0

WhizHack Soroti Risiko Siber Konvergensi IT dan OT.

Share

Lanskap digital Indonesia yang terus berkembang pesat, diiringi dengan ambisi besar menuju ekonomi digital, turut membawa serta tantangan keamanan siber yang kian kompleks dan berlapis. Dalam respons terhadap dinamika tersebut, WhizHack Technologies, sebuah perusahaan teknologi keamanan siber global terkemuka yang berbasis pada inovasi dan pengalaman praktis, secara resmi mengumumkan awal operasinya di Indonesia. Peluncuran strategis ini ditandai dengan sebuah diskusi eksklusif yang diselenggarakan bersama para anggota CIO Association Indonesia Chapter, sebuah forum penting yang menghimpun para Chief Information Officer (CIO), Chief Information Security Officer (CISO), dan pengambil keputusan senior di bidang teknologi informasi dari berbagai sektor industri di tanah air.

Acara yang mempertemukan para pemimpin dan praktisi teknologi ini tidak hanya berfungsi sebagai perkenalan resmi WhizHack ke pasar Indonesia, tetapi juga sebagai platform dialog kritis mengenai masa depan keamanan siber di dalam negeri. Dengan semangat kolaborasi yang kuat, WhizHack menegaskan komitmennya untuk tidak hanya sekadar menghadirkan teknologi, melainkan juga membangun kemitraan strategis dengan pemimpin industri, mitra lokal, dan lembaga pemerintah guna memperkuat ketahanan siber nasional secara holistik.

Abhijit Das, Co-Founder dan Managing Director WhizHack Technologies, menyampaikan visinya dalam kesempatan tersebut. "Kami tidak ingin masuknya kami ke Indonesia hanya sekadar pengumuman atau logo belaka. Kami ingin memulai perjalanan ini dengan fondasi yang kokoh, yakni melalui pertukaran ide yang mendalam dan bermakna bersama para pemimpin yang setiap hari menghadapi risiko siber yang nyata dan terus berevolusi," ujar Das. Pernyataan ini menggarisbawahi pendekatan WhizHack yang berorientasi pada solusi praktis dan kolaboratif, bukan sekadar penjualan produk. Perusahaan ini bertekad untuk menjadi mitra strategis bagi organisasi Indonesia dalam menavigasi kompleksitas ancaman siber yang terus meningkat.

Salah satu tema utama dan paling krusial yang menjadi sorotan dalam diskusi tersebut adalah meningkatnya fenomena konvergensi antara Information Technology (IT) dan Operational Technology (OT). Konvergensi ini merupakan konsekuensi alami dari revolusi industri 4.0, di mana organisasi dari berbagai sektor – mulai dari manufaktur cerdas, infrastruktur terhubung, hingga operasi berbasis data – semakin mengadopsi sistem yang terintegrasi secara digital. Batas tradisional yang dulunya memisahkan keamanan IT (yang berfokus pada data, jaringan, dan sistem bisnis) dan keamanan OT (yang berfokus pada sistem kontrol industri, mesin fisik, dan proses operasional) kini semakin kabur.

Secara fundamental, IT berurusan dengan informasi, data, dan proses bisnis, seperti email, basis data pelanggan, dan manajemen rantai pasokan. Sementara itu, OT mengelola sistem fisik dan proses industri, seperti Sistem Kontrol Industri (ICS), Sistem Akuisisi Data dan Kontrol Pengawasan (SCADA) di pembangkit listrik, jalur produksi pabrik, atau sistem manajemen lalu lintas. Konvergensi keduanya berarti sistem yang dulunya "air-gapped" atau terisolasi, kini terhubung ke jaringan korporat dan bahkan internet, membuka pintu bagi kerentanan baru yang belum pernah ada sebelumnya.

Kondisi ini, meskipun menawarkan efisiensi operasional dan wawasan data yang tak ternilai, juga secara bersamaan memunculkan spektrum risiko siber yang jauh lebih luas dan berpotensi merusak. Risiko-risiko ini tidak hanya terbatas pada pencurian data atau gangguan sistem IT biasa, melainkan dapat meluas hingga ke dampak fisik dan operasional yang serius. Bayangkan sebuah serangan siber yang tidak hanya melumpuhkan sistem komputer, tetapi juga menghentikan jalur produksi pabrik secara total, menyebabkan kegagalan infrastruktur penting seperti pasokan listrik atau air, atau bahkan membahayakan keselamatan pekerja melalui manipulasi mesin. Sektor industri, energi, transportasi, fasilitas kesehatan, dan layanan penting lainnya yang sangat mengandalkan sistem terintegrasi ini menjadi target utama dan paling rentan terhadap ancaman konvergensi IT-OT. Sebuah serangan yang berhasil pada sistem OT dapat mengakibatkan kerugian finansial yang masif akibat downtime, kerusakan peralatan fisik, tuntutan hukum, serta hilangnya reputasi dan kepercayaan publik.

