Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik didih yang belum pernah terjadi sebelumnya setelah eskalasi militer antara poros Iran melawan aliansi Amerika Serikat (AS) dan Israel. Di tengah gejolak perang yang meluas, Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan pernyataan tegas yang menegaskan komitmen mereka untuk terus memburu Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, ke mana pun ia bersembunyi.
Pernyataan resmi yang dirilis melalui situs web Sepah News tersebut menjadi sorotan dunia internasional. "Jika penjahat pembunuh anak ini masih hidup, kami akan terus mengejar dan membunuhnya dengan kekuatan penuh," tulis IRGC dalam pernyataan yang dikutip oleh AFP. Ancaman ini bukan sekadar retorika, melainkan simbol dendam mendalam Iran pasca-kematian Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan udara gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026.
Kematian Ayatollah Ali Khamenei menjadi titik balik yang mengubah peta konflik regional secara drastis. Iran tidak tinggal diam; Teheran segera melancarkan serangan balasan masif yang menyasar pangkalan-pangkalan militer AS di kawasan Teluk, wilayah strategis Israel, hingga melakukan blokade total terhadap Selat Hormuz—jalur nadi perdagangan minyak dunia. Dampak dari langkah Iran ini memicu kepanikan global karena potensi terganggunya suplai energi dunia.
Di tengah memanasnya situasi, muncul spekulasi liar mengenai keberadaan Benjamin Netanyahu. Selama masa serangan balasan Iran, pemimpin Israel tersebut sempat menghilang dari sorotan publik, memicu rumor di media sosial mengenai keselamatan nyawanya. Kecurigaan publik semakin menguat setelah beredarnya video Netanyahu tertanggal 13 Maret 2026. Banyak pengguna media sosial menyoroti kejanggalan fisik pada tangan Netanyahu yang terlihat memiliki enam jari, memunculkan teori konspirasi bahwa video tersebut adalah hasil rekayasa kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang digunakan untuk menutupi kondisi nyata sang perdana menteri.
Setelah sempat menghilang, Netanyahu akhirnya muncul ke publik untuk pertama kalinya dalam sebuah konferensi pers virtual. Dalam penampilannya yang berdiri di antara dua bendera Israel, ia menjawab pertanyaan melalui tautan video. Alih-alih meredam ketegangan, Netanyahu justru menebar ancaman baru. Ia secara terbuka mengarahkan bidikan politik dan militer kepada pengganti Ayatollah Ali Khamenei, yakni Mojtaba Khamenei. "Saya tidak akan mengeluarkan polis asuransi jiwa untuk pemimpin organisasi teroris mana pun," ujar Netanyahu dengan nada menantang, menegaskan bahwa Israel tidak akan menghentikan operasi militer sebelum target mereka tercapai.
Strategi Netanyahu dalam konflik ini tampak ambisius dan berisiko tinggi. Ia mengklaim bahwa Iran "tidak lagi sama" setelah hampir dua minggu pemboman intensif yang dilakukan Israel. Ia menyebut bahwa kekuatan Garda Revolusi Iran dan pasukan paramiliter Basij telah mengalami degradasi signifikan. Selain Iran, Netanyahu juga menegaskan bahwa Israel akan terus melancarkan serangan terhadap Hizbullah di Lebanon, sebagai respons atas agresi kelompok tersebut pada awal Maret 2026.
Tujuan akhir dari operasi militer Israel ini, menurut Netanyahu, melampaui sekadar pertahanan diri. Israel secara terang-terangan ingin melumpuhkan program nuklir dan rudal balistik Teheran yang dianggap sebagai ancaman eksistensial. Lebih jauh lagi, Tel Aviv memiliki target politik yang ambisius: menggulingkan rezim penguasa di Iran dengan memicu pemberontakan domestik dari rakyat Iran sendiri.

"Kami sedang menciptakan kondisi optimal untuk menggulingkan rezim tersebut," ujar Netanyahu saat ditanya mengenai kemungkinan gagalnya upaya revolusi dari dalam. Meskipun ia mengakui tidak bisa menjamin secara pasti bahwa rakyat Iran akan mampu meruntuhkan pemerintahannya sendiri, Netanyahu menegaskan bahwa Israel akan terus memberikan dukungan, baik secara logistik maupun strategis, kepada pihak-pihak yang berseberangan dengan Teheran. Bagi Netanyahu, jika rezim tidak bisa dijatuhkan sepenuhnya, maka setidaknya mereka harus dibuat lumpuh dan tidak berdaya secara militer maupun ekonomi.
