Sebuah penemuan arkeologi yang menggemparkan di Asia Timur telah menulis ulang narasi sejarah teknologi manusia purba, secara definitif membuktikan kecanggihan inovasi mereka jauh sebelum perkiraan sebelumnya. Para arkeolog telah mengungkap bukti bahwa manusia purba di wilayah yang kini dikenal sebagai Tiongkok, secara mengejutkan, telah menggunakan alat-alat batu yang dirancang dengan kompleksitas tinggi sejak 160.000 tahun yang lalu. Penemuan monumental ini tidak hanya membantah anggapan lama yang menyatakan bahwa teknologi alat batu di Asia tertinggal dibandingkan dengan yang ditemukan di Eropa dan Afrika pada periode yang sama, tetapi juga secara fundamental mengubah pemahaman kita tentang kapasitas kognitif dan adaptasi hominin di benua Asia.
Situs arkeologi Xigou, yang pertama kali ditemukan pada tahun 2017 di Provinsi Henan, Tiongkok tengah, telah menjadi saksi bisu atas kecerdasan leluhur kita. Tim arkeolog yang bekerja di situs ini berhasil menemukan sisa-sisa lebih dari 2.600 alat batu, sebuah koleksi yang luar biasa baik dari segi kuantitas maupun kualitas. Yang lebih menakjubkan lagi, analisis mendalam terhadap beberapa alat ini mengkonfirmasi bahwa sebagian di antaranya telah dipasangi gagang, yakni diikatkan pada potongan kayu atau jenis tongkat lain. Ini merupakan bukti konklusif penggunaan alat komposit, atau alat gabungan, yang menggabungkan dua atau lebih material berbeda untuk menciptakan fungsi yang lebih efektif.
Dalam studi yang diterbitkan di jurnal Nature Communications, tim peneliti dengan tegas menyatakan, "Identifikasi alat-alat bergagang ini memberikan bukti paling awal mengenai alat komposit di Asia Timur, sejauh pengetahuan kami." Pernyataan ini memiliki bobot yang sangat besar dalam dunia arkeologi, karena penggunaan alat komposit seringkali dianggap sebagai penanda penting dalam evolusi teknologi manusia, menunjukkan tingkat perencanaan dan pemikiran abstrak yang lebih tinggi. Meskipun peneliti sebenarnya sudah mengetahui adanya penggunaan alat kayu yang sangat tua di Asia Timur, dengan alat kayu tertua yang diketahui berusia 300.000 tahun, temuan baru dari Xigou ini adalah yang tertua yang diketahui terdiri dari dua material yang sengaja digabungkan. Artefak bergagang yang diekskavasi antara tahun 2019 dan 2021 ini menjadi bukti tak terbantahkan.
Pemasangan gagang pada alat batu, yang dikenal sebagai teknik "hafting", adalah sebuah inovasi teknologi yang revolusioner. Michael Petraglia, seorang peneliti dari Universitas Griffith, Australia, menjelaskan signifikansinya: "Ini meningkatkan kinerja alat dengan memungkinkan pengguna memperbesar daya ungkit dan memberikan kekuatan lebih besar untuk tindakan seperti melubangi." Dengan kata lain, gagang mengubah alat sederhana menjadi ekstensi yang lebih efisien dari tangan manusia, memungkinkan tugas-tugas yang lebih kompleks dan membutuhkan kekuatan atau presisi lebih. Kemampuan untuk merancang dan memproduksi alat seperti ini menunjukkan bukan hanya keterampilan teknis yang tinggi, tetapi juga kapasitas kognitif untuk mengidentifikasi masalah, membayangkan solusi, dan melaksanakan rencana yang melibatkan beberapa langkah.
Meskipun fungsi pasti dari semua alat masih dalam penelitian, tampaknya sebagian besar alat tersebut digunakan untuk memproses material tanaman. Implikasi dari teknik pembuatan alat yang sudah mapan ini sangat besar, menunjukkan bukti perencanaan yang matang dan kemampuan berpikir jauh ke depan, ciri-ciri yang sering dikaitkan dengan hominin yang lebih "modern". Ini menyiratkan bahwa manusia purba di Asia Timur tidak hanya beradaptasi dengan lingkungan mereka tetapi juga secara aktif membentuknya melalui inovasi teknologi.
