0

UniPin dan Komdigi Diskusikan Tantangan Implementasi Rating Game

Share

Jakarta, 11 Maret 2026 – Dalam suasana hangat bulan suci Ramadan, UniPin, salah satu platform penyedia layanan hiburan digital dan top-up game terkemuka di Indonesia, bersama dengan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sukses menyelenggarakan acara buka puasa bersama (Iftar) yang juga menjadi forum diskusi krusial bagi ekosistem game nasional. Bertempat di GoWork Pacific Place, Jakarta, pertemuan ini menjadi jembatan dialog antara regulator, pelaku industri game, dan penerbit untuk secara mendalam membahas "Tantangan Game Publishers dalam Implementasi Indonesia Game Rating System (IGRS)."

Acara ini tidak hanya berfungsi sebagai ajang silaturahmi untuk mempererat hubungan antar pemangku kepentingan, tetapi juga sebagai platform strategis untuk menggali berbagai perspektif dan menemukan solusi bersama terkait penerapan sistem klasifikasi game nasional yang tengah digalakkan pemerintah. Kehadiran IGRS merupakan sebuah langkah maju pemerintah dalam upaya menciptakan ekosistem game yang sehat, aman, dan bertanggung jawab di Indonesia, namun implementasinya tentu tidak luput dari berbagai tantangan, terutama bagi para penerbit game, baik lokal maupun global.

IGRS: Fondasi Ekosistem Game yang Bertanggung Jawab

Ketua Tim Pengembangan Ekosistem Gim Komdigi, Tita Ayuditya Surya, dalam paparannya, menjelaskan secara komprehensif mengenai esensi dan tujuan utama dari Indonesia Game Rating System (IGRS). Menurut Tita, IGRS adalah sebuah layanan klasifikasi konten gim yang dirancang untuk memberikan informasi transparan kepada masyarakat, khususnya orang tua dan pemain, mengenai kesesuaian usia pengguna dengan muatan konten dalam suatu game.

"IGRS adalah layanan yang memfasilitasi produk gim untuk diklasifikasikan berdasarkan muatan kontennya, kemudian dikelompokkan ke dalam kategori usia tertentu," tegas Tita. Ia menambahkan bahwa sistem ini bukan sekadar label, melainkan sebuah panduan penting yang membantu masyarakat membuat keputusan yang tepat dalam memilih hiburan digital. Klasifikasi ini mencakup kategori usia seperti 3+, 7+, 13+, 15+, hingga 18+, dengan mempertimbangkan berbagai unsur konten seperti kekerasan, penggunaan bahasa, tema sensitif, hingga adanya elemen perjudian atau simulasi perjudian dalam permainan.

Tita Ayuditya Surya juga menekankan bahwa kebijakan IGRS ini berlaku secara universal bagi seluruh penerbit game yang ingin memasarkan produknya di pasar Indonesia, tanpa terkecuali. Namun, ia dengan lugas menepis kekhawatiran bahwa sistem rating ini akan menjadi beban atau alat sensor yang membatasi kreativitas pengembang game. "Hadirnya IGRS bukan untuk melarang atau menambah beban industri. Tujuannya justru sangat jelas, yaitu memberikan informasi yang akurat kepada pengguna tentang konten gim dan rating usianya," ujarnya, menjelaskan filosofi di balik kebijakan ini.

Komdigi memahami bahwa proses adaptasi terhadap regulasi baru memerlukan dukungan. Oleh karena itu, Tita menambahkan bahwa Komdigi telah menyiapkan sistem layanan rating yang dirancang sesederhana mungkin agar mudah diakses dan digunakan oleh para publisher. Sistem ini tidak hanya memfasilitasi proses klasifikasi, tetapi juga menyediakan layanan konsultasi dan wadah pengaduan bagi pelaku industri yang mungkin menghadapi kendala atau memiliki pertanyaan selama proses implementasi IGRS. Ini menunjukkan komitmen pemerintah untuk tidak hanya membuat regulasi, tetapi juga mendukung keberhasilan penerapannya melalui pendekatan kolaboratif.

Peran UniPin sebagai Jembatan Antara Regulator dan Industri

Dari sisi industri, General Manager Business Global UniPin, Poeti Fatima, mengungkapkan komitmen UniPin sebagai salah satu pemain kunci dalam ekosistem game Indonesia. UniPin, sebagai platform penyedia hiburan digital dan top-up game, secara konsisten berupaya mendukung berbagai inisiatif yang mendorong kepatuhan industri sekaligus memacu pertumbuhan ekosistem game yang berkelanjutan.

Poeti Fatima menyoroti pentingnya kolaborasi erat antara regulator dan pelaku industri untuk memastikan implementasi IGRS berjalan efektif. "Sebagai bagian dari ekosistem industri game di Indonesia, UniPin percaya bahwa implementasi IGRS memerlukan kolaborasi yang erat antara regulator dan pelaku industri. Melalui forum diskusi ini, kami berharap dapat membuka ruang dialog yang konstruktif untuk saling berbagi perspektif, memahami tantangan yang dihadapi game publishers, serta bersama-sama mencari solusi terbaik demi mendukung pertumbuhan ekosistem game yang sehat dan berkelanjutan," ujar Poeti Fatima, menggarisbawahi semangat kebersamaan dalam menghadapi tantangan ini.

