0

Wardatina Mawa Ajukan 2 Syarat ke Insanul Fahmi untuk Damai: Permintaan Maaf Terbuka dan Bukti Pernikahan Siri

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Polemik rumah tangga yang melilit Insanul Fahmi dan istri sahnya, Wardatina Mawa, akhirnya menunjukkan secercah harapan untuk mencapai titik terang setelah keduanya memutuskan untuk bertemu. Momen pertemuan ini menjadi kali pertama bagi Insanul Fahmi untuk secara langsung bertatap muka dengan istri dan anak-anaknya, di tengah badai isu-isu tak sedap yang telah menerpa mereka. Meskipun pertemuan tersebut diwarnai dengan momen haru ketika Insanul Fahmi memeluk erat anak-anaknya, agenda utama dari pertemuan itu tetap berfokus pada kelanjutan hubungan suami-istri ini. Wardatina Mawa, yang berada di posisi sebagai pihak yang merasa tersakiti, ternyata tidak memberikan maafnya secara cuma-cuma. Ada dua syarat tegas yang harus dipenuhi oleh Insanul Fahmi jika ia benar-benar menginginkan hubungan mereka kembali membaik.

Tommy Tri Yunanto, selaku kuasa hukum Insanul Fahmi, membenarkan bahwa kliennya datang dengan niat yang tulus untuk menyampaikan permohonan maaf kepada Wardatina Mawa dan seluruh keluarga besar. Namun, Wardatina Mawa, yang saat itu didampingi oleh kakak-kakaknya, memberikan respons yang sangat tegas terkait nasib rumah tangga mereka ke depan. "Kalau dari keluarganya, dari kakak-kakaknya sudah mendengar, melihat, sudah dengan tulus Insan melihat di situ. Walaupun tidak memberikan sepatah kata, tapi setidaknya sudah tidak berseterulah. Harusnya kan seperti itu karena memang orang yang sudah meminta maaf dengan tulus, sudah merendahkan dirinya untuk egonya," ungkap Tommy Tri Yunanto saat ditemui di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, pada Kamis (15/1/2026).

Lebih lanjut, Tommy menjelaskan bahwa Wardatina Mawa menetapkan dua syarat yang tidak dapat ditawar lagi. Syarat pertama adalah Insanul Fahmi wajib melakukan permohonan maaf secara terbuka di hadapan media. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk memulihkan nama baik keluarga Wardatina Mawa, yang selama ini merasa dirugikan oleh berbagai pernyataan liar yang beredar. "Ada dua syarat. Jadi syarat yang pertama adalah Insanul harus secara terbuka meminta maaf kepada keluarganya, meminta maaf juga kepada Mawa, disampaikan kepada media nanti. Karena ini memang harus di-publish untuk memberikan satu persepsinya Insanul bahwa benarkah Insanul itu memang benar-benar meminta maaf terhadap kejadian ini," terang Tommy Tri Yunanto.

Namun, tuntutan Wardatina Mawa tidak berhenti di situ. Syarat kedua yang diajukan adalah pembuktian kebenaran kabar pernikahan sirinya dengan Inara Rusli. Wardatina Mawa ingin melihat bukti otentik apakah pernikahan tersebut benar-benar terjadi pada tanggal 7 Agustus 2025, sebelum adanya rekaman CCTV yang diduga menunjukkan dugaan perselingkuhan pada tanggal 8 Agustus 2025. "Yang kedua adalah Mawa mau minta bukti pernikahan siri terhadap Inara. Jadi kalau memang sudah nikah siri di tanggal 7, buktikan. Biar tahu, biar saya (Mawa) tahu apakah itu benar adanya nikah itu, nikah siri. Kalau memang benar tolong tunjukin kebenaran itu," ujar Tommy Tri Yunanto.

Polemik mengenai tanggal pernikahan siri ini menjadi sangat krusial karena berkaitan langsung dengan tuduhan perzinaan. Wardatina Mawa merasa ada kejanggalan yang signifikan jika Insanul Fahmi baru mengajukan izin poligami pada bulan Oktober, sementara video kebersamaannya dengan wanita lain sudah terekam sejak bulan Agustus. Jika pernikahan siri tersebut tidak dapat dibuktikan terjadi sebelum kejadian yang terekam dalam CCTV, maka Wardatina Mawa akan tetap menganggap hal tersebut sebagai bentuk pengkhianatan yang tidak dapat ditoleransi. "Persepsinya Mawa itu dia kok bisa dari Agustus sudah ada video itu, baru Oktober dia minta untuk adanya poligami. Mawa meminta agar apa yang bisa membuktikan, sehingga tanggal 7 itu sudah ada nikah siri. Sehingga kalau memang di tanggal 7 itu tidak ada nikah siri, maka tanggal 8 itu adanya satu perzinaan," jelasnya.

