0

Viral LCGC Lawan Arah: Faktor ‘Bodo Amat’ yang Rugikan Banyak Orang

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Sebuah insiden yang menggemparkan jagat maya terjadi di Jalan Gunung Sahari, Jakarta, ketika sebuah mobil LCGC Toyota Calya terekam video viral tengah melawan arah di tengah kepadatan lalu lintas, bahkan hingga memicu amukan massa. Peristiwa yang terjadi pada sore hari tersebut menunjukkan betapa berbahayanya tindakan nekat seorang pengendara yang mengabaikan keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya. Mobil berwarna hitam itu dengan sengaja menerobos arus lalu lintas yang padat, menabrak sejumlah motor, dan berusaha keras menghindari kerumunan warga yang murka. Dalam upaya melarikan diri, mobil tersebut bahkan sempat memecahkan kaca mobilnya sendiri akibat benturan, namun tetap nekat maju mundur hingga akhirnya menabrak mobil polisi sebelum akhirnya berhasil dikepung dan dihentikan oleh warga yang geram.

Kronologi kejadian ini, seperti yang dijelaskan oleh Ps Kasat Lantas Polres Metro Jakarta Pusat Kompol Arry Utomo, bermula ketika mobil tersebut melaju dari arah utara menuju selatan. Ketika hendak diberhentikan oleh petugas di dekat Halte Lapangan Banteng, pengemudi LCGC tersebut justru semakin mempercepat laju kendaraannya, melanjutkan perjalanan ke arah selatan. Puncak dari pelanggaran lalu lintas ini terjadi ketika kendaraan tersebut berbelok ke arah yang berlawanan di Jalan Gunung Sahari IV, lalu melanjutkan perjalanannya ke Jalan Bungur Besar Raya.

Tidak berhenti di situ, di Jalan Gunung Sahari V, kendaraan tersebut kembali melakukan manuver berbahaya dengan berbelok ke kiri, melawan arah, menuju timur. Ia terus melaju di Jalan DR. Sutomo hingga ke arah timur. Sekitar Hotel Bintang Baru, mobil tersebut berputar arah kembali ke barat, lalu kembali ke Simpang MBAL. Di sana, ia kembali berbelok ke kiri, melawan arah di Jalan Gunung Sahari, menuju utara. Puncaknya terjadi di Simpang Pintu Besi, di mana kendaraan tersebut berputar arah sekali lagi, melawan arah di Jalan Gunung Sahari menuju selatan, hingga akhirnya berhenti di dekat Halte Busway Golden Truly karena terkepung dan menjadi sasaran amuk massa pengguna jalan dan pengendara.

Praktisi keselamatan berkendara sekaligus anggota Kebijakan dan Advokasi Berkendara Direktorat Keselamatan Berkendara Ikatan Motor Indonesia (IMI), Erreza Hardian, menyoroti bahwa aksi nekat pengendara Calya yang melawan arah hingga memicu kemarahan massa ini kemungkinan besar dipicu oleh faktor ‘masa bodoh’ atau sikap ‘bodo amat’ dari sang pengemudi. Sikap ini, menurutnya, telah menimbulkan kerugian yang tidak sedikit bagi banyak pihak, mulai dari kerusakan kendaraan yang ditabrak hingga potensi cedera bagi para korban.

Erreza menduga bahwa tindakan melawan arah ini dilakukan sebagai upaya untuk melarikan diri dari sesuatu. "Kalau dari kejadian itu lawan arah yang dimaksud sepertinya karena berusaha lolos dari sesuatu," ujar Erreza. Ia menjelaskan bahwa melihat kondisi lalu lintas yang padat di depannya, kemungkinan besar karena adanya lampu merah (APILL), dan melihat adanya celah untuk bermanuver serta berbalik arah, menjadi faktor penentu keputusan pengemudi. "Ada ruang dan waktu, untuk menghindar dari sesuatu. Bisa jadi (menghindari) kejaran polisi," tambahnya.

Lebih lanjut, Erreza mengungkapkan keprihatinannya terhadap peningkatan perilaku melawan arah yang semakin marak terjadi belakangan ini. Ia mengaitkan fenomena ini dengan faktor sosiologis dan perubahan mobilitas sosial di masyarakat yang cenderung mengarah pada egoisme. "Perilaku lawan arah sekarang makin banyak karena memang faktor sosiologi dan mobilitas sosial kita sedang pada fase bagaimana urusan saya, selesai," jelasnya. Ia menambahkan bahwa ada semacam resistensi dari sebagian pelaku terhadap aturan atau bahkan terhadap orang lain, dengan pola pikir "gimana nanti dan bodo amat."

Erreza juga menekankan bahwa pengulangan perilaku semacam ini bisa terus terjadi karena tidak adanya hambatan yang berarti bagi pelaku. Bahkan, seringkali pelaku justru mendapatkan kemudahan dalam melakukan mobilitasnya dengan cara-cara yang melanggar aturan. "Bahkan kemudahan yang diterima oleh pelaku untuk lebih cepat melakukan mobilitas," tuturnya.

Dari kejadian memprihatinkan ini, Erreza memberikan pelajaran penting bagi seluruh pengguna jalan. "Pelajaran penting dari kejadian ini, menurut Reza, pastikan diri Anda selalu siap di jalan. Akan banyak risiko, termasuk pengendara yang melawan arah," tegasnya. Ia menyarankan agar setiap individu selalu memiliki sikap antisipatif dan kondisi "fit to drive" (siap mengemudi) agar dapat memberikan ruang dan menjauh dari risiko, bukannya justru menciptakan konflik di jalan.

"Kalau ada antisipatif dan fit to drive maka akan memberikan ruang dan menjauh dari risiko, bukannya menciptakan konflik," ujarnya. Erreza juga berpesan agar tidak terburu-buru atau asal ingin cepat di jalan raya. Proses keselamatan di jalan harus selalu diutamakan, termasuk ketika diminta untuk berhenti oleh petugas. "Berikan ruang dan waktu pada posisi kendaraan dan Anda untuk berpikir dan bertindak dengan menjaga semua pengguna jalan, itu antisipatif," tutupnya. Kejadian ini menjadi pengingat keras akan pentingnya kesadaran berlalu lintas dan dampak buruk dari sikap egois di jalan raya yang dapat merugikan banyak pihak.