0

Cewek Jenius Berjuluk ‘Next Einstein’, Risetnya Dikutip Stephen Hawking

Share

Di dunia fisika teoretis, nama Stephen Hawking adalah sebuah mercusuar kecerdasan dan inovasi. Ketika seorang fisikawan sekaliber Hawking mengutip sebuah paper, itu bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah pengakuan terhadap bobot dan signifikansi penelitian tersebut. Inilah kisah Sabrina Gonzales Pasterski, seorang perempuan muda yang dijuluki ‘Next Einstein’, yang risetnya berhasil menarik perhatian dan diakui oleh salah satu pemikir terbesar abad ini. Kisah perjalanannya adalah sebuah ode untuk dedikasi, kecerdasan luar biasa, dan ketekunan dalam mengejar pemahaman terdalam tentang alam semesta.

Sabrina Gonzales Pasterski, yang pada Januari 2026 berusia 32 tahun, telah mengukir jejak prestasi akademik yang gemilang dan menginspirasi. Sejak usia dini, bakat dan kecerdasannya sudah tampak mencolok, jauh melampaui teman-teman seusianya. Pada usia 12 tahun, ketika sebagian besar anak-anak masih asyik dengan permainan, Sabrina sudah menunjukkan kemampuan teknis dan pemahaman fisika yang luar biasa dengan berhasil membangun dan menerbangkan pesawat kecilnya sendiri. Pencapaian ini bukan sekadar hobi biasa, melainkan sebuah proyek kompleks yang memerlukan pemahaman mendalam tentang aerodinamika, mesin, dan teknik perakitan, sebuah bukti awal dari pemikirannya yang visioner dan tangan yang terampil.

Perjalanan akademis Sabrina membawanya ke institusi pendidikan paling bergengsi di dunia. Ia menempuh pendidikan sarjana di Massachusetts Institute of Technology (MIT), sebuah lembaga yang dikenal dengan standar akademik yang sangat tinggi dan kompetitif. Di MIT, Sabrina tidak hanya sekadar lulus, melainkan menjadi salah satu lulusan terbaik di bidang fisika, sebuah pencapaian yang menggarisbawahi kecerdasannya yang superior dan kerja kerasnya yang tak kenal lelah. Setelah menyelesaikan studi sarjananya dengan gemilang, ia melanjutkan pendidikan doktoralnya di Harvard University, pusat keunggulan akademik lain yang menjadi dambaan banyak ilmuwan muda. Di Harvard, Sabrina mendalami fisika teoretis, sebuah bidang yang menuntut kapasitas intelektual tertinggi untuk menjelajahi misteri fundamental alam semesta.

Puncak dari penelitiannya saat di Harvard adalah penemuan teori yang dikenal sebagai "Spin Memory Effect". Riset ini tidak dilakukan sendiri, melainkan merupakan hasil kolaborasi dengan rekan-rekan sesama peneliti, mencerminkan pentingnya kerja sama dalam sains modern. Paper yang merinci temuan mereka diterbitkan di jurnal ilmiah bergengsi, sebuah pengakuan awal dari komunitas ilmiah terhadap kontribusi penting mereka. Namun, yang membuat penemuan ini benar-benar fenomenal adalah ketika riset tersebut kemudian dikutip oleh fisikawan legendaris Stephen Hawking.

"Spin Memory Effect" sendiri adalah konsep yang berkaitan dengan gelombang gravitasi. Secara sederhana, teori ini menyatakan bahwa ketika gelombang gravitasi – riak di ruang-waktu yang dihasilkan oleh peristiwa kosmik dahsyat seperti penggabungan lubang hitam atau bintang neutron – melintas, ia tidak hanya menyebabkan distorsi sementara, tetapi juga meninggalkan "memori" permanen pada ruang-waktu itu sendiri. Artinya, setelah gelombang gravitasi berlalu, ruang-waktu tidak sepenuhnya kembali ke keadaan semula, melainkan mempertahankan sedikit perubahan atau "jejak". Efek ini memiliki implikasi signifikan untuk pemahaman kita tentang gravitasi dan dinamika lubang hitam, terutama dalam konteks teori relativitas umum Einstein dan upaya untuk menggabungkannya dengan mekanika kuantum.

Kutipan dari Stephen Hawking bukanlah hal sepele. Hawking sendiri adalah pionir dalam studi lubang hitam, radiasi Hawking, dan konsep "soft hair" lubang hitam, yang berhubungan dengan informasi yang mungkin tersimpan di horison peristiwa. Riset Sabrina tentang Spin Memory Effect secara fundamental terhubung dengan gagasan-gagasan yang sedang dikembangkan Hawking dan rekan-rekannya mengenai simetri-simetri fundamental dalam gravitasi dan informasi di dekat lubang hitam. Karyanya memberikan sebuah perspektif baru atau konfirmasi penting yang memperkaya pemahaman di garis depan fisika teoretis, menunjukkan bahwa meskipun usianya masih muda, kontribusinya sudah setara dengan para raksasa di bidangnya.

