BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Tasya Kamila, yang dikenal sebagai penyanyi cilik era 2000-an dan kini aktif sebagai aktivis lingkungan, baru-baru ini menjadi sorotan publik usai membagikan laporan kontribusinya sebagai alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Unggahan Tasya yang merinci berbagai kegiatannya, mulai dari kolaborasi dengan kementerian hingga program kesadaran lingkungan, justru menuai beragam komentar, termasuk kritik pedas mengenai dampak yang dinilai belum sebanding dengan dana beasiswa yang diterimanya. Salah satu akun Instagram, @house****, melontarkan pertanyaan bernada skeptis, "Mba kok impactnya ga sebesar dana yg dikeluarkan yah? Ini lebih mirip prokeran BEM/kantor, program CSR perusahaan, atau kegiatan ibu² di lingkungan." Pertanyaan ini mencerminkan kekecewaan sebagian publik yang berharap kontribusi alumni LPDP, terutama yang mengenyam pendidikan di luar negeri dengan biaya besar, haruslah bersifat transformatif dan terukur secara signifikan.

Menanggapi kritik tersebut, Tasya Kamila memberikan respons yang cukup panjang dan emosional melalui akun Instagram pribadinya. Ia mengungkapkan rasa sedihnya karena usaha dan gerakannya yang berfokus pada lingkungan, yang ia sebut sebagai "gerakan akar rumput," dinilai kurang berdampak. "Huhu maaf ya aku belom bisa penuhin ekspektasi kamu sebagai penerima beasiswa. Alhamdulillah baik LPDP maupun orang-orang yang terdampak lewat berbagai gerakanku berkenan. Tapi aku sadar memang aku gak bisa memenuhi ekspektasi dan menyenangkan hati semua orang. Jujur aku sedih karena usahaku, gerakan akar rumput untuk lingkungan dibilang gak berdampak," ujar Tasya. Ia menjelaskan bahwa gerakan yang ia lakukan merupakan praktik langsung dari ilmu yang ia dapatkan di Columbia University, di mana ia mendalami studi mengenai efektivitas kebijakan publik melalui gerakan akar rumput dan peran publik dalam mendorong kebijakan. Jurusan yang ia ambil, Kebijakan Publik, memang menjadi salah satu prioritas LPDP, terutama terkait dengan isu Sustainable Development Goals (SDGs) yang menjadi fokus utama pada tahun 2016.
Tasya kemudian merinci bagaimana gerakannya ini berusaha menjembatani kesenjangan antara kebijakan publik dan kesadaran masyarakat. "Gerakan-gerakan ini memang bisa dan justru HARUS dikerjakan siapa saja, tapi tetap harus ada yang mau jadi inisiator, amplifier, dan memberikan wadah untuk mengerjakannya. Harus pula ada yang menjembatani antara policymaker dan publik agar pesan tersampaikan sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan dan tujuan lingkungan terwujud," terangnya. Ia menekankan bahwa dampaknya tidak bekerja sendirian, melainkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kementerian dan Lembaga, organisasi non-pemerintah (NGO), sekolah, ibu-ibu PKK, bahkan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari perusahaan. Tujuannya adalah untuk membangun dampak yang lebih besar secara kolektif. Model kerjanya yang melibatkan berbagai elemen masyarakat ini, menurut Tasya, justru merupakan inti dari penerapan ilmu kebijakan publik yang ia pelajari, yaitu bagaimana mendorong perubahan positif dari tingkat akar rumput hingga ke tingkat kebijakan.

Lebih lanjut, Tasya Kamila juga memaparkan kontribusinya melalui jalur lain, yaitu kontribusi finansial melalui pajak. Ia menegaskan bahwa dari penghasilannya di industri kreatif, ia telah berkontribusi dalam pembayaran pajak yang signifikan. "Kak, kalo mau ngomongin monetary impact, alhamdulillah dari rezekiku dalam pekerjaanku di industri kreatif juga sudah berkontribusi untuk pajak. Kalau dihitung sejak aku lulus, pajak yang managementku setorkan insyaallah udah bisa nutup itu uang sekolahku. Insyaallah aku masih ada semangat untuk terus berdampak baik di tiap pekerjaan yang aku jalani. Ini baru sebagian dari perjalananku," ungkap Tasya. Pernyataannya ini bertujuan untuk memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai kontribusinya, tidak hanya dari sisi aktivisme, tetapi juga dari sisi finansial negara. Ia ingin menunjukkan bahwa perjalanannya dalam memberikan kontribusi kepada Indonesia masih panjang dan terus berkembang.
Kritik yang dilayangkan kepada Tasya Kamila ini menjadi cerminan dari tingginya ekspektasi publik terhadap alumni penerima beasiswa LPDP, khususnya yang mendapatkan kesempatan pendidikan di luar negeri. LPDP sendiri didirikan dengan tujuan utama untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan menghasilkan lulusan yang mampu berkontribusi secara signifikan bagi pembangunan bangsa. Oleh karena itu, pertanyaan mengenai dampak dan kontribusi alumni menjadi hal yang wajar dan perlu dijawab secara transparan. Namun, Tasya Kamila melalui responsnya telah berusaha memberikan perspektif yang lebih luas, bahwa dampak tidak selalu dapat diukur secara kuantitatif dalam waktu singkat, dan bahwa kolaborasi serta kontribusi melalui berbagai jalur, termasuk kesadaran publik dan pembayaran pajak, juga merupakan bentuk nyata dari kontribusi seorang alumni.

