Dunia sains Amerika Serikat dan global kembali diguncang oleh kabar duka yang mendalam. Carl Grillmair, seorang astronom ternama dari California Institute of Technology (Caltech) yang dikenal atas penelitian inovatifnya di bidang eksoplanet dan struktur galaksi, tewas ditembak di luar rumahnya yang terletak di daerah pedesaan terpencil dekat Los Angeles. Kematian tragis ini menyusul insiden serupa yang menimpa ilmuwan terkemuka lainnya, Nuno Loureiro dari MIT, beberapa bulan sebelumnya, menimbulkan gelombang kesedihan dan keprihatinan di kalangan komunitas ilmiah.
Carl Grillmair, 67 tahun, dinyatakan meninggal dunia oleh paramedis di tempat kejadian setelah deputi sheriff menanggapi panggilan darurat 911. Insiden mengerikan ini terjadi di kediamannya yang tenang di Antelope Valley, sebuah lokasi yang sengaja dipilih Grillmair untuk memudahkan pengamatannya terhadap bintang-bintang di malam hari dari observatorium pribadinya. Pemeriksaan medis menyimpulkan bahwa kematiannya adalah pembunuhan, dengan luka tembak di bagian tubuh atas yang menjadi penyebabnya.
Departemen Sheriff LA County bertindak cepat dan berhasil menangkap seorang tersangka, Freddy Snyder, 29 tahun, di dekat lokasi kejadian. Snyder didakwa atas pembunuhan Grillmair, serta dakwaan perampokan dan pembajakan mobil. Namun, hingga saat ini, motif di balik pembunuhan keji ini masih menjadi misteri. Pihak berwenang belum dapat memastikan apakah Snyder memiliki hubungan personal atau profesional dengan Grillmair, meninggalkan banyak pertanyaan tak terjawab dan menambah lapisan kesedihan bagi keluarga, kolega, dan komunitas ilmiah yang berduka. Ketidakjelasan motif ini semakin memperparah rasa kehilangan, mengubah tragedi personal menjadi pukulan telak bagi kemajuan ilmiah.
Carl Grillmair adalah sosok yang tidak asing lagi di dunia astronomi. Sebagai anggota Infrared Processing and Analysis Center (IPAC) Caltech, ia telah mengabdikan lebih dari empat dekade hidupnya untuk memahami alam semesta. Minat penelitiannya yang luas mencakup eksoplanet yang jauh—dunia-dunia di luar tata surya kita—serta struktur kompleks yang membentuk galaksi Bima Sakti. Dedikasinya yang tak tergoyahkan dan rasa ingin tahu yang tak terbatas telah menjadikannya salah satu pemikir paling cemerlang di bidangnya.
Sebagai peneliti utama pada dua teleskop luar angkasa paling ikonik milik NASA, Hubble Space Telescope dan Spitzer Space Telescope, kontribusi Grillmair tak terhitung nilainya. Salah satu area minat utamanya adalah ‘aliran bintang’ yang berputar di pinggiran galaksi Bima Sakti. Aliran bintang ini bukan sekadar pita cahaya yang indah; mereka adalah sisa-sisa galaksi kerdil yang lebih kecil yang telah terkoyak oleh gravitasi Bima Sakti selama miliaran tahun. Pergerakan dan komposisi aliran bintang ini menyimpan petunjuk krusial tentang bagaimana Bima Sakti berevolusi, termasuk melalui tabrakan dahsyat dengan galaksi-galaksi lain di masa lalu. Penelitian Grillmair membantu para ilmuwan menyusun kembali sejarah kosmik Bima Sakti, memberikan wawasan yang belum pernah ada sebelumnya tentang dinamika galaksi kita.
Namun, di antara semua kontribusinya, penemuan Grillmair dalam studi eksoplanet mungkin adalah yang paling monumental dan paling banyak dibicarakan. Pada tahun 2007, ia memimpin sebuah penelitian terobosan menggunakan teleskop Spitzer. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, riset tersebut berhasil menangkap cukup cahaya dari eksoplanet yang sangat jauh untuk mengidentifikasi molekul di atmosfernya. Penemuan ini merupakan langkah raksasa dalam pencarian kehidupan di luar Bumi, karena kemampuan untuk menganalisis komposisi atmosfer eksoplanet adalah kunci untuk menentukan apakah sebuah planet dapat mendukung kehidupan.
Awalnya, Grillmair dan komunitas sains berharap dapat mendeteksi keberadaan air dalam penelitian perintis ini, namun sayangnya, mereka tidak menemukannya. Meskipun demikian, semangat ilmiah Grillmair tidak pernah padam. Dengan ketekunan yang luar biasa, ia tidak lama kemudian berhasil membuat penemuan monumental lainnya: mendeteksi tanda-tanda air di planet lain. Penemuan ini bukan hanya sebuah prestasi ilmiah, tetapi juga sebuah konfirmasi bahwa air, komponen vital bagi kehidupan seperti yang kita kenal, mungkin tersebar luas di alam semesta. Atas pencapaian ilmiah luar biasa ini, Grillmair dianugerahi medali NASA yang prestisius pada tahun 2011, sebuah pengakuan atas visinya yang melampaui batas dan dampaknya yang mendalam terhadap astrofisika.