Dalam menanggapi tantangan kompleks ini, WhizHack memperkenalkan solusi inovatifnya, yaitu Integrated Cyber Security ZeroHack XDR Suite. XDR, atau Extended Detection and Response, merupakan evolusi dari solusi Endpoint Detection and Response (EDR) yang memperluas jangkauan deteksi dan respons ke seluruh lapisan infrastruktur TI dan OT. Platform ZeroHack XDR Suite dirancang secara khusus untuk membantu organisasi beralih dari pendekatan keamanan yang terfragmentasi, di mana berbagai alat keamanan beroperasi secara terpisah-pisah, menuju strategi keamanan terpadu dan holistik.

Solusi ini menawarkan visibilitas menyeluruh (end-to-end visibility) di seluruh jaringan IT dan OT, memungkinkan deteksi ancaman yang lebih cepat dan akurat, serta respons insiden yang terkoordinasi. Dengan kemampuan mengumpulkan dan menganalisis data dari berbagai sumber – termasuk endpoint, jaringan, cloud, email, dan tentu saja, sistem OT – ZeroHack XDR Suite dapat mengidentifikasi pola serangan yang canggih dan mengotomatiskan tindakan mitigasi. Ini sangat krusial bagi pemerintah, perusahaan swasta, dan operasi industri yang membutuhkan perlindungan tangguh terhadap serangan siber yang semakin canggih dan terarah. Kemampuan integrasinya memastikan bahwa anomali atau ancaman yang terdeteksi di satu domain (misalnya, jaringan IT) dapat segera direspons dengan tindakan yang tepat di domain lain (misalnya, sistem OT), mencegah eskalasi serangan.

Diskusi peluncuran WhizHack juga tidak hanya terpaku pada teknologi semata, tetapi juga menekankan pentingnya kesiapan siber yang lebih praktis dan berorientasi pada skenario dunia nyata. Para peserta secara aktif mengeksplorasi berbagai simulasi dan studi kasus, menjauh dari kerangka kerja abstrak dan berfokus pada bagaimana organisasi dapat benar-benar merespons ancaman siber dalam situasi kritis.

Sesi tersebut secara khusus menyoroti konsep cyber range-based learning, sebuah metode pelatihan inovatif yang menjadi pilar penting dalam strategi ketahanan siber. Dalam metode ini, tim keamanan siber, baik dari sisi ofensif (red team) maupun defensif (blue team), dapat mempraktikkan keterampilan mereka dalam lingkungan simulasi yang aman dan terkontrol. Cyber range mereplikasi infrastruktur IT dan OT yang nyata, memungkinkan tim untuk menghadapi serangan siber yang realistis, menguji protokol respons insiden, dan menyempurnakan kemampuan mereka tanpa risiko merusak sistem operasional yang sebenarnya. Ini memberikan pengalaman "otot memori" yang tak ternilai, mirip dengan pilot yang berlatih di simulator penerbangan, mempersiapkan mereka untuk bertindak cepat dan efektif saat krisis siber benar-benar terjadi.

Abhijit Das kembali menegaskan peran krusial elemen manusia dalam keamanan siber. "Teknologi adalah alat yang penting dan mutlak diperlukan, tetapi manusia adalah tulang punggung sejati dari ketahanan siber. Ketika tim dilatih dan diuji secara berkala melalui metode praktis seperti cyber range, organisasi akan memiliki kapasitas untuk merespons insiden siber dengan lebih cepat, lebih efisien, dan pada akhirnya, dengan biaya yang jauh lebih rendah," tegasnya. Hal ini menyoroti bahwa investasi pada teknologi harus diimbangi dengan investasi pada pengembangan keterampilan dan kapasitas sumber daya manusia.

Peluncuran WhizHack Technologies di Indonesia ini menandai langkah awal dari sebuah perjalanan jangka panjang dan komprehensif. Perusahaan ini berkomitmen untuk menjadi garda terdepan dalam mendukung organisasi di Indonesia melalui kombinasi sinergis antara teknologi keamanan siber mutakhir, pengembangan strategi yang adaptif, peningkatan keterampilan sumber daya manusia melalui pelatihan praktis, serta pembentukan kemitraan lokal yang kuat. Dengan fokus pada edukasi, inovasi, dan kolaborasi, WhizHack berambisi untuk tidak hanya melindungi aset digital dan fisik Indonesia dari ancaman siber, tetapi juga berkontribusi pada penciptaan ekosistem siber yang lebih aman, tangguh, dan berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional. Pendekatan holistik ini diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang signifikan bagi sektor industri dan pemerintah dalam menghadapi kompleksitas ancaman siber di era konvergensi IT-OT.