BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kepergian sang ibunda tercinta, Siti Sundari, pada Kamis (27/3/2026) malam, menyisakan duka mendalam bagi musisi Anji. Namun, di tengah kesedihan yang seharusnya melanda, Anji justru merasakan keanehan yang cukup membingungkan. Ia mengungkapkan rasa heran yang teramat sangat, karena dirinya yang dikenal sebagai pribadi yang mudah tersentuh dan kerap menangis, justru tidak menunjukkan air mata saat momen kehilangan terbesar dalam hidupnya. Pengakuan ini disampaikan Anji melalui unggahan Instagram Stories miliknya, yang kemudian dikutip oleh detikcom pada Senin (30/3/2026).
"Aneh banget. Yang kenal saya pasti tahu banget kalau saya orangnya gampang tersentuh. Anak bikin lagu bagus, nangis. Anak juara Gadis Sampul, nangis. Nonton film, nangis. Gampang banget, nangis," ujar Anji dalam curahan hatinya. Ia melanjutkan, "Tapi, pas mama jadi orang yang paling penting buat hidup saya meninggal, kok saya bisa gak nangis ya? Ini aneh banget." Pernyataan ini menunjukkan betapa kuatnya kontradiksi emosional yang dialami Anji. Biasanya, momen-momen yang menyentuh hati atau bahkan yang bersifat fiksi seperti film saja mampu membuatnya menitikkan air mata, namun kini, kehilangan sosok yang paling krusial dalam hidupnya justru tidak memicu reaksi tangisan yang lazim.

Lebih lanjut, Anji membandingkan reaksinya dengan orang-orang terdekatnya, termasuk kakaknya, Erie, yang terlihat jelas menunjukkan kesedihan mendalam dan terus menangis selama prosesi pemakaman. "Terpantau selama pemakaman ibundanya, Siti Sundari, Anji memang terlihat tegar. Berbeda dengan kakaknya, Erie yang terus menangis," tulis dalam keterangan foto yang menyertai berita tersebut. Ketegaran Anji di hadapan publik dan bahkan di hadapan anggota keluarga yang berduka semakin mempertegas keanehan yang ia rasakan. Fenomena ini seringkali disebut sebagai shock response atau respons syok, di mana seseorang mengalami penolakan emosional sementara sebagai mekanisme pertahanan diri dari rasa sakit yang luar biasa.
Ibunda Anji, Siti Sundari, meninggal dunia pada Kamis (27/3/2026) malam. Berita duka ini tentu saja menjadi pukulan berat bagi Anji dan seluruh keluarga besar. Kehilangan seorang ibu adalah kehilangan yang tak ternilai harganya, dan setiap orang memiliki cara yang berbeda dalam memproses kesedihan. Bagi Anji, keengganan untuk menangis di momen krusial ini menjadi sebuah misteri emosional yang ingin ia pahami. Ia bukan sekadar tidak merasakan sedih, melainkan merasa aneh karena respons fisiknya tidak sesuai dengan ekspektasi dirinya sendiri dan orang-orang di sekitarnya yang mengenalnya.
Dalam budaya yang seringkali mengasosiasikan kesedihan dengan air mata, Anji merasa tertekan oleh ketidakmampuannya untuk menangis. Hal ini bisa menimbulkan pertanyaan internal tentang seberapa dalam ia benar-benar merasakan kehilangan. Namun, penting untuk diingat bahwa kesedihan adalah pengalaman yang kompleks dan multidimensional. Air mata hanyalah salah satu ekspresi dari kesedihan, dan ketiadaannya tidak berarti ketiadaan rasa duka. Ada berbagai cara tubuh dan pikiran kita merespons trauma dan kehilangan, termasuk dengan mati rasa, kejutan, bahkan ketenangan yang membingungkan.

