Di tengah eskalasi konflik yang membara di kawasan Teluk, di mana rudal-rudal melesat dan drone-drone tempur mengukir jejak di langit, sebuah fenomena mencolok menunjukkan ketahanan luar biasa dari kehidupan sipil: para kurir pengiriman daring, atau yang akrab disapa ‘ojol’, terus menjalankan tugasnya, memastikan roda kebutuhan dasar masyarakat tetap berputar meski di bawah bayang-bayang bahaya. Kisah mereka adalah cerminan paradoks modern: teknologi yang memfasilitasi kenyamanan sehari-hari beroperasi di garis depan ketidakpastian geopolitik.
Sejak akhir Februari 2026, kawasan Teluk telah menjadi saksi babak baru ketegangan yang dipicu oleh serangkaian serangan balasan militer dari Iran. Target utamanya adalah posisi militer dan fasilitas strategis di wilayah Uni Emirat Arab (UEA), sebuah langkah yang Iran klaim sebagai respons terhadap agresi sebelumnya yang tidak disebutkan secara spesifik oleh laporan intelijen publik, namun diyakini terkait dengan sengketa maritim dan dugaan dukungan UEA terhadap faksi-faksi anti-Iran. Kampanye serangan ini menandai peningkatan dramatis dalam konflik regional yang telah lama bergejolak, mengancam stabilitas salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia dan pasar energi global.
Otoritas pertahanan UEA melaporkan bahwa mereka telah mencegat ratusan rudal dan drone yang diluncurkan oleh Iran. Sistem pertahanan udara canggih, termasuk Patriot dan THAAD, bekerja tanpa henti untuk melindungi wilayah udara. Namun, terlepas dari tingkat intersepsi yang tinggi, serpihan rudal dan beberapa objek yang berhasil menembus pertahanan udara telah menyebabkan kerusakan signifikan serta menimbulkan korban jiwa di kalangan warga sipil. Kementerian Pertahanan UEA secara resmi menyatakan bahwa hingga ratusan rudal dan drone telah ditembak jatuh, namun puing-puing serpihan yang jatuh di area sipil di Dubai dan Abu Dhabi telah menyebabkan kerusakan, termasuk di dekat fasilitas publik vital seperti bandara internasional dan gedung-gedung pencakar langit yang menjadi ikon. Laporan awal mencatat tiga orang tewas dan 58 luka-luka sejak serangan pertama dimulai pada 28 Februari 2026, sebuah pengingat brutal akan biaya kemanusiaan dari konflik yang tampaknya jauh dari medan perang tradisional.
Tetap Beroperasi di Tengah Sirene Rudal
Ironisnya, di tengah raungan sirene peringatan rudal dan dentuman intersepsi yang memekakkan telinga, layanan pengiriman pihak ketiga seperti Careem dan UberEats tetap beroperasi. Aplikasi-aplikasi ini, yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan urban modern, menunjukkan ketahanan yang mengejutkan. Meskipun kecepatan pengiriman melambat secara signifikan, beberapa area sempat dihentikan sementara, dan rute-rute pengiriman harus diubah secara dinamis untuk menghindari zona bahaya, layanan-layanan ini tidak pernah benar-benar menutup operasi mereka. Laporan dari laman Wired Middle East mengungkapkan bahwa banyak platform pengiriman sempat mengalami "down" sebentar di UEA pada Sabtu lalu, tepat setelah gelombang serangan pertama dari Iran dimulai. Namun, dalam waktu singkat, layanan kembali online, seolah-olah menunjukkan tekad untuk mempertahankan sedikit nuansa normalitas.
Perusahaan-perusahaan ini beralasan bahwa mereka memiliki komitmen untuk memastikan masyarakat tetap bisa mendapatkan kebutuhan pokok mereka, sehingga kehidupan sehari-hari terasa seminimal mungkin terganggu. Careem, dalam pernyataan resminya kepada WIRED Middle East, menjelaskan bahwa mereka "menilai keselamatan area operasi secara area per area dan secara real-time." Mereka memberikan pembaruan keselamatan langsung serta panduan penting kepada para pengemudi mereka, yang disebut "captains," melalui grup WhatsApp dan SMS. "Kami telah menegaskan kepada seluruh mitra bahwa captains tidak diwajibkan online jika mereka khawatir melakukannya," lanjut pernyataan tersebut, mencoba menyeimbangkan tuntutan bisnis dengan keselamatan pekerja. Uber juga mengonfirmasi bahwa layanan mereka, termasuk UberEats, tetap beroperasi penuh di kawasan tersebut, dengan juru bicara yang menyatakan, "Keselamatan dan kesejahteraan pengendara serta mitra pengemudi adalah prioritas utama kami; kami memantau situasi secara real-time dan akan terus beroperasi sesuai rekomendasi pemerintah setempat."
