BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Artis muda berbakat, Shalom Razade, putri sulung dari aktris ternama Wulan Guritno, baru-baru ini membuat publik terkejut sekaligus haru dengan pengakuannya mengenai operasi plastik yang dijalaninya di Korea Selatan. Tangis haru tak terbendung saat Shalom menceritakan alasan mendalam di balik keputusannya untuk menjalani prosedur upper blepharoplasty, ptosis correction, dan functional rhinoplasty. Bukan semata-mata demi kecantikan semata, operasi ini ternyata didorong oleh masalah kesehatan yang telah lama dihadapinya, yaitu gangguan pernapasan kronis akibat struktur hidung yang bengkok.
Dalam sebuah video yang diunggah di akun Instagram pribadinya, terlihat jelas emosi yang meluap dari Shalom saat ia berbagi pengalamannya. Ia mengungkapkan rasa syukurnya yang luar biasa karena akhirnya bisa "bernapas normal lagi." "Breathe normal again, dan… which is my eyelids and operations for my nose," ucapnya dengan suara bergetar, menunjukkan betapa besar arti dari momen ini baginya. Gangguan pernapasan yang dialaminya selama ini disebabkan oleh penyempitan saluran napas di sisi kanan hidungnya. Kondisi ini membuatnya harus terbiasa bernapas melalui mulut, sebuah kebiasaan yang ia akui bukan lagi sesuatu yang menyengsarakan, melainkan sudah menjadi bagian dari kehidupannya.
"Jadi saluran napasku yang kanan sempit banget. Operasi ini mainly untuk memperbaiki saluran napasku. Secara kosmetik, aku cuma minta hidungku dilurusin aja," jelas Shalom dalam keterangan tertulisnya. Ia menambahkan bahwa tindakan ini adalah salah satu, atau bahkan satu-satunya cara yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki kondisi saluran hidungnya. Keputusan ini bukanlah sesuatu yang diambil secara gegabah, melainkan hasil dari pertimbangan matang dan dorongan untuk mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik.
Selain fokus pada perbaikan saluran pernapasannya, Shalom juga melakukan koreksi pada kelopak mata sebelah kanannya. Berbeda dengan operasi hidung yang murni didorong oleh kebutuhan medis, koreksi kelopak mata ini lebih bersifat kosmetik, demi mencapai kesimetrisan wajah yang lebih baik. "Untuk kelopak mata, aku juga cuma minta dikoreksi yang sebelah kanan biar sama dengan yang kiri. Honestly, aku sudah cinta dengan penampilanku, jadi ini lebih ke bikin mukaku lebih simetris aja secara keseluruhan," tuturnya. Keputusannya untuk melakukan operasi plastik ini justru menunjukkan bahwa ia tidak memiliki masalah dengan penampilannya saat ini, namun ingin menyempurnakannya demi keseimbangan estetika.
Momen terharu itu semakin terasa ketika Shalom mengungkapkan betapa besar harapan dan rasa syukurnya. "Ini adalah kesempatan yang sangat bagus untukku. Mau nangis…. Aku benar-benar bisa bernapas lagi, bernapas normal lagi," ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Ia menggambarkan betapa kompleksnya operasi hidung yang dijalaninya. Para dokter harus merekonstruksi seluruh bagian hidungnya karena kondisinya yang cukup parah, sebagaimana terdeteksi dari hasil CT Scan. "Kenapa aku emotional? Karena susahnya aku hidup dengan satu hidung saja," tukasnya, memberikan gambaran betapa besar perjuangannya selama ini.
Penting untuk dicatat bahwa operasi yang dijalani Shalom Razade bukanlah sekadar tren kecantikan, melainkan sebuah langkah medis yang bertujuan untuk mengatasi masalah kesehatan yang signifikan. Gangguan pernapasan kronis dapat berdampak buruk pada kualitas hidup, memengaruhi aktivitas sehari-hari, performa fisik, bahkan kualitas tidur. Dengan keberaniannya untuk berbagi cerita, Shalom tidak hanya membuka diri tentang perjuangannya, tetapi juga memberikan edukasi kepada publik bahwa operasi plastik dapat memiliki dimensi medis yang penting. Keputusannya untuk menjalani prosedur ini di Korea Selatan, yang terkenal dengan kemajuan teknologi medis dan estetika, juga menunjukkan keseriusannya dalam mencari penanganan terbaik.
