0

Film ‘Pelangi di Mars’ Dibuat Pakai Unreal Engine, Belajarnya dari YouTube.

Share

Di tengah gemuruh inovasi industri perfilman global, sebuah karya sinema Indonesia, "Pelangi di Mars", siap mencatatkan namanya sebagai pelopor yang mendobrak batas konvensional. Film bergenre fiksi ilmiah ini, yang lazimnya identik dengan biaya produksi fantastis dan dukungan studio raksasa, justru mengadopsi pendekatan revolusioner dengan memanfaatkan teknologi Unreal Engine dan virtual production. Yang lebih mengejutkan lagi, teknologi canggih ini tidak dipelajari melalui jalur pendidikan formal yang mahal, melainkan secara otodidak, murni dari sumber daya internet. Sutradara Upie Guava, otak di balik proyek ambisius ini, mengungkapkan bahwa ia mendalami Unreal Engine sepenuhnya dari YouTube, sebuah fakta yang menggarisbawahi demokratisasi akses terhadap pengetahuan di era digital.

Unreal Engine sendiri, yang mulanya dikenal luas sebagai game engine terkemuka dalam industri video game, kini telah bertransformasi menjadi alat yang sangat berpengaruh di dunia perfilman. Kemampuannya untuk menghasilkan visual berkualitas tinggi secara real time telah membuka babak baru dalam metode produksi. Teknologi ini memungkinkan para pembuat film untuk melihat latar belakang digital dan efek visual secara langsung di lokasi syuting, bukan lagi menunggu proses panjang di tahap pascaproduksi seperti halnya penggunaan green screen tradisional. Lonjakan popularitas metode produksi ini semakin tak terbendung setelah serial "The Mandalorian" dari Disney+ berhasil memukau penonton global dengan visualnya yang imersif, dicapai melalui penggunaan layar LED raksasa yang menampilkan lingkungan digital langsung saat pengambilan gambar.

Dengan pendekatan virtual production, sutradara dan kru dapat menyaksikan latar virtual secara instan melalui monitor kamera, memungkinkan mereka membuat penyesuaian komposisi, pencahayaan, dan pergerakan kamera secara on-the-fly. Ini sangat kontras dengan metode green screen yang memaksa kru untuk membayangkan adegan dan baru bisa melihat hasil akhirnya setelah melalui serangkaian proses compositing dan efek visual yang memakan waktu di tahap pascaproduksi. Kemampuan untuk berinteraksi langsung dengan lingkungan virtual ini tidak hanya mempercepat alur kerja, tetapi juga memberikan kebebasan kreatif yang jauh lebih besar.

Film 'Pelangi di Mars' Dibuat Pakai Unreal Engine, Belajarnya dari YouTube

Ketertarikan Upie Guava terhadap teknologi ini mulai bersemi sekitar tahun 2020, di tengah pandemi yang memaksa banyak industri untuk beradaptasi. Saat itu, ia melihat virtual production bukan hanya sebagai solusi temporer, melainkan sebagai cara fundamental baru untuk memperluas kemungkinan visual dalam produksi film. Meskipun tidak memiliki latar belakang formal di bidang animasi atau efek visual, Upie, dengan semangat seorang autodidak sejati, tetap bertekad untuk mempelajari teknologi tersebut secara mandiri. Pria berkacamata ini memulai perjalanannya dengan memahami konsep dasar sedikit demi sedikit, menghadapi kompleksitas teknis tanpa panduan formal. "Saya belajar Unreal Engine sendiri dari YouTube," ujarnya, sebuah pernyataan sederhana yang menyiratkan ketekunan luar biasa.

Proses pembelajarannya tidak instan dan jauh dari kata mudah. "Awalnya sangat sederhana. Tapi saya terus memaksakan diri untuk menggunakannya," kenang Upie. Ia harus bergulat dengan antarmuka yang rumit, jargon teknis yang asing, dan tuntutan komputasi yang tinggi. Namun, semangat eksperimentasi dan keinginan untuk melampaui batas-batas kreatif mendorongnya untuk terus maju. Pada mulanya, Unreal Engine hanya ia gunakan untuk serangkaian eksperimen dalam berbagai proyek videoklip musik yang ia kerjakan. Proyek-proyek musik video ini, menurut Upie, seringkali menjadi ruang eksplorasi kreatif yang paling fleksibel dalam industri audiovisual. "Music video adalah ruang inkubasi kreatif yang ideal," kata jebolan Universitas Trisakti ini.

