0

Seberapa Irit Farizon SV Buat Kendaraan Niaga?

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah tren elektrifikasi yang semakin pesat, industri kendaraan niaga pun tak ketinggalan. Salah satu pemain baru yang hadir di pasar Indonesia adalah Farizon SV, sebuah van listrik bongsor yang dipasarkan oleh Arista Group, perusahaan yang telah memiliki rekam jejak kuat dalam distribusi kendaraan listrik seperti Wuling dan BYD. Dengan desain futuristik dan klaim efisiensi yang menjanjikan, Farizon SV diposisikan sebagai pesaing tangguh bagi kendaraan sejenis, termasuk Toyota Hiace. Pertanyaan besar yang muncul di benak para pelaku bisnis adalah: seberapa irit sebenarnya biaya operasional dan perawatan Farizon SV dibandingkan dengan kendaraan niaga konvensional?

Menjawab rasa penasaran tersebut, Christoforus Ronny Ng, Director PT Arista Auto Elektrindo, menegaskan komitmen Farizon dalam memberikan efisiensi. "Jadi Farizon itu memang diciptakan untuk memberikan efisiensi. Kalau dibilang, ini kan kendaraan komersial," ujar Christoforus. Ia melanjutkan dengan menjelaskan keunggulan utama dari segi perawatan. "Perawatan satu tahun atau 30 ribu km itu jadi keunggulan kita. Bisa dibilang untuk Farizon SV ini kita bisa katakan bahwa untuk perawatan 30 ribu km itu hanya perlu ganti liquid oil-nya saja, reducer-nya saja," terangnya. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa perawatan rutin Farizon SV jauh lebih sederhana dan potensial lebih murah dibandingkan kendaraan bermesin pembakaran internal yang memerlukan penggantian oli mesin, filter oli, busi, dan berbagai komponen lainnya secara berkala.

Lebih lanjut, Arista Group mengklaim bahwa akumulasi penghematan biaya operasional Farizon SV dapat mencapai 65% dalam setiap 100.000 kilometer. Angka ini tentu sangat signifikan bagi bisnis yang mengandalkan armada kendaraan niaga. Penghematan ini tidak hanya berasal dari biaya perawatan yang minimal, tetapi juga dari biaya energi yang lebih rendah dibandingkan bahan bakar fosil, serta potensi insentif pemerintah untuk kendaraan listrik.

Membedah Spesifikasi Farizon SV: Lebih dari Sekadar Efisiensi

Farizon SV, sebagai produk perdana yang diluncurkan di Indonesia, dirancang secara spesifik untuk memenuhi kebutuhan bisnis yang beragam. Mulai dari layanan shuttle penumpang yang membutuhkan kenyamanan dan kapasitas, hingga menjadi kendaraan operasional perusahaan yang memerlukan ruang kargo yang luas dan fleksibel. Konfigurasi 16 kursi yang ditawarkan memberikan fleksibilitas dalam mengatur tata letak kabin, sementara kabin yang lega dan bagasi belakang yang luas dengan pintu jenis barn door memudahkan akses barang maupun penumpang.

Salah satu fitur desain yang menonjol adalah absennya pilar B. Hilangnya pilar di tengah ini tidak hanya menciptakan kesan lapang dan modern, tetapi juga mempermudah proses keluar-masuk penumpang. Arista Group mengklaim bahwa meskipun tanpa pilar B, struktur bodi Farizon SV tetap kokoh dan memenuhi standar keselamatan Eropa, sebuah jaminan kualitas yang penting untuk kendaraan komersial yang seringkali beroperasi dalam kondisi berat.

Dari sisi dimensi, Farizon SV memiliki proporsi yang impresif. Dengan panjang mencapai 5.995 mm, lebar 1.980 mm, dan tinggi 2.500 mm, van listrik ini menawarkan ruang interior yang sangat lapang. Jarak sumbu roda yang mencapai 3.850 mm berkontribusi pada stabilitas berkendara, sementara ground clearance 150 mm dirancang untuk menghadapi berbagai kondisi jalan di Indonesia.

Dibangun di atas arsitektur GXA-M dari Geely Global Modular Architecture, Farizon SV menunjukkan fondasi teknis yang kuat. Penggunaan kombinasi material aluminium dan baja berkekuatan tinggi pada struktur bodinya tidak hanya bertujuan untuk mengurangi bobot, tetapi juga meningkatkan keselamatan dan ketahanan. Keamanan menjadi prioritas, terbukti dengan dibenamkannya hingga 30 fitur keselamatan dan sistem bantuan berkendara canggih. Ini mencakup fitur-fitur yang membantu pengemudi dalam berbagai situasi, mengurangi risiko kecelakaan, dan memberikan rasa aman bagi penumpang maupun kargo.

