BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah hiruk-pikuk kesibukan dunia hiburan yang tak pernah berhenti, aktor sekaligus sutradara ternama, Baim Wong, menemukan momen berharga untuk membagikan perkembangan spiritual kedua buah hatinya, Kiano Tiger Wong dan Kenzo Eldrago Wong, dalam menyambut dan menjalankan ibadah di bulan suci Ramadan tahun ini. Kendati padat jadwal menggarap proyek film terbarunya yang menuntut konsentrasi tinggi, Baim Wong menunjukkan dedikasinya sebagai seorang ayah dengan senantiasa memantau aktivitas anak-anaknya. Fokus utamanya tertuju pada Kiano, putra sulungnya, yang kini telah menunjukkan inisiatif untuk mulai belajar menahan lapar dan haus, sebuah langkah awal yang penting dalam memahami makna puasa.
Baim Wong dengan bangga mengungkapkan bahwa putra sulungnya, Kiano, telah mulai mencoba menjalankan ibadah puasa. Meskipun belum mampu melakukannya secara penuh selama satu hari penuh, mengingat usianya yang masih terbilang dini, usaha Kiano untuk berpuasa setengah hari patut diapresiasi. "Sudah, setengah hari. Kiano sudah setengah hari," ujar Baim Wong dengan nada penuh kehangatan saat ditemui di kawasan Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada hari Selasa, 17 Maret 2026. Pernyataan ini menggarisbawahi pentingnya pembiasaan dan pendekatan yang disesuaikan dengan usia anak dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan.
Meskipun Kiano telah menunjukkan semangat untuk berpuasa, Baim Wong mengakui bahwa ia belum mewajibkan kedua anaknya untuk bangun melaksanakan sahur. Mantan suami Paula Verhoeven ini memiliki pertimbangan tersendiri. Ia merasa kasihan jika harus memaksakan anak-anaknya yang masih sangat kecil untuk bangun di dini hari. "Nggak, jarang sahur mereka. Tapi mau dibangunin cuma saya kasihan, masih kecil," tuturnya, menunjukkan empati dan pemahaman mendalam terhadap kebutuhan perkembangan anak di usia mereka. Pendekatan ini mencerminkan filosofi pengasuhan yang mengutamakan kenyamanan dan kesehatan anak, sembari tetap mendorong semangat ibadah.
Lebih jauh mengenai metode pengajaran yang ia terapkan, Baim Wong menjelaskan dengan tegas bahwa ia tidak menggunakan sistem reward atau iming-iming hadiah sebagai insentif agar anak mau berpuasa. Baginya, pada tahap awal ini, yang terpenting adalah menanamkan pembiasaan yang positif agar anak-anak terbiasa dengan suasana dan atmosfer ibadah Ramadan. Tujuannya adalah agar mereka merasakan kedekatan dengan ritual suci ini tanpa adanya tekanan materi atau imbalan eksternal. "Belum, belum. Gak ada (hadiah). Cuman kadang-kadang kan kita pakai trik itu ya dulu ya, dapat apalah kalau misal full. Ya mungkin pertamanya nanti begitu, tapi lama-kelamaan ya pasti bisalah, terbiasa," jelas Baim Wong, mengindikasikan bahwa strategi pengajaran bisa berkembang seiring waktu namun fokus utamanya tetap pada penanaman nilai intrinsik.
Baim Wong kemudian menceritakan bagaimana keinginan untuk belajar puasa ini muncul murni dari inisiatif Kiano sendiri. Hal ini semakin menegaskan bahwa anak-anak memiliki intuisi dan keinginan alami untuk belajar dan meniru, terutama ketika mereka melihat lingkungan sekitar dan orang tua mereka secara langsung menjalankan ibadah tersebut. "Dianya melihat sendiri. Dia melihat sendiri, dia mau coba sendiri. Dia bilang mau coba, Pa. ‘Sekarang puasa loh Kiano’ gitu," pungkasnya dengan senyum bangga. Kisah ini menjadi bukti nyata bahwa teladan orang tua memiliki pengaruh yang sangat besar dalam membentuk karakter dan kebiasaan anak, bahkan dalam hal-hal spiritual yang mendalam.
Dalam konteks yang lebih luas, keputusan Baim Wong untuk tidak menggunakan iming-iming hadiah dalam mengajarkan puasa kepada anak-anaknya mencerminkan pemahaman yang mendalam tentang psikologi anak dan esensi ibadah itu sendiri. Memberikan hadiah sebagai imbalan untuk berpuasa dapat secara tidak langsung mengubah persepsi anak tentang ibadah dari sesuatu yang dilakukan karena cinta dan ketaatan kepada Tuhan, menjadi sebuah transaksi yang didasari oleh imbalan material. Hal ini dapat mengurangi nilai spiritualitas puasa dan menjadikan ibadah tersebut sebagai sebuah kewajiban yang harus dipenuhi demi mendapatkan sesuatu. Baim Wong tampaknya lebih memilih untuk menanamkan pemahaman bahwa puasa adalah sebuah bentuk latihan spiritual, pengendalian diri, dan empati terhadap sesama yang membutuhkan.