Sergio Fajardo-Acosta, seorang astronom IPAC yang bekerja bersama Grillmair di Caltech selama 26 tahun, berbagi kenangan tentang koleganya yang berharga. Fajardo-Acosta menggambarkan Grillmair sebagai sosok yang memiliki banyak minat di luar laboratorium. Di waktu luangnya, Grillmair gemar menerbangkan pesawat melintasi gurun dan menikmati kegiatan memperbaiki rumah. Pilihan Grillmair untuk tinggal di daerah terpencil Antelope Valley di California bukan tanpa alasan; ia ingin memiliki akses yang lebih mudah untuk meneliti bintang-bintang di malam hari dari rumahnya sendiri, tempat ia membangun observatorium pribadi yang memungkinkan dia untuk terus mengejar hasratnya terhadap alam semesta. Dedikasi semacam ini, yang melampaui batas pekerjaan formal, adalah ciri khas Carl Grillmair.
Fajardo-Acosta dan rekan-rekan lainnya di Caltech dan IPAC sangat berduka atas kepergian Grillmair. "Selalu menyenangkan melihat kreativitas Carl dalam menjalankan sains," kenang Fajardo-Acosta. "Metode-metodenya dalam studi eksoplanet dan struktur galaksi benar-benar seperti pekerjaan detektif, memungkinkannya menyimpulkan peristiwa yang terjadi miliaran tahun yang lalu." Metafora "pekerjaan detektif" ini sangat pas untuk menggambarkan pendekatan Grillmair. Ia tidak hanya mengumpulkan data; ia menganalisisnya dengan cermat, mencari pola, dan merangkai petunjuk-petunjuk kosmik untuk merekonstruksi sejarah alam semesta. Kehilangan seorang pemikir dengan kapasitas dan perspektif unik seperti Grillmair adalah kehilangan yang tak tergantikan bagi komunitas ilmiah.
Kematian tragis Carl Grillmair ini menambah daftar panjang ilmuwan terkemuka yang menemui ajal secara tak terduga dalam beberapa waktu terakhir. Bulan Desember lalu, Nuno Loureiro, seorang fisikawan terkemuka dari Massachusetts Institute of Technology (MIT) yang dianggap sebagai pelopor di bidang fusi nuklir, juga ditembak dan tewas di rumahnya di Brookline, Massachusetts. Loureiro adalah sosok penting dalam upaya global untuk mengembangkan energi fusi, sebuah sumber energi bersih yang berpotensi merevolusi pasokan energi dunia. Kematiannya merupakan pukulan telak bagi komunitas riset fusi yang sedang berlomba menuju masa depan energi yang berkelanjutan.
Dalam kasus Loureiro, terduga pembunuhnya adalah Neves Valente, seorang mantan mahasiswa fisika yang pernah mengikuti program universitas yang sama di Portugal dengan Loureiro lebih dari dua dekade sebelumnya. Motif di balik pembunuhan Loureiro tampaknya bersifat personal, berakar pada dendam atau konflik yang telah lama terpendam. Tragedi ini diperparah oleh fakta bahwa beberapa hari sebelum membunuh Loureiro, Valente melakukan penembakan massal mengerikan di Brown University yang menewaskan dua mahasiswa. Valente kemudian ditemukan tewas yang tampaknya akibat bunuh diri setelah diburu polisi selama berhari-hari.
Dua kematian tragis ini, meskipun dengan detail dan motif yang berbeda, menyisakan luka mendalam dan pertanyaan serius di kalangan dunia sains. Kematian Grillmair, yang tampaknya acak dan tanpa motif jelas, menyoroti kerentanan bahkan individu-individu paling brilian terhadap kekerasan yang tidak masuk akal. Sementara kasus Loureiro, yang melibatkan koneksi masa lalu, menunjukkan bahwa bahkan hubungan personal pun dapat berubah menjadi tragedi yang mematikan.
Kehilangan dua ilmuwan kaliber tinggi dalam waktu singkat adalah pukulan telak bagi kemajuan ilmiah. Masing-masing dari mereka membawa perspektif unik, keahlian yang mendalam, dan dedikasi yang tak tergoyahkan untuk memahami dan memajukan pengetahuan manusia. Carl Grillmair, dengan pandangannya yang terarah ke bintang-bintang dan eksoplanet, membuka jendela baru ke alam semesta yang luas. Nuno Loureiro, dengan fokusnya pada fusi nuklir, berjuang untuk membuka jalan menuju masa depan energi yang bersih dan berkelanjutan.
Dunia sains memang berduka. Kesedihan atas kepergian mereka melampaui batas-batas institusi dan negara, menyatukan para peneliti dan akademisi dalam rasa kehilangan yang sama. Pertanyaan tentang mengapa individu-individu yang mendedikasikan hidup mereka untuk pencerahan dan kemajuan umat manusia menjadi sasaran kekerasan yang brutal akan terus menghantui. Namun, di tengah duka yang mendalam ini, warisan ilmiah Carl Grillmair dan Nuno Loureiro akan terus bersinar terang, menginspirasi generasi mendatang untuk terus mengejar pengetahuan, memecahkan misteri alam semesta, dan berjuang untuk masa depan yang lebih baik, bahkan di hadapan tragedi yang tak terduga.

