0

Tren Awal Tahun 2026: Mobil Listrik-PHEV ‘Beringas’, Hybrid Gimana?

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Lanskap otomotif Indonesia di awal tahun 2026 menunjukkan pergeseran tren yang signifikan, terutama dalam segmen kendaraan elektrifikasi. Data wholesales terbaru dari Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk periode Januari 2026 mengungkapkan sebuah fenomena yang patut dicermati: lonjakan luar biasa pada segmen mobil listrik murni (BEV) dan Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV), sementara segmen mobil hybrid (HEV) justru menunjukkan tanda-tanda stagnasi. Perubahan ini menandai evolusi preferensi konsumen dan dinamika pasar yang semakin matang dalam adopsi teknologi elektrifikasi.

Secara keseluruhan, pasar mobil elektrifikasi di Indonesia pada Januari 2026 berhasil mencatatkan angka penjualan sebesar 14.908 unit. Angka ini sebagian besar didominasi oleh segmen mobil listrik murni (BEV) yang berhasil mengukir prestasi gemilang dengan total penjualan mencapai 10.211 unit. Jika kita membandingkan angka ini dengan periode yang sama di tahun sebelumnya, yaitu Januari 2025, di mana segmen BEV hanya mampu membukukan 2.580 unit, maka pertumbuhan yang dicapai pada awal tahun 2026 ini bisa digambarkan sebagai "beringas" dengan lonjakan yang mendekati angka 300%. Pertumbuhan eksponensial ini mengindikasikan bahwa mobil listrik murni tidak lagi hanya menjadi pilihan niche atau sekadar alternatif, melainkan telah menjelma menjadi pilihan utama bagi sebagian besar konsumen yang mencari mobilitas ramah lingkungan dan berteknologi canggih.

Dalam arena mobil listrik murni, merek asal Tiongkok, BYD, kembali menegaskan posisinya sebagai "raja" pasar di Indonesia. BYD berhasil mengumpulkan total penjualan sebanyak 4.879 unit pada bulan Januari 2026. Model andalannya, BYD Atto 1, kembali membuktikan popularitasnya dengan menjadi model terlaris di segmen ini, mencatatkan distribusi sebanyak 3.361 unit. Keberhasilan BYD tidak hanya terletak pada penguatan posisinya sendiri, tetapi juga pada kemampuannya untuk membawa pendatang baru ke garis depan persaingan. Jika pada umumnya posisi kedua dalam daftar terlaris ditempati oleh model BYD lainnya, kali ini kejutan besar datang dari Jaecoo J5. Model ini berhasil menyodok ke urutan kedua dengan membukukan distribusi yang mengesankan sebanyak 1.942 unit. Kehadiran Jaecoo J5 di posisi runner-up menunjukkan bahwa lanskap persaingan mobil listrik semakin kompetitif, dengan pemain-pemain baru yang mampu menawarkan produk menarik dan bersaing ketat dengan pemain lama. Pertumbuhan ini juga mencerminkan semakin luasnya pilihan yang tersedia bagi konsumen, mulai dari berbagai segmen harga hingga tipe kendaraan yang beragam.

Namun, potret pasar mobil elektrifikasi di awal tahun 2026 ini tidak sepenuhnya cerah untuk semua segmen. Kondisi yang berbanding terbalik terjadi pada segmen mobil hybrid (HEV). Berdasarkan data yang sama, segmen hybrid hanya mampu mencatatkan penjualan sebesar 4.195 unit pada Januari 2026. Angka ini menunjukkan penurunan tipis sebesar 0,83% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Yang lebih mengkhawatirkan adalah perubahan kontribusi segmen hybrid terhadap total pasar mobil elektrifikasi. Jika pada Januari 2025 segmen hybrid masih menguasai lebih dari 60% pangsa pasar mobil elektrifikasi, kini posisinya anjlok drastis dan hanya menyumbang sekitar 28,1% dari total penjualan. Penurunan dominasi ini mengindikasikan bahwa segmen hybrid, yang sebelumnya menjadi jembatan transisi bagi banyak konsumen menuju elektrifikasi, kini mulai tergerus oleh daya tarik mobil listrik murni yang semakin kuat dan pilihan PHEV yang semakin menarik.

Meskipun tren secara keseluruhan menunjukkan perlambatan pada segmen hybrid, segmen ini masih memiliki "raja"-nya sendiri. Toyota Kijang Innova Zenix masih kokoh memegang takhta sebagai pemimpin pasar di segmen mobil hybrid. MPV legendaris ini berhasil mendominasi pasar dengan mencatatkan distribusi sebanyak 2.143 unit hanya dalam kurun waktu satu bulan. Angka ini setara dengan lebih dari separuh total penjualan mobil hybrid nasional di bulan Januari 2026. Keberhasilan Zenix membuktikan bahwa model yang sudah mapan dan memiliki reputasi baik masih mampu mempertahankan loyalitas konsumen, meskipun persaingan semakin ketat. Popularitas Zenix kemudian disusul oleh "saudaranya" dari segmen SUV kompak, yaitu Toyota Yaris Cross Hybrid. Model ini berhasil membukukan penjualan yang cukup baik dengan 246 unit. Kombinasi kedua model ini semakin mempertegas dominasi Toyota sebagai market leader di segmen mobil hybrid di Indonesia. Namun, capaian ini tidak dapat menutupi tren penurunan yang lebih luas yang dialami oleh segmen hybrid secara keseluruhan.

