BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Di tengah dinamika pasar otomotif yang terus berubah, PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) akhirnya buka suara mengenai nasib salah satu model andalannya, Suzuki Ertiga. Penjualan Ertiga di tahun 2025 dilaporkan mengalami penurunan signifikan jika dibandingkan dengan saudaranya yang bergenre SUV, Suzuki XL7. Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) memperlihatkan tren yang mengkhawatirkan, di mana distribusi wholesales Ertiga dari pabrik ke dealer hanya mencapai puluhan unit per bulan. Kondisi ini tentu menimbulkan pertanyaan mengenai masa depan MPV andalan Suzuki tersebut, dan apakah bakal ada pembaruan atau bahkan model baru yang akan dihadirkan.
Donny Ismi Saputra, 4W Deputy Managing Director PT Suzuki Indomobil Sales (SIS), secara gamblang menjelaskan faktor utama di balik anjloknya penjualan Ertiga. Menurutnya, pergeseran minat konsumen dari segmen Multi-Purpose Vehicle (MPV) konvensional menuju Sport Utility Vehicle (SUV) menjadi penyebab utama. Tren global ini, lanjut Donny, juga sangat terasa di pasar Indonesia. "Sebetulnya tidak bisa dimungkiri bahwa ada kaitannya dengan pergeseran minat dan tren market itu sendiri, dari MPV biasa menjadi SUV, sehingga kondisi ini dialami oleh product kami. Saat ini penjualan Ertiga tidak begitu menggembirakan seperti pada saat awal diluncurkan di tahun 2012. Kalau kita lihat kenapa bisa seperti ini, tentunya ini karena ada pergeseran dari market itu sendiri (dari MPV ke SUV) Khususnya ini tidak hanya terjadi di Indonesia, Ini juga terjadi secara global memang trennya akan seperti itu," ujar Donny saat ditemui dalam acara Suzuki Media Gathering di Jakarta, belum lama ini.
Fenomena pergeseran tren pasar ini yang mendorong Suzuki untuk lebih fokus pada pengembangan dan peluncuran model-model SUV dalam beberapa waktu terakhir. Hal ini terlihat jelas dengan hadirnya Suzuki XL7 yang meraih respon positif, serta peluncuran model-model SUV terbaru seperti Grand Vitara dan Suzuki Fronx yang turut meramaikan segmen SUV di Indonesia. Langkah ini merupakan strategi adaptif Suzuki untuk menjawab kebutuhan dan preferensi konsumen yang semakin mengarah pada kendaraan berjiwa petualang dengan tampilan tangguh dan fitur-fitur yang relevan dengan gaya hidup aktif.
Namun, di tengah gencarnya pengembangan model SUV, Donny menegaskan bahwa Suzuki tidak serta-merta melupakan Ertiga. Model MPV ini masih memiliki tempat di hati sebagian konsumen dan memiliki peran strategis, terutama karena Ertiga diproduksi secara lokal di Indonesia. "Bukan serta-merta kami meninggalkan Ertiga. Ertiga kami masih produksi karena ini diproduksi di Indonesia. Kalau kami melihat sekarang memang ada pergeseran minat dari konsumen. Akan tetapi karena produk tersebut kami produksi di dalam negeri, tentunya kami siapkan stimulus-stimulus. Nanti kapan dan waktunya, nanti kita informasikan kepada rekan-rekan sekalian," ungkap Donny dengan nada penuh optimisme.
Pernyataan Donny ini memberikan sinyal kuat bahwa Suzuki memiliki rencana untuk memberikan "nafas baru" bagi Ertiga. Stimulus yang dimaksud bisa berupa pembaruan minor (facelift), penambahan fitur-fitur baru yang relevan, atau bahkan penyesuaian strategi pemasaran untuk kembali menggugah minat konsumen. Kemungkinan diluncurkannya model baru atau generasi terbaru Ertiga dengan sentuhan yang lebih modern dan sesuai dengan tren saat ini juga sangat terbuka. Ini bisa mencakup desain eksterior dan interior yang lebih segar, peningkatan teknologi dan fitur keselamatan, serta mungkin saja penyesuaian pada lini mesin untuk meningkatkan efisiensi bahan bakar atau performa.
Saat ini, Suzuki Ertiga masih ditawarkan dalam beberapa pilihan varian yang menarik. Konsumen dapat memilih antara versi mesin konvensional yang telah teruji keandalannya, maupun pilihan yang lebih ramah lingkungan dengan teknologi hybrid. Teknologi hybrid pada Ertiga merupakan salah satu upaya Suzuki untuk menjawab tren elektrifikasi di industri otomotif, sekaligus memberikan pilihan yang lebih efisien bagi konsumen yang peduli terhadap konsumsi bahan bakar dan emisi gas buang. Dengan adanya pilihan hybrid ini, Suzuki Ertiga berusaha untuk tetap relevan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Per Januari 2026, harga Suzuki Ertiga berkisar antara Rp 236.100.000 hingga Rp 300.800.000. Rentang harga ini mencakup berbagai varian yang ditawarkan, memberikan fleksibilitas bagi konsumen untuk memilih sesuai dengan anggaran dan kebutuhan mereka. Namun, dengan adanya potensi pembaruan atau model baru di masa mendatang, ada kemungkinan bahwa rentang harga ini akan mengalami penyesuaian.