Rencananya, pihak Insanul Fahmi akan berupaya keras untuk memenuhi kedua syarat tersebut dalam waktu dekat. Mereka dijadwalkan akan mengadakan pertemuan lanjutan pada pekan depan. Dalam pertemuan tersebut, pihak Insanul Fahmi diharapkan dapat menunjukkan bukti-bukti konkret mengenai pernikahan siri tersebut, termasuk memberikan informasi detail mengenai siapa ustaz dan saksi yang hadir dalam prosesi pernikahan tersebut. Hal ini dilakukan untuk memberikan kejelasan dan keyakinan kepada Wardatina Mawa serta keluarganya, sekaligus membuka jalan menuju rekonsiliasi.

Lebih jauh lagi, keputusan Wardatina Mawa untuk mengajukan syarat-syarat ini mencerminkan kuatnya pendiriannya dalam menjaga kehormatan dan nama baik keluarganya. Ia tidak ingin kasus ini menjadi preseden buruk bagi wanita lain yang mungkin mengalami situasi serupa. Permintaan maaf terbuka di media bertujuan untuk mengklarifikasi kesalahpahaman yang mungkin timbul di masyarakat akibat pemberitaan yang simpang siur. Ini juga menjadi bentuk pertanggungjawaban publik bagi Insanul Fahmi atas segala tindakannya. Dengan adanya permintaan maaf yang tulus dan terdokumentasi, diharapkan opini publik dapat dinetralisir dan fokus pada upaya penyelesaian masalah rumah tangga.

Tuntutan untuk membuktikan pernikahan siri sebelum tanggal rekaman CCTV juga sangat fundamental. Wardatina Mawa ingin memastikan bahwa status hubungannya dengan Insanul Fahmi tidak tercemari oleh perzinaan. Jika terbukti bahwa pernikahan siri tersebut tidak terjadi sebelum tanggal yang krusial, maka Insanul Fahmi akan dihadapkan pada konsekuensi hukum dan moral yang lebih berat. Pernyataan Tommy Tri Yunanto mengenai "adanya satu perzinaan" menunjukkan betapa seriusnya Wardatina Mawa memandang isu ini. Baginya, ini bukan sekadar masalah rumah tangga, melainkan juga masalah moralitas dan etika yang harus ditegakkan.

Pihak Insanul Fahmi sendiri tampaknya menyadari bobot dari syarat-syarat yang diajukan oleh Wardatina Mawa. Kesediaan mereka untuk mengadakan pertemuan lanjutan dan berupaya menghadirkan bukti menunjukkan bahwa mereka masih memiliki keinginan kuat untuk memperbaiki hubungan. Namun, keberhasilan upaya ini akan sangat bergantung pada kualitas dan keabsahan bukti yang mereka sajikan. Jika bukti tersebut meyakinkan dan memenuhi kriteria yang ditetapkan oleh Wardatina Mawa, maka jalan menuju perdamaian dan pemulihan rumah tangga mereka akan semakin terbuka lebar.

Penting untuk dicatat bahwa proses ini tidak hanya melibatkan Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa, tetapi juga keluarga besar kedua belah pihak. Kehadiran kakak-kakak Wardatina Mawa dalam pertemuan menunjukkan dukungan mereka terhadap keputusan sang adik dan keinginan untuk melihat penyelesaian yang adil. Peran keluarga dalam mediasi seringkali sangat penting, terutama dalam kasus-kasus yang melibatkan isu sensitif seperti perselingkuhan dan pernikahan siri.

Dengan adanya dua syarat yang jelas dan terukur ini, polemik rumah tangga Insanul Fahmi dan Wardatina Mawa memasuki babak baru yang penuh dengan ketegangan namun juga harapan. Keputusan akhir akan berada di tangan Wardatina Mawa setelah melihat bagaimana Insanul Fahmi memenuhi kedua tuntutannya. Masyarakat pun akan menanti perkembangan selanjutnya, sambil berharap agar penyelesaian yang terbaik dapat dicapai demi kebaikan semua pihak, terutama anak-anak mereka yang menjadi korban dari konflik ini. Upaya rekonsiliasi ini menjadi cerminan dari kompleksitas hubungan manusia dan pentingnya komunikasi yang jujur serta pembuktian yang transparan dalam menghadapi krisis.