BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pesinetron Anrez Adelio mengungkapkan penolakan yang dialaminya saat berupaya mendampingi Friceilda Prillea, atau yang akrab disapa Icel, dalam proses persalinan. Anrez mengaku telah berusaha keras menjalin komunikasi dan meminta izin untuk hadir di sisi Icel di momen krusial tersebut, namun upayanya tidak mendapatkan respons positif dari pihak Icel. "Memang mau mendampingi, cuma kan emang tidak diberikan alamat dan tidak dikasih apa segala macamnya," ujar Anrez Adelio saat ditemui di kawasan Senayan, Jakarta Pusat, kemarin.
Keinginan Anrez untuk mendampingi Icel saat melahirkan didasari oleh rasa tanggung jawabnya terhadap anak yang akan lahir. Ia merasa bahwa pihak Icel seolah telah menutup pintu baginya untuk turut serta dalam momen penting ini. "Sempat dibalas tapi gak ngasih alamat ya, sedangkan kan aku butuhnya alamat untuk datang ke sana segala macam gitu," tuturnya lebih lanjut, menegaskan bahwa komunikasi yang terjalin tidak cukup untuk memfasilitasi kehadirannya.
Pesinetron yang kini berusia 28 tahun ini juga secara tegas membantah tudingan yang menyebutkan bahwa ia baru muncul dan menunjukkan perhatiannya ketika usia kandungan Icel sudah memasuki tahap akhir menjelang persalinan. Anrez mengklaim memiliki bukti kuat yang menunjukkan bahwa ia telah berusaha bertanggung jawab sejak lama, jauh sebelum momen persalinan ini tiba. "Aku tegaskan, maksudnya aku tuh bukan baru menghubungi pas kemarin baru mau lahiran ya teman-teman. Emang udah dari lama kok aku selalu berkomunikasi dengan baik," tegasnya, berusaha meluruskan persepsi publik mengenai keterlibatannya dalam situasi ini.
Untuk memberikan konteks yang lebih luas, perlu diketahui bahwa Icel sebelumnya telah melaporkan Anrez Adelio ke Polda Metro Jaya terkait dugaan tindak pidana kekerasan seksual (TPKS). Laporan ini menambah kompleksitas hubungan antara keduanya dan menjadi latar belakang utama dari pernyataan Anrez mengenai penolakannya untuk mendampingi persalinan.
Saat ini, Anrez Adelio masih dalam proses menunggu panggilan dari pihak penyidik untuk memberikan keterangan lebih lanjut mengenai duduk perkara dari sudut pandangnya. Ia mengakui bahwa dirinya adalah ayah biologis dari anak yang dikandung Icel. Pengakuan ini menjadi titik krusial dalam kasus yang sedang berjalan, yang melibatkan aspek hukum dan moral.
Lebih lanjut, Anrez menyampaikan penyesalannya atas perbuatannya. Ia secara gamblang mengakui kesalahannya dan tidak berusaha untuk membenarkan tindakan yang telah terjadi. "Aku tahu perbuatanku salah, aku tidak pernah membenarkan apa yang sudah terjadi ini. Ini tidak bisa dibenarkan. Aku berharap tidak dicontoh," tegasnya, menunjukkan kesadaran akan dampak negatif dari perbuatannya dan harapan agar hal serupa tidak terulang pada orang lain.
Situasi yang dihadapi Anrez Adelio dan Icel ini menarik perhatian publik karena melibatkan seorang figur publik dan isu sensitif yang menyangkut hak dan tanggung jawab dalam hubungan. Laporan TPKS yang diajukan oleh Icel membuka ruang penyelidikan lebih lanjut oleh pihak kepolisian, sementara pengakuan Anrez mengenai kehamilannya menambahkan dimensi lain pada narasi yang berkembang.
Upaya Anrez untuk mendampingi persalinan, meskipun diakuinya ditolak, mencerminkan keinginannya untuk memenuhi tanggung jawab sebagai calon ayah. Namun, penolakan tersebut tampaknya dipengaruhi oleh kompleksitas hubungan dan situasi hukum yang sedang dihadapi. Komunikasi yang terputus atau tidak memadai mengenai detail logistik seperti alamat, menjadi hambatan utama bagi Anrez untuk mewujudkan keinginannya.
Pernyataan Anrez yang mengklaim telah berkomunikasi sejak lama juga menjadi upaya untuk membantah anggapan bahwa ia hanya muncul di saat-saat terakhir. Hal ini bisa jadi merupakan strategi untuk membangun narasi pembelaan diri, di mana ia berusaha menunjukkan bahwa ia telah berusaha proaktif dalam menangani situasi ini. Namun, tanpa adanya bukti konkret yang dapat diakses publik, klaim ini masih bersifat sepihak.
Kasus ini juga menyoroti pentingnya komunikasi yang terbuka dan jujur dalam setiap hubungan, terutama ketika melibatkan konsekuensi yang besar seperti kehamilan. Keterbukaan dalam menyampaikan informasi, seperti alamat atau rencana persalinan, akan sangat membantu dalam memfasilitasi dukungan dan tanggung jawab yang diperlukan.
Pihak kepolisian akan terus mendalami kasus ini dengan memanggil kedua belah pihak untuk dimintai keterangan. Pengumpulan bukti dan keterangan saksi akan menjadi kunci dalam menentukan langkah selanjutnya dalam proses hukum yang sedang berjalan. Pernyataan Anrez mengenai kesiapannya untuk memberikan keterangan dan pengakuannya atas kesalahan menjadi bagian dari proses hukum yang harus dilalui.
Masyarakat tentu akan menantikan perkembangan lebih lanjut dari kasus ini. Pengakuan Anrez Adelio bahwa ia menghamili Icel dan penyesalannya atas perbuatan tersebut, serta upayanya untuk mendampingi persalinan yang berujung pada penolakan, menciptakan sebuah cerita yang penuh dengan drama dan kompleksitas emosional serta hukum. Penting untuk diingat bahwa dalam setiap proses hukum, setiap individu berhak mendapatkan haknya dan proses pembuktian akan dilakukan secara adil.
Peran media dalam memberitakan kasus seperti ini juga memiliki tanggung jawab besar untuk menyajikan informasi yang berimbang dan tidak menimbulkan prasangka sebelum adanya putusan hukum yang final. Pemberitaan yang akurat dan objektif akan membantu publik memahami situasi yang sebenarnya tanpa terjebak dalam opini yang belum terbukti.
Keseluruhan situasi ini menjadi pengingat akan pentingnya menjaga hubungan yang sehat, bertanggung jawab atas setiap tindakan, dan berkomunikasi secara terbuka untuk menghindari kesalahpahaman dan konflik yang lebih besar. Kasus Anrez Adelio dan Icel ini, dengan segala kompleksitasnya, akan terus menjadi sorotan publik seiring berjalannya proses hukum dan perkembangan cerita di baliknya.