Setelah menyelesaikan pendidikannya, Sabrina dihadapkan pada sebuah tawaran yang sangat menggiurkan. Brown University, sebuah institusi Ivy League terkemuka, menawarinya kontrak dengan nilai fantastis sebesar USD 1,1 juta, atau sekitar Rp 18,6 miliar (dengan kurs saat itu). Tawaran sebesar ini untuk seorang ilmuwan muda adalah bukti nyata dari nilai dan potensi luar biasa yang dilihat oleh komunitas akademik pada dirinya. Namun, dalam sebuah keputusan yang mencerminkan prioritasnya yang unik dan dedikasinya yang tak tergoyahkan pada penelitian murni, Sabrina menolak tawaran tersebut. Baginya, bukan imbalan finansial atau prestise tradisional yang utama, melainkan kesempatan untuk berkontribusi secara maksimal pada pemahaman ilmiah.

Alih-alih menerima tawaran Brown, Sabrina memilih untuk bergabung dengan The Perimeter Institute for Theoretical Physics di Waterloo, Ontario, Kanada. Sejak tahun 2021 hingga sekarang, institusi ini telah menjadi rumah baginya untuk terus mengejar pertanyaan-pertanyaan paling mendalam tentang alam semesta. Perimeter Institute adalah pusat penelitian independen terkemuka yang didedikasikan sepenuhnya untuk fisika teoretis, menarik para pemikir paling cemerlang dari seluruh dunia. Lingkungan di sana dirancang untuk memfasilitasi penelitian inovatif tanpa beban mengajar, memungkinkan para ilmuwan untuk fokus sepenuhnya pada eksplorasi gagasan-gagasan revolusioner.

Di Perimeter Institute, Sabrina memimpin sebuah inisiatif ambisius yang dikenal sebagai Celestian Holography Initiative. Tim ini berfokus pada studi ruang-waktu dengan menggunakan teori kuantum, sebuah upaya untuk menyatukan dua pilar fisika modern yang paling sukses namun belum sepenuhnya kompatibel: relativitas umum (yang menjelaskan gravitasi dan struktur alam semesta berskala besar) dan mekanika kuantum (yang menjelaskan perilaku materi di tingkat terkecil). Konsep "holografi" dalam fisika teoretis merujuk pada gagasan bahwa informasi yang terkandung dalam volume ruang-waktu tiga dimensi mungkin dapat dijelaskan sepenuhnya oleh teori yang berada pada batas dua dimensinya, mirip dengan cara hologram merepresentasikan objek tiga dimensi pada permukaan dua dimensi. Inisiatif Celestian Holography berusaha memperluas prinsip ini untuk memahami kosmologi dan fenomena ruang-waktu di skala terbesar, termasuk misteri lubang hitam, asal-usul alam semesta, dan sifat fundamental gravitasi kuantum. Pekerjaan ini adalah salah satu yang paling menantang dan berpotensi revolusioner dalam fisika saat ini.

Selain karyanya di garis depan penelitian, Sabrina Pasterski juga memahami pentingnya berbagi pengetahuan dan menginspirasi generasi berikutnya. Meskipun ia dikenal karena kerendahan hatinya dan fokusnya pada pekerjaan, ia percaya pada kekuatan edukasi sains. Ia sering memberikan ceramah publik dan presentasi di berbagai forum ilmiah, di mana ia mampu menjelaskan konsep-konsep fisika teoretis yang sangat kompleks dengan cara yang dapat dipahami oleh audiens yang lebih luas, baik akademisi maupun masyarakat umum. Dedikasinya terhadap komunikasi sains menunjukkan bahwa ia tidak hanya seorang ilmuwan brilian, tetapi juga seorang pendidik yang peduli, yang ingin membuka mata dunia terhadap keajaiban dan misteri alam semesta yang ia selami setiap hari.

Sabrina Gonzales Pasterski adalah sosok yang luar biasa, sebuah anomali positif di dunia sains. Julukan ‘Next Einstein’ bukan diberikan tanpa alasan; ia mewakili harapan akan seorang pemikir yang akan membawa terobosan fundamental dalam pemahaman kita tentang alam semesta. Dengan kecerdasan yang tak tertandingi, dedikasi yang teguh, dan rasa ingin tahu yang tak terbatas, ia terus mendorong batas-batas pengetahuan manusia. Pekerjaannya di Celestian Holography Initiative berpotensi mengungkap rahasia terdalam tentang gravitasi kuantum dan sifat ruang-waktu, yang dapat mengubah cara kita memandang realitas. Dunia fisika, dan bahkan seluruh umat manusia, menanti dengan antusias gebrakan-gebrakan apa lagi yang akan datang dari pikiran brilian Sabrina Pasterski, seorang perempuan yang telah membuktikan bahwa usia hanyalah angka di hadapan kecerdasan sejati.