Roket Bulan raksasa milik NASA, Space Launch System (SLS), telah mengambil langkah monumental dengan dipindahkan ke landasan peluncuran, mengukuhkan persiapan untuk misi penerbangan mengelilingi Bulan pertama yang membawa astronaut dalam lebih dari setengah abad. Peristiwa ini bukan sekadar manuver logistik, melainkan sebuah simbol ambisi besar Amerika Serikat untuk mengembalikan manusia ke permukaan Bulan dan bahkan melangkah lebih jauh ke Mars melalui Program Artemis. Misi krusial ini, yang dikenal sebagai Artemis II, kemungkinan besar akan meluncur dalam waktu dekat, menandai babak baru dalam sejarah eksplorasi antariksa.
Ribuan pekerja NASA, bersama keluarga dan komunitas pendukung, berkumpul di tengah dinginnya dini hari untuk menyaksikan momen bersejarah ini. Suasana haru dan antusiasme melingkupi Kompleks Peluncuran Kennedy saat roket SLS yang menjulang tinggi secara perlahan keluar dari Vehicle Assembly Building (VAB), sebuah bangunan ikonik yang dibangun pada tahun 1960-an untuk menampung roket Saturn V yang membawa 24 astronaut ke Bulan selama era Program Apollo. Ini adalah pemandangan yang membangkitkan nostalgia sekaligus harapan untuk masa depan. Kerumunan yang bersorak dipimpin oleh administrator NASA, Bill Nelson (bukan Jared Isaacman, yang merupakan astronot swasta), yang menekankan pentingnya momen ini bagi bangsa dan umat manusia. Empat astronaut yang ditugaskan dalam misi Artemis II, yang akan menjadi manusia pertama yang terbang mengelilingi Bulan sejak Apollo 17 pada tahun 1972, turut hadir, menjadi wajah dari misi berani ini. Berikut adalah lima fakta penting yang perlu diketahui tentang roket Bulan NASA yang ambisius ini, yang dikutip dan diperkaya dari berbagai sumber.
1. SLS: Kekuatan Dahsyat yang Merevolusi, Namun Tak Lagi Sendirian di Puncak
Space Launch System (SLS) adalah manifestasi kekuatan teknik luar angkasa yang luar biasa. Roket ini menghasilkan daya dorong sekitar 8,8 juta pon pada saat peluncuran, sebuah kekuatan yang setara dengan tenaga gabungan sekitar 160.000 mesin mobil Corvette. Daya dorong masif ini dihasilkan oleh empat mesin utama RS-25, yang merupakan mesin yang sama yang pernah digunakan pada Pesawat Ulang-alik, ditambah dengan dua pendorong roket padat (Solid Rocket Boosters/SRBs) yang berukuran sangat besar. Kombinasi ini memungkinkan SLS untuk mengangkat muatan berat yang diperlukan untuk misi ke Bulan dan sekitarnya.
Namun, dunia eksplorasi antariksa berkembang pesat, dan gelar "roket terkuat" kini telah dipegang oleh Starship milik SpaceX. Starship, dengan sistem peluncur Super Heavy-nya, diperkirakan mampu menghasilkan daya dorong yang jauh lebih besar, antara 16 hingga 17 juta pon. Meskipun demikian, pada saat debutnya, SLS memang memegang rekor ini sebagai roket operasional terkuat yang pernah ada. Yang lebih penting, SLS saat ini adalah satu-satunya roket kelas berat yang siap dan teruji untuk membawa astronaut dalam misi deep-space, sementara Starship masih dalam tahap uji coba dan belum pernah membawa kargo, apalagi manusia, ke orbit.
Empat mesin utama SLS membakar sekitar 700.000 galon bahan bakar hidrogen cair dan oksigen cair ultra dingin dalam hitungan menit, menghasilkan tenaga yang cukup untuk menjaga delapan pesawat Boeing 747 tetap mengudara secara bersamaan. Kemampuan ini menunjukkan skala tantangan rekayasa yang diatasi oleh NASA. Dalam versi masa depan, SLS diharapkan dapat menyemburkan kekuatan yang lebih besar lagi, dengan peningkatan kapasitas angkut untuk mendukung misi yang lebih kompleks ke Mars. Dari segi dimensi, SLS berdiri setinggi 98 meter, menjulang lebih tinggi dari Patung Liberty. Meski demikian, ia masih sedikit kalah tinggi dari pendahulunya, Saturn V, roket era Apollo milik NASA yang legendaris, dan juga Starship yang mencapai sekitar 121 meter. Namun, tinggi bukanlah satu-satunya indikator kekuatan; kemampuan angkut dan jangkauan adalah kuncinya.
