BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Inter Milan telah secara resmi mengukuhkan diri sebagai juara Serie A musim 2025/2026, sebuah pencapaian gemilang yang menandai Scudetto ke-21 dalam sejarah klub. Kemenangan meyakinkan atas Parma di Giuseppe Meazza pada pekan ke-35 Liga Italia, Senin (4/5/2026) dini hari WIB, memastikan gelar ini diraih dengan tiga pertandingan tersisa. Inter tampil dominan, mengamankan tiga poin krusial berkat gol-gol yang dicetak oleh Marcus Thuram dan Henrikh Mkhitaryan, menunjukkan performa superior sepanjang musim.
Gelar juara kali ini memiliki makna spesial bagi Inter Milan dan juga pelatih mereka, Cristian Chivu. Chivu berhasil membawa tim meraih Scudetto pada musim pertamanya sebagai pelatih utama, sebuah prestasi langka yang hanya pernah dicapai oleh segelintir legenda Inter sebelumnya. Ini bukan hanya sekadar kemenangan liga, tetapi juga sebuah bukti dari kerja keras, strategi yang matang, dan sinergi antara pemain dan staf pelatih. Sejarah mencatat bahwa Inter telah mengoleksi 21 gelar Serie A, sebuah warisan kebesaran yang terus dibangun oleh setiap generasi pemain dan pelatih.
Perjalanan Inter Milan menuju Scudetto ke-21 ini diwarnai oleh berbagai statistik dan fakta menarik yang semakin memperkuat dominasi mereka di kancah sepak bola Italia. Analisis mendalam dari berbagai sumber, termasuk data dari Opta, mengungkap sejumlah pencapaian luar biasa yang patut disorot. Inter tidak hanya meraih gelar juara, tetapi melakukannya dengan cara yang impresif, memecahkan rekor-rekor lama dan menetapkan standar baru untuk performa tim di Serie A.
Salah satu catatan penting adalah bagaimana Inter berhasil mengunci gelar juara Serie A untuk keenam kalinya dengan sisa setidaknya tiga pertandingan di liga. Pencapaian ini terakhir kali diraih oleh Inter pada musim 2023/2024, menunjukkan konsistensi performa luar biasa mereka dalam beberapa musim terakhir. Kemampuan untuk menjaga momentum dan tampil prima hingga akhir musim adalah ciri khas tim juara, dan Inter Milan telah membuktikan bahwa mereka memiliki kualitas tersebut.
Di bawah arahan Cristian Chivu, Inter Milan mencatatkan sejarah baru. Chivu menjadi pelatih kelima yang berhasil mempersembahkan Scudetto di musim pertamanya bersama klub. Ia bergabung dalam jajaran pelatih legendaris seperti Arpad Weisz (1929/1930), Alfredo Foni (1952/1953), Giovanni Invernizzi (1970/1971, yang mengambil alih tim pada November), dan Jose Mourinho (2008/2009). Keberhasilan Chivu menegaskan bahwa ia memiliki visi dan kemampuan kepelatihan yang luar biasa, mampu mentransfer ide-idenya kepada para pemain dan menghasilkan performa terbaik dari tim.
Lebih jauh lagi, Inter Milan telah mencapai angka minimal 80 poin di Serie A untuk ke-12 kalinya dalam sejarah klub, sebuah pencapaian yang mengesankan terutama di era di mana kemenangan bernilai tiga poin. Dari total 12 kali tersebut, enam di antaranya terjadi sejak tahun 2020, sebuah bukti nyata dari dominasi Inter dalam beberapa tahun terakhir. Konsistensi dalam mengumpulkan poin dan meraih kemenangan adalah kunci utama dalam perburuan gelar juara, dan Inter telah menunjukkannya dengan sangat baik.
Rekor kemenangan juga menjadi salah satu sorotan utama. Inter Milan berhasil memenangkan setidaknya 26 pertandingan dalam 35 pekan Serie A musim ini, sebuah pencapaian yang hanya pernah mereka raih empat kali sebelumnya dalam sejarah. Angka ini menempatkan Inter sejajar dengan musim 1988/1989 (26 kemenangan), 2006/2007 (28 kemenangan), 2020/2021 (26 kemenangan), dan 2023/2024 (28 kemenangan). Ini menunjukkan bahwa Inter bukan hanya tim yang menang, tetapi tim yang meraih kemenangan secara konsisten dan meyakinkan.
Aspek serangan Inter Milan musim ini juga patut diacungi jempol. Mereka telah mencetak 82 gol di Serie A sejauh ini. Dalam kurun waktu 75 tahun terakhir, Inter tidak pernah mencetak gol sebanyak itu dalam 35 pertandingan di satu musim. Produktivitas gol yang tinggi ini menunjukkan kedalaman skuad dan variasi serangan yang dimiliki Inter, membuat mereka menjadi ancaman konstan bagi pertahanan lawan. Gol-gol yang dicetak oleh berbagai pemain, termasuk Marcus Thuram dan Henrikh Mkhitaryan, menunjukkan bahwa kekuatan lini serang Inter tidak bergantung pada satu atau dua pemain saja.
Selain performa di liga domestik, Inter Milan juga menunjukkan ketajaman di kompetisi lain. Total 115 gol telah dicetak oleh Inter di semua kompetisi pada musim 2025/2026, termasuk partisipasi mereka di Piala Dunia Antarklub. Angka ini menegaskan status Inter sebagai salah satu tim paling produktif di Eropa, mampu tampil impresif di berbagai ajang yang diikuti. Ketajaman lini depan dan efektivitas serangan di berbagai kompetisi menjadi bukti nyata dari kualitas skuad dan kedalaman taktik yang diterapkan oleh Cristian Chivu.
Scudetto ke-21 ini menjadi babak baru dalam sejarah Inter Milan. Kemenangan ini tidak hanya merayakan pencapaian individu dan tim, tetapi juga mengukuhkan posisi Inter sebagai salah satu kekuatan dominan di sepak bola Italia dan Eropa. Dengan fondasi yang kuat, pelatih yang visioner, dan skuad yang bertalenta, Inter Milan siap untuk terus menorehkan sejarah dan meraih lebih banyak kesuksesan di masa depan. Perayaan Scudetto ini menjadi momen penting bagi para penggemar Nerazzurri di seluruh dunia, yang telah setia mendukung tim kesayangan mereka.

