Sebuah babak baru dalam eksplorasi antariksa terbuka lebar bagi Indonesia. Dari sekadar pengamat, kini Indonesia memiliki peluang emas untuk menjadi partisipan aktif dalam misi-misi ke Bulan, sebuah ranah yang selama ini didominasi oleh negara-negara maju. Potensi keterlibatan ini bukan sekadar mimpi, melainkan sebuah agenda strategis yang mulai digagas oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Antariksa.
Emanuel Sungging, Kepala Pusat Riset Antariksa BRIN, menegaskan bahwa perubahan paradigma dalam pengamatan astronomi adalah pemicu utama peluang ini. Jika selama ini observasi alam semesta terfokus pada teleskop berbasis darat (ground base) yang rentan terhadap berbagai gangguan, kini opsi penempatan instrumen langsung di Bulan menawarkan keunggulan tak tertandingi. "Maka pada pagi ini, kita akan membuka wawasan terlebih dahulu dan mempelajari peluang-peluang itu," ujar Emanuel, menggarisbawahi urgensi untuk memahami dan memanfaatkan momentum kolaborasi internasional ini.
Keunggulan Bulan sebagai lokasi observatorium astronomi tidak bisa diremehkan. Emanuel Sungging memaparkan beberapa poin krusial yang menjadikan Bulan sangat ideal:
Pertama, minimnya gangguan gelombang radio. Di Bumi, pengamatan gelombang radio alam semesta kerap terganggu oleh intervensi sinyal-sinyal buatan manusia, mulai dari siaran radio, televisi, jaringan seluler, hingga Wi-Fi. Lingkungan Bulan yang relatif "hening" dari polusi elektromagnetik buatan memungkinkan para astronom menangkap sinyal-sinyal samar dari kedalaman alam semesta dengan kejernihan yang belum pernah ada sebelumnya. Bayangkan sebuah "radio teleskop" raksasa di sisi jauh Bulan, terlindung sepenuhnya dari deru sinyal Bumi, mampu mendengarkan bisikan tertua dari jagat raya.
Kedua, keberadaan daerah gelap permanen di bawah kawah. Wilayah ini memiliki suhu yang sangat rendah dan stabil, sebuah kondisi ideal untuk penempatan kamera atau sensor pengamatan. Suhu ekstrem yang rendah secara alami mengurangi "noise" termal pada sensor, yang berarti kamera tidak membutuhkan sistem pendingin aktif yang kompleks dan berat. Ini tentu saja akan menyederhanakan desain, mengurangi konsumsi daya, dan meningkatkan durabilitas peralatan, menjadikannya sangat efisien untuk misi jangka panjang di lingkungan luar angkasa yang keras.
Ketiga, permukaan Bulan yang stabil dan minim pergerakan tektonik. Berbeda dengan Bumi yang terus bergerak akibat aktivitas lempeng tektonik, Bulan relatif statis. Stabilitas ini sangat krusial untuk pembangunan Very Long Baseline Interferometer (VLBI). VLBI adalah teknik observasi astronomi yang menggabungkan data dari beberapa teleskop radio yang tersebar luas untuk menciptakan teleskop virtual berukuran raksasa dengan resolusi sangat tinggi. Di Bumi, VLBI membutuhkan koreksi posisi yang sering karena pergerakan kerak Bumi. Di Bulan, dengan permukaan yang stabil, instrumen dapat ditempatkan dengan presisi tinggi dan tidak perlu sering dikoreksi, memungkinkan pengamatan dengan detail luar biasa yang dapat mengungkap misteri galaksi jauh, lubang hitam, dan pembentukan bintang.
Keempat, atmosfer Bulan yang sangat tipis. Dibandingkan dengan atmosfer Bumi yang tebal, bahkan di orbit terendah sekalipun, atmosfer Bulan hampir tidak ada. Ketiadaan atmosfer berarti tidak ada distorsi cahaya atau hamburan yang biasa terjadi saat cahaya bintang melintasi atmosfer Bumi. Akibatnya, cahaya bintang dan objek langit lainnya dapat terlihat jauh lebih jelas dan tajam, mirip dengan keuntungan yang ditawarkan oleh Teleskop Antariksa Hubble, namun dengan potensi jangkauan dan resolusi yang lebih besar jika instrumen diletakkan langsung di permukaan Bulan.
Peluang partisipasi Indonesia ini semakin nyata dengan keterlibatan tokoh seperti Chatief Kunjaya dari Kelompok Keilmuan Astronomi FMIPA ITB, yang juga merupakan Board of Director dari International Lunar Observatory Association (ILOA). ILOA adalah organisasi non-pemerintah yang berdedikasi untuk membangun observatorium astronomi di Bulan. Kunjaya membagikan pengalaman berharga dari proyek ILO-X, sebuah misi demonstrasi teknologi yang berhasil mendarat di Bulan.