2. SLS: Sang Pembawa Orion, Kunci Misi Jauh Melampaui Bulan
Saat ini, SLS adalah satu-satunya kendaraan peluncuran yang mampu mengirim kapsul Orion, yang dirancang khusus untuk misi luar angkasa dalam, ke Bulan. Kapsul Orion bukan sekadar wahana antariksa; ia berfungsi sebagai tempat tinggal, laboratorium, dan sistem pendukung kehidupan bagi para astronaut selama misi panjang yang bisa berlangsung berminggu-minggu. Di dalamnya, para astronaut akan bekerja, makan, tidur, dan beradaptasi dengan lingkungan mikrogravitasi di luar orbit Bumi yang rendah.
Untuk misi Artemis II, Orion akan melakukan perjalanan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Kapsul ini akan terbang sekitar 5.000 mil atau sekitar 8.000 kilometer melewati sisi jauh Bulan, berpotensi mencetak rekor jarak baru untuk penerbangan luar angkasa berawak. Perjalanan ini akan menguji sistem Orion dalam kondisi luar angkasa yang keras, termasuk paparan radiasi dan perubahan suhu ekstrem, sebelum misi pendaratan manusia yang sesungguhnya di Bulan. Setelah menyelesaikan misinya, kapsul Orion akan kembali ke Bumi dengan kecepatan tinggi dan mendarat di Samudra Pasifik, di mana tim pemulihan NASA akan siap untuk mengambil kembali kapsul dan para astronautnya.
Peran Orion sangat penting dalam visi jangka panjang Program Artemis. Kapsul ini dirancang untuk dapat berlabuh dengan stasiun ruang angkasa lunar Gateway yang akan dibangun di orbit Bulan, berfungsi sebagai pos terdepan bagi astronaut sebelum turun ke permukaan Bulan atau melanjutkan perjalanan ke Mars. Kemampuan Orion untuk membawa kru dalam misi deep-space yang panjang adalah inti dari strategi NASA untuk membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di luar angkasa.
3. SLS: Warisan Pesawat Ulang-alik dalam Wujud Modern
Roket Bulan raksasa ini secara harfiah dibangun di atas warisan Pesawat Ulang-alik, sebuah program luar angkasa ikonik NASA yang beroperasi dari tahun 1981 hingga 2011. NASA tidak hanya "mengambil inspirasi" dari Pesawat Ulang-alik, tetapi juga secara langsung menggunakan kembali perangkat keras utama dari program tersebut ke dalam desain roket baru ini. Ini adalah pendekatan unik yang bertujuan untuk memanfaatkan teknologi yang sudah terbukti dan mengurangi risiko pengembangan.
Empat mesin utama RS-25, yang telah disebutkan sebelumnya, adalah contoh paling nyata dari strategi ini. Mesin-mesin ini sebelumnya digunakan pada armada Pesawat Ulang-alik, telah menjalani uji coba dan penerbangan yang tak terhitung jumlahnya, sehingga memberikan tingkat keandalan yang tinggi. Selain mesin, beberapa teknologi dan proses manufaktur dari era Pesawat Ulang-alik juga diadaptasi dan diintegrasikan ke dalam desain SLS, terutama pada tahap inti (core stage) roket.
Namun, ada perbedaan mendasar dalam filosofi penggunaan. Tidak seperti pada Pesawat Ulang-alik di mana mesin-mesin tersebut dirancang untuk dapat digunakan kembali setelah penerbangan, dalam konfigurasi SLS, mesin-mesin ini akan dibuang setelah setiap peluncuran. Keputusan ini diambil untuk memaksimalkan kinerja dan daya dorong yang diperlukan untuk misi deep-space, dengan mengorbankan kemampuan penggunaan kembali yang menjadi ciri khas Pesawat Ulang-alik. Meskipun demikian, penggunaan kembali perangkat keras dan desain yang telah teruji ini memungkinkan NASA untuk mempercepat pengembangan SLS dan mengurangi biaya awal yang terkait dengan penelitian dan pengembangan teknologi baru dari nol. Ini adalah jembatan antara masa lalu yang gemilang dan masa depan yang ambisius dalam eksplorasi antariksa.
4. SLS: Mengorbankan Reusabilitas Demi Jangkauan Antarbintang
Salah satu keputusan desain paling signifikan untuk SLS adalah mengorbankan kemampuan penggunaan kembali (reusability) demi mencapai jangkauan dan kapasitas muatan yang luar biasa. Ini adalah pertimbangan krusial yang membedakan SLS dari filosofi desain Pesawat Ulang-alik dan roket komersial modern seperti Starship. Pesawat Ulang-alik dirancang untuk perjalanan singkat ke Stasiun Luar Angkasa Internasional (ISS) atau orbit Bumi rendah lainnya, yang jauh lebih dekat daripada jarak ke Bulan. Oleh karena itu, kemampuan penggunaan kembali menjadi prioritas utama untuk mengurangi biaya operasional jangka panjang.
