Di era digital yang serba cepat, di mana informasi dan disinformasi berseliweran tanpa henti, sebuah video viral yang menampilkan gerakan Presiden Amerika Serikat Joe Biden telah memicu kembali gelombang spekulasi dan teori konspirasi yang menghebohkan. Video tersebut, yang menyebar luas di berbagai platform media sosial, khususnya TikTok, mengklaim bahwa Biden telah digantikan oleh entitas robot humanoid atau bahkan klon. Narasi ini bukan sekadar bisikan di sudut gelap internet, melainkan sebuah fenomena yang menunjukkan betapa mudahnya persepsi publik dibentuk oleh konten visual yang ambigu, ditambah dengan kecurigaan yang telah lama ada terhadap tokoh-tokoh berpengaruh.
Pusat dari kegaduhan ini adalah sebuah unggahan dari akun @trillionaireretier di TikTok, yang dengan tegas menyatakan, "Ini buktinya bahwa Joe Biden telah digantikan oleh robot humanoid." Video tersebut, yang telah disukai lebih dari 178.000 kali, memicu ribuan komentar dan reaksi dari pengguna internet di seluruh dunia. Akun tersebut lebih lanjut memperdalam spekulasi dengan menyiratkan bahwa frekuensi Biden mengenakan masker mungkin menjadi indikasi "penyamaran" atau upaya untuk menyembunyikan identitas aslinya. Meskipun tidak ada deskripsi spesifik mengenai gerakan "robotik" yang dimaksud dalam video awal, implikasi yang disebarkan mengacu pada gestur yang dianggap kaku, tidak alami, atau terlalu presisi untuk seorang manusia, apalagi seorang pria lanjut usia.
@trillionaireretier tidak berhenti hanya pada klaim tersebut. Akun ini melanjutkan dengan argumen yang lebih kompleks, mencoba mengaitkan dugaan "penggantian" Biden dengan kemajuan pesat dalam teknologi robotika dan kecerdasan buatan (AI). "Robot bertenaga AI yang realistis berkembang dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya—beralih dari mesin mekanis yang kaku menjadi makhluk hidup yang dapat melihat, mendengar, berbicara, belajar, dan merespons secara emosional secara real-time," demikian bunyi narasi dari akun tersebut. Argumen ini menyoroti bagaimana terobosan dalam AI, jaringan saraf (neural networks), sensor canggih, dan pemrosesan data real-time telah mempercepat evolusi robotika, memungkinkan mereka untuk melakukan fungsi-fungsi yang sebelumnya dianggap eksklusif untuk manusia.
Lebih jauh, akun tersebut menjelaskan bahwa robot modern kini memiliki kemampuan untuk mengenali wajah, meniru ekspresi manusia dengan akurat, melakukan percakapan alami yang sulit dibedakan dari interaksi manusia, beradaptasi dengan lingkungannya secara dinamis, dan bahkan meningkatkan diri melalui proses pembelajaran mandiri. Kemampuan AI untuk memproses sejumlah besar informasi secara instan, membuat keputusan lebih cepat dan lebih akurat daripada manusia dalam tugas-tugas tertentu, menjadi tulang punggung argumen ini. Dengan perangkat keras yang terus menyusul kemampuan perangkat lunak, robot memang semakin mirip manusia dalam gerakan, penampilan, dan perilaku, secara efektif mengaburkan batas antara mesin dan makhluk hidup di mata banyak orang. Contoh-contoh robot humanoid seperti Ameca atau Sophia yang menunjukkan ekspresi wajah yang realistis dan kemampuan percakapan yang mengesankan, seringkali dikutip sebagai bukti nyata dari kemajuan ini, meskipun robot-robot tersebut masih jauh dari kemampuan untuk menyamar sebagai manusia seutuhnya tanpa terdeteksi.
Percepatan pesat dalam pengembangan robotika dan AI ini, menurut @trillionaireretier, dapat membentuk kembali masyarakat secara fundamental. Di satu sisi, robot AI menawarkan potensi revolusioner dalam berbagai sektor, mulai dari perawatan kesehatan yang dapat memberikan bantuan yang lebih presisi, perawatan lansia yang lebih personal, efisiensi manufaktur, inovasi dalam pendidikan, hingga penanggulangan bencana yang lebih aman dan efektif. Robot AI bahkan dapat mengambil alih pekerjaan yang berbahaya, berulang, atau membutuhkan tingkat presisi tinggi, sehingga meningkatkan efisiensi dan keselamatan pekerja manusia. Namun, di sisi lain, kemajuan ini juga menimbulkan pertanyaan serius dan dilema etika yang mendalam. Kekhawatiran akan penggantian pekerjaan manusia oleh robot, isu privasi data, definisi ulang tujuan hidup manusia di era dominasi AI, serta batasan etika dalam menciptakan entitas yang semakin menyerupai manusia, menjadi topik perdebatan hangat di kalangan ilmuwan, etikus, dan masyarakat luas. Konsep "lembah aneh" (uncanny valley), di mana replika manusia yang terlalu mirip justru menimbulkan rasa tidak nyaman atau jijik, juga seringkali muncul dalam diskusi ini.
