0

Safari Ramadhan di Riau, PP AMRI Dorong Kaderisasi dan Penguatan Tarajumah

Share

Pengurus Pusat Angkatan Muda Rifa’iyah (PP AMRI) melakukan langkah strategis dalam menjaga eksistensi dan pemahaman keagamaan warga Rifa’iyah di perantauan. Pada Rabu, 18 Maret 2026, jajaran pengurus pusat yang dipimpin langsung oleh Ketua Umum PP AMRI, Abdul Kholiq, M.Pd., melaksanakan Safari Ramadhan di Desa Bukit Meranti, Kecamatan Belilas, Kabupaten Indragiri Hulu, Provinsi Riau. Kunjungan ini bukan sekadar agenda silaturahmi rutin, melainkan sebuah upaya sistematis untuk memperkokoh akar organisasi dan mendorong kaderisasi generasi muda Rifa’iyah di luar Pulau Jawa.

Kehadiran Abdul Kholiq di tengah-tengah sekitar 30 jamaah Rifa’iyah di Desa Bukit Meranti disambut dengan penuh kehangatan. Suasana kekeluargaan yang kental terasa sejak awal pertemuan, mencerminkan ikatan batin yang kuat antarwarga Rifa’iyah meski terpisah jarak geografis yang jauh dari pusat organisasi. Bagi para perantau yang menetap di Riau, momentum ini menjadi obat penawar rindu akan suasana organisasi dan tradisi keilmuan yang biasanya mereka dapatkan di tanah kelahiran. Rangkaian kegiatan dimulai dengan buka puasa bersama, yang kemudian dilanjutkan dengan shalat Tarawih berjamaah. Lantunan shalawat yang menggema di sela-sela ibadah menambah kekhidmatan suasana Ramadhan, sekaligus mempertegas identitas keagamaan yang menjadi ciri khas warga Rifa’iyah.

Eksistensi warga Rifa’iyah di Provinsi Riau memiliki sejarah panjang yang berakar dari semangat dakwah para perantau. Sebagian besar warga yang kini menetap di Riau merupakan pendatang dari berbagai daerah di Pulau Jawa, seperti Wonosobo, Pati, dan Indramayu. Mereka membawa serta tradisi keilmuan dan amaliyah Rifa’iyah yang kemudian mereka lestarikan di tempat tinggal baru. Sebaran warga Rifa’iyah di Riau sendiri saat ini cukup masif. Di wilayah Belilas dan Rengat, mayoritas warga merupakan perantau asal Wonosobo. Sementara itu, di wilayah Pelalawan, komunitas warga asal Pati tumbuh dengan cukup signifikan. Di sisi lain, wilayah Dumai dan Sorek menjadi basis bagi banyak warga Rifa’iyah yang berasal dari Indramayu. Pembentukan komunitas-komunitas ini menjadi bukti nyata bahwa semangat untuk menjaga ajaran KH Ahmad Rifa’i ibn Muhammad tetap menyala di mana pun mereka berada.

Dalam arahannya, Abdul Kholiq menekankan bahwa Safari Ramadhan ini merupakan momentum krusial untuk mempererat hubungan antarkader dan memperkuat identitas organisasi. Di tengah arus modernisasi dan tantangan zaman, menjaga ajaran KH Ahmad Rifa’i memerlukan strategi yang adaptif, terutama bagi generasi muda yang tumbuh di lingkungan yang jauh dari pusat pendidikan pesantren Rifa’iyah. Oleh karena itu, penguatan kaderisasi menjadi agenda utama yang ditekankan oleh PP AMRI. Abdul Kholiq secara khusus mengajak para orang tua untuk tidak ragu mengirimkan putra-putrinya menempuh pendidikan di pesantren-pesantren Rifa’iyah. Menurutnya, pendidikan pesantren adalah wadah terbaik untuk membentuk karakter, akhlak, dan kedalaman ilmu agama yang sesuai dengan manhaj Rifa’iyah.

Salah satu poin penting yang menjadi fokus pembahasan adalah penguatan Tarajumah. Tarajumah atau proses penerjemahan dan pemahaman kitab-kitab karya KH Ahmad Rifa’i dianggap sebagai kunci agar ajaran beliau tidak hanya menjadi teks kuno, tetapi menjadi panduan hidup yang aplikatif bagi generasi milenial dan Gen Z. Abdul Kholiq mengungkapkan rencana strategis PP AMRI untuk mendukung literasi keilmuan di luar Pulau Jawa. "Ke depan, PP AMRI berencana mendistribusikan kitab-kitab karya KH Ahmad Rifa’i yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kita juga akan mendorong akses terhadap buku penjelasan Riayatul Himmah karya Masyayikh Rifa’iyah Pati terbitan UMRI Pati agar lebih mudah dipahami dan dikaji oleh generasi muda kita," ujarnya dengan penuh semangat.

