Sebuah tamparan keras menghantam jantung kebanggaan Real Madrid. Raksasa La Liga itu harus menanggung malu yang teramat sangat setelah tersingkir secara prematur di babak 16 besar Copa del Rey musim 2025/2026. Bukan oleh tim papan atas, melainkan oleh Albacete, tim dari kasta kedua (Segunda Division) yang ironisnya sedang terseok-seok di peringkat ke-17 klasemen liga mereka. Kekalahan dramatis 2-3 ini bukan hanya sebuah hasil pertandingan, melainkan sebuah noda hitam yang langsung membayangi debut pahit pelatih anyar Los Blancos, Álvaro Arbeloa.
Pertandingan yang digelar di Estadio Carlos Belmonte pada Kamis (15/1/2026) dini hari WIB ini seharusnya menjadi panggung bagi Real Madrid untuk menunjukkan dominasi mereka. Copa del Rey, meskipun seringkali dianggap sebagai prioritas ketiga setelah La Liga dan Liga Champions, tetaplah trofi bergengsi yang wajib diperjuangkan oleh klub sekelas Real Madrid. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Tim ibu kota Spanyol itu justru terjerembab dalam lubang kekalahan yang mengejutkan, sekaligus memicu gelombang kekecewaan dan sindiran dari para penggemar serta pengamat sepak bola di seluruh dunia.
Era Baru yang Dimulai dengan Noda
Penunjukan Álvaro Arbeloa sebagai pengganti Xabi Alonso beberapa waktu sebelumnya telah memicu ekspektasi yang beragam. Sebagai mantan pemain Real Madrid yang disegani dan juga produk akademi klub yang sukses melatih tim junior, Arbeloa diharapkan membawa semangat baru, identitas klub yang kental, dan gaya bermain yang agresif, yang oleh sebagian fans dijuluki "era keganasan Arbeloa." Namun, harapan itu runtuh dalam semalam. Debutnya sebagai pelatih kepala tim senior langsung diwarnai dengan kekalahan memalukan, sebuah pencapaian yang tidak diinginkan oleh pelatih mana pun, apalagi di klub sekelas Real Madrid.
Sejak awal, pertandingan ini sudah terasa berat bagi Real Madrid. Tanpa kehadiran bintang utama mereka, Kylian Mbappe, yang sedang dibekap cedera lutut, daya gedor Los Blancos terlihat berkurang. Mbappe, yang dikenal dengan kecepatan dan ketajamannya, merupakan motor serangan yang sulit digantikan. Absennya ia memaksa Arbeloa untuk mengandalkan kedalaman skuad dan talenta muda yang ia kenal baik dari akademi. Namun, bahkan dengan rotasi pemain, Real Madrid seharusnya memiliki kualitas yang lebih dari cukup untuk mengatasi tim Segunda Division yang sedang berjuang di papan bawah.
Drama Menit Akhir yang Menyakitkan
Real Madrid tampil goyah sejak peluit kick-off dibunyikan. Lini pertahanan yang rapuh dan koordinasi yang kurang solid menjadi celah yang berhasil dimanfaatkan oleh Albacete. Publik Estadio Carlos Belmonte bergemuruh ketika Javi Villar berhasil memecah kebuntuan di menit ke-42 dengan sundulan terukurnya, memanfaatkan kelengahan barisan belakang Madrid. Gol ini menjadi pukulan telak bagi mental para pemain Real Madrid dan memperlihatkan bahwa Albacete datang dengan motivasi berlipat ganda untuk menciptakan kejutan.
Meskipun Real Madrid sempat menyamakan kedudukan lewat talenta muda yang menjanjikan, Franco Mastantuono, di masa injury time babak pertama, gol tersebut hanya menjadi jeda sesaat dari mimpi buruk yang akan datang. Mastantuono, yang menunjukkan potensi besar, berhasil menjaga asa Madridista tetap menyala, tetapi performa lini pertahanan tetap menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.
Memasuki babak kedua, pertandingan semakin memanas dan intens. Real Madrid berusaha mengambil inisiatif serangan, tetapi Albacete dengan gigih mempertahankan pertahanan mereka dan sesekali melancarkan serangan balik cepat yang berbahaya. Di menit ke-81, petaka kembali menghampiri Real Madrid. Jefté Betancor, penyerang Albacete, berhasil mencetak gol kedua bagi tuan rumah, membuat skor menjadi 2-1. Gol ini kembali menunjukkan kelemahan pertahanan Madrid dan membuat tekanan semakin memuncak.
Harapan sempat kembali menyinari Madridista ketika Gonzalo García berhasil mencetak gol penyeimbang 2-2 di menit 90+2. Gol di masa injury time ini seolah menjadi penyelamat dan membawa pertandingan menuju perpanjangan waktu. Namun, takdir berkata lain. Hanya dua menit berselang, di menit ke-94, Albacete kembali memberikan pukulan telak yang mematikan. Jefté Betancor menjadi pahlawan bagi Albacete dengan mencetak gol spektakuler melalui tendangan chip cerdik yang mengecoh kiper Andriy Lunin. Gol ketiga Betancor ini sekaligus memastikan kemenangan 3-2 bagi tuan rumah dan mengakhiri perjalanan Real Madrid di Copa del Rey secara tragis.
