Kabar mengejutkan datang dari ranah teknologi, khususnya industri ponsel pintar. Rencana ambisius Xiaomi untuk meluncurkan ponsel super tipis, yang dikenal sebagai Xiaomi 17 Air, harus kandas di tengah jalan. Pembatalan proyek ini disebut-sebut sebagai imbas langsung dari penjualan iPhone Air yang mengecewakan di pasaran global, sebuah sinyal kuat yang mengguncang strategi banyak merek ponsel China. Prototipe Xiaomi 17 Air sendiri baru-baru ini muncul dalam sebuah rekaman video yang beredar luas, menampilkan desain yang sangat menarik dan inovatif, memicu rasa penasaran sekaligus kekecewaan di kalangan penggemar teknologi.
Video prototipe Xiaomi 17 Air ini pertama kali diungkap oleh seorang tipster ternama, Bald Panda, yang menunjukkan detail bodi belakang perangkat tersebut. Dari rekaman yang beredar, terlihat jelas bahwa Xiaomi 17 Air dirancang dengan dua buah kamera belakang yang tertata rapi. Bagian bodi belakangnya sendiri mengadopsi material kaca matte, memberikan kesan premium dan sentuhan yang lembut saat digenggam. Kontras dengan bodi utamanya, modul kamera perangkat ini disematkan dalam sebuah panel berbahan metalik yang mengkilap, menciptakan aksen visual yang mencolok dan modern, demikian dilaporkan oleh GSM Arena pada hari Senin, 12 Januari 2026, yang saat itu menjadi tanggal pemberitaan awal tentang perkembangan ini.
Tidak hanya sebatas penampilan, bocoran spesifikasi Xiaomi 17 Air juga tak kalah menarik. Menurut informasi dari Bald Panda, ponsel ini direncanakan hadir dengan layar berukuran 6,59 inci, menawarkan pengalaman visual yang luas dan imersif. Yang paling mencengangkan adalah ketebalannya, yang hanya 5,5mm. Angka ini menempatkannya sebagai salah satu ponsel tertipis yang pernah dirancang, bahkan lebih tipis 0,1mm dibandingkan iPhone Air yang disebut-sebut sebagai pemicu pembatalannya. Detail lebih lanjut datang dari Digital Chat Station, tipster lain yang seringkali akurat, yang menyebutkan bahwa Xiaomi 17 Air (sebelum dibatalkan) akan ditenagai oleh chipset kelas atas, Snapdragon 8 Elite Gen 5. Di sektor daya, perangkat ini akan dibekali baterai di bawah 6.000 mAh, sebuah kompromi yang mungkin diperlukan untuk mencapai ketebalan ekstrem tersebut. Sementara itu, kemampuan fotografinya akan didukung oleh kamera utama beresolusi fantastis 200MP, menjanjikan kualitas gambar yang luar biasa.
Namun, semua spesifikasi dan desain menjanjikan tersebut hanya berhenti di tahap prototipe. Pengembangannya dihentikan secara permanen, dan penyebab utamanya adalah respons pasar yang kurang positif terhadap iPhone Air. Informasi ini, yang berasal dari berbagai pemasok utama Apple, menggambarkan gambaran suram tentang nasib ponsel super tipis Apple tersebut. Foxconn, mitra perakit utama Apple, dikabarkan telah membongkar semua lini produksi iPhone Air, sebuah langkah drastis yang mengindikasikan bahwa produksi dihentikan sepenuhnya dan tidak ada rencana untuk melanjutkannya dalam waktu dekat. Serupa dengan itu, Luxshare, mitra perakit Apple lainnya, juga dilaporkan telah menghentikan produksi iPhone Air sejak akhir Oktober tahun sebelumnya.
Kegagalan iPhone Air bukan hanya sekadar pukulan bagi Apple, tetapi juga menciptakan efek domino yang signifikan di seluruh industri ponsel pintar. Sejumlah merek asal China, termasuk Oppo, Vivo, Xiaomi, dan beberapa nama lainnya, terpaksa mengubah rencana pengembangan mereka atau bahkan membatalkan proyek-proyek ponsel ultra tipis yang sedang berjalan. Mereka menyadari bahwa tren "super tipis" yang awalnya dianggap sebagai daya tarik utama, ternyata tidak cukup untuk memikat konsumen jika harus mengorbankan aspek lain yang lebih fundamental.
Untuk memahami mengapa iPhone Air bisa gagal dan mengapa dampaknya begitu besar, kita perlu menilik sedikit ke belakang. iPhone Air, yang mungkin dirancang sebagai inovasi Apple untuk menawarkan desain yang lebih ramping dan ringan, kemungkinan besar mengorbankan beberapa fitur kunci atau pengalaman pengguna demi mencapai ketipisan ekstrem. Spekulasi mengenai penyebab kegagalannya beragam, mulai dari harga yang mungkin terlalu tinggi untuk fitur yang ditawarkan, daya tahan baterai yang kurang memuaskan akibat ruang yang terbatas, hingga kekhawatiran akan durabilitas fisik perangkat yang terlalu tipis. Apple, yang dikenal sebagai trendsetter, secara tidak langsung telah mengirimkan pesan kepada pasar bahwa obsesi terhadap ketipisan mungkin telah mencapai batasnya.
Respons konsumen yang kurang positif terhadap iPhone Air juga mendorong Apple untuk mengevaluasi ulang strategi mereka. Menurut laporan dari The Information, Apple bahkan menunda peluncuran iPhone Air 2, edisi penerus yang seharusnya sudah dalam tahap pengembangan, untuk mendesain ulang ponsel tersebut. Ini menunjukkan bahwa Apple menyadari kesalahan dalam pendekatan awal mereka dan siap melakukan perubahan signifikan demi memenuhi ekspektasi pasar. Penundaan ini menggarisbawahi betapa seriusnya Apple menanggapi umpan balik dari konsumen dan pasar.
