Jakarta, 18 Januari 2026 – Dunia penerjemahan otomatis kembali bergejolak dengan kehadiran pemain baru yang berpotensi menjadi disruptor serius di ranah yang selama ini didominasi Google Translate. OpenAI, perusahaan di balik fenomena kecerdasan buatan ChatGPT, secara diam-diam telah meluncurkan layanan penerjemah khusus bernama ChatGPT Translate. Langkah ini menandai pergeseran strategi OpenAI untuk tidak hanya mengandalkan kemampuan terjemahan dalam chatbot utamanya, melainkan menciptakan platform yang terpisah dan terfokus, diposisikan secara langsung sebagai pesaing tangguh bagi raksasa penerjemahan milik Google.
Peluncuran ChatGPT Translate ini bukan sekadar penambahan fitur, melainkan deklarasi niat OpenAI untuk merambah pasar yang lebih spesifik dengan keunggulan teknologi AI generatif mereka. Saat ini, layanan ini dapat diakses melalui peramban desktop atau seluler di situs khusus chatgpt.com/translate. Menariknya, hingga kini aplikasi ChatGPT yang tersedia untuk Android dan iOS belum dilengkapi dengan tombol atau integrasi langsung untuk mengakses layanan penerjemah ini, menunjukkan bahwa OpenAI mungkin ingin menguji pasar dan mengumpulkan umpan balik sebelum sepenuhnya mengintegrasikannya ke dalam ekosistem aplikasi seluler mereka.
Tampilan antarmuka ChatGPT Translate sekilas memang memiliki kemiripan yang mencolok dengan Google Translate. Halaman depannya didesain minimalis namun fungsional, menampilkan dua kotak teks utama: satu untuk pengguna memasukkan atau menyalin teks asli, dan kotak lainnya untuk menampilkan hasil terjemahan. Di bagian atas atau samping kotak teks, terdapat menu drop-down intuitif yang memungkinkan pengguna untuk dengan mudah memilih bahasa asli (sumber) dan bahasa target (sasaran) terjemahan. Desain yang familiar ini kemungkinan bertujuan untuk memudahkan adopsi pengguna yang sudah terbiasa dengan layanan penerjemahan sejenis.
Namun, di balik kemiripan antarmuka, terletak perbedaan fundamental yang menjadi keunggulan utama ChatGPT Translate: kemampuannya untuk melanjutkan percakapan setelah terjemahan pertama. Ini adalah fitur yang tidak ditemukan pada Google Translate dan membuka dimensi baru dalam proses penerjemahan. Pengguna tidak hanya mendapatkan terjemahan tunggal, melainkan dapat berinteraksi lebih lanjut dengan model AI, meminta klarifikasi, penyempurnaan, atau bahkan penyesuaian gaya dan konteks. Kemampuan ini mencerminkan akar ChatGPT Translate sebagai produk turunan dari teknologi chatbot generatif yang memang dirancang untuk interaksi multi-giliran.
Meskipun demikian, OpenAI belum secara resmi mengungkapkan model GPT mana yang menjadi otak di balik fitur ChatGPT Translate ini. Spekulasi mengarah pada versi yang dioptimalkan dari GPT-3.5 atau bahkan GPT-4, mengingat kemampuannya yang canggih dalam memahami konteks dan menghasilkan teks yang koheren. Keengganan OpenAI untuk merinci model ini mungkin bagian dari strategi kompetitif, atau bisa jadi model yang digunakan adalah varian khusus yang disetel untuk tugas penerjemahan dengan fokus pada efisiensi dan akurasi linguistik.
Salah satu fitur paling revolusioner dari ChatGPT Translate adalah kemampuannya untuk menerjemahkan teks sambil mempertahankan makna aslinya secara utuh, bukan sekadar menerjemahkan kata demi kata. Ini adalah lompatan besar dari penerjemahan mesin statistik atau bahkan neural awal yang terkadang menghasilkan terjemahan kaku atau literal yang kehilangan nuansa. Model AI OpenAI mampu memahami konteks, idiom, dan metafora dalam kalimat, memastikan bahwa hasil terjemahan tidak hanya akurat secara leksikal tetapi juga semantik dan pragmatik. Misalnya, jika ada kalimat yang mengandung peribahasa, ChatGPT Translate berpotensi untuk mencari padanan peribahasa yang relevan dalam bahasa target, bukan hanya menerjemahkan setiap kata secara harfiah.
Lebih jauh lagi, layanan ini menawarkan personalisasi hasil terjemahan yang belum pernah ada sebelumnya. Pengguna dapat menyesuaikan gaya dan nada terjemahan sesuai dengan keinginan atau kebutuhan spesifik mereka. Opsi seperti ‘formal bisnis’, ‘untuk audiens akademis’, atau bahkan ‘jelaskan seperti anak kecil’ memungkinkan pengguna untuk mengadaptasi output agar sesuai dengan tujuan komunikasi mereka. Fitur ini sangat berharga bagi profesional yang membutuhkan terjemahan yang tidak hanya akurat tetapi juga sesuai dengan tone of voice yang diharapkan, baik itu untuk email bisnis, makalah ilmiah, materi pemasaran, atau bahkan konten edukasi anak-anak. Ini mengubah peran penerjemah otomatis dari sekadar alat konversi bahasa menjadi asisten komunikasi yang cerdas.
