BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kabar mengejutkan datang dari dunia hiburan tanah air yang juga bersinggungan dengan pelayanan ibadah haji. Chiki Fawzi, putri bungsu musisi legendaris Ikang Fawzi, harus menelan pil pahit lantaran batal berangkat ke Tanah Suci sebagai Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) tahun 2026. Keputusan ini datang mendadak, padahal Chiki telah menyelesaikan serangkaian pelatihan intensif atau diklat di Asrama Haji Pondok Gede, sebuah persiapan yang tentunya menyita waktu, tenaga, dan harapan besar. Impiannya untuk melayani para tamu Allah, yang telah ia pupuk selama tiga tahun terakhir, kini harus tertunda, bahkan mungkin pupus. Ketidakpastian mengenai alasan pencopotan yang terkesan terburu-buru ini semakin menambah luka di hati Chiki. Di tengah badai kekecewaan dan kebingungan yang melanda, sosok ayah tercinta, Ikang Fawzi, hadir sebagai pilar kekuatan yang tak tergoyahkan, memberikan dukungan moral yang tulus dan mendalam bagi putri kesayangannya.
Ikang Fawzi, seorang ayah yang penuh kasih, tak dapat menyembunyikan rasa terusiknya atas perlakuan yang diterima Chiki. Sebagai orang tua, ia melihat adanya ketidakadilan yang merundung proses tersebut. Namun, naluri kebapakan Ikang tidak mendorongnya untuk meluapkan amarah atau emosi secara berlebihan. Sebaliknya, ia memilih pendekatan yang lebih personal, hangat, dan penuh empati untuk merangkul Chiki di saat ia sedang membutuhkan sandaran. Ia berusaha menanamkan pemahaman bahwa di balik kekecewaan ini, ada pelajaran berharga yang bisa diambil. Ikang Fawzi mengungkapkan kebanggaannya terhadap kedua putrinya, termasuk Chiki, yang dinilainya memiliki sikap kritis dan bertanggung jawab.
"Aku sangat senang sekali mempunyai anak-anak yang kritis dan bertanggung jawab," ujar Ikang Fawzi dengan nada bangga saat ditemui di kawasan Thamrin, Jakarta Pusat, kemarin. Pernyataan ini mencerminkan pandangannya yang visioner terhadap generasi muda. Ia melihat sikap kritis yang dimiliki Chiki sebagai sebuah aset berharga, bukan sebuah kekurangan. Menurut pandangannya, masa depan bangsa ini harus diperjuangkan oleh generasi muda yang memiliki keberanian untuk bersuara, menganalisis, dan bertindak, meskipun konsekuensinya terkadang pahit, seperti yang sedang dialami oleh putrinya saat ini.
"Karena anak muda itu harus kritis dan bertanggung jawab, karena masa depan milik mereka. Masa depan itu enggak gratis, mereka harus merebut masa depan mereka sendiri," tegas Ikang Fawzi, menekankan pentingnya proaktivitas dan keberanian dalam meraih cita-cita. Ia percaya bahwa dengan sikap kritis dan rasa tanggung jawab, generasi muda akan mampu membentuk masa depan yang lebih baik, tidak hanya untuk diri mereka sendiri, tetapi juga untuk masyarakat luas. Ia ingin Chiki memahami bahwa perjuangan ini adalah bagian dari proses pendewasaan dan pembentukan karakter yang kuat.
Meskipun demikian, Ikang Fawzi mengakui bahwa ia dan keluarganya tidak bisa sepenuhnya mengabaikan rasa ketersinggungan yang muncul akibat kejadian ini. Ia berpendapat bahwa profesionalisme dalam sebuah pekerjaan seharusnya tidak dicampuradukkan dengan pertimbangan-pertimbangan lain yang dinilainya kurang bijaksana atau bahkan tendensius. Ia menyoroti pentingnya integritas dan objektivitas dalam setiap proses pengambilan keputusan, terutama yang berkaitan dengan tugas-tugas penting seperti penyelenggaraan ibadah haji.
"Ya, bukan sedih, saya tersinggung. Saya juga ini… tapi saya pikir ya itu urusan. Lo punya gawean, ya terserah lo. Mau tidak bijaksana, itu urusan lo," ungkap Ikang Fawzi, menunjukkan sikapnya yang cenderung lebih memilih untuk fokus pada apa yang bisa dikendalikan, yaitu dukungan kepada putrinya, daripada terjebak dalam pusaran kekecewaan yang berkepanjangan. Ia menyiratkan bahwa terkadang, dalam menghadapi situasi yang tidak ideal, pilihan terbaik adalah menerima kenyataan dan mencari cara untuk bangkit kembali.
Untuk menghibur dan menguatkan hati Chiki yang tengah dirundung kesedihan, Ikang Fawzi memilih cara yang paling sederhana namun sarat makna: makan bakso bersama. Momen santai ini menjadi panggung bagi percakapan dari hati ke hati, di mana ayah dan anak dapat berbagi cerita, kekhawatiran, dan harapan. Di tengah semangkuk bakso yang hangat, ikatan emosional mereka semakin terjalin erat. Ikang memberikan telinga dan hatinya untuk mendengarkan segala unek-unek Chiki, memvalidasi perasaannya, dan menawarkan perspektif baru yang membangkitkan semangatnya.
"Kemarin sempat makan bakso bareng," ucapnya singkat, namun di balik kesederhanaan itu tersimpan kehangatan dan kedalaman kasih sayang seorang ayah. Momen makan bakso ini bukan sekadar ritual kuliner, melainkan sebuah simbol dari dukungan keluarga yang tak bersyarat. Sebuah pengingat bahwa di tengah badai kehidupan, keluarga adalah pelabuhan teraman. Ikang Fawzi, musisi yang kini telah berusia 66 tahun, membuktikan bahwa pelukan seorang ayah dan semangkuk bakso bisa menjadi penguat yang jauh lebih bermakna dan menyentuh jiwa dibandingkan segala bentuk nasihat yang formal.
Kekompakan keluarga Fawzi memang bukanlah hal baru yang perlu diragukan. Dalam setiap kesempatan, mereka kerap menunjukkan kebersamaan yang solid. Kali ini, Ikang Fawzi kembali menegaskan pentingnya ikatan keluarga yang kuat. Ia meyakini bahwa keluarga yang kompak dan solid adalah fondasi utama bagi terciptanya masyarakat yang sehat dan harmonis di masa depan. Soliditas keluarga akan memberikan daya tahan dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, mengajarkan nilai-nilai penting seperti empati, kerjasama, dan saling mendukung, yang kemudian akan tercermin dalam interaksi mereka di lingkungan sosial yang lebih luas.
"Keluarga itu harus semakin kompak dan solid. Karena bagaimanapun juga, keluarga yang solid itulah yang bisa membuahkan masyarakat yang sehat ke depannya," pungkasnya, menutup percakapan dengan pesan moral yang mendalam. Kisah Ikang Fawzi dan Chiki Fawzi ini menjadi pengingat bahwa di balik setiap berita yang mungkin terlihat kontroversial, selalu ada cerita tentang kekuatan keluarga, cinta orang tua, dan ketegaran yang patut diapresiasi. Meskipun proses pencopotan Chiki dari tugas mulia ini masih menyisakan tanya, dukungan ayah tercinta telah menjadi jangkar yang kokoh, membantunya menavigasi lautan kekecewaan menuju cakrawala baru yang penuh harapan.

