0

Tabung "Whip Pink" di Apartemen Lula Lahfah: Jejak DNA, Misteri Asal, dan Penyelidikan Mendalam

Share

BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Penemuan tabung "Whip Pink" di apartemen selebgram Lula Lahfah telah memicu penyelidikan intensif oleh pihak kepolisian. Kasus ini bukan sekadar temuan barang, melainkan rangkaian investigasi mendalam yang melibatkan analisis forensik, pemeriksaan saksi, dan pendalaman digital untuk mengungkap asal-usul serta potensi penyalahgunaan gas dinitrous oxide (N2O) yang sering dikaitkan dengan tabung jenis ini. Pihak berwenang berupaya keras untuk memastikan tidak ada celah hukum yang terlewatkan dalam mengungkap seluruh tabir misteri di balik penemuan tak terduga ini.

1. Asal-Usul Tabung "Whip Pink" yang Masih Misterius

Penyelidikan mengenai asal-usul tabung "Whip Pink" yang ditemukan di apartemen Lula Lahfah menjadi fokus utama kepolisian. Tabung tersebut telah menjadi salah satu barang bukti penting yang diperiksa secara komprehensif. Dalam upaya menelusuri jejaknya, kepolisian menggandeng Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Mabes Polri. Kolaborasi ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam karakteristik tabung, termasuk potensi residu atau bahan kimia yang mungkin tertinggal. Selain itu, tim penyidik juga proaktif berkoordinasi dengan manajemen dan tim keamanan apartemen. Pendekatan ini dilakukan guna mengakses rekaman kamera pengawas (CCTV) yang terpasang di area gedung. Harapannya, rekaman tersebut dapat memberikan gambaran visual mengenai siapa saja yang membawa atau mengakses apartemen, termasuk barang-barang yang dibawa masuk.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Iskandarsyah, memberikan keterangan lebih lanjut mengenai temuan awal dari rekaman CCTV. Berdasarkan analisis rekaman tersebut, teridentifikasi bahwa tabung "Whip Pink" dibawa masuk ke dalam apartemen oleh seorang saksi yang berinisial A. Lebih lanjut, setelah dilakukan pendalaman lebih lanjut dan merujuk pada hasil pemeriksaan Puslabfor, terungkap bahwa tabung tersebut ditemukan dalam kondisi kosong. "Saudari A itu membawa kantong yang berisi tabung pink tersebut, yang setelah kita dalami dan setelah hasil pemeriksaan Puslabfor, tabung tersebut kosong," ujar Iskandarsyah. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa tabung tersebut mungkin telah digunakan sebelum ditemukan, namun status penggunaannya masih dalam tahap investigasi lebih lanjut.

Penyelidikan tidak berhenti pada identifikasi pembawa tabung. Pihak kepolisian terus mendalami siapa sebenarnya individu berinisial A, apa hubungannya dengan Lula Lahfah, dan bagaimana tabung tersebut bisa berada di dalam apartemen. Pencarian bukti pembelian atau sumber perolehan tabung tersebut juga menjadi prioritas. Pertanyaan krusial yang terus diajukan adalah apakah tabung tersebut dibeli secara legal, atau ada indikasi lain yang perlu diungkap. Kemungkinan adanya jaringan peredaran atau penyalahgunaan N2O yang lebih luas juga menjadi pertimbangan dalam setiap langkah investigasi yang dilakukan oleh aparat penegak hukum.

2. Jejak DNA Lula Lahfah di Tabung "Whip Pink" dan Barang Bukti Lainnya

Salah satu temuan paling signifikan dalam kasus ini adalah identifikasi DNA Lula Lahfah pada tabung "Whip Pink" serta pada barang bukti lain yang ditemukan di apartemen. Pemeriksaan forensik yang dilakukan oleh Puslabfor tidak hanya terbatas pada analisis kandungan tabung, tetapi juga mencakup pemeriksaan sidik jari dan profil DNA. Keberadaan DNA Lula Lahfah pada tabung tersebut, bersama dengan bercak darah yang ditemukan pada seprai, tisu, dan kapas, memberikan petunjuk krusial mengenai keterlibatannya.

