergian Kroiss dan Nordeen terjadi hanya beberapa pekan setelah Elon Musk sendiri secara blak-blakan menyatakan bahwa xAI "tidak dibangun dengan benar sejak awal" dan kini sedang dalam proses pembangunan ulang dari fondasinya. Pernyataan ini, meskipun diutarakan dengan nada pragmatis khas Musk, secara implisit mengisyaratkan adanya masalah struktural atau strategis internal yang mendalam di dalam startup tersebut. Wacana pembangunan ulang ini menjadi lebih kompleks mengingat dinamika korporat terbaru xAI. Belum lama ini, xAI diakuisisi oleh SpaceX, langkah yang menyatukan entitas SpaceX, xAI, dan X (platform media sosial yang sebelumnya dikenal sebagai Twitter) di bawah satu payung korporat yang lebih besar. Akuisisi ini dipandang sebagai upaya Musk untuk mengonsolidasikan kekuasaan dan sumber daya di seluruh kerajaan teknologinya, terutama saat SpaceX sendiri dikabarkan sedang merencanakan langkah besar untuk melantai di bursa saham (IPO). Integrasi ke dalam SpaceX diharapkan dapat memberikan xAI akses ke sumber daya komputasi dan finansial yang lebih besar, namun di sisi lain, juga menimbulkan pertanyaan tentang otonomi dan visi asli startup tersebut.
Eksodus massal ini bukanlah fenomena yang terjadi secara tiba-tiba, melainkan serangkaian peristiwa yang berlarut-larut sejak awal tahun. Benih-benih keretakan mulai terlihat ketika Christian Szegedy, salah satu pendiri yang berlatar belakang kuat dari Google, memutuskan untuk meninggalkan xAI pada Februari 2025. Kepergiannya, meskipun pada awalnya mungkin dianggap sebagai insiden terisolasi, ternyata menjadi pertanda awal gelombang yang lebih besar. Szegedy dikenal sebagai salah satu peneliti AI terkemuka, dan keputusannya untuk hengkang menimbulkan spekulasi mengenai arah strategis xAI.
Situasi semakin memburuk dan eksodus semakin dipercepat mulai awal tahun 2026. Tony Wu, seorang co-founder yang memimpin tim penalaran—area krusial dalam pengembangan kemampuan AI—mengumumkan pengunduran dirinya pada 10 Februari 2026. Kehilangan sosok seperti Wu, yang bertanggung jawab atas logika dan kemampuan berpikir model AI, tentu saja meninggalkan celah signifikan dalam tim inti xAI. Kemampuannya untuk merancang algoritma yang memungkinkan Grok memahami dan merespons pertanyaan dengan nuansa yang kompleks sangatlah vital.
Kurang dari 24 jam setelah pengumuman Wu, Jimmy Ba, co-founder lainnya, juga ikut mengundurkan diri. Menurut laporan dari The Next Web pada Senin, 30 Maret 2026, kepergian Ba dipicu oleh ketegangan dengan tim xAI terkait tuntutan untuk meningkatkan kinerja model AI. Ketegangan internal ini mengindikasikan adanya perbedaan filosofi atau ekspektasi yang tinggi dalam pengembangan produk, yang mungkin tidak dapat dipenuhi oleh tim dengan sumber daya atau arah yang ada. Ba sendiri adalah seorang ahli yang sangat dihormati di komunitas AI, dan kepergiannya menambah daftar panjang talenta berharga yang meninggalkan startup ini.
Pada pertengahan Maret 2026, hanya Kroiss dan Nordeen yang tersisa bersama Musk sebagai pendiri. Kepergian keduanya minggu ini melengkapi hengkangnya seluruh co-founder xAI. Ini adalah situasi yang hampir tidak pernah terjadi dalam sejarah startup teknologi besar, di mana seluruh tim pendiri, kecuali CEO, memutuskan untuk cabut.
Kehilangan tim pendiri ini bukan sekadar masalah kuantitas, melainkan kualitas yang tak ternilai. Tim yang dikumpulkan Elon Musk untuk mendirikan xAI pada awalnya adalah kumpulan individu-individu brilian dan sangat berpengalaman di bidang kecerdasan buatan. Mereka bukan "orang-orang sembarangan," melainkan talenta kelas kakap yang diakui secara global. Jimmy Ba, misalnya, adalah salah satu penulis di balik makalah optimisasi AI yang sangat berpengaruh dan telah dikutip lebih dari 95.000 kali dalam literatur ilmiah. Karya-karyanya menjadi fondasi bagi banyak inovasi di bidang pembelajaran mesin. Christian Szegedy, sebelum bergabung dengan xAI, telah mengukir namanya di Google, salah satu raksasa teknologi dengan riset AI terdepan di dunia, di mana ia terlibat dalam proyek-proyek AI mutakhir.
