0

Penjualan Mobil di Indonesia Diproyeksikan di Bawah 800 Ribu Unit, Terendah dalam Lima Tahun Terakhir!

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Proyeksi pesimistis datang dari Kementerian Perindustrian (Kemenperin) mengenai target penjualan mobil di Indonesia sepanjang tahun 2025. Kemenperin meyakini bahwa angka penjualan tidak akan mampu menembus batas 800 ribu unit, sebuah angka yang jika terealisasi akan menjadi yang terendah dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Optimisme yang lebih tinggi justru diutarakan oleh Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), namun perbedaannya cukup signifikan.

Menurut Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE) Kementerian Perindustrian, Setia Diarta, yang akrab disapa Tata, data penjualan hingga bulan November 2025 menunjukkan angka sekitar 710.000-an unit. Ia menjelaskan lebih lanjut dalam konferensi pers akhir tahun 2025 yang diselenggarakan pada Rabu, 31 Desember 2025, bahwa pola penjualan bulanan yang terpantau dari angka tersebut mengindikasikan kesulitan untuk mencapai target yang lebih tinggi. "Kalau kita melihat pada data penjualan sampai dengan November tahun 2025, memang sumber data menunjukkan kurang lebih 710.000-an unit yang terjual. Jadi kalau kita melihat pola penjualan setiap bulan, nah ini dari 710.000 ada proses penjualan," ujar Tata seperti dikutip dari CNBC Indonesia.

Lebih lanjut, data retail sales atau penjualan dari dealer ke konsumen yang dirilis oleh Gaikindo menunjukkan bahwa angka penjualan tertinggi pada tahun 2025 tercatat di bulan November, yaitu sebanyak 79.310 unit. Bulan Maret menyusul di posisi kedua dengan 76.582 unit, diikuti oleh Februari yang membukukan 69.872 unit. Sebagian besar bulan lainnya dalam setahun menunjukkan angka penjualan yang tidak mampu menembus angka 65 ribu unit. Total retail sales hingga akhir November 2025 tercatat sebesar 739.977 unit, yang berarti mengalami penurunan sebesar 8,4 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Kemenperin pun memprediksi bahwa penjualan di bulan Desember 2025 tidak akan cukup untuk menambal kekurangan, sehingga total penjualan tahunan tidak akan mencapai 800 ribu unit. "Kalau untuk mencapai angka 800.000 sepertinya akan sulit untuk dicapai. Jadi estimasi kami, ini estimasi ya, proyeksinya kurang lebih sekitar 750.000-an unit," tegas Tata.

Di sisi lain, Gaikindo menunjukkan pandangan yang sedikit lebih optimis. Ketua Umum Gaikindo, Putu Juli Ardika, menyatakan keyakinannya bahwa penjualan mobil di Indonesia dapat mencapai angka 780 ribu unit. "Internal Gaikindo itu baru memproyeksikan bahwa penjualan di tahun 2025 itu sekitar 780 ribu, karena kemarin ada data beberapa data yang masuk. Biar datanya lengkap dulu baru kita membuat prognosa berikutnya," ungkap Putu Juli Ardika. Perbedaan proyeksi antara Kemenperin dan Gaikindo ini menyoroti ketidakpastian yang masih menyelimuti pasar otomotif Indonesia di akhir tahun 2025.

Perbandingan dengan data lima tahun terakhir semakin memperjelas kondisi pasar otomotif yang kurang menggembirakan di tahun 2025. Jika melihat tren penjualan wholesales (penjualan dari pabrik ke dealer) dari tahun 2021 hingga 2025, tahun 2025 diprediksi menjadi titik terendah. Berikut adalah data wholesales dari tahun 2021 hingga November 2025:

  • 2021: 887.202 unit
  • 2022: 1.048.040 unit
  • 2023: 1.005.802 unit
  • 2024: 865.723 unit
  • 2025 (Januari-November): 710.084 unit

Angka 710.084 unit yang tercatat hingga November 2025 ini jelas jauh di bawah pencapaian tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2024 sendiri sudah menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan 2022 dan 2023 yang masih mampu menembus angka satu juta unit. Namun, proyeksi akhir tahun 2025 menunjukkan penurunan yang lebih drastis lagi. Hal ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku industri otomotif di Indonesia.

