BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Manchester City mungkin menelan pil pahit karena tidak meraih gelar apapun sepanjang tahun 2025, sebuah statistik yang jarang terjadi di era Pep Guardiola. Namun, di balik kekosongan trofi tersebut, sang manajer asal Spanyol justru memandang tahun 2025 sebagai salah satu periode terbaik dalam karier kepelatihannya yang gemilang. Perspektif ini muncul bukan karena keberhasilan di lapangan, melainkan dari kemampuan timnya untuk mengatasi rintangan yang luar biasa berat.
Musim 2024/2025 sejatinya bisa dicap sebagai musim terburuk Manchester City di bawah asuhan Guardiola. Perjalanan mereka di paruh pertama musim terbilang terseok-seok, jauh dari performa impresif yang biasa mereka tunjukkan. Akibatnya, ambisi untuk bersaing memperebutkan gelar juara liga pupus, dan mereka harus puas mengakhiri musim di peringkat ketiga. Puncak kekecewaan terjadi ketika mereka takluk dari Crystal Palace di partai final Piala FA, sebuah kekalahan yang memupus harapan untuk setidaknya meraih satu trofi domestik. Di kancah internasional, penampilan mereka di Piala Dunia Antarklub pun tidak bisa dibanggakan, hanya mampu mencapai babak 16 besar. Situasi ini terasa lebih buruk dibandingkan musim pertama Guardiola bersama City pada tahun 2016, meskipun pada musim itu pun City juga tidak meraih gelar.
Salah satu faktor krusial yang menghambat laju Manchester City di musim 2024/2025 adalah badai cedera yang melanda skuad. Kehilangan pemain kunci secara bergantian menciptakan lubang besar dalam kekuatan tim. Pukulan telak datang ketika Rodri, gelandang jangkar yang menjadi tulang punggung permainan City, harus menepi selama hampir setahun akibat cedera ligamen lutut yang serius. Absennya Rodri tidak hanya mempengaruhi kedalaman skuad, tetapi juga secara fundamental mengubah dinamika permainan tim, terutama dalam hal transisi dan penguasaan bola. Cedera pemain-pemain penting lainnya, seperti gelandang serang dan bek tengah, semakin memperparah kondisi, memaksa Guardiola untuk terus menerus melakukan rotasi dan adaptasi taktik yang belum tentu optimal.
Memasuki musim 2025/2026, Manchester City masih menunjukkan grafik performa yang naik turun di awal musim. Perjuangan untuk menemukan ritme permainan yang konsisten terlihat jelas, namun, di dua bulan terakhir musim tersebut, tim seolah menemukan kembali magisnya dan melesat dengan performa yang meyakinkan. Meskipun demikian, justru dalam konteks tantangan yang dihadapi selama tahun 2025, Guardiola menemukan sebuah pelajaran berharga dan alasan untuk bangga.
Bagi Guardiola, tahun 2025 menjadi sebuah pembuktian yang luar biasa. Ia berhasil melewati periode tersulit dalam kariernya sebagai manajer Manchester City tanpa harus kehilangan pekerjaannya. Ini menunjukkan ketahanan, kemampuan adaptasi, dan kepemimpinan yang kuat dalam menghadapi krisis. Di tengah badai cedera dan performa yang tidak stabil, Guardiola mampu menjaga moral tim dan menemukan solusi taktis untuk terus bersaing. Keberhasilan bertahan di puncak klasemen, meskipun tidak meraih gelar, adalah sebuah pencapaian tersendiri yang menunjukkan mentalitas juara yang tertanam dalam tim.
"Kami bisa mengatasi problem yang ada. Ini salah satu musim terbaik kami sebagai tim dengan para pemain yang ada, dari seluruh musim," ujar Guardiola seperti dikutip dari Independent. Pernyataan ini mencerminkan kebanggaannya atas respons tim terhadap kesulitan. Ia tidak melihat kegagalan meraih gelar sebagai sebuah kegagalan total, melainkan sebagai bukti ketangguhan dan semangat juang yang luar biasa.
Guardiola menekankan bahwa esensi dari kepelatihan bukan hanya tentang kemenangan, tetapi juga tentang bagaimana seorang manajer mampu membimbing timnya melewati masa-masa sulit. Ia melihat tahun 2025 sebagai tahun di mana ia dan timnya membuktikan diri mampu menghadapi dan mengatasi berbagai rintangan yang datang silih berganti. Ini adalah pelajaran berharga yang membentuk karakternya sebagai seorang manajer.
"Ini soal bagaimana Anda mengatasi masalah yang Anda. Dari sudut pandang saat ini, setiap saya melihat lagi performa musim lalu, saya makin bangga dengan apa yang kami lakukan sebagai klub," sambungnya. Kebanggaan ini bukan berasal dari jumlah trofi yang dipajang di lemari, melainkan dari bukti nyata ketangguhan mental dan kolektivitas tim. Ia melihat upaya keras para pemain, dedikasi staf pelatih, dan dukungan dari manajemen sebagai sebuah kesuksesan tersendiri.
Guardiola mengakui bahwa jika saja skuadnya tidak dihantam badai cedera, persaingan di jalur juara tentu akan berbeda. "Tentu saja kami bisa bersaing seperti musim-musim sebelumnya, jika para pemain fit semua," tuturnya. Pengakuan ini menunjukkan bahwa ia tetap realistis mengenai potensi timnya ketika dalam kondisi terbaik. Namun, justru dalam kondisi yang tidak ideal itulah, ia menemukan esensi dari kepemimpinan dan keberhasilan sejati.
Meskipun tahun 2025 mungkin tidak akan dikenang sebagai tahun yang penuh gelar bagi Manchester City, bagi Pep Guardiola, tahun tersebut akan terukir sebagai momen penting yang membuktikan kedalaman karakternya sebagai seorang manajer. Ia berhasil menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dan kemampuan adaptasi dapat membawa tim melewati badai, bahkan tanpa trofi di tangan. Inilah yang membuatnya memandang 2025 sebagai salah satu tahun terbaik dalam karier kepelatihannya yang penuh prestasi. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya pengalamannya, tetapi juga memperkuat posisinya sebagai salah satu pelatih terbaik di dunia yang mampu menginspirasi timnya untuk berjuang dalam kondisi apapun.
