0

Startup Rusia Ngaku Bisa Setir Burung Merpati Seperti Drone

Share

Neiry, sebuah startup neuroteknologi inovatif yang berbasis di Rusia, baru-baru ini mengguncang dunia teknologi dan biologi dengan klaim yang terdengar langsung dari halaman novel fiksi ilmiah: mereka telah berhasil mengubah burung merpati hidup menjadi "bio-drone" yang dapat dikendalikan dari jarak jauh oleh operator manusia. Terobosan ini, yang memadukan biologi dengan kecanggihan teknologi antarmuka otak-komputer (BCI), membuka era baru dalam eksplorasi teknologi drone, namun sekaligus memicu perdebatan etika yang mendalam mengenai batas-batas manipulasi terhadap makhluk hidup.

Dalam sebuah pengumuman yang menarik perhatian global, Neiry mengonfirmasi bahwa mereka telah menyelesaikan serangkaian penerbangan uji coba yang sukses. Burung-burung merpati yang telah dimodifikasi secara bionik ini secara akurat mampu mengikuti jalur penerbangan yang telah ditentukan oleh sistem komputer, menunjukkan tingkat kontrol yang presisi dan belum pernah terjadi sebelumnya. Keberhasilan ini bukan sekadar demonstrasi teknologi, melainkan sebuah pernyataan berani tentang potensi intervensi neuroteknologi pada organisme hidup.

Para peneliti di Neiry pada dasarnya telah merombak cara kerja otak burung merpati, mengubahnya menjadi sistem pengendali penerbangan biologis yang responsif. Prosesnya melibatkan penempatan elektroda mikro melalui tengkorak burung yang kemudian dihubungkan dengan stimulator listrik kecil yang dipasang di bagian kepala. Antarmuka canggih inilah yang menjadi kunci. Sistem ini mengirimkan stimulasi listrik ringan ke bagian-bagian otak tertentu yang bertanggung jawab atas navigasi dan orientasi spasial. Stimulasi ini tidak dimaksudkan untuk menimbulkan rasa sakit, melainkan untuk memicu respons naluriah atau motivasi pada burung, mendorongnya untuk berbelok ke kiri atau ke kanan sesuai perintah yang diberikan operator.

Mekanisme ini bekerja dengan memanfaatkan sirkuit saraf alami burung. Ketika operator manusia mengirimkan sinyal melalui antarmuka, stimulator akan mengaktifkan area otak yang secara alami memproses arah atau keinginan untuk bergerak. Ini bisa jadi area yang terkait dengan sistem penghargaan, orientasi spasial, atau bahkan pusat motorik, membuat burung merasakan dorongan internal untuk mengubah arah terbang. Hasilnya adalah respons yang mulus dan alami, seolah-olah burung itu sendiri yang memutuskan untuk berbelok, padahal keputusannya dipicu oleh perintah eksternal.

Salah satu aspek menarik dari teknologi ini adalah kemampuannya untuk berintegrasi dengan kehidupan normal burung. Ketika tidak sedang dalam misi atau menerima sinyal dari operator, burung merpati eksperimen ini diklaim dapat melanjutkan rutinitasnya seperti biasa, terbang bebas, mencari makan, dan berinteraksi dengan lingkungannya tanpa gangguan yang signifikan. Namun, begitu sinyal kontrol diaktifkan, burung-burung ini dapat dengan patuh mengikuti jalur terbang yang telah diprogram, mirip dengan bagaimana drone quadcopter mengikuti koordinat GPS yang telah ditetapkan. Fleksibilitas ini menunjukkan tingkat adaptasi dan non-invasif yang diklaim oleh Neiry.

Neiry juga sangat menekankan bahwa prosedur pemasangan implan ini aman dan tidak menimbulkan risiko tinggi terhadap kelangsungan hidup atau kesejahteraan jangka panjang burung. Mereka mengklaim bahwa burung yang telah menjalani operasi dapat segera dikerahkan setelah prosedur, mengindikasikan proses pemulihan yang cepat dan minimal. Pernyataan ini penting untuk meredakan kekhawatiran awal mengenai dampak fisik dan kesehatan pada hewan yang digunakan dalam eksperimen ini. Namun, "aman" dalam konteks fisik belum tentu berarti "etis" dalam konteks otonomi.

Keunggulan "drone merpati" ini dibandingkan drone konvensional sangat signifikan, terutama dalam hal daya tahan dan jangkauan operasional. Drone quadcopter standar seringkali hanya mampu terbang selama 30 menit hingga satu jam sebelum membutuhkan pengisian ulang baterai. Sebaliknya, drone merpati bionik Neiry diklaim mampu terbang hingga 483 kilometer dalam sehari. Kapasitas terbang yang luar biasa ini didukung oleh kemampuan alami burung untuk mencari makan sendiri, menghilangkan kekhawatiran tentang daya tahan baterai atau kebutuhan logistik pengisian ulang di lapangan. Ini berarti operasi pengawasan atau pencarian yang panjang dapat dilakukan tanpa interupsi, memberikan keunggulan strategis yang besar.

CEO Neiry, Alexander Panov, menjelaskan kepada Bloomberg bahwa potensi aplikasi dari drone merpati ini sangat luas dan ditujukan untuk penggunaan sipil. Menurutnya, kendaraan biologis ini merupakan solusi yang tepat untuk membantu tugas pengawasan, inspeksi infrastruktur kritis seperti jalur pipa, jembatan, atau saluran listrik di area terpencil, serta mendukung misi pencarian dan penyelamatan (SAR) di daerah yang sulit dijangkau. Panov secara tegas menyatakan bahwa teknologi ini tidak dirancang untuk tujuan militer, sebuah penegasan yang mungkin bertujuan untuk menenangkan kekhawatiran akan potensi penyalahgunaan teknologi semacam itu.

