0

Teddy Bikin Sule Pusing, Nathalie Holscher Bicara soal Kerja dan Harga Diri

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Ketegangan kembali membayangi hubungan keluarga Sule setelah Teddy Pardiyana, ayah dari mendiang Lina Jubaedah, kembali mendesak penetapan ahli waris atas aset peninggalan almarhumah melalui jalur hukum di Pengadilan Negeri Bandung. Langkah hukum yang diambil Teddy ini sontak membuat Sule, mantan suami Lina, merasa pusing dan kembali angkat bicara mengenai permasalahan yang sudah bergulir sejak beberapa waktu lalu ini. Sidang di PN Bandung menjadi saksi bisu perseteruan yang melibatkan harta peninggalan ini, menambah daftar panjang kerumitan yang harus dihadapi oleh Sule.

Sule, yang kerap kali menunjukkan sikap bijak dalam menghadapi berbagai persoalan, kali ini tak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Ia menegaskan bahwa semua hak Bintang, anak dari Teddy dan Lina, akan sepenuhnya dibagikan ketika Bintang mencapai usia dewasa, yaitu 17 tahun. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa Sule tetap berpegang pada prinsip pembagian warisan yang adil dan sesuai dengan hukum yang berlaku, sembari memastikan hak-hak anak semata wayang dari almarhumah Lina Jubaedah terpenuhi. Namun, desakan hukum dari Teddy seolah mengabaikan niat baik dan penjelasan yang telah disampaikan oleh Sule.

Teddy Bikin Sule Pusing, Nathalie Holscher Bicara soal Kerja dan Harga Diri

Di tengah memanasnya isu ini, Nathalie Holscher, mantan istri Sule sekaligus ibu dari Adzam, tak ketinggalan memberikan komentarnya. Melalui unggahan di Instagram Stories miliknya, Nathalie secara tersirat diduga menyindir Teddy. Pernyataannya yang tegas dan lugas mengenai pentingnya bekerja keras, menjaga harga diri, dan tidak bergantung pada warisan semata, menimbulkan spekulasi bahwa ia sedang menyoroti perilaku Teddy yang dianggapnya kurang bertanggung jawab. Unggahan Nathalie ini seolah menjadi penegasan bahwa ia memiliki pandangan yang berbeda mengenai cara menghadapi situasi seperti ini, menekankan nilai kemandirian dan kerja keras.

Nathalie Holscher mengungkapkan kekecewaannya terhadap sikap yang dinilainya hanya mengandalkan warisan. Ia secara gamblang menyarankan Teddy untuk tidak merepotkan orang lain dan mencari nafkah sendiri. "Buat anak saling (memberi). Jangan ngerepotin orang woy. Kerja, malu, harga diri cuy. Dari mantan suami gue, lo cuma ngandelin warisan. Harusnya lo malu. Bikin cakwe kek, cilok kek, apa kek gak usah gengsi jadi orang," tulis Nathalie dalam salah satu unggahannya. Kalimat-kalimat ini mencerminkan keprihatinan Nathalie terhadap kondisi yang ada, sekaligus dorongan agar Teddy bisa lebih mandiri dan tidak membebani pihak lain, terutama terkait aset peninggalan almarhumah Lina.

Lebih lanjut, Nathalie menekankan pentingnya usaha dan kerja keras, bahkan untuk dirinya sendiri yang berstatus sebagai perempuan. Ia mengaku telah berjuang keras, melakukan perjalanan dari satu kota ke kota lain untuk mencari nafkah. "Kalau kata aku sih ya, kerja. Lo kerja. Gue saja perempuan banting tulang, dari kota ini ke kota ini. Lo cuma ngandelin warisan doang? Capek banget," tuturnya, menyiratkan bahwa segala sesuatu yang diperoleh seharusnya melalui perjuangan dan kerja keras, bukan semata-mata warisan. Pernyataan Nathalie ini semakin mempertegas pandangannya yang menjunjung tinggi nilai kemandirian dan etos kerja.

Teddy Bikin Sule Pusing, Nathalie Holscher Bicara soal Kerja dan Harga Diri

Penting untuk dicatat bahwa permasalahan ini bukan kali pertama muncul ke permukaan. Jauh sebelum Nathalie memberikan komentarnya, Sule sendiri telah berulang kali mencoba menjelaskan situasinya. Ia mengingatkan Teddy mengenai adanya surat pernyataan yang dibuat tidak lama setelah Lina Jubaedah meninggal dunia, tepatnya tujuh hari setelah pemakaman. Surat pernyataan tersebut, yang ditandatangani oleh Teddy dan disaksikan oleh beberapa pihak, termasuk pengacara, menyatakan bahwa Teddy tidak akan mengklaim aset-aset yang tercantum di dalamnya.