Melihat tren pasar yang didominasi oleh SUV, strategi Suzuki untuk memberikan stimulus pada Ertiga adalah langkah yang bijak. Hal ini menunjukkan bahwa Suzuki tidak ingin meninggalkan segmen MPV yang masih memiliki basis penggemar setia, sekaligus tetap berinovasi untuk memenuhi permintaan pasar yang terus berkembang. Pertanyaan besar yang kini menggelitik para pemerhati otomotif adalah seperti apa bentuk "stimulus" yang akan diberikan Suzuki. Apakah akan ada penyegaran desain yang signifikan? Mungkinkah Ertiga akan mengadopsi platform baru yang lebih modern? Atau bahkan, apakah Suzuki akan meluncurkan varian Ertiga yang lebih sporty untuk menyaingi popularitas SUV?
Secara historis, Suzuki Ertiga telah membuktikan diri sebagai salah satu MPV yang menawarkan nilai lebih, baik dari segi kepraktisan, ruang kabin yang luas, maupun efisiensi bahan bakar. Sejak pertama kali diluncurkan pada tahun 2012, Ertiga telah berhasil merebut hati banyak keluarga di Indonesia berkat kemampuannya dalam mengakomodasi banyak penumpang dan barang bawaan. Model ini seringkali menjadi pilihan bagi mereka yang membutuhkan kendaraan keluarga yang andal dan terjangkau. Namun, seiring berjalannya waktu, selera pasar berubah, dan tuntutan terhadap kendaraan pun semakin beragam.
Jika Suzuki benar-benar serius dalam menghidupkan kembali Ertiga, ada beberapa area yang bisa menjadi fokus utama dalam pengembangan selanjutnya. Pertama, adalah aspek desain. Mengingat tren SUV yang menonjolkan kesan gagah dan modern, Ertiga mungkin perlu sentuhan desain yang lebih agresif dan dinamis. Ini bisa berarti garis bodi yang lebih tegas, lampu depan dan belakang yang lebih futuristik, serta penggunaan elemen desain yang terinspirasi dari SUV, seperti skid plate atau roof rail.
Kedua, adalah peningkatan teknologi dan fitur. Di era digital ini, konsumen semakin menuntut fitur-fitur canggih seperti infotainment system yang lebih mumpuni dengan konektivitas smartphone yang mulus, sistem keselamatan aktif seperti Adaptive Cruise Control atau Blind Spot Monitoring, serta fitur kenyamanan seperti wireless charger atau ambient lighting. Jika Ertiga mampu menawarkan teknologi yang setara atau bahkan lebih baik dari kompetitornya, hal ini tentu akan menjadi daya tarik tersendiri.
Ketiga, adalah inovasi pada lini powertrain. Meskipun teknologi hybrid saat ini sudah ditawarkan, Suzuki bisa mengeksplorasi pilihan powertrain lain yang lebih efisien atau bertenaga. Misalnya, pengembangan mesin turbocharged yang lebih kecil namun tetap bertenaga, atau bahkan mempertimbangkan opsi kendaraan listrik penuh (EV) di masa depan jika pasar sudah siap. Efisiensi bahan bakar tetap menjadi faktor penting bagi banyak konsumen, terutama untuk kendaraan keluarga yang seringkali digunakan untuk perjalanan jarak jauh.
Keempat, adalah pengalaman berkendara. Suzuki bisa berupaya untuk meningkatkan kualitas suspensi, peredaman suara, dan respons kemudi agar pengalaman berkendara Ertiga menjadi lebih nyaman dan menyenangkan, bahkan saat melibas berbagai kondisi jalan. Dengan begitu, Ertiga tidak hanya nyaman untuk membawa keluarga, tetapi juga memberikan sensasi berkendara yang memuaskan bagi pengemudinya.
Pernyataan Donny bahwa Ertiga masih diproduksi di Indonesia memberikan keuntungan tersendiri. Produksi lokal berarti potensi biaya produksi yang lebih efisien, kemudahan dalam penyediaan suku cadang, serta kemungkinan penyesuaian produk yang lebih cepat sesuai dengan permintaan pasar lokal. Hal ini juga mendukung program pemerintah dalam pengembangan industri otomotif nasional.
Dengan demikian, masa depan Suzuki Ertiga tampaknya tidak sepenuhnya suram. Keputusan Suzuki untuk memberikan "stimulus" mengindikasikan adanya strategi untuk menjaga relevansi model ini di pasar. Apakah stimulus tersebut akan berupa pembaruan minor yang signifikan, ataukah akan menjadi awal dari generasi baru Ertiga yang lebih modern dan kompetitif, hanya waktu yang akan menjawab. Namun, satu hal yang pasti, para penggemar Ertiga dan pecinta otomotif tanah air akan menantikan dengan antusias setiap perkembangan dari model MPV legendaris ini. Kemungkinan adanya model baru atau pembaruan besar pada Suzuki Ertiga sangatlah terbuka, dan ini bisa menjadi momen penting bagi Suzuki untuk kembali merebut hati konsumen di segmen MPV yang semakin dinamis.
Keputusan untuk terus berinvestasi pada Ertiga, meskipun pasar sedang bergeser ke SUV, menunjukkan komitmen Suzuki terhadap berbagai segmen pasar. Hal ini juga mencerminkan pemahaman bahwa tidak semua konsumen siap atau menginginkan kendaraan bergenre SUV. Masih ada ceruk pasar yang signifikan untuk MPV yang menawarkan kepraktisan, ruang, dan harga yang terjangkau. Dengan inovasi yang tepat, Suzuki Ertiga bisa kembali bersaing dan bahkan memimpin di segmennya. Nantikan pengumuman resmi dari Suzuki mengenai rencana mereka selanjutnya untuk Ertiga, karena bukan tidak mungkin kita akan segera melihat wajah baru dari MPV andalan Suzuki ini.

