BOSSPULSA.COM, Yogyakarta – Pemerintah China kembali menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan standar keselamatan berkendara dengan mengeluarkan aturan larangan penggunaan setir model yoke pada mobil-mobil yang dijual di pasar domestik. Keputusan ini, yang didasarkan pada pertimbangan keamanan yang mendalam, menandai langkah signifikan dalam upaya menciptakan lingkungan otomotif yang lebih aman bagi seluruh pengguna jalan. Kementerian Industri dan Teknologi Informasi China (MIIT) telah merilis draf aturan yang secara eksplisit melarang penggunaan setir jenis yoke, yang kerap disamakan dengan setir model U, setir pesawat terbang, atau setir mobil Formula 1. Pernyataan resmi dari kementerian tersebut menegaskan bahwa tujuan utama dari regulasi ini adalah untuk menetapkan standar keamanan yang seragam dan secara efektif mencegah potensi cedera yang dapat diakibatkan oleh desain setir mobil yang tidak memenuhi kriteria keselamatan.
Dalam draf proposal yang telah diterbitkan, MIIT menjabarkan secara rinci poin-poin standar keselamatan yang harus dipenuhi oleh setir konvensional, yang dirancang untuk meminimalkan risiko cedera pada pengemudi. Dokumen tersebut juga memuat hasil-hasil pengujian keamanan yang telah dilakukan pada berbagai jenis setir model konvensional, yang umumnya berbentuk lingkaran. Pengujian ini menjadi dasar ilmiah untuk memastikan bahwa desain setir yang ada saat ini telah terbukti aman dan efektif dalam melindungi pengemudi dalam berbagai skenario. Namun, yang menjadi sorotan utama adalah temuan bahwa setir model yoke tidak memenuhi standar keamanan yang sama dengan setir konvensional.
Secara spesifik, draf aturan tersebut menguraikan kekhawatiran mengenai potensi bahaya yang ditimbulkan oleh setir yoke. Disebutkan bahwa dalam skenario kecelakaan tertentu, penggunaan setir yoke dapat menyebabkan tubuh pengendara bergerak melewati lingkar setir dan membentur dasbor mobil. Hal ini tentu saja meningkatkan risiko cedera serius pada pengemudi. Selain itu, draf aturan juga menyoroti masalah terkait kantung udara (airbag). Ditekankan bahwa airbag pada setir yoke memiliki kecenderungan untuk mengembang ke arah yang sulit diprediksi jika dibandingkan dengan setir melingkar pada umumnya. Ketidakpastian dalam mekanisme pengembangan airbag ini dapat mengurangi efektivitasnya dalam melindungi pengemudi saat terjadi benturan, bahkan berpotensi menimbulkan cedera tambahan.
Data statistik yang disajikan dalam draf aturan semakin memperkuat urgensi regulasi ini. Disebutkan bahwa dalam banyak kasus kecelakaan, sebanyak 46% cedera yang dialami oleh pengemudi disebabkan atau terkait secara langsung dengan mekanisme setir mobil. Angka yang signifikan ini menggarisbawahi betapa krusialnya peran desain dan fungsionalitas setir dalam menjaga keselamatan penumpang. Dengan melarang desain yang berpotensi membahayakan, pemerintah China berusaha untuk mengurangi angka cedera dan fatalitas akibat kecelakaan lalu lintas yang berhubungan dengan setir.
Perlu dicatat bahwa setir model yoke bukanlah sesuatu yang lazim ditemukan di pasaran mobil global, termasuk di China. Sejatinya, tidak banyak merek mobil yang memutuskan untuk memperkenalkan produk mereka dengan menggunakan desain setir ‘setengah lingkaran’ ini. Model mobil mainstream yang dikenal mengadopsi setir jenis ini antara lain Tesla Model S dan Model X, serta model terbaru seperti Cybertruck. Selain itu, Lexus RZ juga menawarkan pilihan setir dengan desain serupa. Keterbatasan adopsi ini menunjukkan bahwa bahkan di pasar internasional, setir yoke belum sepenuhnya diterima sebagai solusi ergonomis dan aman.