Kaur Subbid Toksikologi Puslabfor Bareskrim Polri, Pembina Azhar Darlan, menjelaskan temuan rinci dari hasil pemeriksaan. "Setelah kami melakukan pemeriksaan, kami dapat simpulkan bahwa benar bahwa pada seprai terdapat bercak darah pada tisu atau kapas bekas pakai terdapat bercak darah dan pada satu buah tabung Whip Pink itu muncul profil DNA," ungkap Azhar Darlan. Lebih lanjut, ia memaparkan kesimpulan krusial dari analisis DNA tersebut. "Kesimpulannya bahwa bercak darah yang ada pada seprai, bercak darah pada kapas dan tisu, dan touch DNA atau DNA sentuhan, profilnya itu adalah milik Saudari LL, dan Saudari LL ini adalah anak biologis daripada Saudara Muhammad Feroz," tegasnya.

Temuan DNA ini memiliki implikasi hukum yang kuat. Keberadaan DNA Lula Lahfah pada tabung "Whip Pink" dan barang bukti lain yang terkait dengan dugaan penyalahgunaan gas N2O dapat mengarah pada kesimpulan bahwa ia memiliki kontak langsung dengan barang tersebut. Namun, perlu ditekankan bahwa temuan DNA ini belum secara otomatis membuktikan adanya penyalahgunaan. Masih diperlukan pendalaman lebih lanjut untuk menentukan apakah DNA tersebut berasal dari penggunaan langsung, kontak pasif, atau bahkan transfer DNA dari pihak lain.

Pihak kepolisian terus mendalami konteks penemuan bercak darah. Apakah darah tersebut terkait dengan penggunaan gas N2O, atau ada kejadian lain yang menyebabkan luka. Analisis lebih lanjut terhadap jenis darah dan kemungkinan adanya zat lain dalam bercak tersebut juga dapat memberikan gambaran yang lebih utuh. Integrasi temuan DNA dengan bukti-bukti lain seperti rekaman CCTV dan keterangan saksi menjadi kunci untuk membangun sebuah narasi yang koheren dan dapat dipertanggungjawabkan secara hukum.

3. Pemeriksaan Ponsel Lula Lahfah: Menggali Jejak Digital

Untuk melengkapi penyelidikan, pihak kepolisian juga melakukan pemeriksaan terhadap ponsel milik Lula Lahfah. Pendekatan ini merupakan bagian dari upaya untuk mengumpulkan bukti digital yang dapat memberikan wawasan mengenai aktivitasnya, komunikasi yang dilakukan, serta kemungkinan adanya bukti pembelian atau pemesanan tabung "Whip Pink". Pemeriksaan ponsel ini dilakukan melalui metode digital forensik, sebuah bidang yang semakin krusial dalam mengungkap berbagai jenis kejahatan di era digital.

Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, mengonfirmasi bahwa pemeriksaan digital forensik terhadap ponsel Lula Lahfah masih terus berlangsung. "Masih (berlangsung) kalau (pemeriksaan) digital forensik masih dilakukan," ujarnya dalam sebuah konferensi pers yang diselenggarakan di Mapolda Jakarta Selatan pada Jumat, 30 Januari 2026. Proses ini melibatkan analisis mendalam terhadap berbagai data yang tersimpan di ponsel, termasuk riwayat panggilan, pesan teks (SMS), percakapan melalui aplikasi pesan instan (seperti WhatsApp, Telegram, dll.), riwayat penelusuran internet, foto, video, dan data lokasi.

Salah satu fokus utama dari pemeriksaan ponsel adalah untuk mencari bukti pembelian gas medis tersebut. Hingga saat ini, kepolisian menyatakan belum menemukan bukti konkret mengenai transaksi pembelian gas tersebut. "Kalau bukti pembelian kita masih belum dapatkan, tetapi penyelidik sudah mendalami dari mana asal-usul barang itu dikirim. Ini kan sudah mendalami," terang Budi Hermanto. Hal ini menunjukkan bahwa sumber perolehan tabung "Whip Pink" masih menjadi pertanyaan besar yang belum terjawab.