Performa dan Jarak Tempuh: Mampu Menjawab Tantangan Operasional

Di balik eksteriornya yang bongsor, Farizon SV dibekali dengan jantung penggerak listrik yang mumpuni. Motor listriknya mampu menghasilkan daya hingga 170 kW atau setara dengan 228 daya kuda, dengan torsi puncak mencapai 336 Nm. Angka ini lebih dari cukup untuk mendukung operasional harian yang intensif, termasuk akselerasi yang responsif saat membawa beban penuh atau menanjak.

Sumber energinya berasal dari baterai berkapasitas 82,8 kWh yang diproduksi oleh Gotion, sebuah perusahaan terkemuka di industri baterai kendaraan listrik. Dengan kapasitas baterai sebesar ini, Farizon SV diklaim mampu menempuh jarak hingga 400 kilometer dalam sekali pengisian daya penuh. Jarak tempuh ini tergolong baik untuk sebuah kendaraan komersial listrik dan dapat menutupi kebutuhan operasional harian sebagian besar bisnis, terutama untuk rute dalam kota atau antar kota yang tidak terlalu jauh.

Salah satu keunggulan signifikan dari Farizon SV adalah fitur pengisian daya cepatnya. Dengan teknologi ultra fast charging CCS2, pengisian daya baterai dari kondisi 20 persen hingga 80 persen hanya membutuhkan waktu 36 menit menggunakan DC Charging berdaya 140 kW. Kecepatan pengisian daya ini sangat krusial bagi operasional bisnis, meminimalkan waktu henti kendaraan dan memaksimalkan produktivitas. Bayangkan, dalam waktu istirahat makan siang, baterai van sudah terisi lebih dari setengahnya, siap kembali beroperasi.

Harga dan Layanan Purna Jual: Faktor Penentu Keputusan Bisnis

Di pasar Indonesia, Farizon SV dipasarkan dengan harga OTR (On The Road) Jakarta sebesar Rp 698 juta. Harga ini menempatkannya dalam segmen kendaraan komersial premium, namun perlu dipertimbangkan potensi penghematan biaya operasional jangka panjang yang ditawarkannya. Untuk memudahkan konsumen, pemesanan Farizon SV kini telah dibuka melalui jaringan Dealer Farizon Arista yang berlokasi di Tebet dan Bandung.

Kehadiran Arista Group sebagai distributor memberikan nilai tambah yang signifikan. Dengan pengalaman lebih dari 35 tahun dalam industri otomotif, Arista Group memiliki jaringan purna jual yang mapan dan terpercaya. Ini menjadi faktor penentu penting bagi konsumen kendaraan niaga, di mana ketersediaan suku cadang, kemudahan servis, dan dukungan teknis yang responsif sangatlah vital untuk kelancaran bisnis. Jaminan layanan purna jual yang kuat dari Arista Group diharapkan dapat memberikan rasa aman dan keyakinan bagi para pelaku bisnis dalam beralih ke kendaraan niaga listrik seperti Farizon SV.

Analisis Lebih Dalam: Efisiensi Biaya Operasional dalam Angka

Untuk mengukur seberapa irit Farizon SV, mari kita coba simulasikan perbandingan biaya operasionalnya dengan kendaraan niaga konvensional bermesin diesel berkapasitas serupa. Asumsikan sebuah van niaga diesel beroperasi sejauh 100.000 km per tahun.

Biaya Energi/Bahan Bakar:

  • Farizon SV: Dengan asumsi konsumsi energi 20 kWh per 100 km (perkiraan kasar untuk van listrik bongsor) dan tarif listrik industri Rp 1.444,70 per kWh (tarif industri tegangan menengah PT PLN Persero per tahun 2024, bisa bervariasi tergantung tarif spesifik perusahaan), maka biaya energi per 100 km adalah 20 kWh Rp 1.444,70 = Rp 28.894.
    Untuk 100.000 km, total biaya energi adalah Rp 28.894/100 km
    100.000 km = Rp 28.894.000.