Di sisi lain, segmen Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) justru menunjukkan performa yang sangat mengejutkan dan patut diacungi jempol. Segmen yang pada tahun sebelumnya nyaris tidak terdengar gaungnya di pasar otomotif Indonesia, kini mengalami "ledakan" pertumbuhan yang fenomenal. Dari hanya 16 unit yang terjual pada Januari 2025, segmen PHEV melonjak drastis menjadi 502 unit pada Januari 2026. Pertumbuhan yang mencapai lebih dari 3.000% ini merupakan bukti nyata dari kebangkitan segmen PHEV. Ledakan ini didorong oleh serbuan SUV-SUV canggih yang berasal dari Tiongkok, seperti Chery Tiggo 8 CSH dan Geely Starray EM-i. Kehadiran model-model PHEV yang menawarkan kombinasi efisiensi bahan bakar, jangkauan listrik yang memadai untuk penggunaan sehari-hari, serta performa yang tidak kalah dengan kendaraan konvensional, tampaknya berhasil menarik perhatian konsumen yang mencari fleksibilitas dan teknologi terbaru.

Analisis lebih dalam terhadap data ini menunjukkan beberapa faktor kunci yang mendorong pergeseran tren. Pertama, semakin matangnya infrastruktur pengisian daya untuk mobil listrik, meskipun masih perlu terus dikembangkan, memberikan kepercayaan yang lebih besar kepada konsumen untuk beralih ke BEV. Kedua, peningkatan kesadaran lingkungan dan keinginan untuk mengurangi emisi karbon menjadi faktor pendorong utama. Ketiga, inovasi teknologi yang terus berkembang membuat baterai mobil listrik semakin efisien dan terjangkau, serta jarak tempuh yang semakin jauh. Keempat, dukungan kebijakan pemerintah melalui insentif pajak dan regulasi yang mendukung kendaraan listrik juga turut berperan dalam mendorong adopsi. Kelima, strategi pemasaran dan penawaran produk yang semakin agresif dari produsen kendaraan listrik, baik yang sudah lama hadir maupun pendatang baru, semakin memudahkan konsumen untuk mengakses teknologi ini.

Menarik untuk dicermati lebih lanjut bagaimana tren ini akan berkembang di bulan-bulan mendatang. Apakah lonjakan BEV dan PHEV akan terus berlanjut dan semakin menggerus pasar hybrid? Atau akankah segmen hybrid menemukan kembali relevansinya dengan menawarkan solusi yang lebih komprehensif bagi konsumen yang masih ragu untuk beralih sepenuhnya ke listrik?

Perlu dicatat bahwa data wholesales hanya mencerminkan pengiriman unit dari pabrik ke dealer, dan belum tentu mencerminkan penjualan ritel yang sesungguhnya kepada konsumen akhir. Namun, tren ini tetap memberikan gambaran yang jelas mengenai arah pergerakan pasar otomotif Indonesia, khususnya dalam transisi menuju mobilitas berkelanjutan. Keberhasilan BYD dan pendatang baru seperti Jaecoo dalam segmen BEV, serta kebangkitan PHEV yang didorong oleh pemain Tiongkok, menunjukkan bahwa peta persaingan otomotif global dan lokal sedang mengalami perubahan fundamental.

Di sisi lain, stagnasi atau penurunan tipis pada segmen hybrid bukanlah akhir dari segalanya. Mobil hybrid masih menawarkan keunggulan tersendiri, terutama bagi konsumen yang belum memiliki akses mudah ke infrastruktur pengisian daya atau yang masih membutuhkan fleksibilitas penuh dalam perjalanan jarak jauh tanpa kekhawatiran akan ketersediaan stasiun pengisian daya. Toyota, sebagai pemain dominan di segmen hybrid, kemungkinan akan terus berinovasi untuk mempertahankan pangsa pasarnya dan beradaptasi dengan perubahan preferensi konsumen.

Secara keseluruhan, awal tahun 2026 menandai sebuah era baru dalam industri otomotif Indonesia, di mana kendaraan elektrifikasi tidak lagi menjadi pilihan masa depan, melainkan realitas masa kini. Mobil listrik murni dan PHEV memimpin parade, sementara hybrid harus berjuang untuk mempertahankan posisinya. Dinamika ini akan terus menarik untuk diamati, seiring dengan semakin banyaknya pemain baru yang masuk ke pasar dan semakin banyaknya inovasi teknologi yang dihadirkan. Konsumen kini memiliki pilihan yang lebih luas dan beragam, yang pada akhirnya akan mendorong persaingan yang lebih sehat dan perkembangan industri otomotif yang lebih maju dan berkelanjutan. Perang teknologi dan strategi pasar antara produsen kendaraan listrik dan hybrid akan menjadi sorotan utama dalam beberapa tahun ke depan.