Salah satu tantangan signifikan yang diungkapkan Poeti adalah masih banyaknya publisher gim global yang belum sepenuhnya memahami seluk-beluk regulasi rating gim di Indonesia. Perbedaan sistem klasifikasi di berbagai negara, ditambah dengan nuansa budaya lokal, seringkali menjadi hambatan bagi mereka. UniPin, dengan jaringannya yang luas dan pengalamannya berinteraksi dengan berbagai publisher internasional, secara aktif berperan dalam melakukan sosialisasi kepada mitra publisher agar mereka memahami kewajiban klasifikasi IGRS sebelum merilis gim di pasar Indonesia.

"Banyak publisher yang sebenarnya ingin patuh, tapi mereka melihat ini sebagai sesuatu yang baru dan terkadang kompleks. Peran kami adalah membantu menjelaskan bahwa IGRS bukan sesuatu yang menakutkan, justru bisa melindungi industri dan pengguna," jelasnya. Poeti menambahkan bahwa UniPin berupaya menjembatani komunikasi antara pemerintah dan pelaku industri, menerjemahkan bahasa regulasi ke dalam praktik yang lebih mudah dipahami oleh publisher, sehingga implementasi IGRS dapat berjalan lebih lancar dan efisien. Ini mencakup pemberian panduan, asistensi dalam proses pengajuan, hingga konsultasi mengenai interpretasi konten.

Mendalami Mekanisme dan Dampak IGRS

IGRS dikembangkan dengan tujuan mulia: membantu masyarakat, khususnya orang tua, memilih gim yang sesuai dengan usia anak-anak mereka, sekaligus melindungi pengguna dari konten yang tidak tepat atau berpotensi merusak. Sistem klasifikasi ini tidak hanya sekadar memberikan angka usia, tetapi juga deskripsi konten yang lebih detail, memberikan pemahaman yang lebih kaya kepada pengguna.

Sebagai contoh, game dengan rating 3+ umumnya cocok untuk semua usia, dengan konten yang sangat minim kekerasan, bahasa sopan, dan tema yang ringan. Rating 7+ mungkin mengizinkan sedikit kekerasan kartun atau fantasi, sementara 13+ dapat mencakup tema yang lebih kompleks, kekerasan moderat, dan bahasa yang sedikit lebih kuat. Kategori 15+ biasanya melibatkan tema dewasa, kekerasan realistis, atau implikasi perjudian tanpa uang sungguhan. Puncak dari klasifikasi adalah 18+, yang diperuntukkan bagi game dengan konten dewasa, kekerasan grafis, bahasa kasar, tema seksual eksplisit, atau perjudian dengan uang sungguhan.

Dampak positif dari IGRS sangat luas. Bagi orang tua, sistem ini berfungsi sebagai alat bantu navigasi yang sangat berharga di tengah lautan game digital, memungkinkan mereka membuat keputusan yang terinformasi demi keselamatan dan perkembangan anak-anak. Bagi pemain, IGRS memastikan mereka mendapatkan pengalaman bermain yang sesuai dengan kematangan usia mereka. Sementara bagi penerbit game, kepatuhan terhadap IGRS tidak hanya memenuhi kewajiban hukum tetapi juga membangun citra positif sebagai perusahaan yang bertanggung jawab, berpotensi meningkatkan kepercayaan konsumen, dan memperluas pangsa pasar yang lebih aman. Dari sisi pemerintah, IGRS adalah instrumen penting untuk menumbuhkan ekosistem digital yang sehat dan melindungi warganya dari potensi dampak negatif konten yang tidak sesuai.

Kolaborasi dan Masa Depan Industri Game Indonesia

Selain sesi diskusi yang mendalam, acara Iftar ini juga menjadi momentum yang sempurna untuk silaturahmi Ramadan dan kegiatan networking. Suasana yang lebih santai dan informal memungkinkan para pelaku industri untuk saling berinteraksi, bertukar pikiran, dan membangun kolaborasi dalam ikatan yang lebih personal. Ini adalah fondasi penting untuk membentuk komunitas yang solid dan proaktif dalam menghadapi tantangan bersama.

Melalui inisiatif seperti ini, UniPin berharap bahwa dialog antara regulator dan pelaku industri dapat terus berlanjut dan diperkuat. Kesinambungan komunikasi dan pemahaman bersama adalah kunci agar implementasi IGRS dapat berjalan lebih efektif, responsif terhadap dinamika industri, serta mendukung perkembangan industri game Indonesia secara keseluruhan. Dengan adanya sistem klasifikasi yang jelas dan dipatuhi, Indonesia tidak hanya akan memiliki ekosistem game yang lebih aman bagi penggunanya, tetapi juga berpotensi menarik lebih banyak investasi dan pengembang game, baik lokal maupun internasional, yang melihat Indonesia sebagai pasar yang matang dan bertanggung jawab. Ini adalah langkah maju menuju visi Indonesia sebagai pusat industri game yang inovatif dan berkelanjutan di tingkat global.