Badai Sindiran di Media Sosial
Kekalahan ini segera memicu reaksi keras dan gelombang sindiran di media sosial. Tagar terkait Real Madrid dan Arbeloa langsung memuncaki trending topic di berbagai platform. Para netizen, yang dikenal dengan kekejaman dan humor satir mereka, tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melampiaskan kekecewaan atau bahkan melontarkan ejekan.
Frasa "era keganasan Arbeloa" yang sebelumnya digunakan dengan nada optimis, kini berbalik menjadi bahan olok-olok. Akun-akun penggemar dan troll membanjiri lini masa dengan komentar sinis:
- "@renaldyramli25: ‘era keganasan Arbeloa’ mana ganas nya wkwkwkwkkw." Komentar ini menyiratkan kekecewaan mendalam atas hasil yang jauh dari ekspektasi "keganasan" yang digembar-gemborkan.
- "@0xJanu4ry: Dh dibilang aura Arbeloa suram malah diambil ckckck mending Indra Xavri aja." Netizen ini bahkan menyarankan pelatih lain, menunjukkan betapa cepatnya kepercayaan mereka runtuh.
- "@DeddyHasan_: please jadikan arbeloa pelatih permanennya madrid." Ini adalah bentuk sindiran pedas, seolah-olah berharap Madrid terus terpuruk dengan Arbeloa.
- "@odidangg: lawan Albacete aja kalah ini bijimanee ceritanya debut Arbeloa." Pertanyaan retoris yang menyoroti betapa parahnya kekalahan ini mengingat level lawan.
- "@AlwaysRodrygo: dari sini gw berspekalusi kalau Madrid gak bakal punya jalan yang mulus bersama Arbeloa, bahkan dia pun gak berani mengkritik pemain di konferensi pers dan justru kembali menjilat mereka, sungguh memalukan pdhl digame ini mereka kalah, kalahhhh telakkkk. Real Madrid finished." Komentar ini lebih mendalam, tidak hanya mengkritik hasil tetapi juga gaya kepemimpinan Arbeloa yang dianggap terlalu lunak.
- "@Casiphiaaaaa: aku bukan morinho, tetapi ada morinho di dalam diriku, dan kami memiliki akademi terbaik di dunia" wkwkwkwkwkwkwk ARBELOA ini kebanyakan ngehayal anj wkwkwk." Netizen ini mengutip pernyataan Arbeloa di masa lalu yang terdengar arogan dan kini berbalik menjadi bumerang.
- "@pisanggencet99: era keganasan xabi?era keganasan arbeloa? lagi laper disuruh kejar mbappe, vini, rodrygo?sombongnya minta ampun. taunya musim kmren ama musim ini terpongkeng😭😭😭😭mallluuuuuuuuuuu." Komentar ini menyatukan kritik terhadap Arbeloa dan bahkan Xabi Alonso sebelumnya, menyoroti penurunan performa Madrid secara keseluruhan.
Sindiran-sindiran ini tidak hanya mencerminkan kekecewaan terhadap hasil pertandingan, tetapi juga mempertanyakan kapasitas Arbeloa sebagai pelatih, strategi yang ia terapkan, dan bahkan kepribadiannya yang dianggap terlalu percaya diri sebelum membuktikan diri.
Implikasi dan Masa Depan yang Tidak Pasti
Kekalahan ini membawa implikasi serius bagi Real Madrid. Tersingkirnya mereka dari Copa del Rey berarti satu peluang trofi telah hilang, dan ini akan menambah tekanan pada Arbeloa serta para pemain di sisa musim. Fokus kini akan beralih sepenuhnya ke La Liga dan Liga Champions, di mana persaingan jauh lebih ketat.
Bagi Álvaro Arbeloa, debut pahit ini menjadi ujian mental yang berat. Ia harus segera menemukan solusi untuk masalah pertahanan tim, meningkatkan motivasi, dan membuktikan bahwa ia layak memimpin salah satu klub terbesar di dunia. Keraguan akan mulai muncul, dan ia harus menghadapinya dengan kepala tegak. Tekanan dari media, penggemar, dan manajemen klub akan sangat besar.
Di sisi lain, bagi Albacete, kemenangan ini adalah sejarah emas. Sebuah "giant killing" yang akan selalu dikenang oleh para penggemar mereka. Kemenangan ini tidak hanya membawa mereka ke babak selanjutnya Copa del Rey, tetapi juga memberikan suntikan moral yang luar biasa bagi tim yang sedang berjuang di liga. Finansial klub juga kemungkinan akan mendapat dorongan signifikan dari perjalanan mereka di kompetisi ini.
Real Madrid, klub yang terbiasa dengan kemenangan dan kejayaan, kini harus menghadapi kenyataan pahit bahwa bahkan mereka bisa tersandung oleh tim yang jauh di bawah mereka. Kekalahan ini adalah pengingat bahwa dalam sepak bola, tidak ada yang pasti, dan setiap pertandingan harus dihadapi dengan keseriusan penuh. "Malu di Copa del Rey" akan menjadi frasa yang menghantui Real Madrid dan Álvaro Arbeloa untuk waktu yang lama, dan bagaimana mereka bangkit dari keterpurukan ini akan menjadi cerita selanjutnya yang dinanti-nantikan.

