Industri kecerdasan buatan (AI) saat ini berada di persimpangan jalan yang menarik sekaligus mengkhawatirkan. Di satu sisi, janji revolusi teknologi yang dijanjikan oleh AI generatif telah memicu gelombang investasi dan inovasi yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perusahaan-perusahaan raksasa teknologi, startup ambisius, dan bahkan pemerintah, berlomba-lomba menggelontorkan puluhan miliar dolar AS untuk pengembangan model-model AI mutakhir serta infrastruktur komputasi super canggih yang menopangnya. Keyakinan bahwa suatu hari nanti teknologi ini akan membuahkan keuntungan finansial yang sangat besar masih cukup kuat untuk meyakinkan investor agar terus menopang valuasi perusahaan yang seringkali terasa setinggi langit, bahkan tanpa profitabilitas yang jelas.
Namun, di balik gemerlap janji dan investasi fantastis, tersimpan realitas pahit mengenai kemampuan mencetak laba. Bagi sebagian besar pemain di arena AI, profitabilitas yang stabil mungkin masih membutuhkan waktu bertahun-tahun, bahkan mungkin tidak pernah terwujud sepenuhnya. Pertanyaan besar yang kini menghantui adalah siapa yang sebenarnya akan diuntungkan dari pengeluaran yang gila-gilaan ini. Persaingan semakin memanas antara raksasa teknologi seperti Google, Meta, dan OpenAI yang terus berlomba untuk mendominasi pasar, baik dalam hal teknologi maupun pangsa pasar.
Dalam perlombaan ini, OpenAI, perusahaan di balik fenomena ChatGPT yang mendunia, berada dalam posisi yang unik dan berisiko tinggi. Berbeda dengan Google dan Meta yang memiliki bisnis inti sukses di bidang lain—seperti periklanan digital, layanan cloud, dan ekosistem perangkat lunak—OpenAI sepenuhnya bergantung pada inovasi AI-nya. Mereka tidak memiliki "bantalan" finansial dari pendapatan iklan triliunan dolar atau dominasi pasar yang telah mapan. Meskipun demikian, OpenAI, di bawah kepemimpinan Sam Altman, telah menunjukkan komitmen yang luar biasa besar, dengan target pengeluaran yang bisa mencapai lebih dari USD 1 triliun sebelum akhir dekade ini, sebuah taruhan yang sangat berisiko dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah startup teknologi.
Komitmen finansial yang begitu masif ini sangat mengkhawatirkan, terutama mengingat tantangan yang dihadapi OpenAI dalam menghasilkan pendapatan yang berkelanjutan. Salah satu indikator krusial adalah minat pengguna yang relatif rendah untuk membayar langganan premium ChatGPT. Meskipun ChatGPT berhasil menarik jutaan pengguna secara global dengan versi gratisnya, mengubah pengguna gratis menjadi pelanggan berbayar terbukti menjadi hambatan yang signifikan. Hal ini memaksa perusahaan untuk terus menjajaki sumber pendapatan lain, seperti lisensi API untuk pengembang dan solusi AI untuk perusahaan, namun upaya ini belum cukup untuk menutupi biaya operasional yang membengkak.
Semua faktor ini bermuara pada satu pertanyaan fundamental yang menggantung di udara: berapa lama OpenAI bisa terus "membakar uang" tanpa mencapai titik impas atau profitabilitas yang signifikan? Pertanyaan ini semakin relevan setelah Sebastian Mallaby, seorang peneliti senior terkemuka di Council on Foreign Relations, menyampaikan prediksi yang mengejutkan dalam kolomnya di New York Times. Mallaby memperkirakan bahwa OpenAI, perusahaan yang pernah menjadi simbol inovasi AI, bisa kehabisan uang dalam waktu 18 bulan ke depan.
Prediksi Mallaby didasarkan pada analisis mendalam mengenai struktur keuangan dan keunggulan kompetitif. Menurutnya, para pesaing OpenAI, yaitu raksasa industri seperti Google, Microsoft (yang juga merupakan investor besar di OpenAI), dan Meta, memiliki keuntungan yang tidak dapat ditandingi. Mereka dapat dengan mudah menggunakan keuntungan dan cadangan uang tunai dari bisnis utama mereka yang sudah mapan untuk menggelontorkan ratusan miliar dolar di bidang AI tanpa terlalu mengganggu operasional keseluruhan. Kemewahan finansial ini tidak dimiliki oleh OpenAI, yang harus terus-menerus mencari modal eksternal dalam jumlah besar untuk mempertahankan laju inovasinya.