Pada halaman utama ChatGPT Translate, OpenAI mengklaim bahwa layanan ini akan dapat menerjemahkan teks, gambar, dan suara. Namun, pada saat peluncuran ini, dukungan untuk menerjemahkan gambar masih belum tersedia. Ini menunjukkan visi jangka panjang OpenAI untuk menciptakan platform penerjemahan multimodal yang komprehensif, serupa dengan apa yang sudah ditawarkan oleh beberapa pesaing atau yang menjadi aspirasi industri. Ketika fitur terjemahan gambar dan suara ini sepenuhnya diimplementasikan, potensi ChatGPT Translate untuk digunakan dalam skenario dunia nyata akan semakin luas, seperti menerjemahkan menu di restoran asing melalui kamera ponsel atau memahami percakapan langsung lintas bahasa.
Saat ini, versi desktop dari situs ChatGPT Translate hanya mendukung terjemahan teks. Namun, versi selulernya sudah sedikit lebih canggih, memungkinkan pengguna untuk memasukkan teks secara manual atau menggunakan mikrofon perangkat untuk input suara. Kemampuan input suara pada versi seluler ini memberikan kemudahan ekstra bagi pengguna yang ingin menerjemahkan kalimat lisan atau melakukan percakapan sederhana secara real-time, meskipun masih terbatas pada input satu arah. Perkembangan ini, seperti yang dikutip dari The Verge pada Minggu, 18 Januari 2026, menunjukkan komitmen OpenAI untuk secara bertahap memperluas fungsionalitas layanan ini.
Dalam hal cakupan bahasa, ChatGPT Translate saat ini mendukung sekitar 50 bahasa. Angka ini masih jauh tertinggal dibandingkan Google Translate, yang memiliki keunggulan signifikan dalam hal jangkauan bahasa. Pada tahun 2024 saja, Google menambahkan 110 bahasa baru untuk layanan Translate mereka, memperkuat posisinya sebagai pemimpin dalam keragaman bahasa. Kesenjangan ini merupakan tantangan besar bagi OpenAI, yang harus bekerja keras untuk memperluas basis bahasa mereka agar dapat bersaing secara efektif di pasar global. Namun, perlu diingat bahwa OpenAI mungkin memprioritaskan kualitas terjemahan yang mendalam untuk bahasa-bahasa yang didukung, dibandingkan kuantitas semata.
Faktanya, chatbot ChatGPT reguler sendiri sudah mendukung fitur terjemahan selama bertahun-tahun. Pengguna sering kali menggunakan ChatGPT untuk menerjemahkan teks panjang atau mendapatkan penjelasan kontekstual dalam bahasa yang berbeda. Oleh karena itu, langkah OpenAI untuk merilis ChatGPT Translate sebagai layanan web khusus dapat dilihat sebagai upaya untuk mengemas kemampuan yang sudah ada ke dalam antarmuka yang lebih terfokus dan mudah diakses untuk tujuan penerjemahan spesifik. Ini juga memungkinkan OpenAI untuk mengoptimalkan model AI mereka secara khusus untuk tugas penerjemahan, mungkin dengan fine-tuning atau data training yang lebih spesifik, menghasilkan performa yang lebih baik dibandingkan penggunaan umum chatbot.
Belum diketahui apakah OpenAI berencana meluncurkan ChatGPT Translate sebagai aplikasi mandiri di masa mendatang. Jika OpenAI memutuskan untuk merilis aplikasi terpisah, ini akan semakin memperketat persaingan dengan Google Translate, yang telah lama tersedia dalam versi web dan aplikasi seluler yang terintegrasi penuh dengan ekosistem Android dan iOS. Aplikasi mandiri dapat menawarkan fitur-fitur yang lebih canggih seperti terjemahan offline, integrasi dengan aplikasi lain, atau pengalaman pengguna yang lebih mulus, yang semuanya akan menjadi faktor penting dalam menarik dan mempertahankan pengguna.
Kehadiran ChatGPT Translate menandai era baru dalam penerjemahan mesin, di mana kecerdasan buatan tidak hanya berfungsi sebagai alat konversi bahasa, tetapi juga sebagai asisten komunikasi yang cerdas dan adaptif. Dengan kemampuan untuk memahami konteks mendalam, melanjutkan percakapan, dan menyesuaikan gaya terjemahan, OpenAI berpotensi mendefinisikan ulang ekspektasi pengguna terhadap layanan penerjemahan. Meskipun masih memiliki beberapa keterbatasan, terutama dalam jumlah bahasa yang didukung dan ketersediaan fitur multimodal, fondasi teknologi AI generatif yang kuat memberikan ChatGPT Translate keunggulan yang tidak bisa diremehkan.
Perang antara raksasa teknologi untuk mendominasi lanskap AI terus berlanjut, dan penerjemahan adalah salah satu medan pertempuran utama. Google, dengan dominasi pasarnya dan investasi besar dalam penelitian AI selama bertahun-tahun, tentu tidak akan tinggal diam. Persaingan ini pada akhirnya akan menguntungkan pengguna, mendorong inovasi lebih lanjut, dan mempercepat pengembangan alat penerjemahan yang semakin canggih dan intuitif. Di masa depan, kita mungkin akan melihat layanan penerjemahan yang tidak hanya menerjemahkan kata-kata, tetapi juga memahami emosi, nuansa budaya, dan bahkan maksud tersembunyi di balik komunikasi lintas bahasa. ChatGPT Translate adalah langkah signifikan menuju visi tersebut, membawa kita selangkah lebih dekat ke impian penerjemah universal.

