0

Viral Suara Merdu saat Ngaji, Fajar Sadboy Ternyata Belajar Otodidak dan Menginspirasi Lewat Kebaikan

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sosok Fajar Sadboy, yang sebelumnya identik dengan persona galau dan seringkali terlihat menangis dalam berbagai konten viralnya, kini berhasil mencuri perhatian publik dengan sisi lain yang jauh berbeda dan sangat mengejutkan. Berbeda dari citra yang telah melekat, Fajar baru-baru ini menghebohkan jagat maya berkat video yang beredar luas menampilkannya sedang melantunkan ayat suci Al-Qur’an dengan suara yang begitu fasih, merdu, dan penuh penghayatan. Kemampuan mengajinya yang luar biasa ini sontak memancing rasa penasaran dan kekaguman dari banyak kalangan, termasuk para netizen yang sebelumnya hanya mengenalnya melalui cerita patah hati dan kesedihan.

Banyak pihak yang menduga bahwa Fajar Sadboy, dengan kemampuannya yang tak terbantahkan dalam membaca Al-Qur’an, kemungkinan besar adalah lulusan dari sebuah pesantren ternama atau setidaknya pernah mengenyam pendidikan agama secara intensif. Namun, dalam sebuah kesempatan wawancara yang dilakukan belum lama ini, remaja asal Gorontalo yang akrab disapa Fajar ini dengan rendah hati membantah anggapan tersebut. Ia menjelaskan bahwa keahliannya dalam mengaji bukanlah hasil dari pendidikan formal di pesantren, melainkan diperoleh secara alami dan otodidak sejak usia dini. Pernyataan ini diungkapkannya saat ditemui di kawasan Studio TransTV, Jalan Kapten P Tendean, Jakarta Selatan, pada hari Kamis, 26 Februari 2026.

"Gak pernah mondok. Aku cuma sekolah biasa," ungkap Fajar dengan lugas, secara tegas menepis spekulasi tentang latar belakang pendidikannya yang terkait dengan pesantren. Ia kemudian merinci lebih lanjut mengenai bagaimana ia mengembangkan kemampuannya dalam membaca Al-Qur’an. "Iya itu belajar ngaji dari kecil sih. Dengar-dengar. Apa yang aku dengar, insyaallah itu yang bisa aku keluarkan," lanjutnya, menjelaskan bahwa proses belajarnya lebih banyak didasarkan pada pendengaran dan peniruan terhadap bacaan-bacaan yang ia dengar. Pendekatan otodidak ini, yang mengandalkan pendengaran dan memori auditori, ternyata telah membentuknya menjadi seorang pembaca Al-Qur’an yang mumpuni, sebuah fakta yang sungguh mengejutkan dan menginspirasi banyak orang.

Lebih dari sekadar kemampuan mengajinya yang memukau, Fajar Sadboy juga menunjukkan sisi kedewasaan dan kebijaksanaan yang luar biasa, terutama di bulan suci Ramadan yang penuh berkah ini. Ia mengungkapkan bahwa prinsip hidupnya yang kuat adalah selalu melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupannya, dalam setiap langkah dan keputusan yang ia ambil. Hal ini tercermin jelas dalam pesannya mengenai persiapan menghadapi bulan Ramadan. "Persiapan khusus Ramadan ya perbanyak sabar… siapkan yang perlu dipersiapkan kayak berdoa, jangan lupa berdoa. Dalam melakukan hal apapun, kegiatan apapun, jangan lupa berdoa," pesannya dengan nada bijak. Ajaran untuk senantiasa berdoa dan berserah diri kepada Tuhan ini merupakan pengingat penting bagi banyak orang untuk menjaga koneksi spiritual mereka, terutama di bulan yang penuh dengan kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

Pesan kebijaksanaan Fajar tidak berhenti sampai di situ. Ia menutup sesi wawancara dengan sebuah doa yang begitu menyejukkan hati dan penuh dengan nilai-nilai kemanusiaan universal. Dalam doanya, Fajar tidak hanya memohon kesehatan dan kelancaran urusan bagi orang-orang terdekatnya, tetapi juga secara khusus mendoakan kesehatan dan kelancaran urusan bagi mereka yang pernah berbuat zalim atau jahat kepadanya, serta bagi semua orang tanpa terkecuali. "Orang yang pernah menzalimi, orang pernah berbuat jahat, berbuat baik, semuanya mudah-mudahan harapanku sehat aja dulu sama dilancarkan segala urusan-urusan," pungkasnya dengan tulus. Ungkapan doa yang begitu lapang dada dan penuh kasih sayang ini sungguh mencerminkan kedalaman spiritual dan kematangan emosionalnya, melampaui usia mudanya.