Meskipun prediksinya terdengar pesimistis bagi OpenAI, Mallaby sendiri mengaku optimis terhadap potensi teknologi AI secara keseluruhan. Ia melihat kemajuan luar biasa yang telah dicapai industri AI hanya dalam tiga tahun terakhir, sebuah laju inovasi yang biasanya membutuhkan waktu puluhan tahun untuk diterapkan dan membuahkan hasil di sektor bisnis lain. Dengan kata lain, Mallaby tidak sedang bertaruh melawan "gelembung" (bubble) AI secara keseluruhan. Sebaliknya, ia sedang memilah siapa yang diprediksi akan menjadi pemenang dan siapa yang akan kalah dalam perlombaan jangka panjang ini, dengan mempertimbangkan keberlanjutan model bisnis dan kekuatan finansial.
Meskipun nama OpenAI dikenal luas dan menjadi identik dengan kemajuan AI setelah peluncuran ChatGPT, perusahaan ini mungkin akan kewalahan dan terpaksa menghadapi kenyataan pahit kurang dari dua tahun dari sekarang. Bahkan dengan penggalangan dana rekor yang berhasil mereka lakukan, OpenAI masih mengalami "pendarahan uang tunai" yang sangat hebat. Laporan menunjukkan bahwa perusahaan ini menghabiskan lebih dari USD 8 miliar hanya pada tahun 2025 saja, sebuah angka yang mencerminkan biaya fantastis untuk penelitian, pengembangan model, operasional server, dan akuisisi talenta terbaik.
"Perusahaan masih harus mencari modal sangat besar. Seberapa pun kayanya hadiah akhir dari AI nanti, pasar modal tampaknya takkan sanggup memberikannya," tulis Mallaby, sebagaimana dikutip oleh detikINET dari Futurism. Pernyataan ini menyoroti bahwa bahkan jika investor memiliki keyakinan besar pada masa depan AI, besarnya modal yang dibutuhkan OpenAI untuk tetap kompetitif mungkin melampaui kapasitas dan kemauan pasar modal untuk terus menyediakannya tanpa adanya jalur yang jelas menuju profitabilitas.
Setelah kehabisan uang tunai dan menghadapi krisis finansial, peneliti tersebut menilai bahwa OpenAI bisa saja dicaplok atau diakuisisi oleh raksasa teknologi lain yang memiliki kantong lebih tebal, seperti Microsoft (yang sudah menjadi investor strategis), Amazon, atau bahkan Google. Skenario akuisisi ini akan menjadi titik balik signifikan bagi OpenAI, mengakhiri independensinya dan kemungkinan besar mengintegrasikan teknologinya ke dalam ekosistem perusahaan pembeli.
Namun, Mallaby juga berpendapat bahwa bahkan jika salah satu nama terbesar dalam permainan ini tumbang, Altman dan perusahaannya akan tetap meninggalkan warisan abadi yang tak terbantahkan. "Kegagalan OpenAI tidak akan menjadi vonis buruk bagi AI itu sendiri. Itu hanya akan menjadi akhir bagi pengembangnya yang paling didorong oleh hype," tulisnya. Pernyataan ini menekankan bahwa dampak OpenAI terhadap popularisasi dan percepatan pengembangan AI sudah tidak dapat diubah. Mereka telah membuka pintu bagi kesadaran publik yang luas tentang potensi AI dan memaksa seluruh industri untuk berinovasi dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Pandangan Mallaby tidak berdiri sendiri. Banyak ahli lain di industri ini setuju bahwa tahun 2026 bisa menjadi tahun penentuan bagi OpenAI, seiring tekanan pada industri AI secara keseluruhan yang terus meningkat. Tekanan ini datang dari berbagai arah: ekspektasi investor yang semakin tinggi untuk melihat keuntungan nyata, persaingan yang makin ketat dengan perusahaan-perusahaan besar yang memiliki sumber daya tak terbatas, serta biaya operasional yang terus membengkak. Apakah OpenAI dapat menemukan formula ajaib untuk mengubah inovasinya menjadi model bisnis yang berkelanjutan sebelum kehabisan bahan bakar, masih menjadi pertanyaan besar yang akan dijawab dalam waktu dekat. Kegagalan atau keberhasilan OpenAI akan menjadi studi kasus penting dalam sejarah pengembangan teknologi dan model bisnis di era AI yang serba cepat ini.

