BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kekompakan keluarga pasangan selebriti Umar Syarief dan Corry Pamela di bulan Ramadan tahun ini benar-benar mencuri perhatian dan patut menjadi inspirasi. Jauh melampaui kebiasaan buka puasa bersama yang lazim dilakukan, pasangan ini ternyata telah merancang sebuah strategi inovatif agar seluruh anggota keluarga besar mereka dapat menyelesaikan pembacaan Al-Qur’an secara bersama-sama, sebuah pencapaian spiritual yang membanggakan. Rahasia di balik kekompakan ibadah yang luar biasa ini, sebagaimana diungkapkan oleh Corry Pamela, ternyata berakar dari sebuah inisiatif sederhana namun efektif: sebuah grup WhatsApp keluarga yang dirancang khusus untuk koordinasi ibadah.
"Kita itu ada jadwal di grup. Kita kan ada WhatsApp Group nih, jadi di situ di-pin dan udah dibagi tugas," ungkap Corry Pamela dengan senyum bangga saat ditemui oleh awak media di kawasan Studio TransTV, Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada Kamis, 26 Februari 2026. Pernyataan ini membuka tabir dari metode unik yang mereka terapkan, menunjukkan bahwa teknologi modern dapat diintegrasikan secara harmonis dengan tradisi keagamaan untuk mempererat ikatan spiritual keluarga. Pembagian tugas membaca Al-Qur’an ini bahkan telah dipersiapkan dan diimplementasikan sejak jauh sebelum bulan Ramadan tiba, menandakan keseriusan dan perencanaan matang dari pasangan selebriti ini.
Proses pembagian tugas ini dilakukan dengan sangat sistematis dan merata. Seluruh 30 juz dalam Al-Qur’an dibagi habis kepada setiap anggota keluarga yang berpartisipasi. Tujuannya jelas, yaitu untuk memastikan bahwa target khatam Al-Qur’an dapat tercapai secara kolektif oleh seluruh anggota keluarga besar. "Juz 1 siapa, Juz 2 siapa. Jadinya nanti pada saat momen tarawih, biasanya di malam ganjil ya, itu nanti langsung bisa khataman. Jadi dapet semuanya," jelas Corry Pamela lebih lanjut, menggambarkan bagaimana setiap orang memiliki peran penting dalam pencapaian tujuan bersama ini. Metode ini tidak hanya menciptakan rasa tanggung jawab individu, tetapi juga menumbuhkan semangat kebersamaan dan saling mendukung dalam menjalankan ibadah.
Umar Syarief menambahkan dimensi penting pada penjelasan istrinya, menegaskan bahwa metode ini merupakan wujud dari khataman berjamaah yang disengaja. Ini adalah upaya kolektif untuk meraih keberkahan Ramadan, di samping target khatam pribadi yang mungkin telah ditetapkan oleh masing-masing anggota keluarga. Dengan cara ini, ibadah tidak lagi menjadi aktivitas individual semata, melainkan sebuah perayaan spiritual bersama yang memperkuat ikatan antar anggota keluarga. Mereka menyadari bahwa berbagi tugas dalam membaca Al-Qur’an dapat memotivasi anggota keluarga yang mungkin merasa kesulitan untuk menyelesaikan seluruhnya sendirian, serta menciptakan rasa pencapaian bersama ketika target khatam tercapai.
Lebih jauh lagi, pola asuh yang diterapkan oleh Umar dan Corry dalam mendidik anak-anak mereka untuk menghafal Al-Qur’an juga menunjukkan tingkat kedisiplinan yang patut diacungi jempol. Umar Syarief berbagi pengalamannya dalam memanfaatkan waktu-waktu luang yang ada untuk memaksimalkan proses hafalan anak-anaknya. Salah satu momen yang paling efektif, menurut Umar, adalah saat perjalanan menuju sekolah. "Kalau Abangnya dibiasain memang setiap berangkat sekolah ya. Jadi setiap berangkat sekolah tuh sambil di jalan, sambil di mobil setoran 5 ayat," cerita Umar dengan penuh semangat.
Pendekatan ini sangat cerdas karena mengubah waktu yang biasanya dianggap sebagai perjalanan biasa menjadi sesi belajar yang produktif. Dengan memanfaatkan waktu di dalam mobil, baik saat mengantar maupun menjemput anak, mereka berhasil menyisipkan sesi setoran hafalan Al-Qur’an. Mengatur target setoran harian sebanyak lima ayat untuk setiap anak adalah jumlah yang realistis dan dapat dikelola, namun jika dikalikan dengan jumlah hari dalam sebulan, akan menghasilkan jumlah hafalan yang signifikan. Ini menunjukkan bahwa dengan kreativitas dan konsistensi, orang tua dapat mengintegrasikan pendidikan agama ke dalam rutinitas harian anak-anak mereka tanpa terasa membebani.