Selain daya tahan, faktor "stealth" atau kemampuan untuk beroperasi secara diam-diam juga menjadi keunggulan utama drone merpati. Dibandingkan dengan drone konvensional yang seringkali mengeluarkan suara bising dari baling-balingnya dan mudah terlihat oleh mata telanjang, merpati yang terbang di udara akan jauh lebih sulit dideteksi sebagai alat pengawasan. Masyarakat sekitar cenderung tidak akan menaruh curiga pada seekor merpati yang mengepakkan sayapnya di atas kepala mereka, dibandingkan dengan suara mendengung dari drone yang mencolok. Ini menjadikan drone merpati ideal untuk operasi pengintaian yang memerlukan kerahasiaan tinggi atau pengumpulan data tanpa menarik perhatian.

Namun, seperti halnya setiap inovasi yang mendobrak batas, teknologi Neiry ini sontak menimbulkan pertanyaan serius tentang etika dan moralitas. Perdebatan utama berpusat pada fakta bahwa Neiry tidak hanya melatih burung, tetapi secara fundamental mengambil alih otonomi dan kehendak bebasnya melalui implan saraf. Ini adalah perbedaan krusial yang membedakannya dari metode pelatihan hewan tradisional.

Menanggapi kekhawatiran etika ini, Neiry mengklaim bahwa mereka telah berkonsultasi dengan pakar bioetika internal mereka yang tidak menemukan masalah signifikan. Mereka berargumen bahwa meskipun implan tersebut membatasi otonomi burung merpati secara parsial, situasinya tidak jauh berbeda dengan manusia yang menunggangi kuda. Analogi ini mencoba menyamakan kontrol neural invasif dengan kontrol eksternal yang dilakukan manusia terhadap hewan peliharaan atau ternak.

Namun, banyak ahli bioetika dan aktivis hak hewan tidak setuju dengan perbandingan tersebut. Nita Farahany, seorang ahli bioetika terkemuka dari Universitas Duke, mengungkapkan pandangan yang jauh lebih kritis. "Setiap kali kita menggunakan implan saraf untuk mencoba mengendalikan dan mengatur spesies apa pun, rasanya menjijikkan," kata Farahany, seperti dikutip dari Gizmodo. Pernyataannya mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas tentang instrumentalitas makhluk hidup, di mana hewan diubah menjadi alat atau mesin untuk tujuan manusia.

Perbedaan antara menunggangi kuda dan mengendalikan otak merpati sangatlah fundamental. Menunggangi kuda melibatkan perintah eksternal yang ditafsirkan oleh hewan melalui pelatihan dan respons terhadap isyarat fisik. Sementara itu, implan saraf Neiry melakukan intrusi langsung ke dalam sistem saraf pusat, secara efektif memanipulasi dorongan internal dan persepsi arah burung. Ini adalah bentuk kontrol yang jauh lebih invasif dan merampas kemerdekaan biologis hewan pada tingkat yang jauh lebih dalam.

Dilema moral ini menyentuh inti dari bagaimana kita memandang dan memperlakukan makhluk hidup yang memiliki kapasitas untuk merasakan dan bertindak. Apakah etis untuk secara neurologis memprogram seekor hewan untuk melakukan tugas-tugas tertentu, terlepas dari klaim "keamanan" prosedural? Apa implikasi jangka panjang terhadap kesejahteraan mental dan psikologis hewan yang terus-menerus dikendalikan secara eksternal? Jika teknologi ini diterapkan secara luas, apa dampaknya terhadap hubungan kita dengan alam dan definisi otonomi makhluk hidup?

Meskipun Neiry menegaskan bahwa fokus mereka adalah pada penggunaan sipil, sejarah menunjukkan bahwa teknologi dengan potensi ganda (dual-use technology) seringkali menemukan jalan ke aplikasi militer atau pengawasan yang lebih kontroversial. Kemampuan untuk secara diam-diam mengawasi target tanpa terdeteksi adalah aset yang sangat berharga dalam konteks intelijen dan keamanan. Oleh karena itu, klaim "hanya untuk sipil" perlu diawasi dengan cermat oleh komunitas internasional dan badan regulasi.

Teknologi "bio-drone" Neiry adalah manifestasi nyata dari kemajuan pesat dalam bidang neuroteknologi dan antarmuka otak-komputer. Ini adalah terobosan yang luar biasa dalam kemampuan manusia untuk memahami dan memanipulasi sistem biologis. Di satu sisi, ia menawarkan solusi inovatif untuk masalah-masalah praktis seperti pengawasan, inspeksi, dan penyelamatan, dengan keunggulan yang signifikan dibandingkan teknologi konvensional. Di sisi lain, ia membuka kotak Pandora pertanyaan etika yang kompleks, menantang pemahaman kita tentang otonomi hewan, batasan manipulasi bioteknologi, dan tanggung jawab moral kita sebagai pengembang teknologi. Perdebatan seputar "drone merpati" ini kemungkinan besar akan terus berlanjut, membentuk arah masa depan teknologi bio-hybrid dan hubungan kita dengan dunia hewan.