Respons publik terhadap video dan narasi ini sangat beragam, mencerminkan spektrum opini yang luas di media sosial. Dari 1.150 komentar yang tercatat pada saat laporan awal ini beredar, terdapat perdebatan sengit antara mereka yang percaya pada teori konspirasi dan mereka yang skeptis. Beberapa komentar menunjukkan keyakinan yang kuat terhadap klaim tersebut: "_atomic_blonde_777" berkomentar, "Bahkan orang tua tidak berperilaku kayak gitu," menunjukkan bahwa gerakan Biden dianggap jauh dari normal untuk usianya. Pengguna "dharampreet_singh5911" mengungkapkan keterkejutannya dengan singkat, "Apa itu benar? 😳," sementara "i.shayyyy" secara jenaka menimpali, "Aku bakalan bawa magnet besar di samping dia 😂," mengacu pada sifat magnetik robot. Bahkan ada yang menghubungkan klaim ini dengan teori konspirasi yang lebih besar, seperti "theebruarrose" yang menyatakan, "Epstein Files benar-benar mengakui ini," merujuk pada dokumen yang terkait dengan kasus Jeffrey Epstein.
Namun, tidak sedikit pula yang menyuarakan keraguan dan menantang narasi tersebut. Akun "@jrn7306" dengan logis mempertanyakan, "Tidak, karena jika dia robot, dia pasti akan berbicara dengan sempurna, kan?" Komentar ini menyoroti salah satu kelemahan dalam teori konspirasi ini, mengingat Biden kerap dikenal dengan gaya bicaranya yang kadang tersendat atau berbelit-belit, yang justru tidak selaras dengan citra robot yang "sempurna." Reaksi-reaksi ini menunjukkan bahwa meskipun teori konspirasi memiliki daya tarik yang kuat, sebagian besar masyarakat masih memegang teguh pada logika dan bukti nyata.
Terlepas dari kehebohan yang ditimbulkannya, faktanya adalah hingga saat ini belum ada informasi kredibel atau bukti ilmiah yang membenarkan bahwa Joe Biden telah dikloning atau digantikan oleh robot humanoid. Informasi ini, sebagaimana banyak teori konspirasi lainnya, hanyalah kabar burung yang tidak dapat dipertanggungjawabkan dan tidak didukung oleh fakta-fakta yang terverifikasi. Gerakan atau perilaku seseorang dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk usia, kondisi kesehatan, kelelahan, atau bahkan konteks spesifik dari situasi yang terekam dalam video. Menyimpulkan bahwa seseorang adalah robot atau klon hanya berdasarkan beberapa gerakan yang dianggap "aneh" adalah bentuk lompatan logika yang sangat besar.
Fenomena semacam ini bukan hal baru dalam dunia politik. Presiden Amerika Serikat sebelumnya, Donald Trump, juga pernah terlibat dalam penyebaran narasi serupa. Pada tahun 2020, Trump mengunggah ulang tulisan pengguna Truth Social @llijh yang menyatakan, "Tidak ada #JoeBiden yang dieksekusi pada tahun 2020. Kloning #Biden, kembaran, dan entitas tak berjiwa yang direkayasa secara robotik adalah apa yang Anda lihat. #Demokrat tidak tahu bedanya." Tindakan Trump ini, meskipun tanpa komentar tambahan darinya, secara otomatis menjadi sorotan media besar di AS, menunjukkan betapa kuatnya pengaruh figur publik dalam memvalidasi atau memperkuat teori konspirasi, bahkan yang paling tidak masuk akal sekalipun.
Ironisnya, beberapa tahun kemudian, pada tahun 2025 (berdasarkan linimasa yang disebutkan dalam artikel sumber), Trump menunjukkan sikap yang berbeda. Ia pernah menyampaikan doa dan harapan terbaiknya untuk Biden yang didiagnosis kanker prostat. "Melania dan saya bersedih mendengar diagnosis medis terbaru Joe Biden. Kami menyampaikan harapan terbaik dan terhangat kami kepada Jill dan keluarga, dan kami mendoakan Joe agar cepat pulih dan sukses," bubuh Trump di media sosialnya. Perubahan sikap ini, dari menyebarkan klaim "kloning" hingga menyampaikan simpati atas kondisi kesehatan, menyoroti kompleksitas dinamika politik dan pribadi di antara para pemimpin, serta bagaimana narasi publik dapat bergeser seiring waktu dan konteks.
Teori konspirasi mengenai kloning atau penggantian oleh robot humanoid, terutama yang melibatkan tokoh-tokoh politik, memiliki daya tarik tersendiri karena seringkali menyentuh rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap elit kekuasaan dan institusi. Mereka menyediakan narasi alternatif yang lebih "menarik" daripada kebenaran yang seringkali membosankan atau rumit. Namun, penyebaran informasi semacam ini, tanpa dasar bukti yang kuat, dapat memiliki konsekuensi serius. Ini dapat mengikis kepercayaan publik terhadap media berita yang kredibel, memecah belah masyarakat, dan bahkan membahayakan proses demokrasi dengan meragukan legitimasi pemimpin terpilih.
Dalam era di mana "deepfake" dan teknologi AI generatif semakin canggih, memproduksi video atau audio yang sangat meyakinkan namun palsu, tantangan untuk membedakan antara fakta dan fiksi menjadi semakin berat. Oleh karena itu, kemampuan berpikir kritis dan literasi media menjadi keterampilan yang sangat penting bagi setiap individu. Penting bagi kita untuk selalu mencari informasi dari sumber yang terpercaya, mempertanyakan klaim yang sensasional, dan menghindari menyebarkan informasi yang belum terverifikasi kebenarannya. Sementara imajinasi manusia selalu tertarik pada kemungkinan-kemungkinan luar biasa, kebenaran seringkali terletak pada penjelasan yang lebih sederhana dan didukung oleh bukti. Viralnya gerakan Joe Biden yang dikaitkan dengan robot humanoid adalah pengingat nyata akan kerapuhan persepsi di hadapan godaan konspirasi di tengah lautan informasi digital.

