BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Kepindahan Liam Rosenior dari Strasbourg untuk menerima tawaran melatih Chelsea pada Selasa, 6 Januari 2026, telah memicu kemarahan besar di kalangan suporter Le Racing. Keputusan yang dinilai mulus ini, mengingat Strasbourg dan Chelsea sama-sama dimiliki oleh konsorsium BlueCo yang dipimpin Todd Boehly dkk, justru menjadi titik krusial kecaman. Rosenior, yang dikontrak selama enam tahun oleh The Blues untuk menggantikan Enzo Maresca, seolah menjadi pion dalam strategi kepemilikan ganda yang dikhawatirkan merusak integritas sepak bola.
Kepergian Rosenior yang terbilang cepat dan efisien ini didukung penuh oleh jajaran manajemen Strasbourg. CEO Marc Keller dan Direktur Olahraga David Weir bahkan rela terbang ke London untuk memfasilitasi kepindahan eks manajer Derby County dan Hull City tersebut. Namun, kemudahan transfer ini justru menjadi pukulan telak bagi Fédération Supporters RCS, kelompok suporter Strasbourg yang selama ini telah lantang menyuarakan kekhawatiran mereka terhadap dampak negatif kepemilikan BlueCo.
Dalam sebuah pernyataan resmi yang dirilis, Fédération Supporters RCS secara tegas mengecam kepindahan Rosenior yang mereka anggap sebagai "langkah memalukan lainnya dalam ketergantungan Racing terhadap Chelsea." Mereka menilai bahwa keputusan ini bukan sekadar masalah pergantian pelatih di tengah musim atau ambisi pribadi seorang pelatih muda, melainkan sebuah masalah struktural yang mengancam masa depan sepak bola klub Prancis secara keseluruhan.
"Selama dua setengah tahun, bersama dengan yang lain, kami telah berusaha memperingatkan tentang hal ini [kepemilikan BlueCo]," tegas pernyataan tersebut, sebagaimana dilansir oleh ESPN. "Masalah ini jauh melampaui dampak olahraga di tengah musim dan ambisi seorang pelatih muda. Ini bersifat struktural; masa depan sepak bola klub Prancis berada di ujung tanduk."
Kecaman ini mencerminkan kekhawatiran mendalam bahwa kepemilikan ganda yang melibatkan klub-klub dari liga yang berbeda dapat menciptakan konflik kepentingan yang merusak kompetisi yang adil. Bagi suporter Strasbourg, melihat pelatih yang mereka percayai memimpin timnya untuk bersaing di papan atas Ligue 1, kini justru terindikasi kuat telah diproyeksikan untuk kepentingan klub induknya di liga yang lebih besar dan lebih menguntungkan secara finansial, yakni Liga Primer Inggris.
Sebelum kepindahan ini, Liam Rosenior telah berhasil mengangkat performa Strasbourg menjadi kuda hitam yang diperhitungkan di Ligue 1 musim ini. Di bawah arahannya, Kendry Paez dkk sempat bersaing ketat di papan atas klasemen, menunjukkan potensi besar yang telah ia bangun bersama tim. Keberhasilan ini, yang diraih dengan kerja keras dan strategi yang matang, kini terasa tercoreng oleh manuver yang dianggap sebagai bentuk eksploitasi klub dalam struktur kepemilikan yang lebih besar.
Para suporter berargumen bahwa model kepemilikan seperti BlueCo, yang mengendalikan beberapa klub di berbagai negara, berpotensi mengabaikan kepentingan klub-klub yang lebih kecil. Kepindahan pemain atau pelatih, yang mungkin didasarkan pada kebutuhan strategis atau finansial dari klub induk, dapat mengorbankan stabilitas dan ambisi jangka panjang klub yang lebih kecil. Dalam kasus Strasbourg, mereka merasa bahwa kontribusi Rosenior, yang telah membawa mereka pada performa impresif, kini harus berakhir demi memenuhi kebutuhan Chelsea.
Lebih jauh lagi, Fédération Supporters RCS menyuarakan keprihatinan bahwa fenomena ini tidak hanya berdampak pada Strasbourg, tetapi juga dapat menjadi preseden buruk bagi sepak bola Prancis secara umum. Jika klub-klub Prancis yang dimiliki oleh konsorsium asing terus menerus menjadi "ladang pembibitan" atau "pasar potensial" bagi klub-klub besar di liga-liga top Eropa, maka daya saing dan independensi sepak bola Prancis bisa terancam. Hal ini dapat menghambat perkembangan talenta lokal dan mengurangi daya tarik kompetisi Ligue 1 di mata dunia.
