0

Rudal Canggih Sejjil Milik Iran Akhirnya Meluncur ke Israel

Share

Eskalasi konflik di Timur Tengah mencapai titik didih baru setelah Angkatan Bersenjata Iran untuk pertama kalinya mengerahkan rudal balistik canggih Sejjil dalam serangan balasan masif terhadap target-target strategis milik Israel dan Amerika Serikat. Langkah militer yang belum pernah terjadi sebelumnya ini menandai pergeseran signifikan dalam doktrin pertahanan Teheran, yang kini tidak lagi ragu menggunakan aset persenjataan paling mutakhirnya untuk merespons agresi yang telah berlangsung sejak akhir Februari lalu.

Menurut laporan eksklusif dari Al Jazeera, pengerahan rudal Sejjil terjadi dalam gelombang ke-54 operasi yang diberi sandi ‘True Promise 4’. Pihak Iran menegaskan bahwa keputusan untuk meluncurkan rudal berbahan bakar padat ini merupakan respons langsung atas serangan yang dianggap mengancam kedaulatan negara. Penggunaan Sejjil dianggap sebagai "kartu as" militer Iran karena karakteristik teknisnya yang dirancang khusus untuk mengecoh sistem pertahanan udara paling canggih sekalipun, termasuk sistem Iron Dome maupun David’s Sling milik Israel.

Data dari Press TV mengonfirmasi bahwa rudal-rudal tersebut menyasar pusat komando dan kendali militer rezim Israel, serta berbagai infrastruktur pertahanan vital lainnya. Komandan Angkatan Udara IRGC (Korps Garda Revolusi Islam Iran), Brigadir Jenderal Majid Mousavi, secara terbuka mengonfirmasi peluncuran tersebut melalui pernyataan resmi di platform media sosial X. Ia menegaskan bahwa operasi yang dijalankan di bawah komando ‘Ya Zahra’ ini dirancang untuk memberikan dampak maksimal pada target-target strategis di berbagai titik wilayah Israel.

Dampak dari serangan ini sangat dirasakan oleh warga sipil dan aparat keamanan di Israel. Laporan dari berbagai media lokal Israel mencatat bahwa sirene peringatan serangan udara meraung-raung tanpa henti di area ibu kota Tel Aviv, Herzliya, dan meluas hingga ke sedikitnya 141 titik lokasi di seluruh penjuru negeri. Kepanikan massal sempat terjadi ketika warga diperintahkan segera mencari perlindungan di bunker-bunker bawah tanah. Keberhasilan rudal-rudal Iran menembus ruang udara Israel memicu pertanyaan besar di kalangan analis keamanan global mengenai efektivitas perisai pertahanan yang selama ini dibanggakan oleh sekutu Barat tersebut.

Selain Sejjil, IRGC juga mengerahkan armada rudal balistik lainnya sebagai bagian dari serangan kombinasi. Termasuk di dalamnya adalah rudal Khorramshahr yang dikenal sebagai rudal super berat dengan kemampuan hulu ledak ganda, serta varian Kheybar, Qadr, dan Emad. Kombinasi serangan ini menunjukkan koordinasi militer yang sangat terukur dengan tujuan melumpuhkan kapabilitas respons Israel secara cepat dan tepat.

Secara teknis, rudal Sejjil merupakan simbol kemandirian industri pertahanan Iran. Merujuk pada data CSIS Missile Defense Project, Sejjil dikategorikan sebagai Medium-Range Ballistic Missile (MRBM) yang sepenuhnya dikembangkan oleh para insinyur domestik Iran. Keunggulan utama dari rudal ini terletak pada penggunaan bahan bakar padat (solid-propellant). Berbeda dengan rudal berbahan bakar cair seperti seri Shahab yang membutuhkan durasi panjang untuk proses pengisian bahan bakar sebelum peluncuran, Sejjil dapat disiagakan dan diluncurkan dalam waktu yang sangat singkat. Kecepatan reaksi ini membuat rudal tersebut jauh lebih sulit untuk dideteksi oleh satelit pengintai atau dicegat sebelum mencapai target.