  • Van Niaga Diesel: Dengan asumsi konsumsi bahan bakar 1 liter per 10 km (untuk van diesel bongsor yang membawa beban) dan harga bahan bakar Solar (B35) saat ini sekitar Rp 10.000 per liter, maka biaya bahan bakar per 100 km adalah 10 liter Rp 10.000 = Rp 100.000.
    Untuk 100.000 km, total biaya bahan bakar adalah Rp 100.000/100 km
    100.000 km = Rp 100.000.000.

Perbedaan Biaya Energi: Rp 100.000.000 – Rp 28.894.000 = Rp 71.106.000 per 100.000 km. Ini adalah penghematan yang sangat signifikan hanya dari sisi energi.

Biaya Perawatan:

  • Farizon SV: Seperti yang dijelaskan, perawatan utama hanya penggantian liquid oil dan reducer setiap 30.000 km. Jika kita asumsikan biaya penggantian ini sekitar Rp 1.000.000 per siklus, maka dalam 100.000 km (sekitar 3 kali penggantian), biaya perawatannya adalah 3 * Rp 1.000.000 = Rp 3.000.000.

  • Van Niaga Diesel: Perawatan rutin untuk van diesel setidaknya meliputi penggantian oli mesin, filter oli, filter solar, filter udara, dan busi (jika ada). Setiap 10.000 km, biaya perawatan bisa mencapai Rp 1.500.000 – Rp 2.500.000. Dalam 100.000 km, biaya perawatannya bisa mencapai Rp 15.000.000 – Rp 25.000.000.

Perbedaan Biaya Perawatan: Minimal Rp 12.000.000 hingga Rp 22.000.000 per 100.000 km.

Total Penghematan per 100.000 km (Energi + Perawatan):
Minimal Rp 71.106.000 + Rp 12.000.000 = Rp 83.106.000.
Maksimal Rp 71.106.000 + Rp 22.000.000 = Rp 93.106.000.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa klaim penghematan hingga 65% sangatlah realistis, bahkan bisa jadi lebih tinggi tergantung pada tarif listrik yang berlaku dan efisiensi aktual dari kedua jenis kendaraan. Penghematan ini belum termasuk potensi biaya lain seperti pajak kendaraan yang lebih rendah untuk kendaraan listrik, atau potensi insentif lain yang mungkin diberikan pemerintah.

Tantangan dan Peluang di Pasar Kendaraan Niaga Listrik

Meskipun Farizon SV menawarkan keunggulan yang signifikan dalam hal efisiensi, ada beberapa tantangan yang perlu diatasi untuk adopsi yang lebih luas. Pertama adalah harga pembelian awal yang relatif tinggi dibandingkan kendaraan diesel. Namun, seperti yang ditunjukkan oleh analisis biaya operasional, investasi awal yang lebih besar ini dapat tertutup dalam beberapa tahun melalui penghematan biaya yang substansial.

Kedua adalah infrastruktur pengisian daya. Meskipun pengisian daya cepat tersedia, ketersediaan stasiun pengisian daya publik yang memadai masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah dan swasta. Perusahaan yang menggunakan armada Farizon SV mungkin perlu mempertimbangkan investasi dalam fasilitas pengisian daya di depo mereka sendiri.

Ketiga adalah persepsi pasar dan kesiapan adopsi. Pelaku bisnis perlu diedukasi mengenai manfaat jangka panjang dari kendaraan listrik, termasuk keandalannya dalam operasional sehari-hari. Dukungan dari Arista Group dengan jaringan purna jualnya yang kuat menjadi kunci untuk membangun kepercayaan ini.

Namun, peluangnya sangat besar. Dengan meningkatnya kesadaran lingkungan, regulasi emisi yang semakin ketat, dan dorongan pemerintah untuk transisi energi, kendaraan niaga listrik seperti Farizon SV memiliki prospek yang cerah. Kemampuannya untuk mengurangi biaya operasional, menurunkan jejak karbon, dan menawarkan pengalaman berkendara yang lebih senyap dan nyaman menjadikannya pilihan yang menarik bagi bisnis yang ingin berinovasi dan tetap kompetitif di masa depan.

Farizon SV bukan hanya sekadar van listrik; ia adalah solusi transportasi niaga yang dirancang untuk efisiensi, keandalan, dan keberlanjutan. Dengan dukungan dari Arista Group, kendaraan ini berpotensi merevolusi cara bisnis beroperasi di Indonesia, membuktikan bahwa efisiensi dan performa dapat berjalan beriringan dengan tanggung jawab lingkungan.