Namun, identitas pasti spesies manusia purba yang membuat alat-alat canggih ini masih menjadi misteri. Ben Marwick, seorang profesor arkeologi di Universitas Washington dan salah satu penulis utama makalah tersebut, mengakui, "Identitas pasti pembuat belum jelas, karena masa itu kemungkinan terdapat beberapa spesies hominin yang hidup di wilayah tersebut." Ia menambahkan bahwa ada beberapa kandidat potensial, termasuk Denisovan, Homo longi, Homo juluensis, atau bahkan Homo sapiens awal. "Semoga penelitian di masa depan akan menemukan sisa-sisa fosil atau DNA yang dapat memberikan titik terang," cetusnya, menyoroti potensi penemuan lebih lanjut untuk mengisi kekosongan dalam pohon keluarga manusia. Keragaman hominin di Asia pada periode ini adalah aspek yang menarik, dan penemuan ini membuka pintu bagi pertanyaan-pertanyaan baru tentang interaksi dan penyebaran inovasi di antara spesies-spesies tersebut.
Yang menarik adalah ukuran dari banyak artefak yang ditemukan. Banyak di antaranya berukuran kecil, kurang dari 50 milimeter, namun dibuat dengan teknik yang rumit dan presisi. Marwick menjelaskan, "Artefak ini berasal dari periode ketika penelitian arkeologi sebelumnya sebagian besar hanya menemukan artefak besar yang dibuat menggunakan metode serpihan sederhana. Jadi, temuan kami menunjukkan strategi produksi alat yang rumit muncul lebih awal dari perkiraan sebelumnya." Ini berarti bahwa manusia purba di Asia Timur tidak hanya mampu membuat alat-alat besar dan kasar, tetapi juga menguasai seni membuat alat-alat kecil, spesifik, dan sangat efisien yang membutuhkan keahlian dan pemahaman material yang mendalam. Alat-alat yang baru ditemukan ini berusia antara 160.000 hingga 72.000 tahun, sebuah rentang waktu yang signifikan di mana manusia di wilayah tersebut hidup sebagai pemburu-pengumpul, meskipun gaya hidup mereka secara spesifik masih belum sepenuhnya terungkap.
Relevansi lebih luas dari temuan ini adalah kemampuannya untuk secara fundamental menyanggah asumsi lama mengenai pembuatan alat masa awal, terutama di Asia Timur. Marwick menegaskan bahwa penemuan ini secara langsung menantang bias yang sudah mengakar kuat bahwa hominin Asia Timur hanya memproduksi alat-alat sederhana. "Bias ini sangat kuat, dan mendominasi arkeologi selama lebih dari setengah abad melalui konsep Garis Movius," jelasnya.
Garis Movius, yang diusulkan pada tahun 1940-an oleh Hallam L. Movius Jr., adalah sebuah hipotesis yang menyarankan adanya pembagian geografis yang tajam antara budaya kapak genggam Acheulean yang dianggap "maju" di Afrika dan Eurasia Barat dengan budaya alat penetak (chopper-chopping) yang dianggap "konservatif" dan lebih sederhana di Asia Timur. Konsep ini menciptakan narasi yang mengakar bahwa Asia Timur adalah wilayah yang terbelakang secara budaya, di mana para hominin dianggap stagnan secara evolusioner. Narasi ini telah memengaruhi interpretasi penemuan arkeologi di Asia selama beberapa dekade, seringkali mengabaikan atau meremehkan bukti-bukti kecanggihan yang mungkin ada.
Namun, penemuan di Xigou kini secara meyakinkan memecahkan bias tersebut. Alat-alat komposit yang rumit dan teknik produksi yang canggih yang ditemukan di Tiongkok secara langsung bertentangan dengan gagasan tentang "stagnasi evolusioner" di Asia Timur. Hal ini menunjukkan bahwa hominin di Asia tidak hanya sebanding dalam kemampuan teknologi dengan rekan-rekan mereka di bagian lain dunia, tetapi juga mungkin telah mengembangkan inovasi unik mereka sendiri.
Anne Ford, profesor madya arkeologi di Universitas Otago, Selandia Baru, memuji penelitian ini dengan antusias. "Ini benar-benar penemuan yang luar biasa dan menyoroti perlunya kita beralih dari deskripsi lama tentang teknologi Asia sebagai industri inti-serpihan yang sederhana," ujarnya. Komentar Ford menggarisbawahi pergeseran paradigma yang diperlukan dalam arkeologi, mendesak para peneliti untuk melihat kembali catatan arkeologi Asia dengan lensa yang baru, bebas dari prasangka lama.
Penemuan di Xigou bukan hanya tentang alat batu; ini adalah tentang memulihkan bagian yang hilang dari sejarah manusia, menyoroti kecerdasan, adaptasi, dan inovasi yang tersebar luas di seluruh populasi hominin global. Ini mengingatkan kita bahwa narasi evolusi manusia adalah mozaik yang kompleks dan terus berkembang, dengan setiap penemuan baru menambahkan detail yang lebih kaya dan menantang asumsi yang telah lama dipegang. Masa depan penelitian di Asia Timur pasti akan terus mengungkap lebih banyak rahasia tentang kecanggihan manusia purba dan peran penting mereka dalam membentuk lintasan teknologi dan budaya spesies kita.

