0

Media Sosial Mau Diberi Label Peringatan Seperti Rokok, Efektif Nggak?

Share

Langkah tegas yang diambil oleh negara bagian New York untuk menekan dampak negatif media sosial terhadap kesehatan mental anak dan remaja telah memicu perdebatan global: apakah peringatan di layar ponsel akan seefektif label peringatan pada kemasan rokok? Gubernur New York, Kathy Hochul, baru-baru ini menandatangani undang-undang kontroversial yang mewajibkan platform media sosial untuk menampilkan label peringatan mengenai potensi risiko kesehatan mental bagi penggunanya, terutama di kalangan usia muda. Keputusan ini menandai pergeseran paradigma dalam regulasi teknologi, menyamakan potensi bahaya digital dengan ancaman kesehatan fisik dari produk-produk tradisional.

Aturan yang tertuang dalam legislasi S4505/A5346 ini secara spesifik menargetkan raksasa teknologi seperti Meta dan platform media sosial lainnya. Kebijakan ini mengharuskan adanya peringatan yang jelas dan mudah dipahami mengenai fitur-fitur media sosial yang dinilai dapat memicu penggunaan berlebihan atau kompulsif, yang pada gilirannya dapat merusak kesehatan mental. Kantor Gubernur New York tidak ragu-ragu menyamakan label peringatan ini dengan peringatan kesehatan yang telah lama diterapkan di industri-industri yang berisiko tinggi, seperti rokok, alkohol, makanan tinggi gula, hingga video game. Logikanya, jika produk-produk tersebut berpotensi serius bagi kesehatan fisik maupun mental, maka konsumen berhak mendapatkan informasi yang transparan dan lugas sebelum terpapar.

Gubernur Hochul menegaskan prioritas utamanya adalah menjaga keselamatan warga New York, termasuk melindungi anak-anak dari "potensi bahaya fitur media sosial yang mendorong penggunaan berlebihan." Ia menambahkan bahwa di era arus informasi yang masif seperti sekarang, kesehatan mental tidak bisa lagi dianggap sekadar urusan pribadi, melainkan harus menjadi perhatian utama dan kolektif. Pernyataan ini mencerminkan pengakuan yang semakin luas di kalangan pembuat kebijakan bahwa desain platform digital saat ini, dengan algoritma adiktif dan fitur pemicu dopamine, telah menciptakan krisis kesehatan mental yang memerlukan intervensi serius.

Undang-undang ini tidak secara langsung melarang fitur-fitur tertentu di media sosial, namun ia menempatkan tanggung jawab pada platform untuk memberi informasi. Platform diwajibkan untuk menampilkan label peringatan yang mudah dipahami oleh pengguna, mungkin dalam bentuk pop-up, banner permanen, atau notifikasi sebelum masuk ke aplikasi. Pemerintah daerah juga diberikan kewenangan untuk mengambil langkah hukum terhadap perusahaan yang melanggar, dengan ancaman denda perdata yang signifikan, hingga USD 5.000 per pelanggaran. Meskipun angka ini mungkin terlihat kecil bagi perusahaan triliunan dolar, akumulasi denda dari berbagai pelanggaran berpotensi menjadi tekanan finansial yang cukup berarti, sekaligus menjadi preseden hukum yang penting.

Langkah New York ini didorong oleh berbagai temuan riset yang mengkhawatirkan terkait kesehatan mental remaja. Salah satu studi yang dikutip pemerintah negara bagian menunjukkan bahwa remaja yang menghabiskan lebih dari tiga jam per hari di media sosial memiliki risiko dua kali lipat mengalami kecemasan dan depresi dibandingkan mereka yang tidak. Angka ini sangat relevan mengingat rata-rata waktu yang dihabiskan remaja di media sosial seringkali jauh melampaui batas tersebut. Studi tersebut juga menemukan bahwa hampir separuh remaja merasa media sosial berdampak negatif terhadap citra tubuh mereka, memicu perbandingan sosial yang tidak sehat dan rasa tidak aman. Lebih lanjut, pengguna paling aktif di media sosial justru mencatat skor kesehatan mental terendah, sebuah korelasi yang mengindikasikan hubungan kausal antara intensitas penggunaan dan penurunan kesejahteraan psikologis. Dampak-dampak ini mencakup gangguan tidur, penurunan konsentrasi, cyberbullying, dan fenomena "Fear Of Missing Out" (FOMO) yang terus-menerus.

Perbandingan dengan rokok, alkohol, atau makanan tinggi gula memang menarik untuk dicermati. Label peringatan pada kemasan rokok, misalnya, telah berevolusi dari sekadar teks kecil menjadi gambar-gambar mengerikan yang menunjukkan dampak penyakit. Studi menunjukkan bahwa label-label ini, terutama yang bergambar, memang meningkatkan kesadaran akan risiko dan dapat mendorong beberapa perokok untuk berhenti atau mengurangi konsumsi. Namun, efektivitasnya tidak bersifat universal dan seringkali memerlukan dukungan dari kebijakan lain seperti larangan iklan, kenaikan pajak, dan program berhenti merokok.