Strategi ini dinilai sangat tepat mengingat tantangan literasi di era digital menuntut ketersediaan bahan bacaan yang mudah diakses dan dipahami. Dengan mendistribusikan karya-karya yang telah diterjemahkan, diharapkan generasi muda Rifa’iyah di Riau tidak akan kehilangan sentuhan dengan akar pemikiran pendiri organisasi. Selain itu, upaya ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan bagi warga Rifa’iyah untuk lebih percaya diri dalam berdakwah dan berinteraksi dengan masyarakat luas di lingkungan perantauan.

Safari Ramadhan di Riau, PP AMRI Dorong Kaderisasi dan Penguatan Tarajumah

Lebih jauh, Safari Ramadhan ini juga menjadi forum diskusi mengenai tantangan yang dihadapi warga Rifa’iyah di daerah. Banyak dari perantau yang mengeluhkan minimnya akses terhadap literatur keilmuan Rifa’iyah yang otoritatif. Respon cepat dari PP AMRI yang menjanjikan distribusi kitab-kitab terjemahan merupakan langkah konkret yang sangat diapresiasi oleh jamaah. Hal ini menunjukkan bahwa PP AMRI tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga hadir dalam memberikan solusi atas kendala yang dihadapi oleh warganya di pelosok negeri.

Penguatan kaderisasi yang dicanangkan oleh PP AMRI juga menyentuh aspek organisasi yang lebih modern. Ke depan, diharapkan komunitas-komunitas Rifa’iyah di Riau dapat lebih terorganisir dalam wadah yang terhubung langsung dengan pusat. Hal ini akan memudahkan koordinasi dalam hal dakwah, pendidikan, maupun kegiatan sosial keagamaan lainnya. Abdul Kholiq berharap bahwa semangat ukhuwah yang terbangun selama Safari Ramadhan ini dapat terus dipupuk sepanjang tahun, tidak hanya terbatas pada bulan suci Ramadhan.

Sebagai organisasi yang berbasis pada tradisi keilmuan yang kokoh, Rifa’iyah memang dituntut untuk terus berevolusi. KH Ahmad Rifa’i sendiri merupakan sosok ulama yang sangat menekankan pentingnya ilmu sebagai landasan utama dalam beribadah. Semangat ini yang terus dijaga oleh PP AMRI melalui berbagai program kerjanya. Dengan mendorong kaderisasi yang berbasis pada pemahaman kitab-kitab Tarajumah, PP AMRI sedang mempersiapkan estafet kepemimpinan dan dakwah yang lebih cerdas dan berwawasan luas.

Kegiatan Safari Ramadhan di Desa Bukit Meranti ini berakhir dengan doa bersama, memohon agar warga Rifa’iyah di perantauan senantiasa diberikan kekuatan dalam menjaga akidah dan amaliyah. Kehadiran pengurus pusat di daerah terpencil seperti ini memberikan energi baru bagi para jamaah. Mereka merasa diperhatikan, dihargai, dan menjadi bagian integral dari perjuangan besar organisasi. Bagi warga di perantauan, memiliki akses ke sumber ilmu yang benar adalah prioritas utama. Dengan adanya komitmen dari PP AMRI untuk mendistribusikan karya-karya Masyayikh, harapan akan keberlangsungan ajaran Rifa’iyah di tanah Sumatera semakin terbuka lebar.

Sebagai penutup, penting untuk diingat bahwa apa yang dilakukan oleh PP AMRI adalah bagian dari upaya besar menjaga marwah organisasi. Ajaran KH Ahmad Rifa’i yang mengedepankan ilmu, akhlak, dan kemandirian adalah modal berharga bagi setiap kader Rifa’iyah. Melalui penguatan Tarajumah dan kaderisasi yang berkelanjutan, Rifa’iyah akan terus relevan dan mampu memberikan kontribusi positif bagi masyarakat di mana pun warga Rifa’iyah berada. Semangat dari Riau ini diharapkan dapat menular ke wilayah-wilayah lain di Indonesia, sehingga jaringan Rifa’iyah semakin solid dan kompak dalam menebar kebaikan.

Upaya ini selaras dengan langkah-langkah yang dilakukan di tingkat nasional, seperti penyerahan kitab Riayatul Himmah kepada Menteri Agama Nasaruddin Umar baru-baru ini. Ini membuktikan bahwa Rifa’iyah sedang bergerak masif, baik di jalur birokrasi pemerintahan maupun di tingkat akar rumput. Dengan sinergi yang baik antara pusat dan daerah, masa depan organisasi yang berlandaskan pada ajaran KH Ahmad Rifa’i ini niscaya akan semakin cerah dan membawa manfaat bagi umat Islam di Indonesia secara luas. Safari Ramadhan ini hanyalah awal dari rangkaian aksi nyata yang akan terus digulirkan oleh PP AMRI demi menjaga tradisi, memperkuat kader, dan memperluas jangkauan dakwah ke seluruh pelosok nusantara.