BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kehangatan keluarga selebriti Lee Jeong Hoon dan sang istri, Moa, semakin terasa setelah mereka menghabiskan waktu hampir dua bulan di Amerika Serikat. Perjalanan ini bukan sekadar liburan biasa, melainkan sebuah momen berharga untuk mendampingi putri semata wayang mereka, Zoe, yang tengah menempuh jenjang pendidikan tinggi di Negeri Paman Sam. Lee mengungkapkan rasa syukurnya yang mendalam atas kesempatan langka ini, di mana ia dan Moa dapat sepenuhnya fokus untuk membangun kedekatan yang lebih intim dan mendalam dengan Zoe.
"Ya puji Tuhan, kita kemarin hampir dua bulan nemenin Zoe yang sekolah di Amerika. Ya, kita benar-benar intime deeptalk sama anak," ujar Lee Jeong Hoon dengan senyum merekah saat ditemui di Studio Rumpi No Secret Trans TV pada Jumat, 6 Februari 2026. Pengakuan ini mencerminkan betapa berharganya momen kebersamaan tersebut bagi Lee, yang selama ini mungkin merasakan perhatian Zoe terbagi dengan saudara-saudaranya. Kesempatan untuk memberikan fokus eksklusif kepada Zoe inilah yang dianggap Lee sebagai momen yang sangat spesial dan langka, sebuah jendela untuk membangun ikatan emosional yang lebih personal dan kokoh.
Selama bertahun-tahun, Zoe tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang, dikelilingi oleh kakak dan adik-adiknya. Meskipun cinta keluarga selalu ada, Lee menyadari bahwa momen untuk benar-benar "mendalami" percakapan dan memahami dunia Zoe secara individual mungkin belum sepenuhnya terwujud. "Dan selama ini kan dia selalu ada kakaknya sama apa namanya? Adiknya kan? Jadi selama ini nggak pernah kita bisa fokus khusus Zoe, tapi kali ini benar-benar bisa fokus sama dia," jelas Lee, menyiratkan kerinduan yang terobati atas kesempatan ini. Kehadiran orang tua secara intensif di lingkungan akademis dan sosial Zoe di Amerika Serikat memberikan ruang bagi percakapan yang lebih mendalam, melampaui rutinitas sehari-hari. Mereka dapat mendiskusikan tantangan kuliah, aspirasi masa depan, hingga hal-hal kecil yang membentuk kepribadian Zoe.
Lebih dari sekadar mempererat hubungan emosional, Lee Jeong Hoon juga menjadi saksi mata atas perubahan positif yang luar biasa dalam diri Zoe selama menjalani kehidupan kuliah di Amerika Serikat. Transformasi ini begitu mencolok hingga membuat Lee terheran-heran sekaligus bangga. Ia melihat Zoe yang dulunya dikenal sebagai pribadi yang sangat tertutup dan pemalu, kini menjelma menjadi sosok yang jauh lebih mandiri dan percaya diri. Perubahan ini tidak hanya terlihat dalam interaksi sosial, tetapi juga dalam cara Zoe menghadapi tantangan sehari-hari.
"Puji Tuhan, Zoe itu tipenya kan orang sangat tertutup, sangat pemalu sebelumnya. Sekarang di sana banyak banget temannya. Contohnya di restoran, dia mau order saja, dulu kan harus nunggu kita yang order-in karena dia malu," ungkap Lee dengan nada penuh kekaguman. Pengalaman sederhana seperti memesan makanan di restoran, yang dulunya membutuhkan dorongan dan intervensi orang tua karena rasa malu Zoe, kini dapat ia lakukan dengan penuh percaya diri. Ini adalah indikator awal dari peningkatan keberanian dan kemandirian yang ia tunjukkan. Kemampuan untuk berinteraksi secara mandiri dengan lingkungan sekitar, bahkan dalam situasi yang terdengar sepele, merupakan tonggak penting dalam perkembangan kepribadian seorang remaja yang beranjak dewasa.
Perkembangan Zoe tidak berhenti pada kemampuan memesan makanan. Lee menceritakan bagaimana ia seringkali terkejut melihat betapa mudahnya Zoe bergaul dan menjalin pertemanan baru. "Jadi temannya banyak banget, terus dia jadi sangat ceria," tambahnya. Keberanian untuk mendekati orang baru, membuka diri, dan berpartisipasi dalam kegiatan sosial di lingkungan kampus maupun di luar kampus, semuanya berkontribusi pada keceriaan yang terpancar dari Zoe. Lingkungan baru di Amerika Serikat, dengan keragaman budaya dan kesempatan yang lebih luas, tampaknya telah menjadi katalisator bagi Zoe untuk mengeksplorasi sisi lain dari dirinya yang mungkin terpendam di lingkungan yang lebih familiar.
Perubahan paling signifikan yang dirasakan Lee adalah bagaimana Zoe kini lebih terbuka dalam mengekspresikan diri. Jika sebelumnya Zoe cenderung pendiam dan enggan berbagi pikiran atau perasaannya, kini ia menjadi lebih ekspresif. "Kalau dulu kan orangnya diam, kalau sekarang dia benar-benar bisa cerita apa yang dia suka, apa yang dia nggak suka," tutur Lee dengan mata berbinar. Kemampuan untuk mengartikulasikan perasaan, keinginan, dan ketidaknyamanan adalah tanda kedewasaan emosional yang sangat penting. Ini menunjukkan bahwa Zoe tidak hanya merasa lebih nyaman di lingkungan barunya, tetapi juga telah mengembangkan pemahaman yang lebih baik tentang dirinya sendiri. Kemampuannya untuk berkomunikasi secara efektif ini akan menjadi bekal berharga bagi Zoe dalam menjalani kehidupan, baik di masa kuliah maupun di masa depan.
Keberhasilan Lee dan Moa dalam mendampingi Zoe di Amerika Serikat tidak hanya dilihat dari pencapaian akademis semata, tetapi juga dari perkembangan karakter dan kemandirian yang ditunjukkan oleh putri mereka. Momen kebersamaan yang intens ini telah memberikan ruang bagi Zoe untuk bertumbuh, menjelajahi potensi dirinya, dan menemukan jati dirinya di tengah lingkungan baru. Pengalaman ini membuktikan bahwa investasi waktu dan perhatian dari orang tua, terutama di masa-masa krusial seperti masa kuliah, dapat memberikan dampak transformatif yang luar biasa bagi perkembangan anak. Lee Jeong Hoon dan Moa patut diapresiasi atas komitmen mereka dalam mendukung pertumbuhan dan kebahagiaan putri tercinta, serta atas kebijaksanaan mereka dalam memanfaatkan setiap momen untuk mempererat tali silaturahmi keluarga. Transformasi Zoe ini menjadi inspirasi bagi banyak orang tua tentang pentingnya kehadiran dan dukungan emosional yang konsisten dalam membentuk pribadi anak yang kuat, mandiri, dan bahagia. Lee pun berharap agar Zoe dapat terus berkembang dan meraih impiannya di Amerika Serikat, dengan bekal kepercayaan diri dan kemandirian yang telah ia pupuk selama ini.