Penyelidikan digital forensik ini diharapkan dapat mengungkap percakapan terkait dengan tabung "Whip Pink", termasuk komunikasi dengan pihak penjual atau perantara. Analisis terhadap riwayat penelusuran internet juga dapat memberikan petunjuk mengenai situs web atau platform yang mungkin digunakan untuk mencari informasi atau melakukan pembelian. Selain itu, data lokasi dapat membantu merekonstruksi pergerakan Lula Lahfah dan mengaitkannya dengan lokasi-lokasi yang relevan dengan penemuan tabung tersebut.

Pihak kepolisian terus berupaya untuk membangun gambaran yang komprehensif dengan mengintegrasikan hasil pemeriksaan digital forensik dengan bukti-bukti fisik dan keterangan saksi. Kemampuan untuk melacak asal-usul pengiriman barang, meskipun tanpa bukti pembelian langsung, menjadi prioritas. Hal ini menunjukkan bahwa penyelidikan ini bersifat multidimensional dan memanfaatkan berbagai alat serta metode untuk mengungkap kebenaran.

4. Keterangan ART dan Rekan Lula Lahfah: Membangun Gambaran Awal

Untuk memperjelas kronologi dan menelisik lebih jauh mengenai asal-usul tabung "Whip Pink", pihak kepolisian telah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap orang-orang terdekat Lula Lahfah, termasuk asisten rumah tangganya (ART) dan beberapa rekan selebgramnya. Upaya ini bertujuan untuk mendapatkan keterangan langsung mengenai keberadaan tabung tersebut dan pola penggunaan yang mungkin terjadi.

Kasat Reskrim Polres Jakarta Selatan, AKBP Iskandarsyah, menjelaskan bahwa pihaknya telah memanggil dan memeriksa beberapa saksi yang merupakan teman dekat Lula Lahfah. "Kami sudah memeriksa beberapa saksi yaitu kawan-kawan terdekat. Makanya kita ada beberapa panggilan klarifikasi terhadap kawan-kawan terdekat oleh karena ada dugaan kami apakah saudari LL ini sering menggunakan," ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Mapolres Jakarta Selatan pada Jumat, 30 Januari 2026. Pernyataan ini mengindikasikan bahwa kepolisian menduga adanya potensi penggunaan tabung "Whip Pink" secara rutin oleh Lula Lahfah atau orang-orang di sekitarnya, sehingga klarifikasi dari orang terdekat menjadi sangat penting.

Keterangan yang paling menonjol datang dari asisten rumah tangga Lula Lahfah yang berinisial A. Berdasarkan kesaksiannya, tabung "Whip Pink" tersebut pertama kali ditemukan di kamar ART Lula. Yang menarik, ART berinisial A ini memberikan kesaksian bahwa ia baru pertama kali melihat tabung pink tersebut. "Akan tetapi dari saudari A memberikan kesaksian bahwa pertama kali melihat tabung pink tersebut. Asisten rumah tangganya baru pertama kali," tutur Iskandarsyah. Kesaksian ini memberikan beberapa kemungkinan interpretasi. Pertama, tabung tersebut mungkin baru saja dibawa ke apartemen atau dipindahkan ke kamar ART tanpa sepengetahuannya. Kedua, ART tersebut mungkin tidak menyadari fungsi atau asal-usul tabung tersebut.

Pihak kepolisian sedang mendalami lebih lanjut kesaksian ART berinisial A ini. Mereka berusaha memastikan apakah ART tersebut benar-benar tidak mengetahui apa-apa mengenai tabung tersebut, atau ada informasi lain yang belum terungkap. Keterangan ini menjadi penting karena menempatkan tabung tersebut di lokasi yang spesifik di dalam apartemen, yang dapat membantu dalam rekonstruksi kejadian.

Selain ART, pemeriksaan terhadap rekan-rekan terdekat Lula Lahfah juga bertujuan untuk mengumpulkan informasi mengenai lingkaran sosialnya, kebiasaan, dan kemungkinan adanya pihak lain yang mungkin memiliki akses ke apartemen atau terlibat dalam penggunaan tabung "Whip Pink". Keterangan dari berbagai pihak ini diharapkan dapat saling melengkapi dan memberikan gambaran yang lebih utuh mengenai rangkaian peristiwa yang mengarah pada penemuan tabung tersebut. Hingga berita ini diturunkan, penyelidikan masih terus berlanjut dengan fokus pada pengumpulan bukti-bukti tambahan dan pendalaman keterangan saksi.