Usia Shalom yang akan genap 28 tahun pada 24 Juni 2026 mendatang, menandakan bahwa ia telah melewati fase awal karirnya di dunia hiburan. Pengalaman ini, di usianya yang relatif muda, tentu akan menjadi babak baru dalam kehidupannya, di mana ia dapat menjalani aktivitasnya dengan lebih nyaman dan sehat. Dukungan dari keluarga, terutama sang ibunda, Wulan Guritno, kemungkinan besar menjadi sumber kekuatan baginya dalam menghadapi proses pemulihan ini. Keberanian Shalom untuk tampil apa adanya, termasuk saat menangis dan mengungkapkan kerentanannya, patut diapresiasi. Ia memberikan contoh bahwa di balik sorotan publik, setiap individu memiliki perjuangan dan keinginan untuk menjadi versi terbaik dari diri mereka, baik dari segi kesehatan maupun penampilan.
Kisah Shalom Razade ini menggarisbawahi bahwa operasi plastik tidak selalu tentang obsesi terhadap kesempurnaan fisik semata. Dalam kasusnya, ini adalah tentang pemulihan fungsi tubuh yang krusial, yaitu kemampuan untuk bernapas dengan lega. Keputusan untuk menjalani prosedur medis yang kompleks ini adalah bukti dari komitmennya terhadap kesehatan dan kesejahteraannya. Dengan harapan besar untuk dapat menikmati hidup tanpa hambatan pernapasan, Shalom telah mengambil langkah berani yang diharapkan akan membawanya pada kehidupan yang lebih baik dan lebih sehat. Pengalaman ini juga menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa mencari solusi medis untuk masalah kesehatan, bahkan jika itu melibatkan prosedur yang terkadang dianggap tabu, adalah tindakan yang patut didukung.
Lebih lanjut, keberanian Shalom untuk menceritakan pengalamannya secara terbuka di media sosial dapat menjadi inspirasi bagi banyak orang yang mungkin menghadapi masalah serupa namun ragu untuk mencari bantuan atau berbicara. Ia membuktikan bahwa transparansi dapat membantu menghilangkan stigma dan memberikan pemahaman yang lebih baik tentang berbagai aspek operasi plastik, termasuk potensi manfaat medisnya. Perjuangan Shalom dalam memperbaiki saluran napasnya adalah pengingat akan pentingnya kesehatan pernapasan, sebuah aspek fundamental yang seringkali terabaikan dalam kesibukan sehari-hari.
Reaksi emosional Shalom saat berbicara tentang kemampuannya untuk bernapas normal lagi mencerminkan betapa besar dampak masalah pernapasan terhadap kualitas hidup seseorang. Pengalaman "susah hidup dengan satu hidung saja" yang ia ungkapkan, memberikan gambaran nyata tentang tantangan yang dihadapinya. Operasi hidung yang kompleks ini bukan hanya sekadar prosedur kosmetik, tetapi sebuah intervensi medis yang bertujuan untuk mengembalikan fungsi vital tubuhnya. Dengan rekonstruksi hidung yang signifikan, diharapkan Shalom dapat menikmati kembali kebebasan bernapas yang selama ini terenggut.
Kisah Shalom Razade ini menjadi lebih dari sekadar berita selebriti. Ia adalah cerita tentang keberanian, ketekunan, dan perjuangan untuk mendapatkan kembali kualitas hidup yang lebih baik. Dukungan publik dan apresiasi atas keterbukaannya diharapkan dapat terus mengalir, seiring dengan harapannya untuk pemulihan yang cepat dan optimal. Pengalamannya ini juga membuka diskusi yang lebih luas mengenai pentingnya kesehatan pernapasan dan berbagai opsi medis yang tersedia untuk mengatasinya.