Metode ini tidak hanya efektif untuk mencapai target hafalan, tetapi juga membantu anak-anak untuk terbiasa dengan Al-Qur’an dan menjadikannya bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Perjalanan ke sekolah yang tadinya mungkin diisi dengan obrolan ringan atau mendengarkan musik, kini diubah menjadi momen berharga untuk berinteraksi dengan firman Allah. Umar dan Corry memahami bahwa membangun kebiasaan positif sejak dini adalah kunci untuk membentuk karakter anak yang kuat dan beriman.
Selain sesi hafalan di mobil, Corry Pamela juga mengungkapkan bahwa mereka memiliki metode lain untuk mendorong anak-anak dalam mempelajari Al-Qur’an. Mereka seringkali mengadakan sesi membaca bersama di rumah, di mana setiap anggota keluarga bergiliran membaca beberapa ayat atau juz. Hal ini tidak hanya bertujuan untuk menguji pemahaman dan hafalan anak-anak, tetapi juga untuk menciptakan suasana kebersamaan dan saling memotivasi dalam mempelajari kitab suci. Terkadang, mereka juga menggunakan aplikasi atau program pembelajaran Al-Qur’an yang dirancang khusus untuk anak-anak, yang membuat proses belajar menjadi lebih interaktif dan menyenangkan.
Keluarga Umar Syarief dan Corry Pamela menunjukkan bahwa dengan niat yang tulus, perencanaan yang matang, dan pemanfaatan teknologi secara bijak, ibadah keluarga dapat ditingkatkan ke level yang lebih tinggi. Grup WhatsApp yang awalnya hanya berfungsi sebagai alat komunikasi biasa, kini bertransformasi menjadi sarana yang ampuh untuk mengkoordinasikan ibadah, mempererat hubungan antar anggota keluarga, dan meraih keberkahan Ramadan bersama. Inisiatif mereka ini menjadi bukti nyata bahwa kekompakan dalam beribadah dapat dicapai oleh keluarga mana pun, bahkan di tengah kesibukan dunia selebritas.
Pentingnya peran orang tua dalam menanamkan nilai-nilai agama kepada anak-anak tidak dapat disangkal. Umar dan Corry telah memberikan contoh teladan yang luar biasa, menunjukkan bagaimana menggabungkan pendidikan agama dengan aktivitas sehari-hari dapat menghasilkan dampak positif yang signifikan. Mereka tidak hanya fokus pada pencapaian materi, tetapi juga pada pembentukan spiritualitas anak-anak mereka, sebuah investasi jangka panjang yang akan membawa manfaat tak terhingga di dunia dan akhirat. Dengan metode-metode inovatif seperti ini, keluarga Umar Syarief dan Corry Pamela telah mengukir kisah inspiratif di bulan Ramadan, sebuah kisah tentang bagaimana cinta keluarga dan kecintaan pada Al-Qur’an dapat bersatu padu menciptakan keajaiban.
Kisah keluarga ini juga dapat menjadi motivasi bagi keluarga-keluarga lain di Indonesia untuk menemukan cara-cara kreatif dalam meningkatkan kualitas ibadah keluarga mereka. Tidak perlu mengikuti persis apa yang dilakukan oleh Umar dan Corry, tetapi mengambil inspirasi dari semangat dan inovasi yang mereka tunjukkan. Intinya adalah menciptakan lingkungan keluarga yang kondusif untuk pertumbuhan spiritual, di mana ibadah menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari, bukan sekadar kewajiban sesaat. Dengan komunikasi yang terbuka, perencanaan yang baik, dan komitmen bersama, setiap keluarga dapat meraih keberkahan Ramadan dan memperkuat ikatan spiritual mereka.
Kesuksesan mereka dalam mengkhatamkan Al-Qur’an bersama melalui grup WA menunjukkan bahwa batasan geografis atau kesibukan individu tidak lagi menjadi penghalang. Anggota keluarga yang mungkin tinggal berjauhan pun tetap dapat berpartisipasi aktif dalam kegiatan ibadah kolektif ini. Hal ini membuka peluang baru bagi keluarga besar yang tersebar di berbagai kota atau bahkan negara untuk tetap terhubung secara spiritual.
Lebih dari sekadar mencapai target khatam, esensi dari kegiatan ini adalah bagaimana prosesnya dijalani. Rasa kebersamaan, saling mengingatkan, dan dukungan moral yang tercipta selama proses pembagian tugas membaca Al-Qur’an ini adalah nilai yang tak ternilai harganya. Ini mengajarkan anak-anak tentang pentingnya kerja sama tim, tanggung jawab, dan bagaimana setiap kontribusi, sekecil apapun, sangat berarti untuk mencapai tujuan bersama.
Umar Syarief dan Corry Pamela telah berhasil menciptakan sebuah ekosistem ibadah keluarga yang dinamis dan modern. Mereka membuktikan bahwa tradisi keagamaan dapat beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan makna dan esensinya. Kisah mereka menjadi pengingat bahwa di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, kita masih bisa menemukan cara-cara unik dan efektif untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan mempererat hubungan dengan orang-orang terkasih. Inilah inti dari kebahagiaan sejati, yaitu ketika spiritualitas dan kebersamaan keluarga berjalan beriringan, menciptakan harmoni yang mendalam dan bermakna.