Rudal Sejjil memiliki dimensi yang cukup masif dengan panjang mencapai 18 meter dan diameter 1,25 meter. Dengan berat peluncuran sekitar 23.600 kilogram, rudal ini mampu menempuh jarak hingga 2.000 kilometer. Jangkauan ini memberikan kemampuan bagi Iran untuk menyerang target mana pun di Israel dengan tingkat akurasi yang tinggi. Sistem dua tahap yang digunakan dalam desain rudal ini juga memungkinkannya melesat dengan kecepatan hipersonik pada fase terminal, yang membuat sistem pertahanan konvensional hampir mustahil melakukan intersepsi di udara.

Selain spesifikasi teknisnya yang mengerikan, fleksibilitas operasional Sejjil juga menjadi faktor ancaman utama. Iran merancang rudal ini untuk dapat diluncurkan dari platform mobile launcher (peluncur bergerak). Dengan menggunakan truk peluncur yang dapat berpindah-pindah lokasi secara cepat, militer Iran mampu menyembunyikan posisi baterai rudal mereka dari pantauan intelijen lawan sebelum peluncuran dilakukan. Hal ini meminimalisir risiko serangan pendahulu (pre-emptive strike) dari musuh yang mencoba menghancurkan rudal saat masih berada di darat.

Sejarah pengembangan rudal Sejjil mencerminkan tekad Iran untuk lepas dari ketergantungan teknologi asing. Uji coba perdana dilakukan pada November 2008, yang kemudian disempurnakan menjadi varian Sejjil-2 pada 2009. Selama lebih dari satu dekade, Iran terus melakukan riset untuk meningkatkan sistem pemandu dan navigasi agar rudal tersebut mencapai presisi yang lebih akurat. Bahkan, desas-desus mengenai pengembangan varian Sejjil-3 dengan tiga tahap dan jangkauan hingga 4.000 kilometer terus menjadi perhatian serius bagi intelijen Barat. Jika varian ini benar-benar telah beroperasi, maka jangkauan serang Iran tidak hanya terbatas pada Timur Tengah, melainkan dapat mencapai wilayah yang jauh lebih luas di Eropa maupun pangkalan militer AS di luar kawasan.

Kembalinya rudal Sejjil ke panggung perang setelah sempat "menghilang" selama lebih dari satu dekade—terakhir kali terlihat dalam latihan militer ‘Nabi Azam 15’ pada 2021—menunjukkan bahwa Iran telah menyiapkan cadangan strategisnya untuk momen-momen kritis. Penggunaan rudal ini di tengah panasnya situasi geopolitik saat ini merupakan pesan tegas bahwa Iran memiliki kapabilitas untuk melakukan eskalasi secara mandiri tanpa bantuan pihak luar.

Dunia kini menanti bagaimana respons dari pihak Israel dan sekutunya. Jika Israel memilih untuk membalas dengan serangan balik yang lebih besar, kawasan Timur Tengah berpotensi terseret ke dalam konflik skala penuh yang melibatkan penggunaan persenjataan kelas berat. Sementara itu, bagi Iran, keberhasilan peluncuran Sejjil ini menjadi bukti nyata bahwa sistem pertahanan berlapis Israel telah berhasil ditembus.

Situasi di lapangan masih sangat cair. Komunitas internasional, termasuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), kini mendesak kedua belah pihak untuk menahan diri guna menghindari jatuhnya korban sipil yang lebih besar. Namun, dengan narasi keras yang terus dilontarkan oleh komandan IRGC dan retorika pemerintah Israel yang bersumpah akan memberikan balasan telak, prospek perdamaian dalam waktu dekat tampak semakin jauh. Rudal Sejjil kini telah mengubah peta kekuatan di udara Timur Tengah, memaksa setiap aktor di kawasan tersebut untuk meninjau kembali strategi pertahanan mereka di tengah ancaman rudal balistik yang kian sulit dibendung.