Analisis dari para pengamat sepak bola juga cenderung mendukung pandangan suporter Strasbourg. Model kepemilikan ganda, meskipun menawarkan potensi keuntungan finansial dan akses ke sumber daya yang lebih besar, sering kali dikritik karena dapat mengikis identitas klub dan loyalitas suporter. Ketika keputusan strategis lebih didorong oleh keuntungan grup daripada kepentingan klub lokal, maka hubungan antara klub dan komunitasnya bisa menjadi renggang.
Bagi Strasbourg, ini adalah pukulan telak. Mereka telah berjuang keras untuk kembali menjadi kekuatan yang diperhitungkan di Ligue 1. Perekrutan Rosenior adalah bagian dari visi jangka panjang untuk membangun tim yang solid dan kompetitif. Namun, dengan kepindahannya ke Chelsea, impian tersebut kini harus menghadapi ketidakpastian. Pertanyaan yang mengemuka adalah, apakah Strasbourg akan mampu menemukan pengganti yang sepadan dan melanjutkan momentum positif mereka, atau justru akan tergelincir kembali ke masa-masa sulit akibat keputusan yang diambil di luar kendali mereka?
Kasus Liam Rosenior ini menjadi cerminan dari dinamika sepak bola modern yang semakin kompleks. Di satu sisi, globalisasi dan investasi besar-besaran telah membawa manfaat, namun di sisi lain, juga menimbulkan tantangan baru terkait integritas, keadilan, dan keberlanjutan klub-klub kecil. Para suporter Strasbourg, dengan protes mereka yang keras, bukan hanya menyuarakan kekecewaan atas kepindahan pelatih favorit mereka, tetapi juga menyerukan panggilan darurat untuk melindungi esensi dan masa depan sepak bola dari praktik-praktik yang berpotensi merusak.
Kekhawatiran mengenai "masa depan sepak bola klub Prancis berada di ujung tanduk" bukanlah sekadar retorika kosong. Ini adalah peringatan serius tentang bagaimana model bisnis sepak bola yang semakin terpusat pada keuntungan dapat mengancam keragaman, persaingan, dan nilai-nilai fundamental yang membuat sepak bola dicintai oleh jutaan orang di seluruh dunia. Kepindahan Liam Rosenior ke Chelsea, meskipun mungkin terlihat sebagai langkah karier yang logis bagi sang pelatih, justru telah membuka luka lama dan memicu perdebatan penting tentang arah sepak bola di era modern.
Para suporter Strasbourg berharap agar suara mereka didengar oleh para pemangku kepentingan. Mereka menginginkan transparansi yang lebih besar dalam keputusan-keputusan yang melibatkan kepemilikan ganda, serta jaminan bahwa klub mereka akan diperlakukan dengan adil dan tidak hanya menjadi alat untuk mencapai tujuan klub induk. Perjuangan mereka adalah perjuangan untuk mempertahankan integritas dan identitas klub yang mereka cintai, serta untuk menjaga agar sepak bola tetap menjadi permainan yang adil dan menarik bagi semua pihak, bukan hanya segelintir orang yang memiliki kekuatan finansial terbesar.
Ke depan, akan menarik untuk melihat bagaimana Strasbourg bangkit dari situasi ini. Apakah mereka akan mampu membuktikan bahwa mereka memiliki kekuatan intrinsik yang tidak bergantung pada keputusan klub induknya? Atau akankah mereka terus menerus menjadi korban dari ambisi besar BlueCo? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini akan menjadi penentu nasib Strasbourg dan mungkin juga menjadi indikator penting bagi masa depan sepak bola di Prancis dan di seluruh dunia.
Kecaman suporter Strasbourg terhadap kepindahan Liam Rosenior ke Chelsea adalah simbol perjuangan melawan dominasi kekuatan finansial yang berpotensi mengikis nilai-nilai sportivitas. Ini adalah pengingat bahwa di balik setiap transfer pemain atau pelatih, terdapat komunitas penggemar yang memiliki ikatan emosional mendalam dengan klub mereka, dan yang berhak untuk menuntut keadilan serta keberlanjutan dalam olahraga yang mereka cintai. Perjuangan mereka patut mendapatkan perhatian serius, karena ini adalah perjuangan untuk masa depan sepak bola itu sendiri.