Perjalanan Tasya Kamila dalam memberikan kontribusi kepada Indonesia memang patut diapresiasi. Ia tidak hanya berdiam diri setelah menyelesaikan studinya di luar negeri, tetapi aktif terlibat dalam berbagai kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan aksi nyata terhadap isu-isu lingkungan. Dengan latar belakang pendidikan yang kuat di bidang kebijakan publik, ia mencoba menerapkan ilmunya untuk mendorong perubahan positif dari berbagai tingkatan. Kolaborasi yang ia bangun dengan berbagai pihak menunjukkan bahwa ia memahami pentingnya sinergi untuk mencapai tujuan yang lebih besar.
Tanggapan Tasya Kamila juga menyoroti kompleksitas dalam mengukur dampak sosial. Tidak semua kontribusi dapat diukur dengan angka yang mudah dipahami oleh publik awam. Gerakan akar rumput, misalnya, seringkali membutuhkan waktu yang tidak sebentar untuk menunjukkan hasil yang signifikan dan terukur. Namun, keberadaan inisiator dan fasilitator seperti Tasya sangat krusial untuk menjaga momentum dan memperluas jangkauan gerakan tersebut. Ia mencoba menjelaskan bahwa perannya adalah sebagai katalisator, yang mendorong partisipasi publik dan memfasilitasi komunikasi antara pembuat kebijakan dan masyarakat.

Lebih jauh, Tasya juga secara cerdas menyinggung kontribusinya melalui pajak. Ini adalah poin penting yang seringkali terabaikan dalam diskusi mengenai kontribusi alumni. Pajak yang dibayarkan oleh individu dan perusahaan merupakan salah satu pilar utama pembiayaan pembangunan negara. Dengan menyatakan bahwa pajak dari penghasilannya mampu menutupi biaya pendidikannya, Tasya menunjukkan bahwa ia tidak hanya menerima manfaat dari dana publik, tetapi juga turut berkontribusi secara finansial kepada negara. Ini adalah contoh bagaimana individu dapat memberikan kontribusi ganda: melalui karya dan pemikiran, serta melalui kontribusi finansial.
Kasus Tasya Kamila ini juga dapat menjadi pelajaran bagi LPDP sendiri dalam mengkomunikasikan program dan hasil kontribusi alumninya. Mungkin perlu ada narasi yang lebih kaya dan beragam mengenai bentuk-bentuk kontribusi yang diterima, serta strategi komunikasi yang lebih efektif untuk menjelaskan dampak dari berbagai jenis kegiatan. Publik perlu diedukasi bahwa kontribusi tidak selalu harus bersifat proyek berskala besar atau penemuan ilmiah yang revolusioner. Gerakan kesadaran publik, advokasi kebijakan, dan pemberdayaan komunitas juga merupakan bentuk kontribusi yang sangat berharga bagi pembangunan berkelanjutan.

Di sisi lain, kritik yang dilontarkan oleh publik juga merupakan bagian dari akuntabilitas publik yang penting. Masyarakat berhak menanyakan dan mengawasi bagaimana dana publik digunakan dan apa dampaknya bagi negara. Hal ini mendorong para penerima beasiswa, termasuk alumni LPDP, untuk terus berinovasi dan memberikan yang terbaik bagi bangsa. Yang terpenting adalah bagaimana dialog antara publik dan para penerima beasiswa dapat terus terjalin secara konstruktif, saling memahami, dan mencari solusi terbaik demi kemajuan Indonesia. Tasya Kamila telah menunjukkan kemampuannya untuk merespons kritik dengan argumen yang kuat dan penjelasan yang mendalam, yang diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik kepada publik mengenai perjalanannya dalam berkontribusi.