Namun, untuk melakukan lompatan ke Bulan dan lebih jauh lagi, SLS memerlukan perubahan besar. Insinyur harus melepaskan fitur-fitur yang dirancang untuk penggunaan kembali, seperti parasut yang kompleks, bahan bakar cadangan yang berlebihan, dan sensor pendaratan yang rumit. Dengan menghilangkan fitur-fitur ini, tim dapat membebaskan sekitar 2.000 pon kapasitas muatan tambahan. Berat yang dihemat ini sangat penting karena setiap pon yang dapat diangkat ke luar angkasa membutuhkan energi yang sangat besar.
Kapasitas muatan ekstra ini memungkinkan Orion untuk mencapai kecepatan sekitar 39.428 kilometer per jam (24.500 mil per jam) yang dibutuhkan untuk lintasan menuju Bulan. Untuk keluar dari pengaruh gravitasi Bumi dan mencapai Bulan, sebuah roket harus mencapai "kecepatan lepas" (escape velocity), yang jauh lebih tinggi daripada kecepatan yang dibutuhkan untuk mencapai orbit Bumi rendah. Harga dari performa luar biasa ini adalah sifat sekali pakai. SLS dirancang untuk menggunakan pendorong dan mesin baru untuk setiap misi, yang tentu saja berkontribusi pada biaya operasional yang tinggi. Keputusan ini mencerminkan prioritas NASA: mencapai tujuan deep-space dengan kapasitas maksimal, bahkan jika itu berarti mengorbankan efisiensi biaya yang ditawarkan oleh teknologi yang dapat digunakan kembali.
5. SLS: Roket Termahal, Sebuah Investasi Nasional yang Penuh Kontroversi
SLS sering disebut sebagai "roket Amerika" oleh banyak pihak di NASA dan Kongres AS, diperlakukan sebagai aset nasional yang strategis, mirip dengan kapal induk yang dibuat khusus untuk militer. Dalam konteks ini, pengendalian biaya seringkali bukan menjadi prioritas utama dibandingkan dengan tujuan strategis, penciptaan lapangan kerja, dan kemampuan yang tak tertandingi.
Undang-undang anggaran tahun 2010 secara eksplisit memerintahkan NASA untuk membangun roket ini, bahkan merinci desain, kontraktor utama, dan model bisnisnya. Hal ini berarti bahwa SLS bukan semata-mata produk dari persaingan pasar atau efisiensi biaya, melainkan hasil dari mandat politik dan tujuan kebijakan nasional. Akibatnya, proyek ini melibatkan jaringan pemasok yang sangat luas; saat ini, sekitar 3.800 pemasok di seluruh 50 negara bagian AS mendukung pengembangan dan produksi SLS dan Orion. Jaringan ini menciptakan ribuan lapangan kerja dan mendukung industri teknologi tinggi di seluruh negeri, yang merupakan argumen politik kuat di balik pembiayaannya.
Namun, sifat "aset nasional" ini juga yang membuatnya menjadi roket termahal yang pernah dibuat. Pada tahun 2022, inspektur jenderal NASA memperkirakan bahwa setiap peluncuran Artemis menelan biaya sekitar USD 4,1 miliar (sekitar Rp 65 triliun dengan kurs saat ini), dan sekitar setengah dari jumlah itu, atau sekitar USD 2 miliar, dialokasikan hanya untuk roket SLS itu sendiri. Biaya per peluncuran ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan roket komersial modern yang dirancang dengan filosofi reusabilitas dan efisiensi biaya. Kontroversi seputar biaya SLS telah memicu perdebatan sengit tentang efisiensi pengeluaran publik dalam program luar angkasa, terutama dengan munculnya pesaing swasta yang menawarkan solusi peluncuran dengan biaya yang lebih rendah. Meskipun demikian, para pendukung SLS berpendapat bahwa biaya ini adalah investasi yang diperlukan untuk kemandirian nasional dalam eksplorasi luar angkasa dan untuk mencapai tujuan-tujuan ilmiah dan eksplorasi yang ambisius yang tidak dapat dipenuhi oleh sistem lain saat ini.
SLS adalah sebuah mahakarya rekayasa yang sarat dengan sejarah, kekuatan, dan ambisi. Meskipun mahal dan menghadapi kritik, roket ini adalah kunci untuk mengembalikan manusia ke Bulan dan membuka jalan bagi misi-misi yang lebih jauh di masa depan. Perjalanannya ke landasan peluncuran bukan hanya sebuah langkah fisik, melainkan juga sebuah lompatan simbolis bagi umat manusia menuju babak baru dalam penjelajahan kosmik.