Psikolog seringkali menjelaskan bahwa respons emosional terhadap kematian orang yang dicintai dapat bervariasi secara dramatis antar individu. Faktor-faktor seperti kedekatan hubungan, cara seseorang dibesarkan untuk mengekspresikan emosi, dan bahkan faktor biologis dapat memengaruhi bagaimana seseorang bereaksi. Bagi sebagian orang, menangis adalah cara yang sehat untuk melepaskan ketegangan emosional. Namun, bagi yang lain, kesedihan mungkin bermanifestasi dalam bentuk kemarahan, kebingungan, isolasi diri, atau bahkan ketenangan yang tampak seperti ketidakpedulian.
Dalam kasus Anji, yang ia sebutkan adalah "orang yang paling penting buat hidup saya meninggal". Ini menunjukkan betapa sentralnya peran sang ibu dalam kehidupannya. Jika seseorang saja yang begitu penting meninggal, dan responsnya justru tidak seperti yang ia duga, hal ini bisa menimbulkan rasa bersalah atau keraguan diri. "Apakah saya benar-benar mencintainya? Apakah saya tidak cukup sedih?" pertanyaan-pertanyaan seperti ini mungkin berkecamuk di benak Anji. Namun, ini adalah interpretasi yang keliru. Ketiadaan air mata justru bisa menjadi indikator betapa dalamnya luka yang dirasakan, sampai-sampai pikiran dan tubuhnya belum siap untuk memprosesnya secara emosional.
Proses berduka bukanlah garis lurus yang seragam. Ia adalah sebuah perjalanan yang penuh dengan pasang surut, emosi yang campur aduk, dan terkadang, keanehan yang sulit dijelaskan. Anji yang biasanya mudah menangis, mungkin saat ini sedang mengalami fase penolakan atau kejutan yang kuat. Otaknya mungkin belum dapat mencerna realitas kehilangan yang begitu besar. Ini adalah mekanisme pertahanan alami yang melindungi individu dari kehancuran emosional total. Ia mungkin merasakan kesedihan yang mendalam di dalam dirinya, tetapi belum mampu mengekspresikannya melalui tangisan.

Penting bagi Anji, dan siapa pun yang mengalami situasi serupa, untuk tidak menghakimi diri sendiri atas reaksi emosional mereka. Setiap orang berduka dengan cara mereka sendiri. Mungkin saja, seiring berjalannya waktu, Anji akan mulai merasakan luapan emosi yang lebih besar, termasuk tangisan. Atau mungkin, kesedihannya akan terus bermanifestasi dalam bentuk lain yang lebih tenang namun tetap mendalam. Yang terpenting adalah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merasakan dan memproses kehilangan, tanpa tekanan untuk memenuhi ekspektasi eksternal atau bahkan ekspektasi diri sendiri yang didasarkan pada pengalaman masa lalu.
Kehidupan Anji yang dikenal penuh dengan ekspresi emosional melalui karya musiknya, kini diuji dengan sebuah pengalaman yang sangat personal dan intim. Karyanya seringkali menyentuh hati pendengarnya, menunjukkan kemampuannya untuk merasakan dan mengartikulasikan emosi. Namun, dalam kesedihan yang paling pribadi, emosinya bereaksi dengan cara yang tak terduga. Hal ini justru bisa menjadi inspirasi baginya untuk menciptakan karya-karya yang lebih mendalam dan autentik di masa depan, yang mungkin akan mengeksplorasi kompleksitas kesedihan dan cara manusia menghadapinya.
Keluarga dan teman-teman Anji mungkin perlu memahami dan mendukungnya dalam menghadapi keanehan emosional ini. Memberikan ruang, mendengarkan tanpa menghakimi, dan mengingatkannya bahwa tidak ada cara yang "benar" atau "salah" untuk berduka, akan sangat membantu. Dukungan sosial adalah elemen krusial dalam proses pemulihan pasca kehilangan.

Sebagai penutup, kisah Anji ini menjadi pengingat bahwa emosi manusia adalah wilayah yang sangat kompleks dan seringkali tidak terduga. Apa yang tampak "aneh" di permukaan bisa jadi merupakan manifestasi dari proses internal yang mendalam dan rumit. Kehilangan ibunda adalah momen yang tak tergantikan, dan cara Anji meresponsnya, meskipun membingungkan baginya sendiri, adalah bagian dari perjalanan berduka yang unik dan personal. Yang terpenting adalah ia terus bergerak maju, memproses kesedihannya, dan pada akhirnya menemukan kedamaian dalam ingatannya tentang sang ibunda tercinta.