Proses pembiasaan yang dilakukan Baim Wong berfokus pada penciptaan lingkungan yang kondusif untuk beribadah. Dengan melihat orang tua dan lingkungan sekitarnya yang aktif beribadah, Kiano secara alami akan terdorong untuk ikut serta. Ini adalah metode pembelajaran sosial yang sangat efektif, di mana anak belajar melalui observasi dan imitasi. Dengan demikian, Kiano tidak hanya belajar menahan lapar dan haus, tetapi juga belajar tentang pentingnya kebersamaan dalam beribadah, nilai-nilai kesabaran, dan rasa syukur yang seringkali dikaitkan dengan bulan Ramadan.
Usia Kiano yang masih kecil memang menjadi pertimbangan utama bagi Baim Wong. Memaksakan anak untuk berpuasa penuh atau bangun sahur terlalu dini justru dapat menimbulkan trauma atau ketidaknyamanan. Pendekatan yang bertahap, seperti yang dilakukan Kiano dengan berpuasa setengah hari, adalah cara yang bijak untuk memperkenalkan konsep puasa tanpa menimbulkan beban yang berlebihan. Ini memberikan kesempatan bagi Kiano untuk beradaptasi secara perlahan dan mengembangkan pemahaman yang lebih matang seiring bertambahnya usia.
Pernyataan Baim Wong bahwa ia mungkin akan menggunakan trik atau iming-iming hadiah di kemudian hari, namun dengan tujuan jangka panjang untuk pembiasaan, menunjukkan fleksibilitas dalam metode pengajarannya. Ini bisa berarti bahwa di masa depan, ketika Kiano sudah lebih besar dan memiliki pemahaman yang lebih baik tentang puasa, mungkin akan ada bentuk apresiasi yang lebih sesuai dengan usianya, bukan sebagai imbalan langsung, tetapi lebih sebagai pengingat atau perayaan atas pencapaiannya. Namun, fokus utama tetap pada penanaman nilai intrinsik ibadah.
Inisiatif Kiano sendiri untuk mencoba berpuasa adalah poin krusial dalam cerita ini. Hal ini menunjukkan bahwa anak-anak memiliki potensi besar untuk belajar dan berkembang jika diberi kesempatan dan lingkungan yang tepat. Ketika anak melihat orang tuanya menjalankan ibadah dengan khidmat dan penuh keikhlasan, mereka secara alami akan tertarik untuk meniru. Ketertarikan Kiano yang muncul dari pengamatannya sendiri adalah bukti bahwa teladan orang tua adalah guru terbaik bagi anak.
Dalam konteks budaya Indonesia yang sangat kental dengan tradisi keagamaan, peran orang tua dalam mengenalkan dan menanamkan nilai-nilai ibadah kepada anak-anak menjadi sangat penting. Bulan Ramadan adalah momentum yang tepat untuk melakukan hal tersebut. Kisah Baim Wong dan anak-anaknya memberikan inspirasi bagi banyak orang tua tentang bagaimana cara yang efektif dan bijaksana dalam mengajarkan puasa kepada buah hati mereka.
Lebih dari sekadar menahan lapar dan haus, puasa mengajarkan banyak hal berharga lainnya. Ini adalah pelajaran tentang disiplin diri, pengendalian hawa nafsu, empati terhadap mereka yang kurang beruntung, serta meningkatkan rasa syukur atas nikmat yang diberikan Tuhan. Baim Wong, melalui pendekatannya yang berfokus pada pembiasaan dan penanaman nilai intrinsik, tampaknya ingin memastikan bahwa Kiano dan Kenzo tidak hanya menjalankan ritual puasa, tetapi juga memahami makna mendalam di baliknya.
Peran Baim Wong sebagai ayah yang aktif terlibat dalam pendidikan agama anak-anaknya patut diapresiasi. Di tengah kesibukannya sebagai figur publik, ia tetap meluangkan waktu dan perhatian untuk membimbing anak-anaknya dalam menjalankan ibadah. Hal ini menunjukkan komitmennya sebagai orang tua untuk membentuk generasi yang berakhlak mulia dan memiliki pemahaman agama yang kuat.
Dukungan dari Paula Verhoeven, ibu dari Kiano dan Kenzo, tentu juga menjadi faktor penting dalam proses ini. Pasangan Baim Wong dan Paula Verhoeven dikenal sebagai keluarga yang harmonis dan religius, dan ini tercermin dalam cara mereka mendidik anak-anak mereka. Kolaborasi antara kedua orang tua dalam menanamkan nilai-nilai keagamaan akan memberikan fondasi yang kokoh bagi perkembangan spiritual anak-anak mereka.
Dengan demikian, pendekatan Baim Wong dalam mengajarkan puasa kepada anak-anaknya, yang menekankan pada pembiasaan tanpa iming-iming hadiah, merupakan strategi yang cerdas dan berjangka panjang. Ini bukan hanya tentang menciptakan anak yang patuh berpuasa, tetapi lebih dari itu, menciptakan anak yang memahami esensi ibadah, memiliki ketaatan yang tulus, dan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia. Pengalaman Kiano yang mulai belajar puasa adalah langkah awal yang indah dalam perjalanan spiritualnya, dan bimbingan dari orang tuanya akan menjadi bekal yang tak ternilai harganya.