Mengutip laporan dari Autoblog, pemerintah China berencana untuk mulai memberlakukan aturan larangan setir yoke ini secara efektif mulai Januari 2027. Periode transisi ini diberikan kepada produsen mobil untuk melakukan penyesuaian yang diperlukan pada desain kendaraan mereka. Dengan China sebagai salah satu pasar otomotif terbesar di dunia, baik dari sisi penjualan maupun produksi, kebijakan ini akan memiliki dampak yang cukup signifikan pada banyak brand otomotif. Terutama bagi merek-merek yang tadinya berencana untuk merilis produk baru dengan menggunakan setir yoke, mereka kini harus memutar otak untuk mencari alternatif desain yang memenuhi standar keselamatan China.
Kebijakan pelarangan setir yoke ini bukanlah kali pertama pemerintah China mengeluarkan regulasi terkait keamanan pengguna mobil yang inovatif namun berpotensi menimbulkan risiko. Belum lama ini, pemerintah China juga telah mengeluarkan aturan serupa yang melarang penggunaan gagang pintu mobil yang rata dengan bodi (flush door handles). Kekhawatiran utama di balik pelarangan tersebut adalah potensi kesulitan dalam membuka pintu mobil dari luar jika terjadi skenario kecelakaan. Desain gagang pintu yang rata dengan bodi, meskipun memberikan estetika yang lebih aerodinamis, dikhawatirkan dapat menghambat proses evakuasi penumpang dalam situasi darurat, terutama jika pintu mengalami kerusakan akibat benturan.
Langkah China dalam menerapkan standar keselamatan yang lebih ketat, baik untuk setir maupun gagang pintu, mencerminkan keseriusan mereka dalam memprioritaskan keselamatan warga. Kebijakan-kebijakan ini tidak hanya bertujuan untuk melindungi pengemudi dan penumpang dari cedera saat terjadi kecelakaan, tetapi juga untuk mendorong industri otomotif global agar terus berinovasi dalam hal keselamatan. Dengan pasar China yang begitu besar, produsen mobil di seluruh dunia akan semakin terdorong untuk mengadopsi standar keselamatan tertinggi demi dapat bersaing dan memenuhi permintaan konsumen di negara tersebut. Ini adalah sinyal kuat bahwa masa depan industri otomotif akan semakin didominasi oleh kendaraan yang tidak hanya canggih dan nyaman, tetapi yang terpenting, aman.
Penekanan pada setir konvensional, yang telah teruji keamanannya, menunjukkan bahwa pemerintah China lebih mengutamakan kepastian keselamatan daripada estetika atau fitur baru yang belum terbukti sepenuhnya aman. Keputusan ini juga bisa menjadi katalisator bagi penelitian dan pengembangan lebih lanjut mengenai desain setir yang inovatif namun tetap aman. Para insinyur dan desainer otomotif mungkin akan ditantang untuk menciptakan solusi yang menggabungkan elemen-elemen futuristik dengan standar keselamatan yang ketat, sehingga inovasi tetap berjalan tanpa mengorbankan keselamatan pengguna.
Dampak dari pelarangan ini juga dapat dirasakan oleh konsumen. Dengan adanya regulasi yang lebih ketat, konsumen di China akan memiliki jaminan yang lebih besar bahwa mobil yang mereka beli telah memenuhi standar keselamatan tertinggi. Hal ini dapat meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap produk otomotif dan mendorong mereka untuk memilih kendaraan yang lebih aman. Selain itu, standardisasi ini juga akan memudahkan produsen dalam memproduksi kendaraan yang sesuai dengan regulasi di berbagai pasar, meskipun pada akhirnya, kebijakan China ini akan memberikan pengaruh yang paling besar.
Sebagai kesimpulan, keputusan China untuk melarang setir model yoke merupakan bukti nyata dari komitmen negara tersebut terhadap keselamatan jalan raya. Dengan merujuk pada data ilmiah dan potensi risiko yang teridentifikasi, regulasi ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan berkendara yang lebih aman dan mengurangi jumlah cedera akibat kecelakaan. Kebijakan ini juga akan memaksa produsen mobil untuk lebih berhati-hati dalam merancang fitur-fitur baru dan memastikan bahwa inovasi selalu selaras dengan standar keselamatan yang berlaku, terutama di pasar otomotif terbesar di dunia.