Dalam ruang "inkubasi" tersebut, Upie dan timnya mencoba berbagai pendekatan visual baru, menguji batas-batas teknologi, dan secara bertahap mempelajari cara kerja Unreal Engine dalam konteks produksi sinematik. Mereka bereksperimen dengan desain lingkungan virtual, pencahayaan dinamis, integrasi elemen 3D, hingga in-camera VFX. Proses belajar ini berlangsung cukup lama, memakan waktu sekitar dua tahun penuh dedikasi. Selama periode tersebut, mereka terus bereksperimen, mencoba berbagai workflow produksi yang berbeda, dan menghadapi berbagai tantangan teknis. "Ada banyak trial and error," ujarnya, menggambarkan fase penuh cobaan di mana kegagalan menjadi bagian tak terpisahkan dari proses pembelajaran.

Namun, dari setiap kesalahan dan setiap tantangan yang berhasil diatasi, tim produksinya mulai membangun pemahaman yang solid tentang bagaimana teknologi game engine dapat diadaptasi dan dioptimalkan untuk kebutuhan produksi film. Pengetahuan yang terakumulasi dari eksperimen videoklip ini menjadi fondasi kuat yang memungkinkan mereka melangkah ke tahap selanjutnya. Pada tahun 2023, dengan bekal pengalaman dan keyakinan yang matang, Upie Guava dan timnya akhirnya memutuskan untuk membangun studio virtual production sendiri di Jakarta. Pendirian studio ini menjadi bagian integral dari proses pembuatan film "Pelangi di Mars", menandai komitmen mereka untuk merangkul era baru sinema.

Film 'Pelangi di Mars' Dibuat Pakai Unreal Engine, Belajarnya dari YouTube

Salah satu keunggulan utama teknologi ini, dan alasan mengapa "Pelangi di Mars" berani mengambil jalan ini, adalah kemampuan rendering secara real time. Artinya, sutradara, sinematografer, dan seluruh tim produksi dapat langsung melihat hasil visual yang mendekati final saat proses pengambilan gambar berlangsung. Ini bukan sekadar kemudahan, melainkan sebuah transformasi paradigma. Kemampuan ini memberikan kebebasan kreatif yang jauh lebih besar bagi sutradara untuk bereksperimen dengan komposisi gambar, tata cahaya, dan pergerakan kamera, menciptakan adegan yang lebih dinamis dan imersif. Tidak ada lagi spekulasi tentang bagaimana adegan akan terlihat di akhir, karena semua sudah tampak di layar.

Selain memperkaya aspek kreatif, virtual production juga terbukti membantu mengontrol biaya produksi film. Banyak faktor yang biasanya membuat produksi film menjadi sangat mahal, seperti kebutuhan lokasi syuting yang beragam, risiko cuaca yang tidak terduga, hingga biaya transportasi dan akomodasi kru ke berbagai tempat. Dengan teknologi ini, berbagai lokasi eksotis, futuristik, atau bahkan imajiner dapat diciptakan secara digital di dalam studio, menghilangkan kebutuhan untuk bepergian jauh atau bergantung pada kondisi alam. Ini adalah keuntungan signifikan, terutama bagi industri film Indonesia yang seringkali harus berjuang dengan keterbatasan anggaran untuk proyek-proyek ambisius seperti fiksi ilmiah.

Bagi Upie Guava, tujuan utama mempelajari teknologi baru sebenarnya sangat sederhana dan filosofis: memberikan ruang yang lebih luas bagi kreativitas. Ia tidak terdorong oleh keinginan untuk sekadar terlihat canggih atau mengikuti tren, melainkan oleh dorongan fundamental untuk membebaskan imajinasi dari belenggu batasan teknis atau finansial tradisional. "Saya tidak belajar teknologi untuk terlihat canggih. Saya belajar teknologi supaya proses berkarya bisa lebih bebas," ujar pria 49 tahun ini, menegaskan kembali visinya. Filosofi ini menjadi inti dari "Pelangi di Mars", sebuah film yang tidak hanya menjanjikan pengalaman visual yang memukau, tetapi juga menjadi bukti nyata bahwa semangat inovasi, ketekunan, dan sumber daya yang tersedia secara publik seperti YouTube, dapat membuka gerbang menuju kemungkinan tak terbatas dalam seni perfilman. "Pelangi di Mars" bukan sekadar film, melainkan sebuah pernyataan berani tentang masa depan sinema Indonesia.