"ILO-X terbukti sukses karena telah bisa mendarat di Bulan. Kedua, proyek ini bisa mengkomunikasikan hasil dari foto pengamatannya," jelas Kunjaya. Misi ILO-X, yang diterbangkan oleh pesawat Nova-C milik perusahaan Intuitive Machines dalam misi IM-1, berhasil mencapai permukaan Bulan pada Februari 2024. Meskipun menghadapi tantangan tak terduga — salah satu kaki pendarat menabrak batu, menyebabkan pesawat tumbang dan kamera mengamati dalam posisi miring dari bawah, sehingga kurang optimal — keberhasilan pendaratan dan transmisi data adalah tonggak penting. Kejadian ini menjadi pelajaran berharga untuk misi-misi selanjutnya.
ILO-X hanyalah langkah awal. ILOA kini tengah mempersiapkan proyek aslinya, yaitu ILO-1 dan ILO-2. Kunjaya menyoroti bahwa kamera yang digunakan pada proyek-proyek awal masih statis, sehingga pengambilan gambar sangat bergantung pada orientasi dan pergerakan pesawat pembawa. Untuk mengoptimalkan pengamatan di Bulan, dibutuhkan kamera yang lebih canggih, yang mampu bergerak secara otomatis dan memiliki kemampuan manuver untuk mendapatkan sudut pandang terbaik.
Di sinilah potensi besar bagi Indonesia. Kunjaya secara tegas menyatakan adanya kesempatan bagi Indonesia untuk tidak hanya berpartisipasi dalam misi-misi internasional luar angkasa, tetapi juga untuk berkontribusi secara substansial. "Dengan terus berpartisipasi dalam program ILOA, dapat membuka kesempatan bagi Indonesia untuk turut mengeksplorasi angkasa luar jauh Indonesia lebih lanjut," tuturnya. Lebih spesifik lagi, Indonesia memiliki peluang untuk mengembangkan dan membuat kamera yang lebih baik untuk ILO-2, sebuah kontribusi teknologi yang akan menempatkan Indonesia pada peta pengembangan teknologi antariksa global. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk menambah wawasan dan memperkaya kapasitas nasional dalam bidang teknologi tinggi.
Kunjaya juga menegaskan bahwa manfaat dari keterlibatan ini mungkin tidak langsung terasa, namun akan sangat signifikan di masa depan. Ini adalah investasi jangka panjang dalam ilmu pengetahuan, teknologi, dan sumber daya manusia. Oleh karena itu, "Indonesia harus mempersiapkan terutama dalam hal capacity building karena Indonesia berpotensi berpartisipasi dalam misi observatorium astronomi di bulan," pungkasnya.
Pembangunan kapasitas (capacity building) yang dimaksud mencakup beberapa aspek krusial. Pertama, pengembangan sumber daya manusia: melatih lebih banyak ilmuwan, insinyur, dan teknisi yang ahli dalam astrofisika, rekayasa antariksa, robotika, dan ilmu material. Kedua, penguatan infrastruktur penelitian dan pengembangan, termasuk laboratorium pengujian, fasilitas simulasi lingkungan luar angkasa, dan pusat data. Ketiga, transfer pengetahuan dan teknologi melalui kolaborasi internasional yang intensif. Keempat, dukungan finansial dan kebijakan yang konsisten dari pemerintah untuk memastikan keberlanjutan program.
Keterlibatan Indonesia dalam misi ke Bulan ini bukan hanya soal prestise ilmiah, melainkan juga pendorong inovasi teknologi di berbagai sektor. Teknologi yang dikembangkan untuk misi luar angkasa seringkali memiliki "spin-off" yang bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari di Bumi, seperti material baru, sistem komunikasi canggih, kecerdasan buatan, robotika, sensor presisi tinggi, dan efisiensi energi. Ini akan memperkuat ekosistem industri teknologi tinggi di Indonesia, menciptakan lapangan kerja baru, dan meningkatkan daya saing bangsa.
Secara strategis, partisipasi dalam eksplorasi Bulan juga dapat meningkatkan posisi geopolitik Indonesia di kancah internasional. Sebagai negara berkembang yang aktif berkontribusi pada upaya ilmiah global yang ambisius, Indonesia akan semakin diakui sebagai pemain yang relevan dalam era "New Space Race" yang didorong oleh negara-negara maupun entitas swasta. Ini juga akan menginspirasi generasi muda Indonesia untuk mengejar karir di bidang Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika (STEM), yang sangat penting untuk kemajuan bangsa di masa depan.
Namun, jalan menuju Bulan tidaklah mudah. Indonesia akan menghadapi tantangan besar, termasuk kebutuhan investasi finansial yang signifikan, kesenjangan teknologi yang masih ada, serta persaingan global yang ketat. Oleh karena itu, diperlukan visi yang kuat, komitmen politik yang berkelanjutan, dan sinergi antara pemerintah, akademisi, industri, dan masyarakat sipil.
Potensi keterlibatan Indonesia dalam misi ke Bulan adalah sebuah panggilan untuk bertindak. Ini adalah kesempatan untuk melampaui batas-batas Bumi, menatap ke angkasa, dan menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya negara maritim, tetapi juga negara yang mampu berkontribusi pada penjelajahan batas akhir pengetahuan manusia. Dengan persiapan yang matang dan kolaborasi yang cerdas, mimpi Indonesia untuk berpartisipasi dalam misi ke Bulan bisa menjadi kenyataan, membuka lembaran baru bagi kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi di Tanah Air.