Fenomena "super tipis" di dunia ponsel pintar bukanlah hal baru. Sejak era ponsel fitur, ketipisan seringkali dianggap sebagai tolok ukur kemajuan teknologi dan desain yang elegan. Dari Motorola RAZR yang legendaris hingga berbagai upaya produsen lain untuk menciptakan perangkat yang semakin ramping, daya tarik estetika selalu menjadi pendorong utama. Namun, ada batas fisik dan teknis yang tidak dapat diabaikan. Ketika sebuah ponsel menjadi terlalu tipis, ada beberapa kompromi yang harus diambil.
Salah satu kompromi terbesar adalah kapasitas baterai. Baterai adalah komponen terbesar dalam sebuah ponsel, dan untuk mencapai ketebalan ekstrem, produsen harus menggunakan baterai yang lebih kecil atau dengan kepadatan energi yang sangat tinggi, yang seringkali lebih mahal dan tidak selalu efisien. Akibatnya, daya tahan baterai bisa menjadi masalah serius bagi pengguna yang menginginkan perangkat yang dapat bertahan sepanjang hari.
Selain itu, masalah pendinginan juga menjadi tantangan. Chipset modern, terutama yang sekelas Snapdragon 8 Elite Gen 5 yang direncanakan untuk Xiaomi 17 Air, menghasilkan panas yang signifikan saat bekerja keras. Ruang yang sempit dalam ponsel super tipis membuat pembuangan panas menjadi lebih sulit, berpotensi menyebabkan throttling (penurunan kinerja untuk mencegah overheating) atau bahkan kerusakan komponen. Kamera juga menjadi korban. Sensor kamera yang besar dan lensa optik yang kompleks membutuhkan ruang. Desain super tipis seringkali menghasilkan "camera bump" yang menonjol atau memaksa penggunaan sensor yang lebih kecil, mengorbankan kualitas fotografi.
Durabilitas juga menjadi perhatian utama. Ponsel yang sangat tipis rentan terhadap bengkok atau retak jika mengalami tekanan. Kasus-kasus seperti "bendgate" yang pernah menimpa iPhone di masa lalu menunjukkan bahwa konsumen tidak hanya menginginkan estetika, tetapi juga perangkat yang kokoh dan tahan lama dalam penggunaan sehari-hari. Port konektivitas, seperti jack headphone 3,5mm atau bahkan port USB-C, juga bisa menjadi tantangan desain ketika ruang sangat terbatas.
Kegagalan iPhone Air dan pembatalan proyek Xiaomi 17 Air mengindikasikan pergeseran dalam preferensi konsumen. Di era modern, pengguna cenderung memprioritaskan fitur-fitur praktis seperti daya tahan baterai yang luar biasa, kinerja yang stabil, kualitas kamera yang superior, dan durabilitas yang terjamin, di atas sekadar ketipisan ekstrem. Inovasi kini lebih condong ke arah layar lipat (foldable phones) yang menawarkan fungsionalitas ganda, teknologi pengisian daya super cepat, atau peningkatan pada aspek kecerdasan buatan dan fotografi komputasi.
Bagi Xiaomi, keputusan untuk membatalkan 17 Air menunjukkan kedewasaan strategis. Meskipun mereka dikenal agresif dalam inovasi dan seringkali bereksperimen dengan berbagai form factor, mereka juga memiliki kepekaan terhadap dinamika pasar. Menghentikan proyek yang berisiko tinggi adalah langkah cerdas untuk menghindari kerugian finansial yang besar dan mengalihkan sumber daya ke area yang lebih menjanjikan. Ini juga menegaskan bahwa bahkan merek besar sekalipun tidak imun terhadap tren pasar dan harus senantiasa beradaptasi.
Masa depan lini "Air" Apple kini menjadi tanda tanya besar. Apakah Apple akan kembali mencoba dengan desain super tipis, ataukah mereka akan menemukan keseimbangan baru antara estetika dan fungsionalitas? Keputusan untuk mendesain ulang iPhone Air 2 menunjukkan bahwa mereka sedang mencari formula yang tepat, yang mungkin akan melibatkan sedikit peningkatan ketebalan demi mengakomodasi baterai yang lebih besar atau teknologi pendingin yang lebih baik.
Secara lebih luas, insiden ini mengirimkan pesan penting kepada seluruh industri ponsel pintar. Obsesi terhadap ketipisan mungkin telah mencapai titik jenuh. Produsen perlu menyadari bahwa inovasi sejati tidak selalu berarti membuat perangkat semakin tipis, melainkan menciptakan pengalaman pengguna yang lebih baik secara keseluruhan. Ini bisa berarti ponsel dengan baterai yang lebih besar, sistem pendingin yang lebih canggih, kamera yang lebih baik tanpa mengorbankan desain, atau fitur-fitur baru yang benar-benar mengubah cara kita berinteraksi dengan teknologi. Pembatalan Xiaomi 17 Air, meskipun mengecewakan dari sisi desain yang menarik, adalah sebuah pelajaran berharga yang mungkin akan membentuk arah desain smartphone di tahun-tahun mendatang. Industri mungkin akan bergerak menuju era di mana fungsionalitas dan pengalaman pengguna menjadi raja, sementara ketipisan ekstrem menjadi sekadar salah satu dari banyak faktor, bukan satu-satunya penentu keberhasilan.