Berbagai faktor diduga menjadi penyebab utama lesunya penjualan mobil di tahun 2025. Salah satu faktor yang paling sering disorot adalah kondisi ekonomi makro yang masih belum sepenuhnya pulih. Ketidakpastian ekonomi global dan domestik seringkali berdampak langsung pada daya beli masyarakat terhadap barang-barang konsumsi bernilai tinggi seperti kendaraan. Fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing juga dapat mempengaruhi harga mobil, terutama bagi merek-merek yang sebagian komponennya masih diimpor.

Selain itu, perubahan preferensi konsumen juga turut berperan. Di era digital ini, informasi mengenai berbagai pilihan produk menjadi semakin mudah diakses. Konsumen menjadi lebih selektif dalam memilih kendaraan yang sesuai dengan kebutuhan, anggaran, dan tren terkini. Munculnya berbagai inovasi di sektor transportasi lain, seperti transportasi publik yang semakin membaik di beberapa kota besar, serta tren kendaraan listrik yang mulai mendapatkan perhatian, juga bisa menjadi faktor yang mengalihkan sebagian minat konsumen dari mobil konvensional.

Kebijakan pemerintah terkait sektor otomotif juga memiliki dampak yang signifikan. Perubahan regulasi, kebijakan fiskal seperti pajak, serta insentif yang diberikan untuk mendorong industri atau permintaan konsumen, semuanya dapat mempengaruhi dinamika pasar. Misalnya, jika ada kebijakan yang kurang menguntungkan bagi industri otomotif, atau jika insentif yang ada tidak cukup kuat untuk merangsang pembelian, maka hal ini akan tercermin dalam angka penjualan.

Persaingan di pasar otomotif Indonesia sendiri semakin ketat. Dengan semakin banyaknya pemain baru yang masuk, terutama dari segmen kendaraan listrik dan produsen asal Tiongkok yang menawarkan harga kompetitif, persaingan antar merek semakin memanas. Hal ini memaksa produsen untuk terus berinovasi, menawarkan produk yang lebih menarik, serta melakukan strategi pemasaran yang lebih agresif. Namun, di tengah persaingan yang ketat, jika fundamental pasar tidak kuat, upaya-upaya tersebut mungkin tidak akan cukup untuk mendongkrak angka penjualan secara keseluruhan.

Tantangan lain yang dihadapi industri otomotif adalah isu rantai pasok global yang masih belum sepenuhnya stabil pasca-pandemi. Meskipun situasinya sudah membaik, beberapa komponen penting masih mengalami kelangkaan atau kenaikan harga, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi biaya produksi dan harga jual mobil. Ketergantungan pada impor untuk beberapa jenis komponen juga membuat industri ini rentan terhadap gejolak di pasar internasional.

Menghadapi situasi ini, industri otomotif Indonesia perlu melakukan evaluasi mendalam terhadap strategi yang telah dijalankan. Kolaborasi yang lebih erat antara pemerintah, produsen, dan distributor menjadi kunci untuk mencari solusi yang tepat. Upaya untuk meningkatkan daya saing produk lokal, mengembangkan infrastruktur pendukung kendaraan listrik, serta menciptakan stimulus ekonomi yang dapat meningkatkan daya beli masyarakat, perlu menjadi prioritas. Gaikindo sendiri tampaknya masih menunggu data yang lebih lengkap untuk membuat proyeksi yang lebih akurat, namun angka yang diprediksi oleh Kemenperin memberikan gambaran awal tentang tantangan besar yang dihadapi industri otomotif di tahun 2025.