Sule menjelaskan detail mengenai surat pernyataan tersebut kepada awak media. "Bukan perjanjian, itu surat pernyataan dari almarhumah melalui lawyernya, dan itu sudah sebetulnya, sudah ada kesepakatan bahwa saudara Teddy itu tidak akan menghaki (aset-aset tersebut) di depan anak saya, di depan lawyer, tidak akan menghaki dan menyerahkan safety box karena itu kan di bank," ungkap Sule pada Senin, 9 Juni 2026. Penjelasan Sule ini menguatkan argumennya bahwa Teddy telah menyatakan tidak akan mengambil hak atas aset-aset tersebut, sehingga desakan hukum yang kini ia ajukan dinilai tidak sesuai dengan kesepakatan awal.

Pihak pengadilan, dalam hal ini Pengadilan Negeri Bandung, menjadi tempat di mana semua pihak akan beradu argumen dan membuktikan keabsahan klaim masing-masing. Proses hukum ini tentu akan memakan waktu dan energi, serta berpotensi menimbulkan ketegangan lebih lanjut antar pihak yang terlibat. Keterlibatan pengadilan menandakan bahwa mediasi dan diskusi secara kekeluargaan tampaknya telah menemui jalan buntu, memaksa penyelesaian harus ditempuh melalui jalur formal.

Teddy Bikin Sule Pusing, Nathalie Holscher Bicara soal Kerja dan Harga Diri

Aset peninggalan almarhumah Lina Jubaedah sendiri menjadi titik sentral dari seluruh permasalahan ini. Rincian aset yang dimaksud kemungkinan besar mencakup berbagai properti, tabungan, dan barang berharga lainnya yang dikumpulkan almarhumah selama hidupnya. Keberadaan aset-aset ini menjadi daya tarik bagi Teddy untuk mengklaim hak waris, sementara Sule berupaya memastikan bahwa pembagiannya dilakukan secara adil dan sesuai dengan kesepakatan serta hukum yang berlaku. Penting untuk menelaah lebih dalam mengenai surat pernyataan yang disebutkan oleh Sule, termasuk bagaimana proses pembuatannya dan apa saja aset yang tercantum di dalamnya, untuk memahami akar permasalahan ini secara utuh.

Reaksi Nathalie Holscher yang begitu keras terhadap Teddy juga bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Sebagai mantan istri Sule dan ibu dari Adzam, ia tentu memiliki kepedulian terhadap nasib anak-anak dari almarhumah Lina, termasuk Bintang. Pernyataannya bisa diartikan sebagai upaya melindungi hak-hak anak-anak tersebut dan mencegah terjadinya konflik yang berkepanjangan. Selain itu, pandangannya tentang pentingnya kerja keras dan harga diri juga mencerminkan nilai-nilai yang ia pegang teguh, yang mungkin ia ingin tularkan kepada generasi muda, termasuk anak-anaknya sendiri.

Konflik semacam ini memang kerap kali menimbulkan luka dan perpecahan dalam sebuah keluarga. Harta peninggalan, meskipun bernilai materi, seringkali menjadi pemicu perselisihan yang jauh lebih dalam, menyangkut harga diri, kehormatan, dan bahkan rasa keadilan. Bagaimana Teddy Pardiyana akan merespons pernyataan Nathalie Holscher dan kelanjutan proses hukum di PN Bandung, masih menjadi perhatian publik. Apakah ia akan tetap pada pendiriannya atau mempertimbangkan kembali langkah-langkahnya, akan menjadi babak baru dalam drama keluarga ini.

Teddy Bikin Sule Pusing, Nathalie Holscher Bicara soal Kerja dan Harga Diri

Dalam konteks hukum, penetapan ahli waris adalah proses yang krusial untuk menentukan siapa saja yang berhak menerima harta peninggalan dan berapa bagiannya masing-masing. Proses ini biasanya melibatkan pembuktian hubungan kekerabatan, validitas surat wasiat (jika ada), dan pemenuhan syarat-syarat hukum lainnya. Pengadilan akan meninjau semua bukti yang diajukan oleh para pihak sebelum membuat keputusan akhir.

Keterlibatan pengacara dari masing-masing pihak juga menunjukkan keseriusan dalam menangani masalah ini. Pengacara akan bertugas untuk memberikan nasihat hukum, mewakili klien mereka di persidangan, dan berupaya mencapai hasil yang terbaik bagi kliennya. Peran pengacara menjadi sangat penting dalam menavigasi kompleksitas hukum waris.

Secara keseluruhan, kasus ini menyoroti betapa pentingnya komunikasi yang baik, kejujuran, dan kesepakatan yang jelas dalam urusan harta peninggalan, terutama ketika melibatkan anak-anak. Pengalaman pahit ini bisa menjadi pelajaran bagi banyak pihak untuk lebih berhati-hati dan bijaksana dalam mengelola aset, serta menjaga keharmonisan keluarga di atas segalanya. Keputusan pengadilan nanti akan menjadi penentu akhir dari sengketa yang telah berlangsung ini, dan diharapkan dapat membawa keadilan bagi semua pihak yang berkepentingan.