0

Ulah Israel Bikin Iran Tutup Selat Hormuz Lagi

Share

Ketegangan di Timur Tengah kembali memuncak setelah militer Israel melancarkan serangan udara berskala besar ke wilayah Lebanon, yang memicu reaksi keras dari Iran berupa penutupan kembali Selat Hormuz. Eskalasi ini terjadi di tengah konflik yang berkepanjangan antara Israel dan Hizbullah, kelompok militan yang berbasis di Lebanon dan didukung penuh oleh Teheran. Serangan yang dilancarkan Israel pada Rabu (8/4/2026) ini disebut-sebut sebagai salah satu operasi militer paling intensif dalam sejarah konflik modern di kawasan tersebut, menyebabkan setidaknya 112 orang tewas dan ratusan lainnya mengalami luka-luka, menciptakan gelombang kepanikan di ibu kota Beirut.

Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam sebuah pernyataan video resmi, mengonfirmasi bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF) telah melakukan serangan mendadak yang menargetkan ratusan pusat komando dan aset strategis milik Hizbullah. Katz menyebut operasi ini sebagai pukulan terkonsentrasi terbesar yang diderita Hizbullah sejak peristiwa ledakan pager massal tahun 2024. Israel bersikeras bahwa gencatan senjata dua minggu yang sebelumnya disepakati dalam perang melawan Iran tidak mencakup atau berlaku untuk Hizbullah di Lebanon. Tindakan militer ini, menurut Tel Aviv, merupakan langkah preventif sekaligus ofensif untuk memastikan keamanan warga sipil di wilayah utara Israel.

Dampak dari eskalasi militer ini terasa hingga ke jalur perdagangan global. Otoritas Iran, melalui media pemerintah Fars, melaporkan bahwa mereka telah mengambil langkah drastis dengan menutup Selat Hormuz. Jalur laut ini merupakan arteri ekonomi paling vital bagi dunia, di mana sekitar 20 persen pasokan minyak mentah global melintas melalui perairan sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman tersebut. Penutupan ini menjadi sinyal peringatan serius bagi pasar energi internasional. Data dari layanan pelacakan kapal, Marine Traffic, mencatat bahwa hanya segelintir kapal tanker, seperti NJ Earth milik Yunani dan Daytona Beach berbendera Liberia, yang sempat berhasil melintas sebelum akses ditutup sepenuhnya.

Namun, narasi mengenai penutupan selat ini sempat disanggah oleh Amerika Serikat. Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, dalam sebuah konferensi pers pada Kamis (9/4/2026), menegaskan bahwa laporan mengenai penutupan total Selat Hormuz adalah informasi yang tidak benar atau "palsu". Leavitt menyatakan bahwa berdasarkan pemantauan intelijen, lalu lintas di selat tersebut justru terpantau meningkat pada hari itu. Washington menuding Iran sering kali melakukan perang psikologis dengan menyampaikan pernyataan publik yang bertolak belakang dengan fakta di lapangan, sembari terus memantau pergerakan kapal tanker di jalur krusial tersebut.

Di sisi lain, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan tidak akan ada penghentian operasi militer dalam waktu dekat. Melalui akun media sosial X, Netanyahu menyatakan komitmennya untuk terus menggempur Hizbullah dengan kekuatan penuh, ketepatan tinggi, dan kegigihan yang tidak kenal kompromi. "Pesan kami jelas: siapa pun yang bertindak melawan warga sipil Israel, kami akan menyerang mereka. Kami akan terus menyerang Hizbullah di mana pun diperlukan, sampai kami sepenuhnya memulihkan keamanan bagi penduduk di utara Israel," tegas Netanyahu. Pernyataan ini menegaskan bahwa strategi Israel adalah menghancurkan infrastruktur militer Hizbullah hingga ke akar-akarnya, terlepas dari konsekuensi diplomatik atau ancaman stabilitas regional.

Serangan udara Israel pada hari Rabu tersebut tercatat sebagai gelombang serangan paling masif yang pernah menghantam Beirut sejak dimulainya perang terbuka. IDF mengklaim telah meluluhlantakkan lebih dari 100 pusat komando Hizbullah hanya dalam waktu 10 menit. Wilayah yang menjadi sasaran utama meliputi pinggiran selatan Beirut, sektor Lebanon selatan, serta Lembah Bekaa di bagian timur Lebanon. Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan bahwa jumlah korban jiwa kemungkinan besar masih akan terus bertambah seiring dengan proses evakuasi yang dilakukan oleh tim penyelamat di lokasi reruntuhan bangunan yang hancur akibat serangan tersebut.