Situasi di lapangan saat ini sangat volatil. Sirene peringatan serangan rudal terus meraung di berbagai kota di wilayah tengah Israel, menciptakan suasana mencekam bagi penduduk sipil. Iran, yang kini dipimpin oleh kepemimpinan baru, tampaknya tidak menunjukkan tanda-tanda akan mundur dari konfrontasi. Kehilangan Ayatollah Ali Khamenei justru memperkuat tekad militer Iran untuk melakukan pembalasan yang lebih destruktif.
Dunia internasional kini tengah menahan napas. Eskalasi ini telah menarik aktor-aktor besar ke dalam pusaran konflik yang lebih dalam. Keterlibatan AS secara langsung dalam serangan terhadap Iran menunjukkan bahwa Washington telah meninggalkan upaya diplomasi pasif. Di sisi lain, blokade Selat Hormuz oleh Iran menjadi kartu truf yang bisa melumpuhkan ekonomi global jika perang ini berlarut-larut.
Analisis militer menunjukkan bahwa konflik ini tidak lagi terbatas pada perang konvensional. Penggunaan teknologi AI, perang siber, serta sabotase infrastruktur menjadi bagian integral dari strategi kedua belah pihak. Narasi mengenai "enam jari" Netanyahu mungkin tampak sepele bagi sebagian orang, namun bagi intelijen, hal tersebut adalah cerminan dari betapa kuatnya perang informasi yang terjadi. Setiap pihak berusaha meyakinkan rakyatnya bahwa mereka memegang kendali, sementara di balik layar, upaya pembunuhan, sabotase, dan serangan udara terus berlanjut tanpa henti.
Dalam pidatonya, Netanyahu juga menyinggung tentang "laporan pasti" mengenai langkah selanjutnya. Ia sengaja tidak memberikan detail untuk menjaga efek kejut bagi musuh-musuhnya. Namun, sikap keras kepala Netanyahu ini menuai kritik dari berbagai pihak. Komunitas internasional khawatir bahwa ambisi Netanyahu untuk menghancurkan rezim Iran akan memicu perang terbuka yang akan menghancurkan stabilitas Timur Tengah selama beberapa dekade ke depan.
Sebagai penutup, ketegasan Iran yang terus mengejar Netanyahu, berbanding lurus dengan ambisi Netanyahu untuk menghancurkan Iran, menciptakan dinamika "pemburu dan buruan" yang sangat berbahaya. Dunia kini menunggu langkah selanjutnya, apakah konflik ini akan berujung pada kehancuran salah satu rezim, atau justru akan menyeret kawasan tersebut ke dalam kegelapan perang dunia baru. Yang pasti, pernyataan IRGC bahwa mereka tidak akan berhenti sampai target tercapai menjadi peringatan keras bahwa konflik ini belum akan berakhir dalam waktu dekat. Setiap detik yang berlalu adalah pertaruhan nyawa bagi jutaan orang yang berada di bawah bayang-bayang rudal dan drone yang siap meluncur setiap saat.
Pemerintahan Iran, di bawah kepemimpinan baru, kemungkinan besar akan menggunakan narasi kematian Ali Khamenei untuk menyatukan barisan rakyat Iran yang terpecah. Sebaliknya, Netanyahu bertaruh pada ketangguhan militer Israel dan dukungan penuh dari sekutunya di Barat. Di tengah kebuntuan diplomatik ini, hanya ada satu hal yang pasti: Timur Tengah sedang berada di ambang perubahan besar yang akan dicatat oleh sejarah sebagai salah satu periode paling gelap di abad ke-21. Tekad Iran untuk mengejar Netanyahu adalah cerminan dari kemarahan yang meluap, sementara tekad Netanyahu untuk meruntuhkan Iran adalah manifestasi dari keyakinan bahwa keamanan Israel hanya bisa dijamin dengan penghancuran total musuh-musuhnya.