Pertanyaannya, apakah peringatan singkat di layar ponsel akan memiliki dampak serupa? Media sosial, tidak seperti rokok, menawarkan manfaat sosial dan fungsional yang nyata, seperti konektivitas, akses informasi, dan hiburan. Sifat "kecanduan" media sosial juga lebih kompleks, melibatkan dopamin loop yang terbentuk dari notifikasi, validasi sosial (likes, komentar), dan aliran konten tanpa henti yang disebut "infinite scroll" atau "doomscrolling." Ini adalah bentuk ketergantungan psikologis dan perilaku, bukan adiksi fisik terhadap zat kimia.

Maka, muncul pro dan kontra mengenai efektivitas kebijakan label peringatan ini. Di satu sisi, para pendukung berargumen bahwa label peringatan adalah langkah awal yang penting. Ini dapat meningkatkan kesadaran orang tua dan remaja tentang potensi risiko, memicu percakapan penting di rumah dan sekolah, dan bahkan mendorong beberapa pengguna untuk lebih bijak dalam penggunaan media sosial mereka. Kebijakan ini juga mengirimkan pesan kuat kepada perusahaan teknologi bahwa pemerintah serius dalam menuntut pertanggungjawaban atas dampak produk mereka. Ini bisa menjadi dorongan bagi platform untuk secara proaktif mendesain ulang fitur-fitur mereka agar tidak terlalu adiktif.

Namun, di sisi lain, para skeptis meragukan dampak signifikan dari label semacam ini. Mereka berargumen bahwa "warning fatigue" atau kelelahan terhadap peringatan adalah fenomena nyata; pengguna mungkin akan mengabaikan peringatan yang terus-menerus muncul, sama seperti kita sering mengabaikan syarat dan ketentuan saat menginstal aplikasi. Sifat adiktif algoritma media sosial yang dirancang untuk memaksimalkan waktu layar mungkin terlalu kuat untuk diatasi hanya dengan sebuah label. Remaja, yang cenderung mencari validasi sosial dan memiliki otak yang masih berkembang, mungkin lebih rentan terhadap daya pikat media sosial dan kurang terpengaruh oleh peringatan rasional. Selain itu, denda USD 5.000 mungkin tidak cukup untuk membuat perusahaan raksasa mengubah model bisnis mereka yang menguntungkan.

Sorotan terhadap dampak media sosial terhadap generasi muda memang terus menguat, tidak hanya di Amerika Serikat. Australia, misalnya, telah melangkah lebih jauh dengan melarang penggunaan media sosial bagi remaja di bawah usia tertentu, sebuah langkah yang jauh lebih drastis daripada sekadar label peringatan. Sejumlah negara bagian AS lainnya seperti California dan Minnesota juga tengah menerapkan regulasi yang lebih ketat terhadap platform digital, berfokus pada perlindungan data anak-anak, pembatasan fitur adiktif, atau bahkan persyaratan verifikasi usia yang lebih ketat. Di New York sendiri, tekanan terhadap raksasa teknologi makin meningkat. Beberapa waktu lalu, pemerintah kota New York menggugat Meta, Google, dan perusahaan media sosial lainnya, dengan tuduhan menggunakan taktik eksploitatif yang membahayakan kesehatan mental anak dan remaja. Gugatan ini mencari ganti rugi dan reformasi desain platform, menunjukkan bahwa label peringatan hanyalah salah satu dari banyak strategi yang dipertimbangkan.

Pada akhirnya, efektivitas label peringatan media sosial akan sangat bergantung pada implementasinya, respons pengguna, dan apakah ini akan menjadi bagian dari strategi yang lebih komprehensif. Solusi jangka panjang mungkin memerlukan pendekatan multi-faceted, termasuk: reformasi desain platform agar lebih berorientasi pada kesejahteraan pengguna daripada waktu layar; peningkatan literasi digital dan pendidikan kesehatan mental di sekolah dan keluarga; pengembangan alat kontrol orang tua yang lebih efektif; dan penelitian lebih lanjut untuk memahami secara mendalam bagaimana teknologi memengaruhi otak dan perilaku.

Langkah New York ini menandai meningkatnya keseriusan pemerintah dalam mengatur media sosial dan mengakui bahwa era "wild west" digital harus berakhir. Ini adalah pengakuan bahwa media sosial, seperti produk lain yang berpotensi membahayakan, memerlukan regulasi. Namun, apakah peringatan singkat di layar ponsel cukup ampuh menghentikan kebiasaan "doomscrolling" dan mengatasi krisis kesehatan mental di kalangan remaja, atau justru hanya menjadi formalitas baru di dunia digital, masih menjadi pertanyaan besar yang akan terus kita amati jawabannya di masa depan.