Bagi komunitas internasional, situasi ini memicu kekhawatiran akan pecahnya perang terbuka yang lebih luas. Selat Hormuz bukan sekadar perairan biasa; ia adalah "tenggorokan" ekonomi dunia. Gangguan sekecil apa pun di jalur ini dapat menyebabkan lonjakan harga minyak mentah global yang akan berdampak langsung pada inflasi dan stabilitas ekonomi banyak negara. Ketegangan antara Washington, yang mendukung Israel, dan Teheran, yang memiliki pengaruh besar atas Hizbullah, membuat posisi Selat Hormuz menjadi titik didih geopolitik yang paling berbahaya saat ini.

Para analis keamanan internasional mencatat bahwa strategi Iran menutup Selat Hormuz—meskipun masih diperdebatkan validitasnya oleh pihak AS—merupakan bentuk deterrence (penangkal) atau tekanan balik terhadap Israel. Dengan membatasi lalu lintas minyak, Iran memberikan tekanan tidak langsung kepada sekutu-sekutu Israel di Barat agar mengendalikan agresi militer tersebut. Namun, tindakan ini juga berisiko tinggi bagi Iran sendiri, karena bisa memancing intervensi militer langsung dari koalisi internasional yang dipimpin oleh Amerika Serikat untuk menjamin kebebasan navigasi di perairan internasional.

Di Lebanon sendiri, kondisi kemanusiaan berada pada titik nadir. Rumah sakit di Beirut dilaporkan kewalahan menangani ratusan korban luka akibat serangan udara yang berlangsung bertubi-tubi. Serangan ini mengubah lanskap perkotaan Beirut yang padat menjadi zona konflik yang mencekam. Penduduk di wilayah target serangan dilaporkan melarikan diri ke area yang lebih aman, menciptakan krisis pengungsian internal baru di tengah krisis ekonomi Lebanon yang memang sudah rapuh.

Netanyahu, di bawah tekanan domestik yang kuat untuk memulangkan warga di utara Israel ke rumah mereka, tampaknya tidak memiliki rencana untuk melunakkan sikap. Dalam retorikanya, ia membingkai operasi ini sebagai misi eksistensial. Sementara itu, Hizbullah, yang merupakan proksi paling kuat bagi Iran di luar negeri, sejauh ini belum menunjukkan tanda-tanda akan menyerah, meski telah mengalami kerugian besar pada infrastruktur kepemimpinan dan komunikasi mereka.

Ketidakpastian menyelimuti masa depan kawasan ini dalam beberapa hari ke depan. Apakah penutupan Selat Hormuz hanya bersifat sementara sebagai bentuk protes simbolis, ataukah Iran akan mempermanenkan blokade tersebut jika Israel terus melancarkan serangan udara? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan apakah Timur Tengah akan terjerumus lebih dalam ke dalam perang regional yang tak terkendali, atau apakah diplomasi di balik layar akan mampu meredakan ketegangan sebelum terjadi dampak ekonomi global yang lebih destruktif.

Dunia kini tengah menyaksikan tarik-ulur kekuatan yang sangat berbahaya. Di satu sisi, Israel bertekad menghapus ancaman Hizbullah, sementara di sisi lain, Iran berusaha menggunakan pengaruhnya untuk menghentikan serangan tersebut dengan memanfaatkan kerentanan pasokan energi dunia. Ketegangan yang terjadi di Lebanon telah menjadi pemicu bagi gejolak yang dampaknya jauh melampaui batas negara-negara tersebut, menyentuh jantung ekonomi dan stabilitas global. Hingga saat ini, belum ada tanda-tanda pihak mana pun akan mundur dari pendiriannya, menjadikan situasi di Timur Tengah sebagai salah satu krisis paling kompleks dan sulit diprediksi dalam sejarah modern. Masyarakat dunia hanya bisa berharap bahwa saluran komunikasi antarnegara dapat segera terbuka untuk mencegah eskalasi yang lebih buruk, terutama mengingat nyawa warga sipil yang terus menjadi korban dalam konflik bersenjata yang berkepanjangan ini.