Proyeksi penjualan mobil di bawah 800 ribu unit di tahun 2025, yang jika terjadi akan menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir, menjadi sinyal kuat bahwa industri otomotif Indonesia tengah berada di persimpangan jalan. Analisis mendalam terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi penurunan penjualan, serta perumusan strategi yang adaptif dan inovatif, akan sangat menentukan nasib industri ini di masa mendatang. Perbandingan data wholesales menunjukkan tren penurunan yang konsisten sejak tahun 2022, dengan tahun 2025 diperkirakan menjadi titik terendah. Angka 710.084 unit hingga November 2025 merupakan bukti nyata adanya perlambatan yang signifikan.

Kemenperin, melalui Dirjen ILMATE Setia Diarta, secara gamblang menyampaikan estimasi pesimistisnya yaitu sekitar 750.000 unit. Hal ini berbeda dengan proyeksi internal Gaikindo yang masih berkisar di angka 780.000 unit. Perbedaan ini mencerminkan perbedaan pandangan mengenai seberapa besar dampak faktor-faktor negatif yang ada terhadap pasar. Namun, kedua belah pihak sepakat bahwa target 800 ribu unit akan sangat sulit dicapai.

Faktor-faktor ekonomi makro seperti inflasi, suku bunga yang cenderung naik, dan ketidakpastian global menjadi hambatan utama. Daya beli masyarakat yang tergerus membuat keputusan pembelian mobil, yang merupakan barang mewah, menjadi tertunda atau bahkan dibatalkan. Selain itu, perubahan preferensi konsumen ke arah mobilitas yang lebih efisien dan ramah lingkungan juga mulai terlihat dampaknya.

Tren kenaikan harga bahan baku, ditambah dengan kelangkaan komponen semikonduktor yang masih terasa dampaknya, turut membebani biaya produksi. Hal ini pada akhirnya diteruskan kepada konsumen dalam bentuk kenaikan harga jual mobil, yang semakin menekan permintaan.

Perlambatan ekonomi global juga berdampak pada ekspor komponen otomotif Indonesia, yang secara tidak langsung mempengaruhi kinerja industri secara keseluruhan. Kebijakan pemerintah, meskipun bertujuan untuk mendukung industri, terkadang membutuhkan waktu untuk memberikan dampak yang signifikan.

Dalam menghadapi tantangan ini, industri otomotif perlu melakukan diversifikasi produk, fokus pada segmen pasar yang masih memiliki potensi pertumbuhan, serta terus berinovasi dalam teknologi. Pengembangan ekosistem kendaraan listrik, mulai dari produksi hingga infrastruktur pendukung, menjadi strategi jangka panjang yang krusial. Selain itu, stimulus fiskal yang lebih terarah dan efektif dari pemerintah akan sangat membantu dalam mendongkrak permintaan.

Penting untuk diingat bahwa data yang disajikan adalah data hingga November 2025. Penjualan di bulan Desember, meskipun diprediksi tidak akan banyak mengubah gambaran besar, tetap menjadi faktor penentu angka akhir tahun. Namun, secara keseluruhan, gambaran pasar otomotif Indonesia di tahun 2025 menunjukkan tantangan yang signifikan, yang memerlukan respons strategis dari semua pemangku kepentingan. Perlu ada upaya bersama untuk memulihkan kepercayaan konsumen dan mendorong pertumbuhan industri ini di tahun-tahun mendatang.

Penjualan mobil di Indonesia pada tahun 2025 diproyeksikan tidak akan mencapai target 800 ribu unit, sebuah angka yang jika terwujud akan menjadi yang terendah dalam lima tahun terakhir. Kemenperin memperkirakan angka penjualan akan berkisar di 750.000 unit, sementara Gaikindo memproyeksikan sedikit lebih tinggi di 780.000 unit. Data wholesales hingga November 2025 menunjukkan angka 710.084 unit, menurun signifikan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Lesunya pasar ini disebabkan oleh kombinasi faktor ekonomi makro yang tidak stabil, perubahan preferensi konsumen, persaingan ketat, dan tantangan rantai pasok global. Situasi ini menuntut industri otomotif untuk beradaptasi dengan strategi inovatif dan kolaborasi yang lebih erat dengan pemerintah.