Fenomena Fajar Sadboy mengajikan Al-Qur’an dengan merdu, yang kemudian diikuti dengan pesan-pesan moral dan spiritual yang inspiratif, membuka diskusi yang lebih luas mengenai persepsi publik terhadap citra seseorang. Seringkali, masyarakat cenderung terjebak dalam stereotip berdasarkan penampilan atau konten viral awal yang mereka lihat. Namun, Fajar membuktikan bahwa setiap individu memiliki sisi lain yang mungkin belum terungkap, potensi tersembunyi, dan kedalaman karakter yang patut untuk digali dan dihargai. Kemampuannya yang otodidak dalam mengaji menunjukkan bahwa bakat dan ketekunan bisa lahir dari mana saja, tanpa harus selalu melalui jalur pendidikan formal yang konvensional. Hal ini menjadi motivasi tersendiri bagi banyak orang yang mungkin merasa terbatas oleh latar belakang atau kondisi mereka.

Selain itu, sikap rendah hati Fajar saat ditanya mengenai latar belakang pendidikannya juga patut diapresiasi. Alih-alih merasa tersanjung atau bahkan sedikit angkuh dengan pujian yang diterimanya, ia memilih untuk tetap membumi dan jujur mengenai proses belajarnya. Kejujuran ini semakin menambah rasa hormat publik kepadanya. Dalam dunia hiburan yang seringkali dipenuhi dengan kepalsuan dan pencitraan, Fajar Sadboy hadir sebagai angin segar yang membawa nilai-nilai positif dan kesederhanaan.

Kiprah Fajar di bulan Ramadan ini menjadi contoh nyata bagaimana seorang figur publik, meskipun dikenal melalui konten yang bersifat hiburan, dapat memberikan kontribusi positif dan inspiratif bagi masyarakat luas. Ia tidak hanya menghibur, tetapi juga mengingatkan kita tentang pentingnya spiritualitas, doa, dan sikap pemaaf. Kemampuannya membaca Al-Qur’an dengan indah adalah bukti bahwa bakat tidak mengenal batasan, dan pembelajaran otodidak dapat menghasilkan pencapaian yang luar biasa. Keinginan Fajar untuk selalu berdoa dalam setiap aktivitasnya mengingatkan kita akan esensi kehidupan yang seharusnya selalu berserah diri kepada Tuhan.

Dalam konteks media sosial dan budaya viral yang serba cepat, seringkali seseorang hanya dikenal sesaat dan kemudian dilupakan. Namun, Fajar Sadboy tampaknya memiliki potensi untuk meninggalkan jejak yang lebih berarti. Dengan kemampuannya yang unik dan kepribadiannya yang mulai terlihat semakin dewasa dan bijaksana, ia berpeluang untuk terus berkembang dan memberikan pengaruh positif. Konten-kontennya di masa depan bisa saja tidak hanya sebatas hiburan, tetapi juga dapat diisi dengan pesan-pesan edukatif, spiritual, dan inspiratif yang dapat menyentuh hati banyak orang.

Kisah Fajar Sadboy ini juga dapat menjadi pelajaran berharga bagi para orang tua dan pendidik. Betapa pentingnya untuk tidak meremehkan potensi yang dimiliki oleh anak-anak, meskipun mereka mungkin tidak berada di jalur pendidikan formal yang umum. Dukungan dan pengakuan terhadap bakat-bakat unik yang dimiliki oleh setiap individu, sekecil apapun itu, dapat menjadi modal penting untuk membentuk pribadi yang percaya diri dan berprestasi. Kemampuan Fajar dalam belajar otodidak adalah bukti nyata dari kekuatan motivasi diri dan kemauan belajar yang kuat.

Lebih jauh lagi, doa Fajar yang mencakup semua orang, termasuk mereka yang pernah menyakitinya, adalah cerminan dari ajaran agama Islam tentang pentingnya memaafkan dan mendoakan kebaikan bagi sesama. Sikap ini merupakan tingkatan spiritual yang tinggi dan patut menjadi teladan bagi banyak orang. Di tengah maraknya konflik dan kebencian di dunia maya, pesan perdamaian dan kasih sayang yang disampaikan oleh Fajar menjadi sangat relevan dan dibutuhkan. Ia menunjukkan bahwa kekuatan sejati tidak hanya terletak pada kemampuan fisik atau popularitas, tetapi juga pada kekuatan hati dan ketulusan jiwa.

Keberhasilan Fajar Sadboy dalam membalikkan persepsi publik dari sekadar "anak galau" menjadi seorang pemuda yang fasih mengaji dan bijaksana adalah sebuah fenomena yang menarik untuk dicermati. Ini menunjukkan bahwa setiap orang berhak untuk memiliki lebih dari satu sisi, dan bahwa citra yang terbentuk di awal bukanlah penentu akhir dari jati diri seseorang. Dengan dukungan yang tepat dan kemauan untuk terus belajar dan berkembang, Fajar Sadboy memiliki potensi besar untuk menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia. Ia membuktikan bahwa kesuksesan dapat diraih melalui berbagai jalur, termasuk jalur otodidak yang mengandalkan kegigihan dan semangat belajar yang tak pernah padam.