Igor Babuschkin, engineer kepala xAI, datang dari Google DeepMind, unit riset AI milik Google yang terkenal dengan pencapaian-pencapaian revolusioner seperti AlphaGo. Pengalaman Babuschkin di DeepMind sangat berharga dalam membangun arsitektur model AI yang kompleks. Co-founder lainnya seperti Greg Yang, Toby Pohlen, Zihang Dai, Guodong Zhang, dan Kyle Kosic juga membawa pengalaman yang tak kalah impresif dari berbagai institusi dan perusahaan teknologi terkemuka, termasuk DeepMind, Google, Microsoft, dan bahkan OpenAI—pesaing utama xAI di pasar LLM. Keberadaan talenta-talenta dari OpenAI dalam tim pendiri xAI pada awalnya dianggap sebagai keuntungan strategis, memberikan wawasan langsung tentang cara kerja kompetitor.
Situasi yang melanda xAI ini memunculkan sejumlah pertanyaan krusial mengenai apa yang sebenarnya terjadi di balik layar dan apa implikasinya bagi masa depan perusahaan. Salah satu faktor utama yang mungkin berkontribusi adalah "perang bakat" (talent war) yang intens di industri AI. Dengan permintaan akan ahli AI yang sangat tinggi dan pasokan yang terbatas, perusahaan-perusahaan terkemuka seperti OpenAI, Google DeepMind, dan Anthropic secara agresif bersaing untuk mendapatkan dan mempertahankan talenta terbaik. Lingkungan kerja yang sangat menuntut, tekanan untuk mencapai hasil yang cepat, dan potensi perbedaan visi strategis dapat menjadi pemicu bagi para pendiri untuk mencari peluang lain yang lebih sesuai dengan aspirasi mereka.
Gaya kepemimpinan Elon Musk yang dikenal sangat ambisius, terkadang kontroversial, dan menuntut standar "hardcore" juga bisa menjadi faktor. Meskipun gaya ini terbukti efektif dalam mendorong inovasi di Tesla dan SpaceX, mungkin tidak selalu cocok untuk setiap individu atau setiap jenis proyek, terutama dalam lingkungan startup AI yang membutuhkan kolaborasi intens dan otonomi kreatif. Pernyataan Musk tentang perlunya "membangun ulang dari fondasi" mungkin mengisyaratkan ketidaksepakatan fundamental tentang arsitektur atau filosofi pengembangan Grok yang akhirnya menyebabkan para pendiri merasa tidak sejalan.
Dengan kepergian seluruh pendiri, Elon Musk kini menghadapi tugas yang sangat berat untuk merevitalisasi xAI. Proses "pembangunan ulang dari fondasi" yang ia gaungkan berarti harus merekrut tim inti baru, membangun kembali budaya perusahaan, dan mungkin merumuskan kembali strategi pengembangan produk. Ini adalah tantangan besar, bahkan bagi seorang Elon Musk yang dikenal dengan kemampuannya membalikkan keadaan. Kepercayaan investor juga menjadi sorotan. Meskipun xAI baru-baru ini diakuisisi oleh SpaceX, gejolak internal semacam ini dapat menimbulkan keraguan mengenai stabilitas dan prospek jangka panjang perusahaan, terutama menjelang rencana IPO SpaceX. Pasar sangat sensitif terhadap sinyal ketidakpastian, dan eksodus pendiri adalah salah satu sinyal terkuat dari masalah internal.
Masa depan Grok, chatbot yang menjadi produk utama xAI, juga dipertanyakan. Tanpa para arsitek aslinya, apakah Grok dapat terus bersaing dan berinovasi melawan para raksasa AI lainnya? Kemampuan Grok untuk mengakses informasi secara real-time dan gaya responsnya yang "sedikit memberontak" adalah fitur pembeda yang harus terus dikembangkan. Namun, dengan tim yang sepenuhnya baru, proses ini mungkin akan menghadapi hambatan dan penundaan.
Secara keseluruhan, xAI berada di persimpangan jalan yang kritis. Kehilangan seluruh tim pendiri adalah pukulan telak yang mengancam posisi startup ini dalam perlombaan AI global. Meskipun Elon Musk dikenal sebagai figur yang mampu mengubah kemustahilan menjadi kenyataan, ia kini dihadapkan pada salah satu ujian terberatnya: membuktikan bahwa xAI dapat bangkit kembali dan merebut pangsa pasar AI tanpa para arsitek aslinya, di tengah lanskap teknologi yang semakin kompetitif dan kehausan akan inovasi yang tak berkesudahan.