Pro Kontra dan Dilema Etika

Keputusan untuk tetap menjalankan layanan ini, meskipun vital, memicu perdebatan sengit di media sosial dan di antara masyarakat umum. Para kritikus menyoroti risiko tinggi yang dihadapi para kurir pengiriman. Meskipun sebagian besar rudal berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara, serpihan rudal yang jatuh dapat seberat mobil kecil dan bergerak dengan kecepatan mematikan. Selain itu, bahaya di jalan, seperti kekacauan lalu lintas akibat evakuasi atau kerusakan infrastruktur, tetap mengancam. Dengan laporan Kementerian Pertahanan UEA tentang korban jiwa dan luka-luka, kekhawatiran ini bukanlah tanpa dasar.
Beberapa pengemudi secara anonim mengeluhkan adanya tekanan terselubung untuk tetap bekerja. Seorang pengemudi Deliveroo, yang berbicara tanpa menyebutkan nama karena takut akan konsekuensi, mengungkapkan bahwa ia bekerja melalui agen logistik pihak ketiga. Jika menolak bekerja atau tidak memenuhi kuota harian yang ditetapkan, ia menghadapi ancaman denda atau bahkan pemutusan kontrak. Sistem bayaran di kebanyakan platform menggabungkan gaji dasar yang rendah dengan biaya per pengiriman, yang berarti menolak order secara langsung berdampak pada pendapatan mereka yang sudah pas-pasan. Pengemudi tersebut juga mengaku belum menerima panduan keselamatan khusus terkait serangan rudal dan drone dari perusahaan tempat ia bernaung, meninggalkan mereka dalam ketidakpastian dan rasa rentan. Ini menyoroti dilema etika yang mendalam: apakah perusahaan gig economy memiliki tanggung jawab moral yang cukup terhadap keselamatan pekerjanya di zona konflik, ataukah model bisnis mereka secara inheren mengeksploitasi kerentanan ekonomi?
Di sisi lain, tidak dapat dimungkiri bahwa layanan pengiriman ini dianggap sangat esensial. Careem mencatat lonjakan permintaan yang drastis untuk barang-barang pokok seperti air minum kemasan, beras, pasta, dan sayur segar. Banyak penduduk memilih untuk tetap di rumah dan menghindari risiko keluar, menjadikan layanan pengiriman sebagai satu-satunya cara untuk mendapatkan kebutuhan dasar. Dalam situasi darurat seperti ini, peran mereka menjadi krusial.
Menurut Organisasi Buruh Internasional (ILO) PBB, pengemudi pengiriman termasuk dalam kategori "pekerja esensial" yang memastikan akses terhadap makanan, obat-obatan, dan kebutuhan harian lainnya, terutama di masa krisis. Konsep "pekerja esensial" ini semakin populer dan diakui secara luas sejak pandemi COVID-19 pada tahun 2020, ketika layanan e-commerce menjadi sangat penting dan pengemudi transportasi diklasifikasikan sebagai tulang punggung ekonomi yang tak tergantikan. Sejarah pun mencatat bahwa konsep "pekerja esensial" sudah ada sejak lama dan berevolusi sesuai kebutuhan zaman: saat wabah pes melanda Eropa, penggali kubur dianggap vital untuk mencegah penyebaran penyakit; selama pandemi Flu Spanyol, pertanian padi diprioritaskan untuk menghindari kelaparan massal. Di masyarakat modern yang sangat terintegrasi dan bergantung pada rantai pasokan yang kompleks, menjaga layanan-layanan ini tetap berjalan membantu mencegah kepanikan massa, pembelian berlebih yang merusak pasokan, atau rak-rak toko yang kosong—meskipun risikonya sebagian besar ditanggung oleh pekerja migran yang menjadi tulang punggung industri ini, seringkali dengan sedikit perlindungan sosial atau jaminan keselamatan.
Implikasi yang Lebih Luas dan Masa Depan Gig Economy
Fenomena kurir ojol yang beroperasi di tengah hujan rudal ini bukan hanya sekadar berita lokal, melainkan sebuah studi kasus yang kuat tentang ketahanan manusia, adaptasi teknologi, dan dilema etika dalam ekonomi gig modern. Ini menyoroti kerapuhan sekaligus kekuatan masyarakat di era globalisasi. Di satu sisi, konflik ini menguak kerentanan sistem yang bergantung pada tenaga kerja migran yang seringkali tidak memiliki banyak pilihan selain terus bekerja. Di sisi lain, ia juga menunjukkan bagaimana teknologi dan inovasi dapat mempertahankan sebagian besar fungsi masyarakat, bahkan di bawah tekanan ekstrem.
Implikasi jangka panjang dari konflik ini terhadap perekonomian UEA dan citranya sebagai pusat bisnis dan pariwisata global masih harus dilihat. Namun, kehadiran kurir ojol yang tak kenal lelah menjadi simbol dari semangat ketahanan yang luar biasa, sebuah pengingat bahwa di balik tajuk berita geopolitik yang besar, kehidupan sehari-hari terus berlanjut, didorong oleh individu-individu yang mempertaruhkan keselamatan mereka demi menjaga sedikit normalitas di dunia yang semakin tidak menentu. Pertanyaan tentang bagaimana melindungi pekerja esensial ini secara memadai, terutama di zona konflik, akan menjadi tantangan etika dan regulasi yang harus dijawab oleh industri gig economy dan pemerintah di masa depan.

